
Hasna terdiam melihat Bima keluar dari kamarnya setelah berganti pakaian dengan pakaian yang di berikan oleh Hasna. Pakaian mendiang Ayahnya yang dia simpan.
"Kak" lirih Hisyam saat melihat Hasna terdiam mematung, dia tahu apa yang di fikirkan Kakak perempuannya itu.
Hasna mengerjap dan langsung menoleh ke arah Hisyam "Gak papa Syam"
Bima mengerutkan keningnya, bingung menatap Kakak beradik ini. Bima masih belum bisa memahami dua bersaudara itu. Masa lalu Hasna yang baru dia ketahui sebagian.
"Sudahlah, cepat kalian pergi ke mesjid sebentar lagi adzan"
Hisyam mengangguk "Iya Kak, ayo Kakak Ipar"
"Hmm. Aku pergi dulu"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsallam"
Hasna tersenyum melihat Bima dan Hisyam yang pergi untuk ke tempat beribadah semua umat muslim. Bima terlihat begitu tampan dengan pakaian itu.
"Ayah mau kemana? Na ikut ya" Hasna kecil merengek saat Ayahnya akan pergi.
"Ayah mau ke mesjid Na, mau sholat magrib. Hasna sholat di rumah saja bersama Ibu, kan perempuan gak di wajibkan untuk sholat berjamaah di mesjid"
Hasna kecil hanya mengangguk mendengar penjelasan Ayah. Dia menatap Ayahnya pergi dan akan menyambut ayahnya pulang di depan pintu. Menggantikan tugas sang Ibu yang sedang menyusui Hisyam yang masih bayi.
Hasna mengerjapkan matanya hingga air mata lolos begitu saja. Kenangan bersama Ayah dan Ibunya selalu terbayang di fikirannya. Hasna hanya bisa menghela nafas saat bayangan kebersamaan dengan keluarganya itu kembali hadir di fikirannya.
Ayah, Ibu Na kangen...
Lelah.. Hasna lelah dengan hidupnya 7 tahun terakhir ini. Menutupi semua kegelisahan dan kesedihan dari semua orang benar-benar melelahkan. Hasna hanya ingin Hisyam memiliki masa depan yang baik. Maka dari itu kenapa Hasna begitu berjuang untuk adiknya, bekerja tanpa kenal lelah. Bahkan jika sakit pun, dia akan selalu memaksakan bekerja hanya demi adiknya bisa sekolah dengan baik.
Hasna mulai dengan kegiatan paginya, setelah selesai menyiapkan sarapan. Dia mulai menyuci baju dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsallam"
Hasna yang sedang mengepel lantai langsung menyambut kedatangan Bima dan Hisyam dari mesjid.
"Mau sarapan dulu Syam?" Tanya Hasna
__ADS_1
"Nanti saja Kak, Syam mau siap-siap dulu" kata Hisyam yang berlalu ke kamarnya
"Emm. Mau sarapan sekarang?" Tanya Hasna pada Bima, terlihat ragu dan sedikit canggung.
Bima duduk di kursi dan menatap Hasna dengan intens. Pria itu menggerakkan tangannya agar Hasna mendekat ke arahnya.
"Duduk sini" kata Bima, melirik kursi kosong di sampingnya
Eh. Dia mau apa?
Hasna menurut saja, dia duduk di kursi kayu samping Bima.
"Bagaimana keadaan perutmu?" Tanya Bima dengan tatapan yang lurus ke depan, tanpa menoleh sedikit pun pada Hasna.
"Emm. Sudah lebih baik, terimakasih karena semalam sudah mengompres perut saya"
Bima mendelik tajam pada gadis itu, seolah tidak suka dengan ucapan Hasna. Loh.. Apa yang salah? Perasaan aku gak salah bicara deh.
"Aku sudah suka kau bicara non formal, kenapa sekarang pake kata 'saya' lagi?" Kata Bima, jelas sekali jika pria itu tidak suka dengan cara Hasna berbicara barusan
Ohh. Gara-gara itu.
"Emm. Iya maaf, aku masih mencoba untuk membiasakan" jelas Hasna
"Good Girl"
Ya ampun, hanya karena dia mengelus sebentar kepalaku saja sudah membuat jantung ini berdebar kencang.
"Emm. Kalo gitu aku mau siap-siap dulu ya" kata Hasna, mencoba menghidar dari pria yang selalu membuat jantungnya berdebar kencang.
Hasna berdiri dan berjalan menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti dengan pertanyaan Bima.
"Siap-siap? Memangnya mau kemana?" Tanya Bima dengan kening sedikit berkerut, bingung.
"Kan mau bekerja Sayang" kata Hasna santai
Bima langsung menatapnya dengan tajam "Bekerja? Kau masih sakit, diamlah di rumah untuk istirahat. Kenapa masih bekerja"
Hasa sedikit terkejut dengan nada suara Bima yang sedikit membentak itu "Tap-tapi, saya tidak mengambil cuti"
Bima semakin kesal dengan jawaban Hasna. Apa gadis itu lupa jika kekasihnya adalah asisten dari pemilik Walton.Corp yang tentunya dia berperan penting dalam perusahaan dan hotel tempat dia bekerja sekarang.
__ADS_1
"Aku akan menelpon pekerja hotel untuk memberimu cuti" kata Bima tegas
Eh. Kok gitu si? Aku 'kan bulan ini sudah sering cuti. Gaji aku bakalan semakin menipis dong.
"Tap-tapi.."
"Sudahlah, kau tidak perlu banyak membantah. Yang jelas kamu ambil cuti sekarang kalau perlu sampai besok" tegas Bima, tak terbantahkan lagi
Hasna mengibaskan tangannya di depan Bima dengan cepat "Tidak.. Tidak perlu Tu..Eh Sayang. Cuti hari ini saja, besok aku sudah bisa bekerja"
Bima menatap Hasna dengan dingin "Baiklah, hanya hari ini"
Yahh.. Gajiku kepotong lagi deh hari ini.
"Sini!" Bima menggerakkan tangannya, menyuruh Hasna untuk mendekat.
Mau apa dia?
Hasna menurut dan berjalan mendekat ke arah Bima. Dia berdiri di depan pria itu. Bima menarik lembut tangan Hasna hingga gadis itu jatuh terduduk di pangkuannya.
Deg...
Jantungnya kembali berdetak dengan kencang. Posisi mereka sekarang sangatlah dekat. Bahkan Hasna bisa merasakan hembusan nafas pria itu di tengkuknya.
Tangan Bima melingkar erat di perut sang kekasih. Wajahnya dia sembunyikan di tengkuk gadis itu, hembusan nafas hangat Bima begitu terasa oleh Hasna membuat dia sedikit merinding.
"Emm. Sa-sayang, aku mau ke kamar dulu. Kamu juga ganti baju dulu. Emm. Ak-aku mau siapin sarapan buat kita dan Hisyam juga sebentar lagi sekolah" kata Hasna dengan sedikit gelagapan
Aku malu jika adik ku keluar dari kamar, maka dia akan melihat adegan memalukan ini. Kasihan mata suci adik ku itu.
"Diamlah, hanya sebentar saja. Aku hanya butuh waktu kamu sebentar saja, aku sangat lelah kemarin" Lelah, karena aku bahkan hampir gila saat mendengar kamu sakit dan hampir tak sadarkan diri di tempat kerja.
"Emm. Ba-baiklah"
Di saat seperti ini, Hasna selalu merasa jika Bima benar-benar mencintainya dan menganggap Hasna sebagai kekasih sungguhan. Bukan hanya sebagai pacar pelunas hutang saja.
Tapi, mengingat penolakan Bima beberapa waktu lalu membuat Hasna sedikit kurang percaya diri akan hal itu. Dia tidak mau kecewa untuk yang kesekian kalinya. Jadi, lebih baik Hasna menahan perasaannya ini sampai Bima benar-benar bosan dengannya dan akan melepaskannya suatu saat nanti.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..
__ADS_1
Hari ini kan hari senin, kasih vote kalian ke novel You Are My Life ya..
Maaf telat up nya..