You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Kenapa Jantungku Berdebar?!


__ADS_3

Sudah empat hari Hasna berada di apartemen Bima. Selama itu pula Bima tidak datang ke apartemennya sejak terakhir kali.


Hasna kembali menikmati makan malam seorang diri. Gadis itu menatap kosong. Suara hujan dan petir saling bersahutan di luar sana membuat Hasna kembali teringat tragedi yang menewaskan kedua orang tuanya.


Malam itu, hujan turun begitu deras dengan petir yang saling bersahutan. Hasna hanya berdua dengan adiknya, yang baru berusia 5 tahun.


"Kita hanya pergi sebentar saja, kalian baik-baik di rumah ya. Nanti Ibu dan Ayah pasti kembali"


Sebelum orang tuanya pergi dari rumah dengan alasan ingin menyelesaikan kasus Ayahnya yang di duga melakukan korupsi uang Negara.


Satu jam...


Dua jam...


Tiga jam...


Sampai hari mulai gelap, kedua orang tuanya tidak kunjung kembali sejak mereka berpamitan sore tadi. Hasna hanya bisa menenangkan adiknya yang terus menanyakan kapan orang tua mereka akan kembali.


"Kok Ibu dan Ayah belum pulang Kak?" Tanya Hisyam saat itu


Sudah tak terhitung berapa kali Hisyam menanyakan itu pada Kakaknya.


"Mungkin sebentar lagi Syam, kamu tenang aja ya. Kan masih ada Kak Na"


Begitulah cara Hasna menenangkan adiknya yang terus merengek ingin segera orang tuanya kembali. Namun, sampai saat ini orang tuanya belum juga kembali.


"Syam tidur aja ya, ini sudah malam. Nanti kalo Ibu sama Ayah pulang terus liat Hisyam belum tidur semalam ini. Pasti mereka akan marah" bujuk Hasna


Akhirnya adiknya mengangguk dan menuruti apa yang di bicarakan oleh Hasna. Hisyam terlelap setelah Hasna membacakan dongeng penghantar tidur untuknya.


Tok tok tok


Suara pintu yang di ketuk membuat Hasna kembali tersadar saat hampir saja dia terlelap di samping adiknya. Gadis itu berjalan ke arah pintu kamar adiknya dan membukanya.


"Ada apa Mbak?" Tanya Hasna pada asisten rumah tangga di rumah ini.


"Neng, ayo ikut Mbak! Ada yang nelepon dan nanyain Neng Hasna"


Hasna mengangguk dan berjalan mengikuti langkah asisten rumah tangga itu.


"Ini teleponnya Neng"


Hasna mengangguk sambil menerima telepon rumah yang di sodorkan kepadanya. Hatinya mulai tidak nyaman, perasaannya tidak enak.


Ada apa ini?


Dengan tangan sedikit gemetar, Hasna menempelkan telepon rumah itu di telinganya.


"Ha...Hallo"


"Cepatlah datang ke apartemen xx, Ahmad Sandi dan istrinya di temukan tewas dengan melakukan bunuh diri"

__ADS_1


Duar...


Suara petir di luar sana menyadarkan Hasna dari lamunannya. Gadis itu menyelesaikan makannya dan segera membereskan bekas makannya.


Hah...


Gadis itu menghela nafas berat, suara hujan dan petir di luar sana selalu saja mengingatkan nya pada kejadian tujuh tahun lalu. Dimana kedua orang tuanya meninggal dengan cara yang tidak baik.


Seandainya.... Ahh.. Aku tidak boleh berandai andai


Selalu saja ada kata itu di benak Hasna jika sedang mengingat masa lalu menyakitkan itu.


Seandainya orang tuanya tidak melakukan hal bodoh itu. Seandainya Hasna tidak mengizinkan orang tuanya pergi sore itu. Dan seandainya... semuanya tidak terjadi.


Hasna berjalan gontai ke arah tangga, gadis itu akan takut untuk tidur jika hujan di malam hari seperti ini. Masa lalunya itu selalu menghantuinya di dalam mimpi jika hujan deras seperti sekarang.


Duar...


Lagi lagi suara petir terdengar begitu nyaring membuat Hasna langsung menutup kedua telinganya. Gadis itu berjongkok di anak tangga ke lima. Dia menunduk dengan tangan menutup kedua telinganya.


"Tuhan, Na takut.. Ayah,Ibu" lirihnya


Hasna selalu saja ketakutan di saat hujan deras dan petir seperti ini. Betapa menyakitkannya hidup dia tujuh tahun yang lalu.


Gadis remaja berusia 15 tahun harus berlari menembus hujan deras hanya untuk menuju tempat dimana orang tuanya telah tiada dengan cara yang sangat di benci Tuhan.


Suara pintu terbuka membuat Hasna tersadar. Dia berdiri dengan perlahan dan membalikan tubuhnya melihat siapa yang datang.


"Kau kenapa?"


Apa dia begitu takut denganku? Dasar gadis penakut, memangnya aku semenakutkan itu?


"Kau kenapa?" Tanya Bima lagi


"Emm.. Gak papa Tuan" lirih Hasna sambil berjalan menuruni anak tangga menghampiri Bima.


"Ada apa Tuan pulang?" Tanya Hasna


"Ini apartemenku, kenapa kau mengaturku" kata Bima, begitu dingin dan tegas nada suaranya membuat Hasna langsung diam.


"Besok lusa, sahabatku ingin menemuimu!"


Tapi untuk apa sahabatmu ingin menemuiku?


Hasna langsung mendongakan wajahnya dan menatap Bima. Bahkan dia seolah tidak bisa mengucapkan pertanyaan yang ada di fikirannya.


"Ba..baik"jawab Hasna, melupakan pertanyaan yang berada di fikirannya


Setelah mendengar jawaban Hasna, Bima langsung berlalu ke kamarnya tanpa bicara apapun lagi pada Hasna. Gadis itu hanya menatap nanar punggung lebar itu.


Kejam sekali.

__ADS_1


Hasna berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu harus segera tidur agar tidak terus ketakutan dengan suara-suara nyaring di luar sana. Hujan juga masih terdengar deras.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


"Tidak.... Ini tidak mungkin.. Ayah, Ibu jangan pergi"


Bima yang berjalan menuju ke ruang baca yang berada di sebelah kamar Hasna, langsung menghentikan langkahnya saat mendengar suara lirih itu.


Bima menatap pintu kamar yang sedikit terbuka. Pria itu membuka pintu dengan perlahan, dia menyembulkan kepalanya ke dalam kamar. Di lihatnya gadis penakut itu sedang tidur dengan gelisah. Dahinya berkerut dengan keringat yang membasahinya.


"Dia kenapa?" gumam Bima


"Jangan... Jangan tinggalkan Na dan Hisyam. Ayah.. Ibu.."


Kembali terdengar suara lirih dari bibir Hasna. Bima akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar Hasna. Dia berjalan dengan perlahan saat mendekat ke arah tempat tidur.


Di tatapnya wajah Hasna yang masih terlihat gelisah. Keringat dingin membasahi dahinya, bibirnya terus bergumam lirih.


Bima duduk di pinggir tempat tidur, dia mencoba untuk menyadarkan Hasna dari mimpi buruknya. Dengan begitu kaku tangan kekar Bima mengusap pelan tangan Hasna.


Grep... Tangan Hasna mencekal tangan Bima dan menariknya dengan tiba-tiba, sehingga Bima terjatuh di atas tubuh gadis penakut itu.


Deg..Deg..Deg..


Apa ini? Kenapajantungku berdebar?


Bima mencoba menegakkan kembali tubuhnya. Namun, tangannya di cekal begitu kuat oleh Hasna. Entah kenapa gadis penakut ini mempunyai tenaga begitu kuat saat ini.


"Jangan tinggalkan aku" lirih Hasna tepat di telinga Bima, hembusan nafasnya membuat tubuh Bima meremang.


Tidak! Kau ini kenapa Bima. Lepaskan gadis ini, kenapa sulit sekali hanya untuk melepaskan cekalan tangan mungil ini.


Bima merutuki kebodohannya sendiri. Dia adalah seorang pria, namun kenapa melepaskan cekalan tangan Hasna saja begitu sulit untuknya.


Dengan gerakan cepat, Bima langsung menarik tangannya yang di cekal oleh Hasna membuat gadis itu langsung membuka matanya.


Deg..


Bima masih berada di atas tubuhnya, tatapan mereka bertemu. Keduanya saling diam dengan jantung yang berdebar.


Bersambung


Jangan Lupa dukungannya..


Like


Komen


Vote


Hadiah

__ADS_1


Bintang rate 5


Terimakasih 🤗


__ADS_2