
Beberapa hari berlalu, Hasna sudah bekerja seperti biasanya. Meski terkadang Bima selalu membuat ulah agar dirinya tidak bekerja, namun Hasna tetap melakukan kegiatannya itu. Jika, dia terus-terusan berada di rumah lalu nanti bagaimana biaya sekolah adiknya dan kehidupan mereka sehari-hari.
"Kau jangan bekerja saja sampai datang bulan mu selesai"
Begitulah kata Bima saat itu, dia tidak tahu jika kebutuhan Hasna dan Hisyam perlu uang untuk memenuhinya. Belum juga biaya sekolah Hisyam yang sebentar lagi akan masuk ke sekolah menengah pertama.
Bima masih belum kembali ke Ibu Kota, dia masih berada di kota ini. Selain untuk menjaga gadisnya, dia juga sedang meninjau lokasi proyek perusahaan yang akan berlangsung beberapa minggu lagi.
"Pastikan bahan bangunan yang kita gunakan adalah barang terbaik dari yang baik. Aku tidak mau ada kesalahan sekecil apapun itu. Semuanya harus berjalan sesuai rencana. Mengerti!" Bima berbicara dingin pada beberapa mandor proyek dan pekerjanya
"Baik Tuan, kami akan melakukan yang terbaik"
Bima mengangguk kecil "Jangan membuatku marah, kau tahu akibatnya"
Semuanya merasa merinding dengan ucapan Bima, mereka tahu bagaimana seorang Bima jika sedang marah. Mungkin karier siapapun yang mengacaukan pekerjaan nya akan hancur seketika. Bahkan seorang Satria Bima Prakasa lebih menakutkan dari Tuannya.
Bima menyerahkan berkas yang ada di tangannya ke mandor proyek ini "Pelajari semuanya dan hubungi arsitek yang mendesain gedung ini. Kalian bicarakan kerja samanya, aku sudah memilihkan arsitek yang terbaik. Kau yang aku percayakan untuk mengurus semua ini, jangan mengecewakan ku!"
"Baik Tuan, terimakasih telah mempercayai saya untuk mengawasi pembangunan proyek ini"
"Hmmm"
Setelah semuanya selesai di diskusikan, Bima pergi dari tempat itu. Dia hanya perlu mengawasi kinerja semuanya, memastikan jika semuanya berjalan sesuai dengan keinginannya.
Hari sudah sore dan sudah waktunya dia menjemput gadisnya pulang kerja. Bima tersenyum sendiri saat mengingat hubungannya dengan Hasna semakin baik, bahkan gadis itu sudah tidak terlalu sering menunjukan wajah ketakutannya di depan Bima. Mungkin juga karena Bima sudah tidak semenakutkan dulu.
Namun, wajah Bima berubah kesal saat dia sampai di tempat biasa dia memarkirkan mobilnya dan menunggu Hasna di sana.
Kenapa aku tidak menjemputnya saja sampai di depan hotel. Memangnya apa yang salah jika aku menjemputnya. Dia pacarku.
__ADS_1
Akhirnya Bima melanggar kesepakatan mereka, dia melajukan kembali mobilnya sampai di depan hotel. Dia keluar dari mobil dan masuk ke dalam hotel, setiap karyawan hotel yang tahu siapa Bima mengangguk hormat padanya.
Tidak banyak yang tahu jika Bima adalah pimpinan mereka. Bima tidak terlalu suka jika semua orang mengenalnya. Cukup pebisnis dan beberapa orang saja yang tahu identitasnya. Bahkan di hotel ini pun hanya beberapa karyawan yang tahu jika Bima adalah tangan kanan dari seorang Yudha Abimana Walton.
Bima menunggu di lobby hotel, menunggu gadisnya keluar. Tak berapa lama lift yang biasa di gunakan oleh pekerja bagian kebersihan terbuka, keluar beberapa orang dari dalam sana termasuk Hasna.
"Pulang bareng Na, naik angkot?" tanya teman Hasna yang berambut pendek, yang lainnya langsung keluar dari lobby hotel karena mereka berbeda arah pulang dengan Hasna.
"Tidak Mbak, aku ada urusan dulu" Aduh.. Sudah berapa kali aku memakai alasan ini. Apa mereka tidak akan curiga ya.
"Sering banget ada urusannya, emang urusan apa Na? Kemarin juga kamu katanya ada urusan"
Tuhkan, mereka tidak mungkin kalo tidak curiga dan merasa aneh dengan alasanku ini.
Hasna belum menyadari keberadaan Bima di sana, dia masih terfokus mencari alasan yang tepat pada temannya ini.
Bima hanya duduk santai di sofa yang ada di lobby itu dan menatap ke arah Hasna dan teman-temannya.
Hasna menjadi panik sendiri saat netranya tidak sengaja melihat ke arah Bima yang duduk santai di atas sofa dengan tangan bersidekap dada.
"Urusan apa Na? Kamu gak berurusan dengan orang menakutkan dan berpengaruh di kota ini kan?"
Uhuk...uhuk..
Bima terbatuk-batuk mendengar pertanyaan temannya Hasna. Memangnya dia semenakutkan itu sampai Hasna harus membohongi temannya agar bisa pulang bersama dengan Bima.
Hasna melirik ke arah Bima yang terbatuk-batuk itu, bahkan temannya pun sama.
"Dia siapa Na? Kok aku kayak gak asing lihat wajahnya ya?" bisik teman Hasna di telinganya
__ADS_1
"Dia itu yang selalu memantau perkembangan hotel ini. Asisten dari Tuan Yudha yang pemilik perusahaan Walton.Corp itu" jelas Hasna, dia menjelaskan saja sejujurnya apa yang dia ketahui.
"Wahh. Udah ganteng, pengusaha kaya lagi. Keren.. Aku juga mau jadi selingan nya kalo gitu. Hehe" kata teman Hasna yang satunya lagi sambil cengengesan
Hasna cemberut mendengar celotehan temannya itu. Enak saja mau jadi selingan kekasihnya, Hasna tidak akan membiarkan itu terjadi. Meski status Hasna hanya sebagai pacar pelunas hutang. Tapi, tetap saja Hasna tidak rela jika ada gadis lain yang mengagumi kekasihnya itu.
Bima tersenyum meledek ke arah Hasna, pria itu tahu jika Hasna sedang cemburu karena celotehan temannya itu. Dan sungguh, melihat ekspresi wajah Hasna saat sedang cemburu benar-benar membuat Bima gemas.
"Udahlah, gak usah ngomongin orang. Apalagi orang itu berpengaruh disini, di tempat kerja kita. Jadi, gimana Na? Mau bareng pulang naik angkot atau tidak?"
Hasna menggeleng, namun beberapa saat kemudian dia mengangguk "I-iya aku bareng kalian naik angkot"
Bima langsung menatap ke arah Hasna saat dia mendengar ucapan gadis itu barusan. Apa maksudnya, dia tahu jika Bima tengah menunggunya disini untuk menjemput dia pulang. Tapi, kenapa dia malah akan naik angkutan umum. Apa Hasna tidak menganggap dirinya ada disini?
"Yaudah, ayok berangkat"
Kedua teman Hasna menggandeng tangan Hasna di sisi kiri dan sisi kanannya. Berjalan melewati Bima yang menatapnya dengan tajam. Hasna hanya menundukan wajahnya saat dia melewati Bima. Terpaksa Hasna harus mengambil jalan ini, karena dia belum siap jika teman kerjanya tahu hubungan dia dan Bima. Apalagi jika semua karyawan tahu, apa yang akan terjadi padanya.
Bima berdiri dan segera menyusul Hasna dan teman-temannya itu keluar lobby hotel. Dia melepaskan paksa tangan temanya yang melingkar di lengan Hasna, lalu Bima dengan santai menggandeng tangan Hasna.
"Tu-tuan" Hasna begitu terkejut dengan apa yang di lakukan Bima. Begitu juga dengan kedua temannya.
Bima menatapnya tidak suka, apa maksudnya Hasna memanggil dia Tuan di depan teman-temannya. Apa dia ingin semua orang tahu jika dia tidak ada hubungan apapun dengan Bima dan biarkan pria lain menganggap jika Hasnanya masih single. Enak saja.
"Sayang, kau tega ya aku sudah capek-capek menjemputmu kesini. Kau malah mau naik angkutan umum itu bersama kedua temanmu"
"Hah? Sayang??"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..