
Sampai di depan rumah kontrakan Hasna, Bima segera menyimpan beras itu ke dalam dapur. Lalu dia kembali ke teras depan karena merasa gerah jika berada di dalam rumah. Duduk di kursi plastik yang ada di teras depan rumah Hasna. Ada dua kursi yang terletak berdampingan di sana.
Hasna masuk ke dalam rumah untuk membuatkan minuman untuk Bima yang terlihat kelelahan. Maklumlah, jarak rumah kontrakan Hasna dan Warung itu cukup jauh.
"Minumnya Tuan" Hasna menyodorkan segelas air putih pada Bima.
"Terimakasih" Bima langsung mengambil gelas itu dan meminum airnya sampai tandas. Dia memang sedang kehausan.
Hasna duduk di kursi satunya lagi, tepat di samping Bima. Kali ini ada hal yang memang ingin Hasna bicarakan serius dengan Bima.
"Tuan" panggil Hasna pelan
Bima menoleh dan mengangkat satu alisnya, seolah bertanya apa yang ingin di tanyakan oleh Hasna.
"Emm. Soal biaya rumah sakit Hisyam, saya akan membayarnya dengan menyicil pada Tuan" jelas Hasna
Jujur saja dia begitu kepikiran dengan biaya pengobatan Hisyam selama di rumah sakit yang telah di bayar lunas oleh Bima. Setidaknya Hasna menganggap itu adalah pinjaman yang di berikan oleh Bima. Maka dia harus membayarnya meski dengan cara menyicil.
"Aku tidak mau di bayar dengan di cicil, kau fikir aku tukang kredit" kata Bima datar, ada maksud tertentu dari ucapannya itu.
"Mak-sud Tuan? Saya tidak bisa jika harus membayar lunas secara langsung" kata Hasna, wajahnya sudah pias karena bingung harus mencari uang kemana sebanyak itu.
"Kau bisa membayarnya dengan lunas sekaligus"
Hasna terdiam mendengar ucapan Bima yang begitu dingin dan datar. Apa yang harus aku lakukan Ya Allah, darimana aku bisa membayar lunas hutangku itu.
"Jadilah pacarku, maka hutangmu akan lunas" kata Bima santai
Deg
Tubuh Hasna langsung membeku, dia tidak salah dengar dengan ucapan Bima barusan. Tapi, kenapa harus dengan cara ini. Jika Bima mengatakan itu dengan tulus dan karena dia mencintainya. Sudah pasti Hasna akan sangat bahagia sekarang. Tapi, ini berdasarkan hutang yang harus Hasna lunasi. Harga dirinya seolah terendahkan oleh perkataan Bima barusan.
"Saya tidak mau Tuan" tolak Hasna tegas
__ADS_1
Bima tersenyum tipis "Tidak ada penolakan, jika kau tidak mau. Maka lunasi hutangmu saat ini juga"
Tangan Hasna bergetar dengan jemarinya yang saling bertaut "Kenapa? Kenapa harus menjadi pacar Tuan. Sementara Tuan tidak mencintaiku sama sekali"
Dasar Bodoh!!
"Pokoknya aku mau kau jadi pacarku, maka hutangmu aku anggap lunas" jawab Bima penuh dengan penekanan
"Tap-tapi saya tidak bisa Tuan" lirih Hasna, masih mencoba untuk menolak tawaran tidak masuk akal dari pria dingin itu.
"Tidak ada pilihan untukmu, jadilah pacarku mulai hari ini" tegas Bima tanpa terbantahkan lagi
Bagaimana ini? Bukan ini yang aku harapkan.
Baiklah, sepertinya tidak ada pilihan lagi untuk Hasna. Bima memberikannya pernyataan bukan penawaran yang bisa dia tolak.
"Tapi, berapa lama saya harus menjadi pacarnya Tuan?" Tanya Hasna pada akhirnya, sepertinya dia sudah pasrah dengan semuanya.
Mungkin sampai kau mau menikah denganku.
"Tap-tapi Tuan...."
"Sudahlah tidak ada tapi-tapian lagi, mulai sekarang kau adalah pacarku. Batasi semua yang berhubungan dengan pria lain. Karena aku tidak suka jika pacarku punya kedekatan dengan pria lain" kata Bima, jelas ini adalah keposesifan Bima yang mulai dia tunjukan.
Hasna menghela nafas berat, dia memang menyukai bahkan mencintai pria itu. Tapi tidak dengan cara seperti ini untuk bisa menjadi pacarnya. Hasna ingin murni karena Bima juga mencintainya.
"Baiklah Tuan" lirih Hasna dengan wajah lesu
Bima tersenyum puas dengan apa yang di lakukannya kali ini. Cara membuat Hasna terikat dengannya tanpa harus bersaing dengan pria lain. Apalagi setelah dia dengar tadi jika Ibu-ibu di sini juga banyak yang menginginkan Hasna menjadi menantu mereka. Bima semakin ingin memiliki gadis itu.
Namun, dia memilih cara ini agarĀ Hasna terikat padanya sampai gadis itu benar-benar membuka kembali hatinya untuk dirinya. Bima akan mencoba menyembuhkan luka yang telah dia buat di hati gadis itu.
Bima ingin meyakinkan gadis itu dengan cara seperti ini. Setidaknya Hasna sudah terikat padanya dan tidak bisa berlari darinya sampai Bima benar-benar bisa meyakinkan perasaan gadis itu. Tidak peduli berapa lama, dia akan terus mencoba meyakinkan perasaan Hasna.
__ADS_1
"Tidak perlu sedih begitu, bukankah ini yang kau inginkan selama ini. Menjadi kekasihku" kata Bima, mencoba memasng wajah biasa saja. Padahal hatinya sedang sangat bahagia.
Hasna hanya diam, dia malas meladeni pria seperti Bima yang tak pernah mau mengalah. Pria itu selalu pandai berdebat dan membuat seseorang merasa terpojok.
Aku jelas akan bahagia jika ada kata cinta yang terucap dari bibirmu. Meski mungkin kata cinta itu tidak tulus dari hatimu.
"Baiklah, karena kau sedang sangat bahagia bisa menjadi kekasihku. Jadi aku biarkan kau mengekspresikan kebahagiaanmu itu. Aku akan pergi dulu" kata Bima datar
Bohong! Apa yang di katakannya bohong. Dia berkata seperti itu pada Hasna karena dia sendiri yang sedang bahagia sekarang. Namun, dia tidak ingin menunjukannya di depan Hasna. Jadi, dia memutar balikan fakta seolah Hasnalah yang sangat bahagia karena bisa menjadi kekasihnya. Padahal kenyataannya dialah yang begitu bahagia saat ini. Dasar licik.
Bima pergi begitu saja, meninggalkan Hasna yang di landa kekesalan tingkat dewa. Bagaimana bisa Bima berkata seperti itu setelah apa yang dia lakukan pada Hasna.
Bahagia? Apaanya yang bahagia? Aku sedang kesal dan bingung dengan kelakuannya itu yang selalu di luar nalar manusia.
Sementara Bima sedang berjalan menuju jalan besar dengan wajah berseri bahagia. Dia bahkan sampai mengepalkan tangannya ke atas sambil berjingkrak senang. Betapa bahagianya dia saat ini.
Di depan gang sudah ada mobil yang menjemputnya. Pak Firman membukakan pintu mobil belakang untuk Tuannya. Bima masuk ke dalam mobil itu.
"Terimakasih Pak" kata Bima dengan senyuman yang tak bisa dia tahan
"I-iya Tuan"
Pak Firman sampai tidak bisa mengendalikan ekspresi terkejutnya. Bagaiaman seorang Bima bisa mengucapkan kata terimakasih dengan senyuman seperti itu. Senyuman yang baru pertama kali dia lihat.
Apa Tuan Bima salah minum obat ya?
Pak Firman hanya bisa berperang dengan pikirannya sendiri.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya ya... Like komen di setiap chapter.. kasih hadiah dan vote nya juga..
Semoga besok bisa up satu chapter lagi ya..
__ADS_1