You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Pecah Ketuban


__ADS_3

Semua perlengkapan melahirkan benar-benar sudah Hasna persiapkan, termasuk mentalnya. Dia sudah mempersiapkan mentalnya agar yakin dengan dirinya sendiri, jika dia bisa melahirkan anak pertamanya ini dengan normal dan sehat.


Namun disini Bima masih saja merasa cemas menjelang hari kelahiran anak pertama mereka. Bima selalu mengkhawatirkan keadaan istrinya itu.


"Semuanya akan baik-baik saja, kamu percaya sama aku. Aku dan bayi kita pasti bisa melewati ini semua"


Sudah berpuluh kali Hasna mengucapkan itu, hanya untuk menenangkan suaminya dari kegelisahannya yang berlebihan itu.


Dengan tubuh yang pendek dan mungil, membuat Hasna mulai merasa susah dalam bergerak dengan perut buncitnya itu.


Untungnya selalu ada Mbak Westi yang selalu siap siaga dalam menjaga Hasna. Bahkan untuk berdiri saja, Hasna merasa sangat sulit dan perlu berpegangan atau di bantu dengan Mbak Westi.


Berbeda sekali saat dulu dirinya masih bekerja sebagai office girl, bahkan dia mampu membersikan seluruh ruangan di lantai satu dan dua seorang diri. Jika sekarang, geraknya pun sulit karena kehamilannya yang sudah sangat besar. Tidur pun sudah mulai tidak nyaman, hanya mampu merubah rubah posisi tapi tetap tidak benar-benar terlelap.


Perjuangan seorang Ibu dari mulai mengidam sampai melahirkan benar-benar tidak ada yang bisa menandinginya. Seorang wanita adalah sosok manusia mulia yang di berikan kenikmatan mengandung dan melahirkan dengan apapun caranya. Itu adalah anugerah Tuhan yang di berikan pada setiap wanita untuk menyempurnakan hidupnya.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Malam ini Hasna terbangun saat merasakan bajunya bagian bawahnya basah. Dia tidak merasa buang air kecil di atas tempat tidur, tapi kenapa baju bahkan tempat tidurnya sangat basah.


"Apa ini? Masa iya aku ngompol si?"


Hasna sedang bingung melihat tempat tidur dan bajunya yang basah, sampai dia mengingat sesuatu yang pernah di jelaskan saat dia mengikuti kelas Ibu hamil.


"Haa.. Ya ampun, apa ini ketuban ku pecah duluan ya"


Hasna mulai panik, dia segera membangunkan suaminya yang masih terlelap di sampingnya itu. "Sayang bangun, Sayang..."


Hasna mulai merasakan kontraksi kecil, dia meringis saat kontraksi terjadi. Bima mengerjapkan matanya, dia melihat Hasna yang sedang meringis kesakitan langsung terbangun begitu cepat.


"Asna ada apa?"


"Sayang, sepertinya aku akan melahirkan sekarang. Air ketuban ku sudah pecah" jelas Hasna dengan wajah masih meringis menahan sakit yang sedang dia rasakan.


"Oke, kamu tunggu sebentar. Aku ambilin dulu semua perlengkapan dan juga baju ganti untuk kamu"

__ADS_1


Bima segera berlari ke ruang ganti untuk mengambilkan pakaian ganti Hasna dan tas besar berisi perlengkapan bayi dan Ibu yang telah Hasna siapkan jauh-jauh hari.


Keluar dari ruang ganti, Bima mengambil ponsel dan segera menelpon supirnya yang sudah pasti masih terlelap di jam segini.


"Siapkan mobil, cepat! Kita akan ke rumah sakit sekarang!"


Bima menutup sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya. Memasukan ponsel ke dalam saku celana, lalu Bima membantu Hasna untuk berganti pakaian.


"Apa begitu sakit?"


Hasna menggeleng pelan, memang belum sesakit itu. Mungkin ini yang dinamakan dengan kontraksi awal. Dengan sigap, Bima langsung menggendong Hasna dan membawanya keluar kamar.


"Tolong ambilkan tas berisi perlengkapan Nona di kamarku" titah Bima pada Mbak Westi yang berada di ruang tengah setelah di beri tahukan oleh sang supir tetang Tuannya yang akan ke rumah sakit. Sudah pasti semuanya ada kaitan nya dengan kehamilan Nona Mudanya.


"Baik Tuan"


Westi segera berlari menuju kamar Tuan dan Nonanya. Bima pun berjalan cepat menuju pintu utama rumah ini. Mobil telah sedia di depan teras rumah dengan sang supir yang juga sudah siap. Segera Bima masuk ke dalam kursi belakang, memangku Hasna di dalam pelukannya. Hatinya mulai berdebar takut, melihat istrinya yang terus meringis kesakitan.


"Asna, mana yang sakit hmm?" tanya Bima sambil terus mengelus lembut perut buncit Hasna.


Karena kondisi jalanan yang cukup senggang membuat mereka cepat sampai di rumah sakit. Dengan segera para perawat rumah sakit beserta dokter kandungan Hasna yang telah Bima telepon saat di perjalanan tadi, membawa brankar pasien di depan pintu rumah sakit.


Bima segera menidurkan Hasna di atas brankar pasien. Para perawat dan dokter segera mendorong brankar itu dengan tergesa. Bima terus menggenggam tangan istrinya dengan langkah kaki cepat mengikuti brankar yang di dorong para perawat.


"Sebaiknya Tuan menunggu di luar" kata Dokter saat mereka sampai di depan pintu ruangan pemeriksaan.


"Kau gila! Aku harus menemani istriku"


Tentu Bima sangat emosi mendengar ucapan dokter. Istrinya sedang kesakitan, tentu dia harus menemaninya. Bukan malah menunggu di luar ruangan seperti ini.


"Saya akan melakukan pemeriksaan dulu Tuan, jadi sebaiknya anda menunggu saja di luar"


Dokter langsung masuk ke dalam ruang pemeriksaan itu tanpa menunggu jawaban Bima yang sudah pastinya akan menyangkal ucapan dokter.


"Sial..."

__ADS_1


Bima menjambak rambutnya dengan frustasi. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya, tapi dokter malah tidak mengizinkannya untuk ikut masuk ke dalam ruangan.


"Tuan, ini tas Nona"


Pak supir datang dengan membawakan tas besar berisi perlengkapan Hasna dan bayinya itu.


Bima mengangguk, dia menunjuk kursi tunggu yang ada disana. "Taruh disana Pak"


Pak supir mengangguk, lalu menaruh tas besar itu di atas kursi tunggu. Pak supir menatap Tuannya yang terlihat begitu gelisah dan khawatir dengan keadaan istrinya. Dia berdiri di samping Bima yang masih terlalu cemas dengan keadaan istrinya.


"Tuan yang tenang, saya dulu juga seperti itu saat menemani istri saya lahiran anak pertama kami"


Bima langsung menoleh pada Pak supir. "Lalu apa yang kau lakukan? Apa kau langsung mengambil jalan operasi agar istrimu tidak lagi kesakitan?"


Pak supir tersenyum "Tentu tidak Tuan, saya hanya berusaha tenang dan memberikan kekuatan untuk istri saya. Tidak lupa juga untuk berdo'a agar istri dan bayinya selamat dan sehat"


Bima hanya diam, dia mungkin harus menenangkan fikirannya dari hal-hal buruk yang dia bayangkan. Di saat seperti itu, tiba-tiba Yudha datang menghampirinya. Dia menepuk bahu Bima untuk memberikan dia kekuatan di situasi seperti ini.


"Siapa yang memberi tahumu?" tanya Bima bingung, karena dia tidak merasa memberi tahu Yudha tentang Hasna yang akan melahirkan hari ini.


"Supirmu ini yang menelponku. Sudahlah, kau harus tenang dan memberi kekuatan untuk istrimu itu"


Bima hanya terdiam, dia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Yudha. Dia bukan hanya sekedar atasan untuknya, tapi sudah seperti saudara.


"Semuanya pasti baik-baik saja, Bim. Percayalah"


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..


Satu atau dua bab lagi end ya..


Gara-gara menolong Rinjani yang terkurung di dalam toilet, Hazel malah harus segera menikahinya. Bukan karena dituntut untuk bertanggung jawab, tetapi orang tua Hezel mengira jika anaknya sudah tidak sabar untuk menyentuh Rinjani.


Hazel dan Rinjani memang sudah ditunangkan saat mereka masih bayi. Namun, Rinjani yang menganggap pertunangan itu tidak sah malah jatuh cinta kepada ketua kelasnya.

__ADS_1



__ADS_2