You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Melahirkan


__ADS_3

"Ibu, kenapa Ibu mau melahirkan Na dan Hisyam. Padahal pas lahiran Hisyam aja, Ibu begitu kesakitan"


Ibu Hasna yang baru saja melahirkan adiknya satu hari lalu hanya mampu tersenyum mendengar pertanyaan anak perempuannya. Dia mengelus kepala anak pertamanya yang duduk di sampingnya.


"Ini adalah kodratnya perempuan, rasa sakit itu akan terbalaskan dengan kebahagiaan saat kamu bisa melihat bayi mungil yang sehat dan lucu"


Hasna kecil terdiam, dia menatap adiknya yang sedang menyusu pada Ibunya dengan begitu rakus. Dia mengelus kepala adiknya dengan tangan mungilnya itu.


"Apa Na juga akan seperti Ibu nanti?"


Ibu tersenyum mendengar pertanyaan gadis kecilnya. "Tentu saja, Hasna akan menjaydi Ibu yang hebat nanti. Percayalah rasa sakit saat melahirkan, semuanya akan menjadi kebahagiaan saat Hasna bisa melihat anak Hasna nanti"


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Hasna membuka matanya dengan keringat dingin yang membasahi keningnya. Dia mengingat kenangan saat bersama mendiang Ibunya. Tangannya masih menggenggam erat tangan suaminya.


"Sayang, pengen bangun. Aku mau duduk" lirih Hasna pada Bima


Dengan sigap Bima langsung membantu istrinya untuk duduk di atas ranjang pasien. Bima sangat khawatir dan cemas, tapi dia mencoba menutupi semuanya agar dia bisa memberikan semangat pada istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan anak pertama mereka.


"Mau minum?" tanya Bima dan Hasna mengangguk saja.


Bima segera mengambil segelas air putih yang berada di atas nakas dan membantu istrinya untuk minum.


"Sudah?"


Hasna mengangguk menjawab pertanyaan suaminya. Bima pun menyimpan kembali gelas yang masih berisi setengahnya itu di atas nakas. Lalu, dia naik ke atas ranjang pasien dan memposisikan dirinya di belakang Hasna. Bima memeluk istrinya dengan terus mengelus perut buncit istrinya. Bibirnya tidak henti mengecup kepala dan pundak sang istri.


"Sayang, operasi saja ya" lirih Bima, dia sudah tidak kuat melihat istrinya yang terus meringis setiap kali kontraksi datang.


Hasna menggeleng cepat, dia kuat dan pasti bisa melewati ini semua. "Sayang, ini adalah kodratnya perempuan. Aku yakin jika aku kuat dan bisa melewatinya dengan baik"


Bima hanya mengecup pundak Hasna dengan tangan terus mengelus perut buncit istrinya. "Aku mencintaimu Asna"


Hasna sedikit terkejut mendengar ungkapan cinta yang bahkan tidak pernah Bima ucapkan lagi sejak terakhir saat dia melamarnya.


"Jangan pernah meninggalkan aku, apapun yang terjadi. Kau janji!"


Apalagi coba yang di ucapkan Bima barusan. Pria itu seolah sedang takut kehilangan. Hasna menggenggam tangan Bima yang berada di atas perutnya.

__ADS_1


"Sayang, aku tidak akan meninggalkanmu. Ke depannya apapun yang terjadi, atau ada masalah yang datang ke keluarga kecil kita. Aku akan tetap bersamamu, kita akan hadapi semuanya bersama-sama"


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Akhirnya saat ini telah tiba, sudah tiba waktunya untuk Hasna mengeluarkan seluruh tenaganya untuk melahirkan sang anak ke dunia. Bima yang selalu berada di sampingnya menjadi kekuatan tersendiri untuk Hasna.


Dengan sisa tenaga yang ada, Hasna mencoba mengejan dengan sekuat tenaga agar anaknya segera melihat indahnya dunia ini. Mengikuti intruksi dokter dan terus berusaha sekuat tenaga agar bayinya segera lahir.


Tak bisa di ucapkan dengan kata-kata, kebahagiaan yang Hasna rasakan saat mendengar suara tangisan pertama bayinya itu. Bayi laki-laki yang Hasna lahirkan adalah anugerah terindah baginya.


Bima yang sedari tadi berada di sampingnya sampai tidak kuat untuk tidak meneteskan air mata. Dia merasa dunianya di penuhi dengan kebahagiaan saat ini. Mendengar tangisan anak pertama mereka benar-benar menjadi kebahagiaan dan haru yang dia rasakan.


Bayi mungil itu lalu ditaruh di atas dada Hasna. Dengan cepat tangan Hasna memeluknya, tangisnya pun pecah. Terharu melihat bayi mungil yang saat ini sedang menyusu air asi pertama dari Hasna.


"Dia mirip kamu Sayang" lirih Hasna sambil menatap Bima yang sedang menghapus air matanya.


Dia sampai menangis? Aku bahkan tidak percaya jika dia bisa menangis juga kayak manusia. Eh.. Emangnya dia apa? Dia juga manusia, dia suamimu Hasna.


Hasna malah ingin tertawa sendiri dengan pemikirannya itu. Memang sangat tidak mungkin bagi Hasna melihat suaminya menangis. Tapi, ternyata dia menangis di saat melihat perjuangan sang istri untuk melahirkan anaknya.


Cup..


"Terimakasih"


Hanya kata itu yang mampu Bima ucapkan saat ini. Dia seolah tak mampu berkata-kata saat ini.


Dengan perlahan Bima menyentuh kepala anaknya dan mengelusnya dengan lembut. Dia seolah tidak percaya, jika bayi mungil itu adalah anaknya. Hasil kerja kerasnya setiap malam.


"Aww.."


Tiba-tiba Hasna meringis kesakitan, membuat Bima kembali panik karena mendengar rintihan istrinya itu.


"Ada apa? Apa yang sakit..." Bima lalu menatap nyalang pada dokter dan perawat yang masih berada di bawah Hasna. Tepat di depan kewanitaannya. "...Apa yang kalian lakukan pada istriku?!"


"Maaf Tuan, kami sedang menjahit sedikit robekan di area ini" jelas perawat yang mendampingi dokter yang sedang melakukan tugasnya.


"Jahit?"


Bima mulai frustasi dengan pemikirannya sendiri. Kewanitaan istrinya di jahit, apa robeknya sebesar itu sampai harus di jahit.

__ADS_1


"Sayang sudah, aku tidak papa. Lagian memang begitu proses melahirkan dan sesudah melahirkan"


Hasna mencoba menenangkan suaminya yang mulai menggila kembali karena penjelasan perawat tadi.


"Tapi Asna, dia menjahitnya. Apa itu tidak menyakitkan? Memangnya sebesar apa robekannya?" Bima lalu menatap bayi mungil di atas dada istrinya. "Kau segagah itu ya, sampai membuat surgaku robek dan harus di jahit"


Hah.. Apa dia gila? Kenapa berbicara seperti itu di depan dokter dan perawat. Duh.. Aku sangat malu dengan tingkah suamiku ini.


Wajah Hasna sudah memerah malu mendengar ucapan Bima barusan. Apalagi saat dia melihat dua orang perawat yang menahan tawa mendengar ucapan abstrak suaminya itu.


"Sayang bisa diam tidak? Aku sedang sakit habis melahirkan anakmu. Kau diamlah, jangan banyak bicara"


Karena yang kamu bicarakan selalu di luar nalar. Apalagi menyangkut hal satu itu.


Bima menatap dingin istrinya yang berbicara dengan suara keras padanya. Karena Bima tidak menyukainya. Namun, bukan saatnya Bima untuk mendebat Hasna di ruangan seperti ini dan juga ada perawat dan dokter di sini.


Duh.. Berani banget aku bicara keras seperti itu padanya. Duh.. Harimau ganas mulai aktif lagi nih..


Hasna hanya mampu memalingkan wajahnya agar tidak melihat tatapan dingin Bima padanya yang selalu membuat Hasna ketakutan.


"Sudah selesai, biar saya ambil bayinya dulu Nona. Akan saya bersihkan dulu"


Perawat itu mengambil bayi dari atas dada Hasna yang masih nyaman di pelukan ibunya itu. Setelah itu, Hasna segera di pindahkan ke ruang perawatan.


Bersambung


Segera End...


Jangan lupa dukungannya ya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..


ada novel temanku lagi nih..


Harap bijak dalam memilih bacaan, terdapat adegan kekerasan, Kata-kata vulgar dan kotor


spin of novel Mr. Arogant


lanjutan dari Mr. Arogant... perjalanan kisah hidup dan cinta Alexander Yudista Miller putra sulung Xavier dan Nesa.


__ADS_1


__ADS_2