You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Ayo Ke Kamar?!..


__ADS_3

Suasana di dalam rumah kontrakan sederhana ini malah terasa semakin mencekam setelah Ryan pergi. Hasna semakin merasakan aura tidak beres dari pria yang berstatus pacarnya itu.


Hisyam telah berlari masuk ke kamarnya sejak tadi. Hasna cukup bersyukur karena adiknya itu begitu tahu situasi dan tidak ikut campur urusan orang dewasa


"Duduk!" Bima berkata sambil menatap tajam ke arah Hasna yang masih berdiri.


Hasna menurut saja, dia duduk di kursi kayu samping Bima. Perutnya kembali terasa nyeri.


"Berani sekali kau pada pacarmu" ketus Bima


Hasna melirik sekilas pada pria itu, sepertinya Bima benar-benar sedang dalam mode sangat kesal sekarang.


Duh.. Dia kenapa selalu menyeramkan si.


"Emm. Maaf Tuan" lirih Hasna


Bima semakin menatapnya dengan tajam, bagaimana mungkin gadisnya melupakan panggilan yang sudah dia tetapkan.


"Tuan?" Tanya Bima dengan kening yang mengerut tajam, menatap Hasna dengan sangat dingin.


Ampun deh.. Kenapa aku sampe lupa si. Malah udah dari tadi lagi aku panggil dia Tuan. Aduhh... gimana ini?


"Emm. Sa-sayang maksudnya. Maaf ak-aku belum terbiasa soalnya" jelas Hasna, mencoba mencari alasan yang masuk akal.


"Belum terbiasa ya" Bima mengangguk kecil, masih dengan wajah datar "Atau ingin terlihat jika hubungan kita tidak sehat karena kau masih memanggilku dengan sebutan 'Tuan'. Ingin pria lain mengira jika kau masih single, gitu? Iya hah?"


Duh kenapa jadi kesitu si. Aku 'kan emang belum terbiasa. Lagian emang hubungan kita tidak sehat kan?


"Maaf"


Bima menghela nafas kasar, dia tidak suka dengan kata 'maaf' yang terus terucap dari bibir Hasna. Dia hanya tidak ingin Hasna dimiliki pria lain, sehingga dia mengharuskan Hasna memanggilnya seperti itu agar semua orang tahu jika Hasna adalah miliknya.


"Sudahlah, kau tidak perlu minta maaf. Pokoknya mulai sekarang kau harus terbiasa memanggilku seperti itu. Mengerti!" Kata Bima dengan penuh penekanan


Hasna mengangguk cepat "Iya"


Duh.. Ni perut juga kenapa masih sakit aja si. Seharusnya sudah lebih baik, kenapa ini lama banget.

__ADS_1


"Oh ya, kenapa kau bekerja lembur tadi?" Tanya Bima, dia baru ingat apa tujuannya datang ke sini dengan terburu-buru.


Hasna mendongak, dia menoleh dan menatap pria itu "Teman aku ada yang gak masuk, jadi aku gantiin dia. Emang udah biasa gitu kok"


"Tapi kau sedang sakit" kata Bima tajam, menatap ke arah tangan Hasna yang memegangi perutnya.


Dia masih kesakitan, kenapa menahannya si?


"Aku tidak sakit, hanya sedang datang bulan saja" jelas Hasna


Bima menyentuh tangan Hasna yang berada di perut membuat gadis itu terkejut. Bima mengangkat tangan Hasna dan menggenggamnya. Lalu tangan satunya lagi mengelus perut Hasna.


"Apa begini lebih baik? Apa tidak mau ke rumah sakit saja?" Tanya Bima, pria itu berubah menjadi lembut


Aaa.. Betapa sempurnanya dia jika terus setenang ini dan selembut ini. Tidak menakutkan seperti tadi.


"Sa-sayang, tidak perlu seperti ini" kata Hasna merasa tidak enak dan canggung dengan apa yang di lakukan Bima padanya.


Hasna ingin menarik tangan nya yang di genggam oleh Bima. Namun, pria itu langsung menahannya dengan kuat. Dia menatap Hasna tidak suka, tentu dia tidak suka dengan apa yang di lakukan Hasna. Bima tidak suka Hasna menunjukan penolakan pada sentuhan yang dia berikan.


"Sudah diam, di suapi pria lain saja tidak menolak sama sekali. Kenapa sama pacar sendiri kau menolak" sarkas Bima dengan tajam


"Iya aku memang cemburu, memangnya apa yang salah? Aku adalah pacarmu" kata Bima seolah tahu isi fikiran Hasna.


Hasna menggeleng pelan menanggapi ucapan Bima itu. Cemburu itu hanya untuk orang yang kita cintai? Tapi dia sama sekali tidak mencintaiku. Apa cemburunya hanya karena takut aku kabur sebelum melunasi hutang.


"Sudah larut, ayo ke kamar"


Uhuk..uhuk..


Hasna langsung terbatuk-batuk mendengar ucapan Bima. Apa maksudnya dia mengajak ke kamar? Apa yang akan di lakukan pria ini padaku?


Bima menuding kening Hasna dengan jarinya "Jangan berfikiran aneh-aneh. Aku hanya akan menemani kamu sampai tertidur. Sebagai pacar yang baik, aku tidak bisa meninggalkan pacarku yang sedang sakit"


Hah..


Hasna hanya melongo mendengar penjelasan Bima. Menemani pacar yang sedang sakit? Apa dia se-spesial itu untuk Bima? Sampai pria itu sekhawatir itu padanya?

__ADS_1


Jika sedang seperti ini, Hasna merasa Bima memang benar-benar menganggapnya sebagai kekasihnya. Tapi, Hasna tetap gadis pada umumnya. Menginginkan kata cinta yang terucap dari pria itu sebagai kepastian untuknya tentang perasaan Bima yang sebenarnya.


"Tidak perlu Sayang, aku tidur sendiri saja. Lebih baik anda segera pulang, ini sudah larut"


Ayolah, kenapa masih disini? Dia tidak berniat menginap di rumahku 'kan? Tidak.. itu tidak mungkin.


Tidak menjawab dengan kata-kata, Bima malah langsung menggendong Hasna membuat gadis itu terperanjat kaget. Segera mengalungkan kedua tangannya di leher Bima. Suara debaran jatungnya terdengar begitu jelas.


Jantungku.. Kenapa pria ini selalu membuat jantungku terkejut si.


"Kenapa? Apa jantungmu berdebar kencang?" Tanya Bima santai, tidak tahukah jika pertanyaan nya itu membuat Hasna gelagapan.


Apa dia tidak merasakan hal yang sama? Apa jantungnya tidak berdebar kencang seperti saat aku dekat dengannya. Itu artinya dia memang tidak mempunyai perasaan apapun padaku. 


Hasna menunduk lesu, dia sudah tahu bagaimana perasaan pria itu. Tapi masih saja berharap. Namun saat tak sengaja telinganya menempel di dada Bima, dia mendengar detakan jantung pria itu yang begitu kencang.


Apa ini? Kenapa suara detak jantungnya terdengar begitu merdu. Ehh.. Apa dia juga merasakan hal yang sama?


"Buka!" Kata Bima saat sampai di depan pintu kamar Hasna.


Hasna segera membukakan pintu kamarnya. Bima berjalan ke dalam kamar, dan menurunkan Hasna dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur.


"Kau cukup berat, aku sampai lelah menggendongmu hanya dari sana saja. Hah.. hah.. Jantungku sampai seperti abis lari saja" kata Bima


Maksudnya aku gendut gitu? Jadi jantungnya berdebar kencang karena capek, bukan karena dekat denganku.


"Yaudah, siapa suruh gendong aku? Lagian aku masih bisa jalan sendiri. Gak perlu di gendong karena aku gendut dan berat" kesal Hasna yang langsung menarik selimut dan tidur membelakangi Bima begitu saja.


Loh. Dia kenapa? Kok jadi jutek gitu?


Bima merasa heran dengan tingkah Hasna yang tiba-tiba menjadi seperti itu. Pria itu berdiri dan berjalan keluar kamar, lalu kembali duduk di kursi kayu di ruang tengah rumah Hasna.


Di dalam kamar, Hasna mere'mas kuat selimut yang di pakainya. Dia begitu kesal dengan ucapan Bima tadi. Tidak tahukah jika mood nya sedang buruk jika datang bulan seperti ini.


Dasar pria gak peka.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiah dan vote juga..


Ayo dong pada mampir di novel terbaru author.. Benteng Penghalang Kita..


__ADS_2