
Hasna duduk bersandar di tempat tidur, hatinya masih sangat gelisah dan tidak karuan. Mengingat apa yang di ucapkan oleh suaminya tadi, membuat bulu kuduknya semakin merinding.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi yang di buka, membuat Hasna semakin gelisah. Dia tentu tahu siapa yang keluar dari kamar mandi. Tentu saja suaminya.
Dengan handuk yang melilit di pinggangnya, tetesan air yang mengalir di wajah dan rambutnya yang masih terlihat basah. Dada bidang dan perut Bima membuat Hasna sedikit kehilangan fokus. Bahkan untuk bernafas saja dia seolah lupa. Melihat keindahan nyata yang berada di depannya membuat Hasna semakin sulit untuk memfokuskan kembali fikirannya.
"Kau menyukainya?"
Hembusan nafas yang terasa hangat di wajahnya membuat Hasna tersadar, dia terlonjak kaget saat mendapati Bima telah berada tepat di depan wajahnya. Bagaiaman dia bisa tidak sadar jika Bima sudah berada di dekatnya.
Oh. Hasna.. Kau sangat memalukan.
"A-apa?" tanya Hasna seolah tidak mengerti apa yang di maksud oleh Bima, dia memalingkan wajahnya yang memerah itu.
Bima meraih dagu Hasna dan memutar wajah istrinya untuk segera beralih padanya, dan menatapnya "Bisa aku meminta hak ku malam ini?"
Ishh.. Kenapa menanyakan itu, membuat aku semakin malu saja.
Sudah pasti Hasna akan memberikan hak Bima. Hanya saja dia tidak berani memulai, apalagi dengan pertanyaan Bima barusan malah semakin membuat Hasna malu.
"Asna" bisik Bima di telinganya, hembusan hangat nafas Bima yang terasa menerpa kulitnya, membuat Hasna semakin gugup saja.
Nih orang selalu bisa membuat jantung ku maraton ya.
"Bo-boleh" kata Hasna, dengan gugup dan wajah yang semakin merah.
Bima tersenyum, dia mulai dari mencium kening Hasna, beralih ke kedua pipinya dan berhenti di bibir. Kecupan yang beralih menjadi ciuman hangat dan penuh gairah.
Hasna mulai rileks, dia tidak setegang tadi. Bima cukup pandai membuat wanitanya rileks dari ketegangan nya itu.
__ADS_1
Suara kecupan-kecupan itu terdengar memenuhi kamar hotel yang sepi, kecupan Bima beralih menuju leher Hasna. Tangannya pun mulai masuk ke dalam baju piama tidur yang Hasna gunakan.
Baiklah.. Hasna mulai merasakan kenikmatan, saat tangan Bima mulai memainkan bagian dadanya. Dia mulai bergelinjang gelisah, seperti ingin sesuatu segera di lakukan oleh Bima.
"Tenang Asna, aku akan melakukannya dengan pelan. Kau siap?" bisik Bima di telinganya, Bima tidak tahan juga melihat tubuh Hasna yang mulai memberikan respon positif atas apa yang dia lakukan.
Hasna hanya mengangguk, dia seolah tidak mampu untuk berkata apapun lagi, semua rasa ini masih terlalu asing untuknya. Meski jujur, jika Hasna merasakan kenikmatan tersendiri dengan perlakuan Bima.
Akhirnya malam pengantin mereka, di mulai dengan suara jeritan Hasna dan tangannya yang mecakar punggung lebar Bima.
Semuanya terhanyut dalam kenikmatan surga dunia. Di dalam kamar ini, hanya terdengar suara-suara kenikmatan di antara sepasang pengantin baru itu.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Cahaya bulan masih terlihat, di luar sana masih gelap. Namun, tidur Hasna yang baru saja terlelap itu harus terganggu oleh suara alarm dari ponselnya. Hasna memang menyetel alarm untuk setiap hari, agar dia tidak bangun kesiangan. Tapi, hari ini rasanya dia sangat menyesal telah melakukan itu sekarang. Tidurnya yang baru saja terlelap, harus terganggu oleh alarm ponselnya.
Tangan Hasna merayap ke arah nakas di samping tempat tidurnya. Dia ingat jika dia meletakan ponselnya di atas sana. Mendapatkan apa yang di carinya, Hasna segera mematikan alarm di ponselnya itu dan menyimpan kembali ponsel di atas nakas.
Hasna membalikan tubuhnya, menjadi terlentang. Tangan yang memeluk pinggangnya benar-benar tidak lepas sampai sekarang. Hasna menatap langit-langit kamar, bayangan semalam yang telah terjadi di antara dirinya dan pria yang telah menjadi suaminya membuat Hasna tersenyum malu.
Hasna memejamkan matanya, malu sendiri dengan fikirannya itu. Malam pertama mereka yang sangat berkesan untuk Hasna.
Hasna melirik jam dinding, sudah pukul setengah lima pagi. Sudah saatnya bangun dan mandi. Hasna mengangkat pelan tangan kekar yang berada di perutnya. Namun, sepertinya apa yang dia lakukan telah mengganggu tidur pria di sampingnya.
Bima semakin mengeratkan pelukannya, masih dengan matanya yang terpejam "Masih pagi, mau kemana?"
"Sudah hampir subuh, aku mau mandi dan sholat dulu. Kamu juga, bangun cepetan. Aku mau mandi duluan" kata Hasna sambil menepuk lembut tangan Bima
Bima melepaskan pelukannya setelah mendengar ucapan Hasna. Membiarkan wanitanya untuk bangun dan mandi.
"Aku akan mandi, tapi sebentar lagi. Kamu duluan saja" kata Bima, masih dengan matanya yang terpejam
__ADS_1
Hasna tersenyum melihat wajah tenang suaminya itu. Benar-benar berbeda sekali jika Bima sedang terbangun, sudah pasti menunjukan wajah datar dan dingin. Hasna mengelus lembut kepala pria itu, lalu memberikan kecupan di keningnya.
Setelahnya, Hasna segera berlari ke kamar mandi. Sementara di atas tempat tidur ada yang tersenyum dengan matanya yang masih terpejam.
Kenapa tidak mencium bibirku juga.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Hasna menatap makanan yang berada di atas meja itu. Sarapan pagi yang sudah hampir siang ini, karena setelah melaksanakan kewajiban subuhnya. Keduanya malah kembali tertidur karena terlalu lelah dengan kegiatan semalam.
"Banyak sekali, emangnya kamu bisa ngabisin ini semua?" tanya Hasna menatap Bima dengan heran, pria itu memesan begitu banyak makanan pada pelayan hotel.
"Bukan aku yang akan menghabiskan nya, tapi kau!" kata Bima santai, dia mulai membuka alat makan yang di bungkus rapi agar higenis tentunya.
Hasna terbebelak mendengar ucapan Bima, dia menatap makanan yang ada di atas meja itu. Sebanyak itu, mana mungkin dia bisa menghabiskannya.
"Jangan aneh deh, mana mungkin aku bisa menghabiskan semua ini Sayang. Ini terlalu banyak" keluh Hasna
"Sudah makanlah, kau harus makan yang banyak supaya bisa mengumpulkan tenaga untuk nanti malam" kata Bima, pria itu sudah mulai memakan makanannya
Hah? Apa maksudnya? Nanti malam, lagi? Aaaa.. Tidak! Aku akan mati kelelahan sepertinya.
Bima mendongakan wajahnya saat menyadari tidak ada gerakan dari wanita di depannya itu. Benar saja, Bima melihat Hasna yang malah bengong tanpa berniat memulai makan. Hal itu tentu membuat Bima kesal, sudah mereka telat untuk serapan. Sekarang Hasna malah diam saja, tidak cepat-cepat memakan makanannya. Tidak tahukah dia, jika Bima sedang mencemaskan nya sekarang.
"Makan! Kau tidak mau mati kelelahan nanti malam 'kan?" kata Bima yang berhasil menyadarkan lamunan Hasna.
Hasna menatap ngeri pada Bima, pria itu seolah selalu tahu apa yang sedang di fikirkan oleh Hasna.
Hasna segera mengambil dan membuka alat makan, lalu mulai memakan makananya dengan lahap. Selain dia juga lapar, tapi Hasna juga takut tidak akan punya tenaga untuk melayani Bima nanti malam.
Aku harus makan banyak, aku tidak mau mati kelelahan nanti malam.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa dukungannya ya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga.. terimakasih