
Biasa untuk bekerja bahkan jika sedang sakit sekalipun. Hasna benar-benar merasa bosan berada di rumah seharian ini. Bima sudah pamit pulang tadi pagi, sesudah sarapan. Kini, Hasna hanya sendirian di rumah karena Hisyam juga sekolah.
Berguling kesana kemari di tempat tidur sambil memainkan ponsel. Tetap membuat Hasna begitu bosan, ponsel tidak bisa mengalihkan rasa bosannya. Dia duduk di atas tempat tidur lalu dengan iseng membuka laci meja kecil di samping tempat tidur.
Eh. Apa ini?
Hasna menemukan sebuah map berwarna biru disana. Dia mengambilnya dan membuka map itu. Ternyata isinya adalah surat perjanjian aneh yang di berikan oleh Bima saat awal bertemu dulu.
"Ternyata masih aku simpan ya, sudah cukup lama juga aku bertemu dengannya dan mengenal pria dingin ini hingga aku jatuh cinta padanya"
Hasna tersenyum sambil membuka lembaran kertas itu dan membacanya. Lucu juga saat mengingat awal pertemuan mereka yang begitu menakutkan bagi Hasna. Dimana Bima begitu dingin dan tak tersentuh. Menatap tajam dan mengintimidasi padanya saat menanyakan tentang kejadian 4 tahun lalu.
Ternyata menolong gadis malang yang di perkosa pria tak di kenal bisa membawa aku pada jodohku juga ya. Hehe.
Hasna terkekeh geli dengan pemikirannya sendiri. Percaya diri sekali dirinya jika Bima benar-benar akan menjadi jodohnya. Apa dia lupa tentang pacar pelunas hutang?
Hasna mengangkat kedua bahunya, lalu dia menyimpan kembali map itu ke dalam laci "Sudahlah, biarkan ini menjadi kenangan saja. Siapa tahu nanti bisa jadi obat rindu saat Tuan Bima benar-benar melepaskanku setelah dia bosan"
Hah...
Hasna menghela nafas kasar saat dia kembali mengingat tentang pacar pelunas hutang. Baru saja dia sedikit berharap jika Bima adalah jodohnya. Namun, rasanya tidak mungkin. Karena kata cinta pun tak pernah terucap dari bibir Bima untuknya.
Hasna kembali merebahkan tubuhnya dj atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamarnya yang sudah usang dan hampir lapuk.
"*Ayah, Ibu jangan tinggalkan Hasna. Na gak punya siapa-siapa lagi"
Hasna masih menangis terisak di depan dua jenazah orang tuanya yang tertutup oleh kain. Rasanya semuanya hanya mimpi buruk, Hasna masih tidak yakin jika orang tuanya akan meninggalkan dirinya dan Hisyam secara bersamaan seperti ini. Terlalu cepat meteka untuk pergi meninggalkan Hasna dan Hisyam yang masih terlalu muda.
"Kak, kenapa Ayah dan Ibu di tutupi kain? Wajahnya juga, nanti gak bisa nafas"
Hisyam terus menggoyang tubuh Kakaknya yang juga sedang menangis terisak. Anak laki-laki berumur 5 tahun itu terus menggoyangkan tubuh Hasna untuk menjawab semua pertanyaannya yang bahkan sulit untuk Hasna jawab.
__ADS_1
Hasna memeluk Hisyam, dia menangis sambil menatap ke arah dua jenazah orang tuanya. Hisyam ikut menangis saat anak itu merasa jika ada hal buruk yang telah terjadi.
"Syam masih punya Kakak, pokoknya Kakak bakal selalu ada untuk Hisyam dan jagain Hisyam. Jangan pernah merasa sendiri meski Ayah dan ibu sudah tidak lagi bersama kita" kata Hasna dengan suara begitu parau*
*Hisyam mendongakan wajahnya dan menatap sang Kakak yang berderai air mata "Apa Ayah dan Ibu tidak akan bangun lagi Kak?"
Hasna menggeleng pelan dengan air mata yang semakin mengalir deras di pipinya "Ayah dan Ibu sudah tenang di surga nya Allah, saat ini Hisyam hanya perlu mendo'akan mereka"
Semua yang datang melayat, tak bisa menahan air mata mereka melihat anak berusia 15 tahun sudah harus menanggung jawab semua urusan adiknya. Setelah ini, mungkin Hasna akan menjadi anak yang lebih dewasa lagi. Mungkin buka hanya Hasna, namun Hisyam pun juga.
Semuanya sudah takdir*...
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Bima sampai di depan rumah Hasna, dia sudah mengetuk rumah itu berkali-kali. Tapi, belum juga ada yang membukakan pintu. Tangan kirinya membawa makanan yang telah di belinya di salah satu restaurant.
Bima masih menunggu di depan pintu dengan gelisah, dia kembali mengetuk pintu. Namun, tetap tidak ada yang membukakan pintu atau sekedar menyahut.
Hisyam yang baru pulang sekolah dan sekarang sedang berdiri di belakang Bima tersenyum mendengar celotehan Bima. Mana mungkin Kakaknya menemui Ryan tanpa ada urusan yang penting.
"Masuk aja Kak, mungkin Kak Na lagi tidur"
Bima terlonjak kaget mendengar itu, paper bag di tangannya hampir saja jatuh. Dia berbalik dan menatap tajam pada Hisyam yang sudah membuatnya terkejut.
Hisyam menenteng sepatu sekolahnya dan menyimpannya di rak sepatu yang berada di teras rumah. Anak itu terlihat santai dan tidak terpengaruh dengan tatapan tajam Bima yang seolah ingin memakannya hidup-hidup.
Ceklek
Hisyam membuka pintu rumah, dia berbalik dan menatap Bima yang masih berdiri diam di tempatnya "Mau masuk gak?"
Sial. Anak ini benar-benar berani ya. Kenapa aku seolah melihat diriku waktu dulu ya.
__ADS_1
Bima nyelonong masuk ke rumah Hasna, melewati Hisyam yang masih memegang gagang pintu.
"Yehh.. Bilang permisi juga enggak" gumam Hisyam sambil menutup kembali pintu rumah.
Hisyam menatap Bima yang berdiri di ambang pintu kamar Kakaknya. Anak itu berjalan cepat mendekati Bima, takut jika pria itu tengah mengintip Kakaknya yang sedang berganti pakaian atau sejenisnya.
Plak...
Dengan berani Hisyam memukul punggung Bima membuat pria itu terkejut dan menatapnya tajam "Berani sekali kau!"
"Aku tidak akan takut pada siapapun yang berniat jahat pada Kakak ku" kata Hisyam tajam
Bima tersenyum tipis mendengar ucapan anak laki-laki di depannya. Setidaknya Hasna memiliki pelindung selain dirinya.
"Memangnya aku mau berniat jahat apaa sama Kakakmu itu, hah?" kesal Bima, menatap dingin pada Hisyam
Hisyam menggerakkan dagunya seolah menunjuk ke dalam kamar Kakaknya "Itu apa? Sedang ngintip Kakak lagi ganti baju, apa namanya kalau bukan berniat jahat"
Bima mengepalkan tangannya, begitu kesal dengan tuduhan Hisyam itu. Memangnya dia pria seperti apa sampai harus mengintip seorang gadis yang sedang berganti pakaian di kamarnya. Jika dia mau, banyak sekali anak dari rekan kerjanya yang menawarkan diri dengan ikhlas untuk memuaskan Bima di atas ranjang. Namun, Bima bukanlah pria seperti itu.
"Kau gila ya! Mana ada aku mengintip Kakakmu. Aku hanya ingin melihat apa Kakakmu benar-benar sedang tidur seperti yang kau katakan atau dia memang sedang tidak ada di rumah sampai aku mengetuk pintu beberapa kali pun dia tidak menyahut" jelas Bima dengan kesal
Untuk apa mengintip dia, kalau aku mau sudah aku nikahi saja dari kemarin. Tapi, aku masih menunggu dia yakin dulu dengan perasaanku.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter..
Maaf kalo aku gak bisa crazy up kayak author yang lain. Aku bener-bener gak bisa untuk itu. Apalagi aku punya novel baru yang harus aku urus juga.
Hanya bisa menyempatkan untuk terus bisa melanjutkan novel You Are My Life dan Benteng Penghalang Kita di tengah kesibukan aku di dunia nyata. Jadi tolong di maklum ya..
__ADS_1
Jangan lupa mampir juga di novel terbaru author, Benteng Penghalang Kita.