
Setelah bersiap, Hasna segera pergi dari rumahnya. Berjalan menyusuri gang kecil, sampai di depan jalan besar. Hasna menunggu angkutan umum yang lewat. Namun, beberapa saat kemudian ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan Hasna.
Hasna tentu tahu siapa pemilik mobil itu "Kak Ryan"
Ryan membuka kaca jendela mobilnya dari dalam "Mau kemana Na?"
"Mau ke Ibu Kota Kak"
"Ngapain?" Tanya Ryan bingung
"Anaknya temen Na kecelakaan, jadi mau jenguk ke sana" kata Hasna
"Yaudah, ayo masuk biar aku antar"
"Gak perlu Kak, nanti malah ngerepotin" tolak Hasna dengan halus
"Ngerepotin apa? Aku gak ngerasa di repotin kok. Ayo cepetan masuk, biar aku antar saja. Sekalian kita jalan-jalan" kata Ryan sedikit memaksa
Akhirnya Hasna tidak bisa lagi menolak ajakan Ryan. Hasna masuk ke dalam mobil Ryan dan mereka pun berangkat ke Ibu Kota.
"Makasih ya Kak udah mau anter aku, Na jadi ngerepotin deh" kata Hasna
"Repotin apa si Na, kamu kayak sama siapa aja. Lagian aku sekalian bisa jalan-jalan 'kan" kata Ryan dengan kekehan di akhir kalimatnya.
Hasna ikut terkekeh kecil "Makanya cari pacar Kak, biar bisa jalan-jalan sama pacarnya nanti"
Hahaha..
Ryan hanya tertawa saja menanggapi ucapan Hasna. Aku berharap kamu yang akan menjadi pacarku Na.
"Malah ketawa, lagian Kak Ryan belum pernah pacaran. Apa gak mau memulai berkomitmen? Kan udah punya karier yang bagus juga. Hehe" kata Hasna dengan kekehan kecil
"Kalau aku maunya kamu yang jadi pacar aku, gimana?"
Deg...
Hasna terdiam mematung mendengar ucapan Ryan barusan. Bibirnya tertutup rapat, tidak ada kata yang ingin dia ucapkan saat ini. Apa yang di ucapkan Ryan, benar-benar membuatnya terkejut.
"Hahaha.. Gak usah tegang gitu Na, aku tahu kok kalo apa yang aku ucapkan barusan pasti buat kamu terkejut. Tapi, aku serius dengan ucapanku. Aku akan menunggu jawabanmu, sampai kamu benar-benar mengambil keputusan untuk perasaanku ini" jelas Ryan
Sudah saatnya Ryan mengungkapkan perasaan nya pada Hasna. Meski dia sendiri tidak yakin dengan jawaban Hasna nantinya.
Hasna terdiam mendengar ucapan Ryan, dia benar-benar tidak menyangka jika Ryan yang sudah dia anggap sebagai Kakaknya sendiri itu, ternyata menyukainya. Entah sejak kapan.
"Maaf Kak" lirih Hasna, saat ini hanya itulah yang mampu dia katakan
Ryan tersenyum "Sudahlah, kamu bisa memikirkannya dulu. Jangan membuat suasana ini menjadi canggung hanya karena perkataan cintaku itu"
Hasna hanya mengangguk, dia masih terlalu terkejut dengan ungkapan perasaan Ryan padanya.
Kenapa hatiku biasa saja? Tidak ada debaran apapun saat Kak Ryan mengungkapkan perasaan nya itu.
__ADS_1
Hasna masih mencoba meyakinkan perasaannya pada Ryan. Namun, memang benar jika dia hanya bisa menganggap Ryan sebagai Kakak saja. Tidak ada debaran di hatinya saat Ryan mengungkapkan perasaannya itu.
Akhirnya mobil mereka telah sampai di depan rumah sakit keluarga Walton.
"Nanti aku jemput lagi ya, aku ada urusan sebentar" kata Ryan
Hasna mengangguk "Iya Kak, terimakasih"
Hasna segera turun dari mobil Ryan dan segera masuk ke pekarangan rumah sakit itu. Namun sebelum Hasna masuk ke dalam rumah sakit besar itu, tatapannya tak sengaja melihat punggung seseorang yang di kenalinya sedang duduk di bangku taman rumah sakit.
Hasna segera menghampirinya, terlihat jika orang itu sedang melamun. Hasna tentu sudah mengira apa yang telah terjadi pada sahabatnya ini. Anista begitu rapuh saat ini.Hasna menepuk bahunya membuat Anista terkejut dengan ulahnya itu.
"Loh Na, kok disini?" Tanya Anista
Hasna tersenyum lalu duduk di samping Anista. Akhirnya Anista menceritakan semua keluh kesahnya pada Hasna sambil terisak. Bagaimana suaminya dan hampir semua orang menyalahkannya tentang kecelakaan anak sambungnya itu.
"Sudah ya, jangan nangis lagi. Aku ada disini sama kamu" Hasna mengelus punggung Anista yang bergetar. Dia tahu bagaimana rapuhnya wanita ini.
"Awww"
"Nist kenapa?" Tanya Hasna saat mendengar rintihan Anista, Hasna menatap ke bawah dres yang di gunakan Anista "Kamu berdarah Nist, kamu kenapa?"
Anista meringis sambil memegang perutnya "Sakit Na, perutku sakit sekali.. Arghhh"
"Nista, bangun.." teriak Hasna panik saat melihat Anista tidak sadarkan diri
Di saat Hasna kebingungan dan juga begitu panik dengan keadaan Anista yang tiba-tiba tak sadarkan diri itu. Tiba-tiba Yudha, suami Anista datang dan langsung menggendong istrinya. Hasna mengikuti langkah Yudha dengan membawa tas Anista.
Anista masih berada di dalam ruang rawat darurat. Dokter juga belum keluar dari sana. Sementara Yudha berdiri menyandar ke tembok. Terlihat sekali jika suami Anista itu sedang begitu khawatir dan gelisah dengan keadaan istrinya.
Hasna hanya duduk diam sambil memeluk tas selempang milik Anista. Dia juga begitu khawtir dengan keadaan Anista saat ini.
Semoga kamu baik baik aja Nist.
"Tuan" Bima datang setelah membawakan pakaian ganti untuk Tuan dan Nona nya.
Hasna mendongak dan menatap Bima yang berdiri tegap di depan Yudha. Pria itu masih sama, terlihat tampan dan dingin. Hati Hasna masih saja berdebar hanya melihatnya seperti ini saja.
Hasna kembali menundukan kepalanya dan mendengarkan saja percakapan kedua pria itu. Hasna masih tidak mampu untuk berlama-lama menatapnya. Perasaannya ini masih terlalu besar, dan sulit sekali untuk dia lupakan.
Bagaimana aku bisa melupakannya, jika dia saja selalu bertemu denganku. Seolah waktu tidak mengizinkanku terlepas dari cinta sendiri ini.
Suara pintu terbuka langsung mengalihkan mereka yang berada disana. Dokter keluar dari ruang rawat darurat.
"Istri Tuan mengalami pendaharan karena terlalu stres dan terlalu tertekan. Untung saja janinnya sangat kuat sehingga masih bisa bertahan"
Begitulah penjelasan dokter, ternyata Anista sedang mengandung dan Yudha maupun dia sendiri tidak mengetahui hal itu.
Saat ini Yudha, Bima dan Hasna sudah berada di ruang rawat inap Anista. Dari tadi Anista sama sekali tidak berbicara pada suaminya.
Sepertinya Anista masih begitu kecewa dengan suaminya. Dia bahkan tidak mau berbicara apapun pada suaminya itu.
__ADS_1
"Na, aku haus" lirih Anista
Hasna langsung mengambilkan segelas air putih yang berada di atas nakas samping ranjang Anista.
"Nih, pelan pelan minumnya" kata Hasna sambil memberikan Anista minum menggunakan sedotan
"Na, aku mau istirahat saja" kata Anista setelah selesai minum
Hasna mengangguk "Yaudah, aku juga harus pulang dulu Nist. Kasihan adik aku kalo ditinggal lama lama"
Anista mengangguk dan tersenyum tipis "Hati-hati ya"
Ting
Suara notifikasi pesan dari ponsel Hasna. Segera gadis itu membuka pesan di ponselnya itu.
Na, aku sudah di depan rumah sakit. Mau pulang sekarang? Aku tunggu saja disini atau aku susulin kamu ke dalam?
Pesan dari Ryan itu tidak Hasna balas. Dia juga akan segera pulang, jadi Ryan tak perlu menyusulnya ke sini.
Setelah menyelimuti Anista sampai ke pinggang, Hasna berjalan menghampiri Yudha dan Bima yang duduk bersebelahan di sofa.
"Tuan, saya pulang dulu" pamit Hasna
"Bim, antarka..."
Hasna langsung mengibaskan tangannya cepat "Tidak perlu Tuan, saya ada yang menjemput"
Kernyitan di dahi Bima tak bisa menghindari ekspresi tidak sukanya dengan apa yang Hasna ucapkan. Namun, dia hanya diam saja tanpa mau berbicara atau menatap ke arah Hasna.
"Ohh. Baiklah kalau begitu" kata Yudha
Setelah Hasna pergi, ruangan ini terasa sepi. Anista yang kembali tertidur dan dua pria yang hanya diam dengan fikiran masing masing.
"Kau menyukainya, Bim" kata Yudha, bukan sebuah pertanyaan melainkan pernyataan.
"Sudahlah, kau fikirkan saja apa yang ingin kau lakukan saat ini. Terutama untuk Safira" kata Bima, mencoba mengalihkan pembicaraan
Yudha menghembuskan nafas kasar "Fikirkan dan benar-benar yakinkan perasaanmu sebelum kau mengambil keputusan yang salah. Ingat itu Bim"
Bersambung
Like
Komen
Vote
Kasih hadiahnya juga ya..
Ayo dong kasih dukungan kalian.. Besok senin, kasih vote nya ke novel You Are My Life
__ADS_1