
Hasna cukup terkejut melihat empat paper bag dan satu kotak yang berada di atas tempat tidur saat dia selesai mandi. Salah satunya adalah paper bag yang berisi gaun yang kemarin Bima beli di butik. Hasna membuka satu-satu paper bag itu.
Sebuah kotak yang berisi sepatu dengan hak tinggi yang mungkin hanya beberapa centimeter saja tingginya. Tapi terlihat mewah dan elegan.
Hasna membuka satu paper bag pertama yang ternyata isinya sebuah tas yang sudah pasti harganya sangat fantastis. Hasna mengangkat tas itu dan melihatnya dengan membolak-balikan tas itu di tangannya.
"Ini pasti tas mewah deh, harganya juga aku tahu tidak akan murah. Kenapa dia membelikan aku tas semahal ini?"
Hasna tentu tahu harga tas dengan merek terkenal yang berada di tangannya itu. Dulu, saat orang tuanya masih ada pasti Ibu Hasna memiliki salah satu tas dengan merek ini. Dan Hasna tahu jika harganya yang tidak biasa saja. Hasna merasa tidak enak sendiri dengan apa yang di berikan Bima padanya. Dia bukan gadis matrealistis yang melihat segalanyan dari uang.
Satu paper bag berisi alat make up, dan satu lagi berisi pakaian dalam yang lengkap untuk Hasna. Gadis itu cukup terkesiap dengan semua yang di sediakan Bima ini. Bahkan pakaian dalamnya begitu pas di tubuhnya. Apa Bima memilihnya sendiri? Bagaimana bisa pas begini ukurannya? Sepertinya Hasna sedikit bingung dengan Bima yang membelikan dia perlengkapan ini dengan begitu detail.
Dia benar-benar mesum ya, kok bisa pas begini ukurannya.
Hasna masih saja memikirkan ukuran pakaian dalamnya yang pas di tubuhnya. Memikirkan Bima tengah memperhatikan tubuhnya sehingga bisa membeli pakaian dalam dengan ukuran sangat pas di tubuhnya.
"Ishh. Awas saja ya jika dia benar-benar berfikiran mesum padaku. Lihat saja!" Hasna bergumam sendiri sambil memakai pakaiannya.
Selesai memakai pakaiannya, Hasna segera menggunakan make up. Dia tidak terlalu bisa memakai make up, jadi hanya memakai make up sederhana saja. Tidak terlalu terlihat mencolok. Percuma saja Bima membelikannya semua alat make up yang lengkap, karena tidak semuanya Hasna gunakan. Selain tidak terlalu bisa bermake up, Hasna juga tidak terlalu faham dengan penggunaan beberapa alat make up.
Meski dulu Hasna adalah anak dari orang yang cukup berada, namun dia tetap tidak suka terlihat mencolok dari yang lain. Dia memang gadis yang tidak terlalu suka memakai make up, apalagi dengan make up yang mencolok membuat dirinya tidak percaya diri saja. Hasna merasa lebih nyaman dengan wajah polosnya karena tidak terlalu terbebani dengan make up yang tebal.
Baru saja Hasna selesai dengan bersiap nya, pintu kamar terbuka dan munculah pria yang sangat tampan dengan balutan jas dengan warna senada dengan gaun yang Hasna gunakan.
__ADS_1
"Sudah siap?" tanya Bima
Hasna tersenyum dan Bima bisa melihatnya lewat cermin meja rias di depan Hasna "Sudah cukup, jangan terlalu cantik di depan banyak orang. Kau cukup bermake up seadanya saja. Aku tidak suka kau berdandan untuk terlihat cantik oleh pria lain"
Dia ini masih saja seperti itu, padahal aku hanya memakai make up sebisanya saja.
Hasna berdiri dan berbalik menghadap Bima "Kenapa kamu membelikan tas itu, rasanya aku tidak pantas deh pake tas seperti itu. Terlalu mewah"
Baju ini saja sudah sangat mewah untuk aku yang biasa ini.
Hasna merasa rendah diri di hadapan Bima, siapa dia ini jika di sandingkan dengan seorang Satria Bima Prakasa. Dia bukanlah siapa-siapa.
Bima berjalan mendekati kekasihnya yang sedang menunduk itu, Bima tahu jika Hasna merasa tidak enak dengan pemeberiaannya ini.
Bima raih dagu gadisnya dan mengangkat wajahnya agar menatapnya dan tidak lagi menunduk seperti itu "Semua barang ini pantas untukmu, kau adalah kekasihku dan calon istriku. Tidak ada yang tidak pantas dengan apa yang aku berikan padamu"
"Aku malu saja, masa seorang office girl memakai tas semewah itu" lirih Hasna, kembali menundukan wajahnya. Hasna merasa sangat rendah di hadapan Bima.
"Hei, lihat aku!" Bima kembali mengangkat wajah Hasna yang menunduk itu, Bima menangkup wajah mungil Hasna dengan kedua tangannya "Kau memang seorang office girl jika berada di tempat kerjamu. Tapi, saat ini kau adalah Nyonya Satria. Tidak ada yang akan menatapmu rendah, jika itu ada maka dia akan berurusan denganku! Faham? Sekarang tidak usah merendah seperti itu, kau datang bersamaku dan tidak perlu merasa takut karena jika ada yang berani mengusik miliku maka dia akan sangat menyesal!"
Hasna menatap mata Bima dengan lekat, pria itu benar-benar mencintainya dengan tulus. Tanpa memandang rendah status Hasna, Bima benar-benar seorang pria yang menjaga miliknya dengan sunguh-sungguh. Tidak akan rela jika miliknya di ganggu oleh orang lain.
"Sudahlah, sekarang pakai tasmu dan kita segera berangkat. Kasihan juga Hisyam kita tinggalkan terlalu lama" kata Bima
__ADS_1
Satu lagi yang membuat Hasna semakin mencintai Bima. Pria itu selalu memikirkan keadaan Hisyam, Bima menerima Hasna dan juga adiknya dengan tulus.
"Syam sudah di acara nikahan guru ngajinya bersama teman-temannya, jadi nanti kita tinggal jemput dia saja sekalian kesana" jelas Hasna, sengaja tidak menyebutkan nama Ustadz Zaki agar Bima tidak kesal.
Hasna memang baru saja mendapat kabar dari Ryan jika Hisyam sudah berada di acara pernikahan Ustadz Zaki bersama teman-temannya yang lain.
Bima mengangguk mengerti, dia meraih bagian kepala Hasna dengan tangan kekarnya. Lalu sedikit menariknya agar wajah Hasna dekat dengannya. Bima mencium keningnya dengan lembut. Betapa Bima menyayangi wanita di depannya ini, bahkan rasa sayang yang tidak pernah Bima rasakan kepada Bianca, dulu.
"Ayo kita berangkat sekarang" Ajak Bima
Hasna mengangguk, dia meraih tas mewah yang di berikan Bima itu. Membukanya dan memasukan ponsel dan dompetnya ke dalam sana. Setelah itu, Hasna langsung menenteng tas itu di tangannya.
"Ayo Tuan Putri ku" kata Bima dengan mengulurkan tangannya pada Hasna.
Kenapa dia menjadi romantis begini ya?
Hasna malah heran sendiri dengan sikap Bima, entah sejak kapan pria itu menjadi romantis seperti ini. Meski bingung, Hasna pun akhirnya menerima uluran tangan Bima. Mereka keluar dari kamar dengan bergandengan tangan.
Pakaian dengan warna senada, membuat mereka terlihat begitu serasi. Apalagi dengan sikap protektive Bima pada Hasna. Tidak sedetik pun pria itu melepaskan rangkulan tangannya di pinggang Hasna.
Bersambung
Udah up dari kemarin, tapi gak tau kenapa gak ke riview... Baru lolos riview sekarang.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya... like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga.. terimakasih.
Kasih dukungan kalian juga di novel terbaru aku ya.. Benteng Penghalang Kita. Kisah Cinta dengan segala rintangan dan perbedaan yang sangat teramat jauh.