
Hasna kembali ke suasana ini, berada di dalam mobil bersama pria menyeramkan itu. Setelah tadi cukup lama menjelaskan semuanya dan meminta maaf pada Anista, gadis yang di tolongnya itu.
Bahkan Hasna sempat terkejut saat tahu jika calon suami Anista yang di maksud oleh Bima adalah pria dingin yang menemuinya waktu itu. Pria yang menodai Anista di malam itu. Sungguh takdir memang begitu membingungkan.
Kenapa berhenti di sini?
Hasna menatap bingung ke luar jendela mobil. Bima menghentikan mobilnya tepat di parkiran reataurant yang cukup terkenal di kota ini. Mungkin hanya kalangan menengah ke bawah yang tidak terlalu tahu soal restaurant ini.
"Cepat turun!" kata Bima yang sudah membuka pintu mobil
"I-iya"
Hasna turun dari mobil dan mengikuti langkah kaki Bima memasuki restaurant itu. Hasna hanya menundukan wajahnya saat banyak orang ramai yang berada di sana.
Hasna selalu saja merasa takut jika berada di keramaian seperti ini. Takut jika kejadian seperti di mal waktu itu kembali terulang. Apalagi ini di kota tempat dia tinggal bersama kenangan menyakitkan itu.
Terdengar beberapa orang yang menyapa Bima. Namun, Hasna tidak memperdulikan itu.
Hasna terus berjalan sambil menundukan kepalanya. Entah apa tujuan Bima membawanya ke sini. Karena dia malah menuju lift yang ada di sana. Tidak bermaksud makan malam atau apa yang ingin dia lakukan? Hasna benar-benar tidak mengerti.
Mereka masuk ke dalam lift dan Hasna hanya mengikuti saja. Beberapa saat berada di dalam kotak besi itu, akhirnya pintu lift terbuka dan mereka pun keluar dari dalam sana.
Bima membuka pintu sebuah ruangan dan masuk ke sana, masih diikuti oleh Hasna. Gadis itu menatap ke sekelilingnya.
Ada meja kerja, lemari, rak buku, tempat tidur di ujung ruangan dan satu sofa panjang di dekat jendela dengan meja berukuran sedang di depannya. Ruangan ini begitu luas dan semuanya tertata rapi.
Apa yang akan dia lakukan di sini?
Bima duduk di kursi kerjanya, dia menatap gadis yang masih berdiri diam di tempatnya.
"Kau duduklah, ada yang harus aku selesaikan dulu"
Hasna menoleh ke arah Bima lalu mengangguk. Gadis itu berjalan ke arah sofa yang berada di dekat jendela. Duduk di sana sambil menatap indahnya jalanan kota di malam hari.
Masih terlihat banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Lampu-lampu terlihat bercahaya menerangi jalanan di malam hari.
Rasanya sudah lama aku tidak bisa menikmati suasana seperti ini.
Sejak berumur 15 tahun, Hasna harus mulai mencari uang sendiri. Semua aset yang di miliki Ayahnya sudah di sita. Hasna mulai membuat beberapa jajanan dan cemilan untuk di simpan di kantin sekolah dan di warung-warung kecil di daerah tempatnya tinggal.
Sehingga sejak saat itu Hasna rasanya tak pernah lagi menikmati waktu seperti ini. Duduk diam menatap keindahan dunia di luar sana. Hidupnya hanya di sibukan dengan mencari nafkah untuknya dan adiknya.
__ADS_1
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Bima meregangkan otot-otot tangannya yang terasa kaku setelah memeriksa beberapa berkas laporan keuangan di restaurant ini.
"Akhirnya semua urusan terselesaikan hari ini" gumam Bima
Pria itu menoleh ke arah sofa saat mengingat jika dia tidak sendiri datang ke sini. Bima melihat seorang gadis yang terlelap dengan tubuh meringkuk kedinginan.
Dia tertidur ya?
Bima berjalan ke arah sofa dan berlutut di depan gadis itu. Wajah polos tanpa make up yang terlelap itu membuat hati Bima sedikit berdesir.
Cantik. Eh
Bima langsung menggeleng cepat dengan pikirannya itu. Dia menepuk pelan bahu Hasna sampai gadis itu menggeliat pelan dan membuka matanya.
"Tu..tuan" lirihnya, matanya masih mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke indra penglihatannya.
"Cepat bangun dan kita pulang sekarang" kata Bima sambil berdiri
Hasna langsung bangun terduduk dan mengangguk dengan wajah masih terlihat mengantuk.
Hasna berjalan mengikuti Bima keluar dari ruangan itu dan masuk ke dalam lift. Sampai di lantai bawah tadi, Hasna melihat Bima berbicara dengan seorang pelayan. Suasana sudah sepi, sepertinya restaurant telah tutup.
Hasna mengikuti Bima "Tapi, ini sudah tutup restorannya juga"
Bima menatap Hasna, tatapan biasa saja menurut Bima. Namun, Hasna selalu merasa tatapan Bima itu sangat tajam sehingga bisa menusuk ke relung hatinya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Bima santai
Hasna menarik kursi di depan Bima dan duduk di sana "Ti-tidak papa, Tuan"
Dia seorang Bima, bisa melakukan apa saja. Sudahlah jangan protes.
Pelayan datang dan menata makanan pesanan Bima di meja mereka. Keduanya makan dengan tenang.
Tidak! Hanya Bima yang bisa makan dengan tenang. Tapi, Hasna merasakan aura mencekam jika bersama pria ini. Bahkan debaran jantungnya selalu saja tidak terkontrol saat dia bersama Bima seperti ini.
"Kapan kau akan pulang?" Tanya Bima setelah menyelesaikan makan malamnya.
Deg
__ADS_1
Ada yang perih di hatinya, pertanyaan Bima seolah menunjukan jika pria itu memang ingin segera dia meninggalkannya dan pergi dari kehidupannya.
Sadar Hasna, kamu tidak boleh seperti ini. Sudah saatnya aku kembali ke kehidupan aku yang seharusnya. Bukan disini, dengan pria dingin menyeramkan ini.
"Besok saya pulang, Tuan. Lagian semuanya sudah terselesaikan" Aku juga tidak mau terus-terusan terjebak dengan perasaan ini.
Bima mengangguk mengerti "Baiklah, besok Pak Firman akan mengantarmu"
Hasna mengangguk dengan perasaan tak menentu. Entahlah, kenapa dia begitu berharap jika Bima sendiri yang akan mengantarnya. Hasna seolah belum siap untuk berpisah dengan pria ini. Meski terlihat menyeramkan dan kaku, tapi hatinya memiliki kelembutan yang orang lain tidak tahu.
Hasna menatap bingung pada tangan kekar yang mengulur di depannya "Emm?"
"Terimkasih untuk kerjasamanya" kata Bima sambil meraih tangan Hasna dan menjabatnya.
Kerjasama? Jadi, dia hanya menganggap ini kerjasama.
"Terimakasih karena tidak menyulitkan ku untuk menyelesaikan permasalahan ini" kata Bima lagi
Hasna mengangguk "Iya Tuan, sama-sama"
"Baiklah, sekarang ayo kita pulang" kata Bima seraya berdiri dari duduknya
Bima mengulurkan tangannya pada Hasna, senyuman tipis tersemat di bibirnya. Bahkan ini adalah senyuman pertama yang Hasna lihat, meski hanya sebuah senyuman tipis.
"Sebagai ucapan terimakasih ku karena kau membantuku dan tidak menyulitkan ku untuk semuanya" kata Bima, kembali ke ekspresi wajah seperti biasa.
Padahal kalo senyum dikit aja kayak gitu semakin tampan. Apalagi kalo bisa tersenyum terus. Dasar pria kaku.
Hasna menerima uluran tangan Bima dengan wajah sedikit memerah. Detak jantungnya semakin cepat. Berjalan keluar dari dalam restaurant yang telah tutup itu.
"Cepat masuk" kata Bima setelah membukakan pintu mobil untuk Hasna
Gadis itu menurut saja, Bima juga masuk ke dalam mobilnya. Mobil mulai melaju membelah jalanan kota di malam hari.
"Setelah ini aku harap kau bisa menjalani hidupmu kembali seperti biasanya. Lupakan semua tentang perasaanmu, aku tidak yakin jika kau tidak akan terluka karenaku"
Deg..
Bersambung
Nulis dua bab dengan banyak kata 1000 lebih di waktu satu hari. Waw.. Lumayan pegel juga nih tangan. Minggu-minggu ini ada kesibukan di dunia nyata. Dan aku masih usahain up di hari ini. karena kalian yang masih setia sama karyaku. Jadi, jangan lupakan dukungannya..
__ADS_1
Like dan komen di setiap chapter...