You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Surat Perjanjian


__ADS_3

Hasna merebahkan tubuhnya di kasur single miliknya. Dia menatap map coklat yang berada di tangannya. Masih ragu untuk membuka map itu, takut jika isinya hal yang tidak dia duga.


Hah...


Aku buka sekarang aja gitu ya? Kalo gak di buka, aku penasaran isinya apa. Tapi, aku juga takut kalo isinya aneh-aneh.


Akhirnya setelah cukup lama berpikir, Hasna membuka map itu dengan perlahan. Dia duduk bersila di atas kasurnya, mengambil beberapa lembaran kertas dari dalam map coklat itu.


Apa maksudnya ini? Hasna mulai membaca tulisan di kertas itu.


Perjanjian Untuk Tidak Lari Dari Tanggung Jawab!


Judulnya saja sudah seaneh ini, maksudnya apasi ini? Hasna membuka lembaran kedua dari kertas itu.



Pihak Pertama : Satria Bima Prakasa


Pihak Kedua :Hasna Amalia


Dalam perjanjian ini di jelaskan bahwa pihak kedua harus menuruti semua yang di katakan oleh pihak pertama terkait kejadian 4 tahun lalu.


Pihak Pertama hanya menuntut penjelasan dan ketersediaan pihak kedua untuk menemui dua orang yang terlibat di kejadian 4 tahun lalu.


Selama permasalahan ini belum selesai, maka pihak kedua tidak di izinkan untuk pergi atau mencoba melarikan diri dari tanggung jawab.


Hasna membaca surat kontrak perjanjian aneh itu dengan mata terbelalak kaget juga kesal.



"Apasi maksud nih orang? Kok aneh banget, masa ada perjanjian seperti ini" gumam Hasna sambil membuka lembaran ketiga kertas itu


• Jika Pihak pertama mencoba untuk meelanggar peraturan dan ketentuan di atas. Maka akan di kenakan denda dan sanksi yang akan di tentukan oleh pihak pertama.


Begitulah akhir dari surat kontrak perjanjian aneh itu. Hasna ingin sekali merobek semua kertas di tangannya. Tapi, dia ingat dengan denda dan sanksi yang akan di berikan oleh pihak pertama yaitu Bima.


Dia tahu bagaimana menyeramkannya pria itu. Bima pasti tidak main-main dengan ini semua. Tidak mungkin dia sampai membuat kontrak perjanjian seperti ini jika ini hanya main-main.


Hasna menatap tanda tangan Bima di sebelah kanan kertas. Dan di sebelah kiri sudah tertera namanya, yang artinya Hasna harus menyetujui kontrak perjanjian aneh ini.


Ting


Suara notifikasi pesan mengalihkan fokus Hasna. Gadis itu langsung mengambil ponselnya dan membuka pesan itu.

__ADS_1


Tuan Menyeramkan, nama yang Hasna berikan pada nomor ponsel Bima.


Tanda tangani surat itu, sekarang!


Hanya sebuah pesan. Namun, Hasna begitu takut, seolah pria itu sedang berada di dekatnya dan perintahnya harus selalu di turuti.


Benar-benar suka merintah.


Akhirnya Hasna mengambil pena dan menandatangani surat kontrak perjanjian aneh itu.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Hari-hari berikutnya, Hasna menjalani harinya seperti biasa. Selama beberapa hari ini, Bima tidak mengganggu hidupnya.


Setelah menandatangani kontrak perjanjian aneh itu. Bima tak lagi menghubunginya, mungkin pria itu merasa tenang karena Hasna sudah menandatangani kontrak itu dan sudah di pastikan jika Hasna tidak mungkin lari dari tanggung jawab.


"Kiri Pak"


Hasna menghentikan angkutan umum yang di naikinya. Dia turun dari angkot setelah membayarnya. Hasna terdiam mematung saat pria yang di hindarinya selama beberapa hari ini, sedang berdiri menyandar di bagian depan mobilinya.


Aduh.. Kenapa dia datang lagi si?


"Ngapain kamu? Sini cepat!" Bima menjentikan jari telunjuknya menyuruh Hasna untuk segera mendekat ke arahnya.


"Tu..Tuan, ada apa kesini?" Tanya Hasna dengan gugup


"Kau lupa? Kau belum menjelaskan apa yang seharusnya kau jelaskan. Ikut aku ke kota sekarang, kau akan tinggal di sana untuk beberapa hari" jelas Bima


Hasna mendongak dan menatap wajah dingin Bima "Tapi, adik saya??"


"Ya kau bawa saja, kau ini jangan mencoba untuk mencari alasan ya" sentak Bima menatap tajam pada gadis di hadapannya ini


Dia galak sekali Ya Tuhan..


"Beri saya waktu Tuan, saya tidak akan mungkin berani melarikan diri dari Tuan sebelum saya menjelaskan semuanya di depan Tuan Muda yang selalu anda sebut"


"Tapi, tidak mendadak seperti ini. Saya juga harus minta cuti bekerja dulu, adik saya juga harus ambil cuti sekolah. Tidak bisa mendadak seperti ini" jelas Hasna


Bima menghela nafas pelan "Baiklah, aku kasih waktu sampai besok"


Hah...


Akhirnya Hasna bisa sedikit bernafas lega. Setidaknya dia mempunyai waktu untuk minta cuti kerja dan membuat izin cuti sekolah adiknya. Itupun jika Hisyam mau ikut dengannya.

__ADS_1


Tapi jika untuk beberapa hari, rasanya aku gak tega ninggalin Hisyam terlalu lama.


"Baik Tuan, besok sore saya akan ikut dengan anda. Saya juga ingin semuanya cepat selesai" kata Hasna


Supaya aku bisa segera bebas dari keterikatan aku dengan pria menyeramkan ini.


"Bagus! Awas jika kau berani kabur dariku!" kata Bima sebelum pria itu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan Hasna yang masih berdiri diam di pinggir jalan.


Dasar pria dingin.. Aku juga mana berani kabur darinya. Dia bahkan tau semuanya tentangku, kalaupun aku berani kabur sudah pasti dia dapat menemukan ku dengan cepat.


Hasna berbalik dan berjalan masuk ke jalanan gang kecil menuju kontrakan nya. Gadis itu terus memikirkan masalahnya dengan pria dingin itu.


Semoga semuanya lancar, dan setelah aku menjelaskan semuanya tentang kejadian 4 tahun lalu itu, aku bisa segera bebas dari pria menyeramkan itu.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


"Jadi, Syam tetep gak mau ikut sama Kak Na?" Tanya Hasna sekali lagi, memastikan jika adiknya benar-benar tidak ingin ikut ke Ibu kota bersamanya.


"Iya Kak, Syam mau disini aja. Kalo kelamaan di sana Syam pasti ketinggalan banyak pelajaran. Sebentar lagi'kan ujian" kata anak itu


Hasna menghela nafas berat, dia tidak tega meninggalkan adiknya terlalu lama. Tapi, dia juga ingin segera menyelesaikan semua masalah ini.


"Syam yakin?" Tanya Hasna sekali lagi, dia terus meyakinkan keputusan adiknya.


Hisyam mengangguk yakin "Iya Kak, Syam bisa disini sendiri"


Hasna mengelus kepala adiknya, dia tahy jika di usianya Hisyam begitu mandiri dan tidak pernah merepotkan dia selama ini. Hasna juga merasa kasihan dengan kehidupan adiknya yang harus di paksa dewasa di usianya ini.


"Yaudah, nanti Kakak titipin kamu ke Bu Sri aja. Semoga saja Bu Sri tidak bosan kita repotin terus ya"


"Syam bisa tinggal sendiri di rumah ini, gak perlu repotin Bu Sri terus" kata Hisyam menatap kakaknya.


"Gak bisa Syam, Kak Na gak bakalan tenang kalo kamu tinggal sendiri di rumah sendirian. Sekarang kamu makan dulu ya, Kakak sudah masak. Kakak mau keluar dulu, ke rumahnya Bu Sri" kata Hasna sambil mengelus kepala adiknya


Hisyam mengangguk "Iya Kak"


Hasna keluar dari rumah kontrakannya, dia berjalan menuju rumah Bu Sri yang hanya berjarak beberapa meter saja dari rumahnya.


Bu Sri tinggal berdua dengan anak laki-lakinya. Suminya meninggal beberapa tahun lalu, Bu Sri membuka usaha konveksi kecil-kecilan di rumahnya.


Sementara anaknya bekerja di hotel yang sama dengan tempat kerja Hasna. Dia bekerja sebagai manager hotel yang baru.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya, kalo dukungan kalian bagus.. Aku jadi makin semangat nulisnya..


__ADS_2