
Bima berjalan menyusuri lorong rumah sakit, perasaannya begitu gelisah. Takut jika apa yang di katakan Hisyam adalah benar terjadi. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Bima harus kehilangan wanita yang benar-benar telah memiliki hatinya.
Sial.. Aku tidak boleh kalah cepat dengan pria sialan itu.
Bima terus melangkah dengan tergesa, sampai tatapan matanya tertuju pada dua orang berbeda jenis yang berdiri saling berhadapan. Sepertinya mereka sedang membicarakan hal cukup serius sehingga si wanita terlihat gelisah dan gugup.
Langkah kaki Bima semakin cepat dengan tangan yang mengepal erat. Dadanya bergemuruh, semakin dia dekat dengan dua orang itu yang sama sekali belum menyadari kehadirannya. Bima bisa mendengar percakapan keduanya.
"Aku siap dengar apapun jawaban dan keputusan kamu Na" kata Ryan saat melihat tatapan gelisah dan penuh keraguan dari gadis di depannya.
"Aku menyayangi Kakak hanya seba....."
"STOP!!"
Tanpa sadar Bima langsung berteriak saat mendengar Hasna berucap kata sayang pada pria di depannya. Bima tidak bisa membiarkan ini semua terjadi, Hasna telah memiliki hatinya seutuhnya.
Hasna dan Ryan menoleh dengan wajah begitu terkejut pada Bima. Hasna bahkan sampai membelalakan matanya karena melihat Bima yang berdiri di sana dengan wajah yang merah padam.
Dia kenapa? Kelihatan marah sekali, tapi karena apa dia marah?
"Tuan"
Ryan membungkukkan tubuhnya dengan hormat pada Bima. Setidaknya Ryan masih sadar jika Bima adalah atasannya. Tidak mungkin dia bersikap kurang ajar pada atasannya itu.
Hasna terdiam dengan segala keterkejutannya. Dia menatap Bima yang juga sedang menatapnya dengan tajam. Hasna masih bingung kenapa Bima berekspresi seperti itu.
"Ikut aku!"
Tanpa aba-aba Bima langsung menarik tangan Hasna membuat gadis itu gelagapan. Bima menariknya pergi meninggalkan Ryan yang sepertinya sudah mulai sadar dengan situasi yang terjadi.
"Kak, duluan ke ruang rawat Hisyam aja" teriak Hasna dengan tangan masih di tarik oleh Bima. Ryan hanya mengangguk.
__ADS_1
Hasna menatap punggung lebar yang sedang menarik tangannya ini. Bima terus berjalan tanpa memperdulikan Hasna yang kesakitan dengan cengkraman tangannya itu. Hasna berjalan dengan terseok-seok, mencoba menyeimbangi langkah lebar Bima.
Dia ini kenapa si? Aneh banget.
"Tu-tuan, kita mau kemana?" lirih Hasna, memberanikan diri untuk bertanya
"Diam!"
Suara bariton dengan penuh penekanan itu membuat Hasna diam. Bima benar-benar sedang di landa cemburu buta sehingga dia begitu kesal dan marah. Tapi, masalahnya gadis yang dia cemburui itu belum tahu perasaannya.
Sampai di taman rumah sakit, Bima mengajak Hasna untuk duduk di bangku taman. Hasna duduk di jarak aman, dia begitu takut dengan ekspresi Bima saat ini. Begitu menyeramkan menurutnya.
Dia bersikap biasa saja sudah membuat Hasna takut. Apalagi dengan sikapnya yang seperti ini. Cemburu buta benar-benar membuat Bima tidak bisa mengendalikan emosinya.
Hasna duduk diam dengan wajah menunduk dan tangan yang saling bertaut di atas pangkuannya. Tolong Na Ayah, Ibu.. Na takut. Kenapa pria yang Na sukai begitu menyeramkan seperti dia.
"Kau menerimanya Hah?" Tanya Bima dingin
Apasi maksud dia? Na masih belum mengerti.
"Jawab!!" Suara Bima sudah naik satu oktaf, dia terlihat begitu kesal karena Hasna hanya diam menunduk tanpa berniat menjawab pertanyaan nya itu.
"Sa-saya tidak mengerti maksud Tuan" lirih Hasna
Bima menghela nafas berat, gadisnya ini benar-benar polos. Bahkan terlalu polos untuk pria genius seperti Bima. Tapi, dia sudah terlanjur mencintai dan menyayangi gadis ini. Jadi, tingkah dan ekspresi bodohnya itu justru membuat Bima merasa gemas sendiri.
"Kau menerima cinta pria sialan itu?" Tanya Bima, mengulangi pertanyaannya dengan lebih jelas agar di mengerti oleh gadisnya yang kelewat polos itu.
Hasna mengerjap, dia baru mengerti apa maksud Bima. Ka Ryan? Apa dia tahu jika Kak Ryan menyatakan cinta padaku.
Hasna meggeleng pelan "Saya memang ingin menjawab pernyataan cinta Kak Ryan. Tapi, bukan berarti saya akan menerimanya. Anda tahu sendiri bagaimana perasaaan saya"
__ADS_1
Deg
Bima menatap gadis di sampinya, entah kenapa saat ini Hasna terlihat begitu menyedihkan. Gadis itu terlihat begitu rapuh dan terluka.
"Tapi, Tuan tenang saja. Saya tidak akan mengganggu Tuan lagi, saya juga sadar diri kok dengan posisi saya dan keadaan saya. Tapi, saya mohon biarkan saya tetap mencintai Tuan meskipun Tuan tidak mencintai saya"
"Biarkan saya tetap menyimpan perasaan ini di dalam hati saya. Tuan tidak perlu merasa terganggu dengan itu. Karena saya akan mencoba menjauh dari kehidupan Tuan, saya akan menghilang dari hadapan Tuan"
Dada Bima begitu sesak, luka yang dia tanam sendiri di gadis itu. Penolakannya sendiri yang membuat gadis itu terluka dan bersikap seperti sekarang. Hasna begitu terluka dengan ucapannya.
"Kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan adik saya" kata Hasna, gadis itu berdiri dan berbalik ingin melangkah pergi dari sana. Namun, langkahnya terhenti saat tangan kekar itu lagi-lagi mencekal pergelangan tangannya.
"Duduk dulu, aku ingin menjelaskan kesalah fahaman ini. Beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya" kata Bima
Hasna menurut, gadis itu duduk kembali. Menunggu Bima mengatakan apa yang ingin dia katakan. Meski Hasna tidak terlalu faham dengan maksud Bima. Kesalah fahaman apa yang terjadi, Hasna tidak merasa ada kesalah fahaman di antara mereka. Semuanya jelas, Bima memang menolak perasaannya bahkan sebelum dia menyatakan nya.
"Aku memang tidak yakin dengan perasaanku pada awalnya. Apalagi setelah dia datang kembali setelah sekian lama pergi menghilang tanpa ada kabar. Jujur saja aku masih menyimpan perasaan padanya. Apalagi dengan janji yang pernah terucap dari bibirku, aku harus tetap menepatinya"
Hasna masih diam mencoba mencerna maksud dari perkataan Bima. Dia masih meraba-raba bagaimana perasaan pria ini dan kehidupannya sebenarnya.
"Namun, ternyata selama 21 tahun aku menunggunya. Perasaan itu tak lagi sama, hatiku seolah telah beku dan tertutup untuk dia. Bahkan perasaan rindu yang dulu sering aku rasakan padanya. Hilang begitu saja"
Bima menatap lurus ke depan, banyak pasien yang sedang mencari udara segar di taman rumah sakit ini dengan menggunakan kursi roda dan di temani kerabat atau perawatnya.
"Hingga dia benar-benar membuatku kecewa dan tidak bisa lagi mempertahankan kisah kita. Aku memutuskan nya dengan pengkhianatan yang dia lakukan. Semuanya berakhir sejak saat itu dan kini aku sadar jika bukan dia yang memiliki hatiku. Tapi, gadis yang selalu aku tolak perasaannya yang bahkan dia belum sempat mengatakan perasaannya itu" kata Bima dengan menoleh ke arah Hasna
Hasna terdiam, dia baru bisa mengerti maksud dari cerita Bima ini. Dirinya telah menempati hati dingin laki-laki itu. Tapi, benarkah yang dia dengar? Rasanya Hasna masih belum bisa percaya dengan hal ini.
"Aku menyukaimu"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya.. hadiahnya mana nih.. kasih like komen juga di setiap chapternya..