
Terlalu banyak pekerjaan yang ditinggalkan selama Bima menemani sang istri beberapa hari lalu, membuat dia harus menyelesaikan semuanya hari ini hingga Bima terpaksa harus pulang larut malam.
Bukan tidak memikirkan keadaan istrinya yang sedang hamil, tapi semua ini sengaja Bima lakukan agar dia bisa lebih santai dalam bekerja kedepannya, karena tidak akan terlalu banyak pekerjaan yang menumpuk.
Masuk ke dalam rumah, membuka sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. Menyimpan sepatu di rak sepatu di sana. Bima, lalu berjalan menuju kamarnya. Namun, saat melewati ruang tamu, dia tidak sengaja melihat seseorang yang sedang tertidur di atas sofa.
Bima menghampirinya dan dia cukup terkejut saat mendapati istrinyalah yang sedang terlelap di atas sofa itu. Bima berlutut di depan wajah Hasna yang terlihat tenang dalam tidurnya.
Dengan perlahan Bima menggendongnya, namun hal itu membuat tidur Hasna terganggu. Dia terbangun saat merasakan tubuhnya melayang, tersenyum saat melihat wajah suaminya.
Hasna mengalungkan tangannya di leher Bima, menyandarkan kepalanya dia dada bidang Bima yang terasa nyaman untuknya.
"Sayang sudah pulang, malem banget pulangnya"
"Cukup banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dulu. Kau kenapa menunggu aku pulang? Tidur saja duluan, kau ini sudah melanggar aturan ku ya.."
Hasna berdecak kesal, Bima malah mengomelinya. Padahal dia tidak bisa tidur karena tidak ada pelukan hangat dari suaminya itu. Hasna pun merasa aneh dengan dirinya sendiri. Akhir-akhir ini Hasna benar-benar sangat manja pada Bima. Seolah tidak mau satu hari pun dia di tinggalkan oleh Bima.
"Aku gak bisa tidur" lirih Hasna, dia cukup malu jika harus menjelaskan alasannya. Karena tidak biasanya Hasna bersikap seperti ini.
Tolong jangan tanya kenapa..
"Loh, kenapa memangnya? Ini 'kan bukan pertama kalinya aku pulang larut dan biasanya kau sudah tidur duluan tanpa menunggu aku pulang"
Hasna semakin menyembunyikan wajahnya di dada Bima, dia malu untuk menjelaskan alasannya itu.
"Buka"
Hasna mendongak dan menatap suaminya, melihat Bima menggerakan matanya seolah memberi kode, Hasna menoleh ke samping dan ternyata mereka telah sampai di depan pintu kamar. Segera Hasna meraih gagang pintu dan memutarnya untuk membuka pintu kamar.
Bima masuk ke dalam kamar, berjalan menuju tempat tidur dan membaringkan tubuh istrinya dengan hati-hati di atas tempat tidur. Meluruskan kaki Hasna dan menarik selimut sampai ke pinggang istrinya itu.
"Tidurlah, aku mau ganti baju dulu" Bima mengelus kepala Hasna, sebelum dia berlalu ke ruang ganti.
Hasna hanya diam menatap ke arah pintu ruang ganti. Menunggu suaminya keluar dari dalam sana, dia sedang benar-benar ingin di manjakan. Entah kenapa, Hasna pun tidak mengerti dengan dirinya sekarang yang tiba-tiba berubah menjadi wanita manja.
Suara pintu yang di buka membuat Hasna tersenyum tipis. Apalagi saat melihat Bima berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Rasanya ada perasaan lega di hati Hasna saat melihat suaminya berada di dekatnya saat ini.
Bima naik ke atas tempat tidur, menatap wajah istrinya yang masih terjaga lalu mencium kening dan mengelus kepalanya.
"Kenapa masih belum tidur?"
Bima membuka selimut dan masuk ke balik selimut, mendekap tubuh istrinya dengan hangat. Hasna membalikan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Cup
Bima mengecup kening Hasna dengan tangan yang memeluknya erat. "Tidurlah, kau sedang hamil dan tidak boleh kurang tidur"
__ADS_1
Hasna mengangguk saja, lalu dia mulai memejamkan matanya. Dia masih malu untuk mengaku pada Bima, jika kenyataannya dia tidak bisa tidur karena Bima tidak ada di sampingnya dan memeluknya.
........
Drett...Drett...
Ponsel yang bergetar di atas nakas membangun Bima dari tidurnya. Masih dengan mata terpejam, Bima meraih ponsel di atas nakas samping tempat tidurnya itu. Tanpa melihat siapa yang menelepon, Bima langsung saja mengangkat panggilan telepon itu.
"Hallo"
Bahkan suara Bima masih terdengar serak, karena dia benar-benar masih terlelap barusan.
"Kau dimana Satria Bima Prakasa? Kau lupa jika pagi ini ada meeting penting"
Seketika Bima langsung membuka kedua matanya saat mendengar suara Yudha di sebrang sana. Dia melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 8 pagi.
"Maaf Tuan, saya pulang larut semalam. Jadi agak telat bangun, satu jam lagi saya akan sampai di kantor"
Terdengar helaan nafas di sebrang sana. "Baiklah, aku tunggu kau!"
Sambungan telepon terputus, Bima menghela nafas sambil melihat layar ponselnya yang menampilkan beberapa notifikasi pesan dari Yudha.
Bima melirik ke sampingnya, istrinya masih terlelap di bawah selimut tebal. "Mungkin dia benar-benar mengantuk, semalam tidur terlalu larut"
Bima mengelus kepala Hasna, lalu menciumnya sebelum dia berlalu ke ruang ganti untuk mandi dan bersiap.
Beberapa saat kemudian, Bima keluar dari ruang ganti telah siap dengan pakaian kantornya. Dia melihat Hasna yang masih bergelung di bawah selimut.
"Asna, aku pergi dulu ya. Kamu baik-baik di rumah" bisik Bima di telinga istrinya
Bima mengambil tas kerjanya, lalu pergi keluar kamar. Di meja makan sudah ada kepala pelayan yang menunggunya dengan hidangan sarapan pagi ini yang telah di siapkan.
"Selamat pagi, Tuan"
Bima mengangguk menanggapi sapaan dari kepala pelayan itu, dia duduk di kursi meja makan lalu mengambil sepotong sandwich dan menggigitnya.
"Kau tugaskan lagi pelayan itu untuk menjaga istriku dengan baik. Jangan biarkan dia menunggu ku sampai larut malam seperti semalam"
Hal semalam yang terjadi pada Hasna membuat Bima kesal pada pelayan di rumahnya. Karena telah membiarkan Hasnanya menunggunya sampai larut malam.
"Baik Tuan, saya akan memastikan dia bekerja dengan baik hari ini"
"Bagus"
Bima meminum kopinya, lalu mengelap bibirnya dengan tisu. "Jika ada sesuatu terjadi pada istriku, langsung kabari aku"
Bima berdiri dari duduknya setelah dia menyelesaikan sarapan. "Oh ya, Hisyam sudah berangkat sekolah?"
__ADS_1
Kepala pelayan mengangguk "Sudah Tuan"
Bima mengangguk mengerti, setelah memastikan semuanya baik-baik saja dan pelayan yang dia tugaskan untuk menjaga Hasna sepanjang hari pasti bekerja dengan benar. Bima langsung pergi ke perusahaan karena disana sudah ada Tuannya yang sedang menunggu.
Setelah Bima pergi beberapa menit yang lalu, di dalam kamar Hasna baru saja mengerjapkan kedua matanya. Melihat ke sampingnya yang teranyata sudah tidak ada suaminya disana.
Dia berbalik menjadi tertidur terlentang, menghadap langit-langit kamar. Selimut masih menutupi tubuhnya.
"Sudah pergi ya.. Kenapa aku sedih ya?"
Hasna sedang bingung sendiri dengan perasaannya akhir-akhir ini. Dia merasa jika dirinya terlalu sensitif dan terlalu manja. Bukan seorang Hasna pada biasanya.
Ceklek
Pintu kamar yang terbuka membuat Hasna menoleh, dia berharap suaminya yang datang dan belum pergi bekerja. Tapi ternyata yang masuk adalah pelayan yang membawakan sarapan untuknya.
Pelayan menaruh nampan yang di bawanya di atas meja nakas samping tempat tidur. "Sarapannya Nona, saya juga sudah membuatkan susu untuk Nona"
Hasna mengangguk saja, dia merasa sangat malas pagi ini. Bahkan dia masih bergelung di bawah selimut.
"Nanti aku makan, Mbak. Sekarang mau mandi dulu"
Berkata seperti itu, tapi Hasna masih belum beranjak dari tempat tidurnya. Bahkan selimut pun masih menutupi tubuhnya.
"Baik Nona, saya akan siapkan air untuk Nona mandi"
Pelayan itu mengangguk hormat, lalu dia berlalu ke ruang ganti dan menuju kamar mandi untuk menyiapkan semua keperluan mandi Nona nya itu.
Sementara Hasna hanya diam saja di tempatnya. Aku kangen Bima.
Bersambung
**Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter. kasih hadiahnya dan votenya juga ya..
rekomendasi novel untukmu dari karya temanku..
Janji hati Raditya dan Andhini, sampai pada kebahagiaan pernikahan, paska Andhini di wisuda mereka melangsungkan pernikahan mewah yang di cita-citakan.
Berjalannya waktu tak ada yang lain selain kebahagiaan dan kedua orangtua mereka yang bangga dengan keharmonisan rumah tangga anaknya, Tahun berganti, Andhini mulai gelisah dengan keadaan dirinya yang belum menunjukkan adanya perubahan di tubuhnya, Andhini menginginkan anak dan semua itu membuatnya begitu cemas hingga jatuh sakit.
Dalam keadaan sakit Andhini dirawat seorang perawat yang di ambil dari yayasan yatim-piatu bernama Karina. Dari kedekatan mereka timbul niat Andhini menjodohkan suaminya dengan Karina, dan menghasilkan satu kesepakatan diatas kertas.
Terkadang cinta memang tak ada logika, sanggup melawan arus dan menerjang rintangan apapun, apalah artinya kekayaan kalau tak memberinya kenyaman.
Apa Karina juga mau menerima tawaran untuk mengubah kehidupannya?
~ Andhini : 'terkadang atas nama cinta seseorang harus rela berkorban, walaupun itu sesuatu yang sangat dicintainya.'
__ADS_1
~ Raditya : sanggupkah aku menjalani apa yang diminta istri tercintanya? walaupun itu di luar kewajaran.'