You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Wanitaku!


__ADS_3

"Kenapa gak mau di bawa ke rumah sakit si Na?" Tanya Ryan dengan sedikit kesal, menatap sekilas pada gadis yang duduk di sampingnya.


"Aku gak papa Kak, ini sudah biasa jika aku datang bulan" jelas Hasna


Hah..


Ryan hanya menghela nafas, dia sudah sepanik itu dan akan membawanya ke rumah sakit. Namun dengan memaksanya Hasna terus menolak dan hanya ingin di antar pulang saja.


"Tapi mukamu pucat banget Na"  kata Ryan, terlihat jika pria itu sedang benar-benar mencemaskan keadaan Hasna.


"Gak papa kok, udah Kakak tenang aja"


"Yaudah kalo ada apa-apa langsung hubungi aku ya"


Hasna mengangguk, akhirnya mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan gang menuju rumah Hasna. Ryan membukakan pintu mobil untuk Hasna.


"Gak usah anter sampe rumah juga Kak, aku masih kuat kok" kata Hasna, tersenyum dengan bibir pucatnya.


"Sudah jangan banyak membantah kamu, sudah lemah seperti ini masih saja cerewet" kata Ryan sambil memapah Hasna untuk berjalan menuju rumahnya.


Hasna tertawa kecil mendengar omelan Ryan, dia sudah sering mendengarkan omelan pria itu dan.. ya Hasna menganggap jika omelan Ryan itu adalah rasa sayang yang di tunjukan oleh seorang Kakak.


Sampai di depan rumah, mereka langsung di sambut oleh Hisyam. Anak itu terlihat begitu cemas melihat Kakaknya yang di papah oleh Ryan dengan wajah pucat. Jelas jika Kakaknya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Kak Na, kenapa?" Tanya Hisyam sambil mengikuti Kakaknya yang masuk ke dalam rumah. Masih di papah oleh Ryan.


"Assalamualaikum Syam, Kakak gak papa"


"Waalaikumsallam, yakin gak papa? Wajah Kakak pucat banget" kata Hisyam, dia terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan Kakaknya itu.


Ryan mendudukan Hasna di kursi kayu yang berada di ruang tengah rumah kontrakan sederhana itu. Hisyam berdiri di samping Ryan dan menatap pria itu dengan tatapan penuh tanya, seolah menanyakan 'apa yang terjadi dengan Kakak ku?' Dan Ryan mengerti arti tatapan anak itu.


"Kakakmu sedang datang bulan katanya, dia juga telat makan malam. Tadinya Kak Ryan mau bawa Kakakmu ke rumah sakit, tapi dianya kekeuh gak mau" jelas Ryan


Hisyam menatap khawatir pada Kakaknya "Kenapa gak di periksa ke rumah sakit saja Kak"


Hasna menoleh dan tersenyum pada adik laki-lakinya itu "Tidak perlu, Kakak gak papa kok. Nanti minum obat aja, pasti langsung merasa baikan"


"Aku sudah memesan makanan tadi, mungkin sebentar lagi sampai" kata Ryan, menjawab kekhawatiran Hisyam tentang kakaknya yang melewatkan makan malam.


"Syam, bisa tolong rebusin air panas buat mandi. Kakak mau bersih-bersih, udah gak enak banget ini badan" kata Hasna, kepalanya menyandar ke sandaran kursi sambil memejamkan matanya mencoba menahan sakit yang masih dia rasakan di perutnya.

__ADS_1


"Iya Kak"


Hisyam langsung berlalu pergi ke dapur untuk menyiapkan air panas. Sementara itu Ryan duduk di kursi kayu samping Hasna.


Tok..tok...


Suara ketukan pintu membuat Hasna membuka kedua matanya yang terpejam itu. Dia menoleh ke arah Ryan yang langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.  Ryan sudah yakin jika yang mengetuk pintu adalah orang yang mengantarkan makanan pesanannya.


Hasna kembali memejamkan matanya dengan kepala menyandar. Tak lama kemudian, Ryan kembali dengan membawa makanan yang di pesankannya.


"Syam ambilin piring, kita makan malam bersama di sini" teriak Ryan pada Hisyam yang masih berada di dapur


"Siap Kak"


Hisyam membawakan piring dan perlengakpan makan yang lainnya. Ryan segera menata makanan yang di bawanya ke atas piring. Lalu menyimpannya di atas meja.


"Kenapa beli sama nasinya Kak, padahal disini juga ada nasi" kata Hasna


"Gak papa, biar sekalian aja"


Ryan mengambil makanan itu dan kembali duduk di kursi kayu samping Hasna. Dia menyuapi gadis itu makan, meski Hasna menolak tapi Ryan tetap memaksanya.


"Aku bisa sendiri Kak, Kakak makan aja punya Kakak" kata Hasna


Sementara Hisyam hanya diam dan fokus dengan makanan miliknya. Dia memang sudah makan malam, tapi karena Ryan membeli makanan untuknya juga. Jadi Hisyam memakannya, karena tidak enak jika menolaknya.


Ryan masih terus menyuapi Hasna sesuap demi suap sampai makanan itu hampir habis. Untuk suapan terakhir, mereka malah di kejutkan oleh suara pintu yang terbuka dengan kasar.


Brakk...


Semuanya menoleh ke arah pintu yang terbuka. Pria dingin yang terlihat acak-acakan berdiri disana dengan nafas yang tersengal. Mungkin dia habis berlari.


"Tu-tuan" lirih Hasna, terkejut dengan kedatangan pria itu secara tiba-tiba.


Bima menatapnya dengan begitu tajam menusuk hati. Bisa-bisanya dia memanggilku seperti itu di depan pria lain. Dan apa tadi yang mereka lakukan? Pria itu menyuapi Hasnaku, sial..


Hasna yang kebingungan dan juga keadaannya yang masih lemah hanya diam menatap wajah dingin itu. Ryan juga hanya diam, ingin tahu apa yang akan di katakan oleh Bima.


"Kau!" Bima menunjuk ke arah Hasna dan Ryan dengan tatapan tajamnya "Beraninya kau menyuapi wanitaku!"


Hah..

__ADS_1


Hasna terbelalak terkejut mendengar ucapan Bima. Wanitaku? Apa dia benar-benar menganggapku sebagai wanitanya? Benarkah?


Ryan juga tak kalah terkejutnya mendengar ucapan Bima. Namun dia segera menetralkan kembali ekspresi wajahnya.


Apa mereka berpacaran?


"Aku hanya membantunya makan, dia terlihat lemah Tuan" jelas Ryan dengan tenang.


Bima tersenyum sinis sambil bersidekap dada "Hmm. Apa kau tidak tahu jika dia ini adalah pacarku"


Selalu ada penekanan setiap Bima mengucapkan kata 'pacar' seolah dia sedang memberi tahu jika Hasna hanya miliknya dan tidak satupun pria yang bisa merebut dia darinya.


Ryan diam mematung mendengar ucapan Bima. Dia seolah tidak percaya dengan ucapan Bima. Bagaimana bisa Hasna berpacaran dengan pria seperti Bima. Dan apa tadi? Kenapa Bima seolah menunjukan jika Hasna hanya miliknya. Apa Ryan tidak salah dengar kali ini? Entahlah.. Ryan masih belum percaya dengan apa yang barusan di katakan oleh Bima.


"Kau tidak percaya? Kalo begitu, tanyakan saja padanya" kata Bima sambil menunjuk ke araha Hasna melalu ekor matanya.


Ryan menatap Hasna yang terlihat gugup dengan situasi ini. Gadis itu juga kebingungan bagaimana harus menjelaskan pada Ryan.


Kenapa dia harus mengatakannya sekarang si?


"Benar apa yang dia katakan Na?" Tanya Ryan, menatap Hasna dengan serius


"Emm.. Kak, ak..ak..aku.."


Hasna bingung harus menjelaskan bagaimana pada Ryan. Dia tidak menyangka jika Bima akan membongkar hubungan mereka secepat ini pada Ryan. Membuat Hasna semakin tidak enak saja pada pria itu.


"Katakan saja yang sejujurnya" kata Bima begitu santai, pria itu sudah berdiri dengan menyandar ke dinding samping pintu kamar Hasna sambil bersidekap dada.


Ishh.. Dia malah semakin memperkeruh suasana.


Hasna semakin gugup dengan keadaan ini, belum lagi perutnya yang masih terasa menyakitkan. Hah.. Menghembuskan nafas kasar sebelum dia siap untuk menjelaskan semuanya pada Ryan. Pria yang jelas dia ketahui menyimpan perasaan padanya dan juga pria yang sudah banyak membantunya dalam segala hal.


Hisyam yang melihat keadaan ini, mulai memahami situasi. Meski dia juga belum tahu jika Kakaknya ternyata telah mempunyai hubungan khusus dengan Bima.


Hisyam berdiri dari duduknya, makanan dia pun masih bersisa. Namun nafsu makannya sudah lenyap seketika.


"Kak, air sudah panas. Ayo mandi dulu, biar enak badannya" kata Hisyam


Hasna merasa terselamatkan dengan Hisyam. "Ahh.. Iya aku akan mandi dulu, sudah lengket banget badan aku"


Hasna segera berjalan dengan cepat ke kamarnya untuk mengambil handuk dan baju ganti. Meski dia masih terasa lemah, tapi dia ingin pergi dulu dari kecanggungan yang ada.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..


__ADS_2