
"Sudah di bayar?!"
"Iya, sudah di bayar lunas sampai pasien beranama Hisyam bisa pulang"
Hasna begitu terkejut saat menanyakan biaya pengobatan Hisyam, dan ternyata sudah terbayar lunas. Niatnya tadi dia ingin meminjam uang pada Ryan karena uang yang di milikinya tidak akan cukup untuk membayar biaya pengobatan Hisyam.
Tentu saja Ryan langsung memberikan pinjaman pada Hasna. Meski sebenarnya dia ingin memberinya, tapi Hasna menolaknya. Lebih baik meminjam dari pada meminta. Sudah terlalu sering Hasna merepotkan Ryan dan Ibunya dalam segala hal.
"Ta-tapi siapa yang telah membayarnya?" Tanya Hasna
"Atas nama Tuan Satria yang telah membayar semua biaya pengobatan pasien bernama Hisyam selama di rawat inap di sini"
Satria? Tuan Bima?
Ryan sedikit merasa tidak suka dengan kenyataan ini. Lagi-lagi dia harus kalah cepat oleh Bima. Tentu saja dia tahu siapa Tuan Satria yang di maksud oleh perawat itu.
"Emm. Kalo gitu, kapan adik saya bisa pulang?" Tanya Hasna
"Lusa sudah bisa pulang jika keadaannya stabil"
Hasna mengangguk "Terimakasih"
Hasna berjalan meninggalkan tempat administrasi itu. Fikirannya masih di penuhi oleh nama 'Tuan Satria' yang dia ketahui jika itu adalah Bima.
Ternyata Tuan Bima tidak sedingin yang orang fikirkan. Dia juga punya sisi peduli dan baik hati.
"Kak, Tuan Satria itu bener Tuan Bima 'kan?" Tanya Hasna seolah masih belum percaya dengan cerita Ryan tentang pertemuannya dengan asisten si pemilik hotel yang ternyata adalah Bima.
"Iya, masa aku bohong sama kamu. Aku jelas ketemu langsung sama dia di ruangan direktur utama hotel tempat kita kerja" jelas Ryan
"Itu artinya, Tuan Bima adalah si pemilik hotel itu?"
__ADS_1
Keduanya berjalan berdampingan menuju ruang rawat Hisyam.
"Katanya si dia itu kaki tangan si pemilik hotel. Tapi setiap bulannya dia yang akan mengecek keuangan dan perkembangan hotel itu" kata Ryan
Hasna mengangguk kecil "Apa mungkin pemilik aslinya adalah Tuan Yudha, suaminya Anista ya?"
Ryan langsung menoleh ke arah Hasna "Iya bener. Soalnya Tuan Satria itu pernah bilang kalo dia adalah asisten dari Tuan Muda Yudha Abimana Walton. Si pemilik Walton.Corp"
Ternyata Tuan Bima bukanlah orang sembarangan. Sudah sepantasnya si kalo dia menolak aku secara terang-terangan. Toh aku gak ada pantes-pantesnya buat bisa bersanding dengan dia.
"Na, kenapa?" Ryan menepuk bahu Hasna saat melihat gadis itu malah melamun
Hasna mengerjap, dia menoleh ke arah Ryan dan tersenyum "Gak papa Kak, cuma lagi mikirin gimana ya caranya ganti uang Tuan Bima"
"Kalo kamu mau bisa pakai uang aku dulu Na, lagian aku punya tabungan kok. Dan uangnya gak akan aku pakai cepat-cepat" kata Ryan, sebenarnya dia ingin memberikan saja uang itu pada Hasna. Namun, dia tahu jika Hasna tidak akan mau menerimanya. Jadi lebih baik dia memberikan Hasna pinjaman saja.
Hasna terlihat menimbang-nimbang apa yang di tawarkan oleh Ryan. Dia lebih tak ingin terlibat lagi dengan pria dingin menyeramkan itu. Sejak Hasna tahu jika Bima menolaknya secara terang-terangan karena Bima telah mempunyai gadis yang di cintainya.
Karena untuk Hasna bisa mencintai pria seperti Bima, itu sudah suatu keberuntungan untuknya. Setidaknya Bima tidak melarangnya untuk tetap mencintainya.
"Emm. Ap-apa boleh kalo Na pinjem uang Kakak buat bayar ke Tuan Bima?" Tanya Hasna ragu-ragu, dia merasa tidak enak karena lagi-lagi harus merepotkan Ryan.
Ryan mengelus kepala Hasna dengan gemas, rambutnya yang di ikat sampai berantakan hingga beberapa helai keluar dari ikatan rambutnya.
"Ishh.. Kakak, jangan acak-acak rambut aku" kesal Hasna dengan cemberut
"Abisnya kamu gemesin, iyalah kamu boleh pinjem uang aku. Lagian kayak sama siapa aja deh" kata Ryan tersenyum menenangkan pada Hasna
"Emm. Makasih Kak" lirih Hasna
Kak Ryan udah sebaik ini sama aku, tapi aku masih belum beri dia jawaban tentang pernyataan cintanya waktu itu. Mau jawab iya, tapi perasaan aku gak lebih dari sekedar rasa sayang pada seorang Kakak. Mau menolak juga aku gak mungkin tega setelah apa yang Kak Ryan lakukan untuk membantuku dan Hisyam.
__ADS_1
Hasna menjadi dilema sendiri dengan perasaannya itu. Di satu sisi dia ingin mengatakan yang sejujurnya, jika dia memang tidak mempunyai perasaan lebih pada Ryan. Tapi, di sisi lain Hasna tidak tega untuk mengatakannya karena mengingat bagaimana Ryan dan Ibunya begitu banyak membantu dia dan adiknya.
Langkah Hasna terhenti, dia menoleh ke arah Ryan yang juga menghentikan langkahhya. Hasna berdiri berhadapan dengan Ryan. Dia harus memberi kepastian pada pria di depannya ini. Tidak mungkin Hasna terus menerus mengulur waktu untuk memberikan jawaban atas pernyataan cinta Ryan padanya.
"Emmm. Kak, ada yang mau aku bicarakan sama Kak Ryan" kata Hasna dengan sedikit cemas dan gelisah
Ryan menatap Hasna dengan kening yang berkerut, bingung "Ada apa Na? Mau bicara apa?"
Jari-jemari Hasna saling bertaut karena dia merasa cemas dan gelisah. Takut jika Ryan akan berubah setelah tahu perasaan Hasna padanya.
Tenang Hasna, kamu harus tenang.
Hasna mendongak dan menatap Ryan dengan lekat "Emm. Untuk pernyataan cinta Kakak waktu itu, aku akan memberikan jawabannya sekarang"
Ekspresi Ryan berubah menjadi cemas, dia takut akan kecewa dengan jawaban yang akan di berikan Hasna padanya.
"Aku... ak-aku.."
Lidah Hasna terasa kelu, semua rangkaian kata yang dia siapkan tercekat di tenggorokan. Sungguh Hasna tidak ingin mengecewakan Ryan, tapi dia juga tidak ingin Ryan semakin kecewa jika Hasna harus berpura-pura mencintainya hanya karena Hasna tidak tega menolak perasaan Ryan padanya.
"Aku siap dengar apapun jawaban dan keputusan kamu Na" kata Ryan saat melihat tatapan gelisah dan penuh keraguan dari gadis di depannya.
"Aku menyayangi Kakak hanya seba....."
"STOP!!"
Teriakan seseorang itu berhasil menghentikan ucapan Hasna dan membuat Hasna dan Ryan begitu terkejut.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiah dan votenya juga...
__ADS_1
Akhir-akhir ini pembaca berkurang dan yang kasih dukungan juga berkurang. Aku sedih tau..