
Hal yang membosankan bagi banyak orang, tapi tidak dengan seorang pria tampan yang selalu acuh dengan sekitarnya.
Membaca buku tentang bisnis dan pengetahuan di waktu senggang seperti ini adalah hal paling menyenangkan untuk Bima. Pria ini selalu menyukai ketenangan dalam waktu senggangnya.
Bima menutup buku tebal yang telah selesai dia baca. Pria itu membuka kaca mata bacanya dan memasukan kembali pada kotaknya.
Bima berdiri dan sedikit merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku karena terlalu lama membaca buku. Dia berjalan ke luar dari ruang baca dan menuruni tangga.
Langkah kaki Bima terhenti saat melihat televisi yang menyala. Pria itu menoleh ke arah sofa dan melihat seorang gadis meringkuk di atas sofa.
Kakinya melangkah begitu saja mendekati gadis yang terlelap di atas sofa itu. Bima mengerutkan keningnya saat melihat keringat dingin yang membasahi kening gadis penakut itu. Bima berjongkok di depan wajah Hasna, gadis itu terlihat gelisah dalam tidurnya.
Dia kenapa? Apa selalu seperti ini jika tidur?
Tanpa sadar tangan Bima terangkat dan mengusap keringat di kening Hasna. Di sudut matanya juga terlihat air mata yang menetes. Bima mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.
Dia menangis..
Hiks..Hiks...
Terdengar isakan lirih dari bibir gadis itu. Bima menatapnya kasihan, srapuh itukah gadis ini? Kenapa Bima menjadi kasihan dengannya.
"Ayah, Ibu kenapa kalian tega meninggalkan kami. Apa yang harus Na lakukan setelah ini? Hiks.."
Gumaman lirih itu semakin membuat Bima merasa iba. Bagaimana gadis ini menjalani hidupnya setelah orang tuanya meninggal karena bunuh diri. Bima begitu penasaran dengan kehidupan gadis di depannya ini.
Kedua orang tua Hasna yang meninggal karena bunuh diri. Hanya itu yang Bima ketahui, dia tidak ingin menyelidikinya lagi. Cukup tahu soal itu yang cukup untuk menggertak Hasna agar mau ikut ke kota. Saat itu hanya itulah yang Bima pikirkan.
"Apa kau seterluka itu? Bagaimana bisa kau menjalani hidup selama ini?" gumam Bima, tanpa sadar tangannya terus mengelus rambut Hasna
Bima akhirnya menggendong Hasna dan membawanya ke lantai atas dimana kamar yang di tempati oleh Hasna ada di sana.
Ceklek
Bima membuka pintu kamar dan berjalan masuk dengan Hasna dalam gendongannya. Bima menidurkan Hasna dengan perlahan di atas tempat tidur. Bima juga menyelimuti tubuh Hasna yang terlihat kedinginan itu.
"Tidurlah"
Lagi lagi tangan Bima mengelus kepala Hasna. Meski dia hanya merasa kasihan pada Hasna dengan kehidupan yang di jalani gadis itu selama ini.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
__ADS_1
Bima keluar dari ruang ganti setelah selesai melakukan ritual mandinya. Hari libur ini dia memiliki cukup waktu senggang.
Setelah melihat apa yang terjadi tadi malam pada Hasna. Bima mulai menjadi sedikit peduli karena merasa kasihan pada gadis itu.
"Tu..Tuan, sarapannya" lirih Hasna saat melihat Bima menghampirinya ke ruang makan. Hasna masih menghabiskan nasi goreng buatannya itu.
"Hmm"
Bima menarik kursi meja makan di depan Hasna dan duduk di sana. Pria itu mulai menyantap sarapan yang telah di siapkan oleh Hasna.
Sesekali Hasna akan melirik ke arah Bima yang terlihat lebih tampan dengan pakaian santainya.
Apa dia tidak bekerja ya hari ini? Eh.. Ini kan hari libur ya..
Bima meminum segelas air putih yang telah di siapkan oleh Hasna setelah makannya selesai. Dia menatap gadis di depannya yang masih diam, padahal dia sudah selesai makan dari tadi.
"Kau kenapa masih di sini?" Tanya Bima dingin
Hasna mendongak dan menatap Bima "Saya menunggu Tuan selesai makan"
Bima mengangguk saja dengan acuh, dia berdiri dan berjalan menuju ruang tengah. Namun baru beberapa langkah, Bima menghentikan langkah kakinya.
"Bersiaplah, aku ingin kau menemaniku ke luar hari ini!"
Perkataan Bima tadi bukanlah sebuah penawaran atau ajakan. Tapi, sebuah perintah yang tak bisa Hasna bantah.
Setelah membereskan bekas sarapan mereka berdua. Hasna segera ke kamarnya untuk bersiap. Beberapa saat kemudian gadis itu telah selesai bersiap. Dia memakai pakaian terbaiknya. Meski tetap saja pakaiannya ini terlihat begitu sederhana. Namun, Hasna sudah berusaha menjadi yang terbaik.
Apa dia mengajak ku ke luar itu mau bertemu dengan Tuan Muda itu ya?
Hasna melihat Bima sedang duduk di sofa ruang tengah sambil membaca majalah. Kaca mata baca yang di pakainya justru semakin membuat Hasna terpesona.
Lagi-lagi jantungku berdebar. Ahh.. Kenapa aku lemah sekali jika melihat pria ini.
"Tuan" panggil Hasna pelan
Bima menoleh "Kau sudah siap?"
Hasna mengangguk dengan wajah sedikit menunduk.
Bima menyimpan majalah di atas meja dan membuka kaca mata bacanya. Pria itu berdiri sambil menyambar kunci mobil di atas meja.
__ADS_1
Bima berjalan ke arah Hasna yang masih menundukan wajahnya. Tangan Bima menarik tangan Hasna dengan tiba-tiba. Ini kedua kalinya dia melakukan ini pada wanita asing yang baru saja dia kenal.
Hasna hanya bisa menurut saat Bima menariknya ke luar dari apartemennya. Melihat pergelangan tangannya yang di pegang oleh Bima, kembali membuat dadanya berdebar.
Pria ini selalu saja membuatku terkejut dan takut sekaligus dengan perlakuan nya ini.
Pintu lift terbuka dan keduanya masuk. Akhirnya Bima melepaskan pegangan tangannya di tangan Hasna saat ponselnya berdering. Pria itu mengangkat teleponnya.
"Hmm. Baiklah"
Setelah beberapa saat mendengarkan apa yang di katakan oleh si penelepon. Hanya itu yang Bima katakan, benar-benar sikapnya ini terlalu dingin dan kaku.
Pintu lift terbuka, Bima dan Hasna langsung keluar. Berjalan menuju ke arah parkiran.
Bima membukakan pintu mobil untuk Hasna "Masuk!"
Hasna hanya mengangguk saat mendengar suara perintah dari pria dingin menyeramkan itu.
Mobil melaju meninggalkan kawasan apartemen. Hasna masih tidak tahu kemana tujuan Bima membawanya pergi kali ini. Mungkinkah dia akan mengajaku makan seperti kencan begitu kali ya.. eh..
"Ada yang ingin aku beli dan daripada kau menganggur di apartemen sendirian. Aku mengajakmu, bersyukur untuk itu!" kata Bima seolah tahu apa yang di pertanyakan Hasna di dalam pikirannya
"Baik Tuan" lirih Hasna
Perjalanan ini terasa hening dan canggung. Tidak ada lagi percakapan di antara mereka selama perjalanan ini. Sampai mobil berhenti di parkiran mal terkenal di kota ini.
Huh.. Kesini ya?
Hasna merasa tidak nyaman dan tidak pantas untuk menginjakkan kakinya di mal mewah ini lagi. Setelah kejadian orang tuanya yang melakukan bunuh diri dan tuduhan korupsi uang negara itu. Hasna tidak pernah lagi pergi ke tempat-tempat ramai berkualitas seperti ini.
Hanya pasar dan mini market yang Hasna kunjungi selama ini.
Bersambung
Like
Komen
Vote
Kasih Hadiah
__ADS_1
Bintang rate 5
Ditunggu dukungannya..