
Hasna terdiam menatap jendela kamar, semuanya masih terasa mimpi untuknya. Menikah dengan pria yang menolak perasaannya secara terang-terangan, bahkan sebelum Hasna sempat untuk mengungkapkannya. Dan Sekarang, Hasna bisa tinggal di rumah mewah ini. Di kota yang pernah Hasna tinggalkan, dulu. Karena kejadian masa lalunya yang terlalu menyakitkan.
Sebuah tangan yang melingkar di perutnya menyadarkan Hasna dari setiap bayangan masa lalu, di saat dia memperjuangkan Bima yang jelas-jelas telah menolaknya.
"Sedang apa?" tanya Bima dengan meletakan dagunya di atas puncak kepala Hasna.
"Udah pulang? Maaf gak nungguin kamu tadi. Kirain pulang malem lagi" kata Hasna dengan mengelus tangan Bima yang melingkar di perutnya
"Kerjaan nya sudah selesai, jadi bisa pulang cepat" jelas Bima
Hasna mengangguk mengerti, sejak kemarin Bima sudah mulai bekerja setelah satu minggu mengambil cuti.
"Yaudah, kamu mandi dulu sekarang. Aku mau siapin makan malam dulu"
Hasna melepaskan lingkaran tangan Bima, lalu dia berbalik menghadap lelaki itu. Sedikit memijit lengan atas suaminya, Hasna tahu pasti Bima sangat lelah. Apalagi mengingat Bima telah menyiapkan segala persiapan pernikahan mereka sendiri, tanpa meminta bantuan Hasna. Kecuali dalam memilih dekorasi dan gaun pengantin.
"Kalau capek gak usah masak, minta pelayan saja" kata Bima dengan mengelus kepala istrinya itu.
Hasna menggeleng pelan "Itu juga di bantu sama pelayan kok"
Cup..
Bima mengecup kening wanitanya itu "Yaudah, kalau capek gak usah maksain. Aku gaji mereka untuk melayanimu sebagai Nyonya di rumah ini"
Hasna tersenyum saja mendengar ucapan Bima. Nyonya? Rasanya telingaku geli mendengar panggilan itu.
Hasna keluar dari dalam kamarnya setelah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
"Syam, sudah mengerjakan PR?" tanya Hasna pada adiknya yang sedang duduk di sofa depan televisi ruang tengah rumah ini.
Hisyam menoleh ke arah Kakaknya "Sudah Kak"
Hasna mengangguk "Baiklah, Kakak mau ke dapur dulu untuk membuatkan makan malam"
"Iya Kak"
Hasna pun berlalu ke arah dapur, mulai membuka lemari es dan melihat bahan makanan apa saja yang ada di dalamnya. Saat Hasna masih berjongkok di depan lemari es yang terbuka, seorang pelayan datang menghampirinya.
"Nona Muda sedang apa? Biar saya saja"
Hasna mendongak mendengar suara pelayan itu, lalu dia tersenyum "Tidak perlu Mbak, aku cuma mau masak buat suamiku saja. Mbak boleh bantu kok kalau lagi gak ada pekerjaan lain"
__ADS_1
Pelayan itu mengangguk hormat "Baik Nona, saya akan membantu apa saja yang bisa saya bantu"
"Oke, kamu bisa bantu potong sayuran ini" kata Hasna setelah menemukan bahan-bahan makanan untuk masakannya itu.
Menaruh sayuran dan beberapa bahan makanan lainnya di atas meja. Pelayan itu dengan sigap langsung mencuci sayuran, lalu memotongnya.
"Mbak asal dari mana?" tanya Hasna, dia ingin sedikit mengakrabkan diri pada para pelayan di rumah ini. Agar jika Bima bekerja dan Hisyam sedang sekolah. Maka Hasna tidak akan terlalu kesepian.
"Saya dari luar kota Nona" Pelayan itu menyebutkan salah satu nama kota.
Hasna mengangguk "Sudah lama bekerja disini?"
"Sejak rumah ini selesai di bangun oleh Tuan Bima" jelasnya
Hasna mengangguk mengerti, dia mulai mengiris bawang dan bahan lainnya. Mulai memasukan bahan makanan yang sudah di cuci dan di potong-potong itu ke dalam wajan. Pelayan yang tadi Hasna suruh untuk menggoreng daging ayam saja yang tentunya sudah dia bumbui.
Setelah cukup memakan waktu untuk menyelesaikan beberapa masakannya itu. Kini Hasna sudah menata masakannya di atas meja makan. Lalu dia pergi menuju kamar untuk memanggil suaminya agar segera makan.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa jika pernikahan Hasna dan Bima sudah hampir satu tahun. Satu bulan lagi, pernikahan mereka akan genap satu tahun.
Pahit manisnya sebuah pernikahan mereka nikmati bersama. Terkadang terlibat cek-cok yang sebenarnya hanya karena masalah sepele saja. Namun, itulah pernikahan. Tidak selalu bahagia dan berjalan mulus begitu saja. Pasti akan selalu ada batu kerikil yang menemani perjalanan mereka berdua.
"Kau sakit?" tanya Bima tiba-tiba, saat Hasna sedang memasangkan dasi di lehernya.
"Tidak, aku baik-baik saja" jawab Hasna dengan menggeleng pelan
Bima mengelus pipi Hasna dengan lembut "Lalu, kenapa wajahmu pucat? Kita ke dokter saja untuk periksa keadaanmu"
Hasna menggeleng cepat, dia menyentuh tangan besar Bima yang berada di pipi kirinya. "Tidak perlu, aku baik-baik saja"
Aku tidak merasa sakit, kenapa juga harus periksa ke dokter. Hanya sedang sedikit lemah dan lelah saja beberapa hari ini.
"Yakin? Aku khawatir Asna" kata Bima dengan penuh kekhawatiran akan keadaan istri tercintanya.
Hasna tersenyum, dia menolehkan wajahnya dan mencium telapak tangan Bima yang tadi berada di pipi kirinya.
"Aku gak papa, yakin. Beneran baik-baik aja kok. Kamu tenang saja" kata Hasna, mencoba untuk menenangkan Bima yang khawatir akan keadaannya yang sebenarnya dia rasa baik-baik saja.
Bima menghela nafas, meski Hasna mencoba untuk meyakinkannya. Tapi, Bima tetap merasa ada yang berbeda dari istrinya. Bima takut jika ada penyakit serius yang tidak dia sadari di tubuh istri kesayangannya itu.
__ADS_1
"Yaudah, aku berangkat kerja dulu. Nanti kalo ada apa-apa, kamu harus langsung hubungi aku" kata Bima, lalu dia memberikan kecupan di kening Hasna.
"Iya Sayang, lagian di rumah ini 'kan juga banyak pelayan. Aku tidak sendirian di rumah" kata Hasna, lagi-lagi mencoba untuk membuat Bima tenang
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Sepanjang bekerja di kantornya, Bima merasa tidak tenang dengan keadaan istrinya di rumah. Pagi tadi Hasna jelas terlihat begitu pucat dan itu membuat Bima cemas berlebihan sampai sekarang.
"Kenapa dia tidak menghubungi aku, apa dia baik-baik saja" lirih Bima, dia menatap ponselnya yang tergelatak di atas meja kerja.
Hah...
Bima menghembuskan nafas kasar, mencoba untuk menenangkan fikirannya, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya. Memejamkan mata untuk sekedar merileks'kan fikirannya itu. Namun, tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja. Membuat mata Bima langsung terbuka dan melihat siapa yang menelepon nya.
Perasaan Bima mulai tidak enak saat melihat nomor telepon rumah yang tertera di layar ponselnya.
Semoga semuanya baik-baik saja.
Dengan cepat Bima mengambil ponselnya dan menekan icon hijau untuk mengangkat telepon itu.
"Hallo"
"Ha-hallo Tu-tuan itu..."
Bima mengerutkan keningnya saat mendengar suara pelayan rumahnya yang tergagap saat berbicara. Perasaannya semakin tak karuan, dia mulai memikirkan hal-hal buruk yang terjadi pada Asnanya.
"Katakan!"
"Emm. Tuan, Non-Nona Muda terpeleset di kamar mandi dan mengalami pendarahan"
Jederrr...
Bima bagaikan mendapatkan kabar terburuk dalam hidupnya. Dunianya seakan runtuh seketika, bahkan kakinya terasa sangat lemas untuk bisa menopang beban tubuhnya lagi.
Asna... Tidak!.. Bertahan Sayang, aku akan segera datang.
"Hallo Tuan, Nona sudah di bawa ke rumah sakit keluarga Walton"
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga.. terimakasih
__ADS_1
Lagi sibuk banget.. jadi jarang up