You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Gadis Bodoh Yang Mesum


__ADS_3

Hasna selesai membuat teh hijau pesanan Bima itu. Entah kenapa pria itu menyukai minuman ini, padahal rasanya tidak terlalu enak. Hasna hanya menyukai aromanya tapi tidak dengan rasanya.


Hasna menyimpan secangkir teh hijau itu di meja kerja Bima. Hasna penasaran dan membuka tirai jendela yang dekat dengan meja kerja itu. Pemandangan di luar sana benar-benar membuat Hasna takjub.


Bintang yang indah dan kerlap kerlip lampu jalanan dan juga ruko-ruko di pinggir jalan. Benar-benar terlihat indah dari tempat Hasna berdiri sekarang.


Eh..


Hasna terperanjat saat ada tangan yang melingkar di perutnya. Bima memeluknya dari belakang, menaruh dagunya di puncak kepala Hasna. Tubuh mungil Hasna benar-benar hanya sebatas dada Bima. Membuat pria itu begitu mudah untuk memeluknya.


Eh. Kok basah?


Hasna merasakan baju bagian belakangnya yang sedikit basah. Dia sedikit menoleh ke arah samping dan mendapati bahu Bima yang polos, itu artinya Bima memang sedang tidak memakai baju sekarang.


"Kamu tidak pakai baju ya? Lepas dulu ihh, punggung ku basah" kata Hasna, dengan suara yang sedikit gelagapan.


Duh.. Dia benar-benar membuat jantungku hampir loncat. Kenapa memeluk ku tanpa pakai baju si, aku jadi malu sendiri nih.


"Aku baru selesai mandi dan sudah terlalu rindu padamu, jadi gak ada waktu untuk pakai baju dulu. Lebih baik aku menemuimu dulu" kata Bima santai, dia semakin mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Hasna.


Dia gila apa ya.. Rindu apaan? Baru juga setengah jam dia berada di dalam kamar untuk mandi. Alasan yang tidak masuk akal.


"Sudah lepas dulu, itu teh hijau pesanan kamu sudah aku buat di atas meja. Takutnya keburu dingin" Hasna melepaskan tangan Bima yang melingkar di perutnya dengan paksa membuat pria itu mendengus kesal.


Berbalik dan langsung memalingkan wajahnya kembali saat Hasna melihat tubuh Bima yang hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Dada dan perut pria itu benar-benar polos. Dengan tetesan air dari rambutnya yang basah, kenapa Bima bisa setampan ini di usianya yang sudah hampir kepala 4 itu.


Dia tampan meski sudah berumur ya.


Bima berjalan mengitari meja kerja dan mengambil secangkir teh hijau hangat itu. Duduk di kursi meja kerjanya dan meminum teh itu dengan menatap Hasna yang berdiri canggung di dekat jendela.


Lucu sekali dia jika sedang malu seperti itu.


"Kau kenapa? Wajahmu memerah, apa kau sakit?" Tanya Bima dengan santainya


Hasna menggeleng pelan, gadis itu berlari ke arah sofa bed tanpa ingin menghiraukan tatapan Bima terhadapnya. Sungguh Hasna sangat malu melihat dada polos Bima itu, jantungnya sampai berdebar kencang sejak tadi.


"Hei kenapa berlari seperti itu? Kalau jatuh gimana?" Teriak Bima kesal, dia begitu mencemaskan Hasna yang hanya berlari beberapa meter saja darinya. Benar-benar sudah menjadi budak cintanya Hasna, pria ini.

__ADS_1


Dia ini apa tidak malu ya, tidak pakai baju di depan seorang gadis. Apa mungkin dia memang biasa seperti itu, mungkin di depan pacarnya yang dulu juga.


Hasna tiba-tiba teringat dengan wanita yang bersama Bima saat acara pernikahan Anista waktu itu. Dia masih belum sempat untuk menanyakan tentang wanita itu, benarkah dia adalah pacarnya. Dan bagaimana hubungan mereka sekarang? Hasna sangat ingin mengetahui tentang itu, tapi dia belum berani untuk menanyakan nya.


Bima berdiri dari duduknya setelah teh hijau buatan Hasna telah habis. "Aku mau pakai baju dulu, kau tunggulah disini"


Hasna mengangguk dan menatap punggung polos Bima yang menghilang di balik pintu kamar. Akhirnya gadis itu bisa sedikit bernafas lega, melihat Bima tanpa baju seperti itu benar-benar membuat jantungnya terus berdebar.


Hasna menatap lagi ke sekeliling ruangan ini, benar-benar sepi dan sunyi. Tempat ini benar-benar menggambarkan seorang Bima. Seingat Hasna saat dulu dia juga pernah tinggal di apartemen pria itu yang berada di Ibu Kota, suasananya juga sama seperti ini. Sepi dan sunyi, tidak ada kehangatan sama sekali.


Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Hasna, dia menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Bima telah memakai pakaiannya, dengan rambut yang sudah di sisir rapi.


Dia benar-benar tampan dan menggoda. Eh.


Hasna mengerjap saat fikirannya malah melayang kemana-mana. Bima datang menghampirinya dan duduk di samping Hasna. Tangan pria itu merangkul bahu Hasna dan membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


Hasna hanya diam dalam pelukan Bima, meski jantungnya kembali berdebar. Entahlah jantungnya benar-benar selalu memberikan reaksi berlebih saat Hasna berada di dekat Bima.


Bima mencium puncak kepala Hasna "Tidur disini saja, besok aku antar pulang"


"Hisyam gimana? Lagian gak baik loh pria dan wanita belum menikah tidur sekamar" kata Hasna


Bima mencubit gemas pipi Hasna membuat gadis itu sedikit meringis "Sakit, kok di cubit si?"


"Karena kau menggemaskan dengan kebodohanmu itu" kata Bima sambil mengelus pipi Hasna yang tadi dia cubit.


Aku tidak tahu apa itu pujian atau hinaan.


"Kau lupa saat kau datang bulan waktu itu, kita sudah pernah tidur sekamar" kata Bima santai


Eh.


Hasna baru teringat dengan peristiwa itu, waktu itu 'kan dia sedang datang bulan.  Jadi tidak mungkin Bima akan berbuat macam-macam, tapi kalo sekarang situasinya berbeda. Dan Hasna tahu pria matang seperti Bima pasti membutuhkan kehangatan juga dan kepuasan atas kepriannya itu.


Bima menuding kening Hasna yang sedang melamun itu, Bima menduga jika gadis itu sedang berfikir hal yang tidak-tidak.


Hasna mendongak dan menatap bingung pada Bima "Apa?"

__ADS_1


"Dasar gadis bodoh dengan otak mesum" kata Bima dengan tertawa kecil


Hasna cemberut, apa coba maksud Bima mengatainya seperti itu. Hasna bukan gadis mesum, dia hanya sedikit saja memikirkan hal yang Bima butuhkan sebagai seorang pria dewasa.


Hasna mencubit perut Bima yang terasa keras itu, tidak berarti apapun cubitan Hasna bagi Bima. Justru malah terasa seperti Hasna menggelitiknya.


"Cabut lagi kata-katamu ya! Aku bukan gadis mesum!" Kesal Hasna, menatap Bima dengan pelototan matanya.


Menggemaskan sekali..


Gila! Bima benar-benar sudah gila, di pelototi Hasna seperti itu saja dia malah merasa jika Hasna begitu menggemaskan.


"Memang benar kau itu mesum, buktiknya kau memikirkan tidur sekamar. Padahal aku hanya menyuruhmu tidur disini, bukan berarti sekamar denganku. Disini ada dua kamar, kau bisa memakainya nanti. Otak kau saja yang mesum" jelas Bima dengan maksud dari ucapannya tadi


Eh. Jadi itu maksud dia, duh malunya aku.


Hasna langsung melepaskan pelukan Bima dan bergeser menjauh dari tubuh pria itu. Dia memalingkan wajahnya yang memerah karena malu dengan pemikiran nya sendiri.


Kenapa aku bisa berfikir mesum kayak gitu si. Aaa.. tidak-tidak. Hasna menggelengkan kepalanya dengan apa yang dia fikirkan sekarang. Dia bukan gadis mesum.


Bima tersenyum lucu melihat tingkah Hasna, dia menggeser posisi duduknya untuk semakin dekat dengan Hasna. Di peluknya tubuh gadis itu dari belakang. Hasna masih saja memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia benar-benar sangat malu sekarang.


"Kenapa Asna? Kok menjauh?" Bisik Bima di telinganya membuat bulu kuduk Hasna meremang mendengar suaranya dan hembusan nafas pria itu yang mengenai kulitnya.


"Aku ngantuk, mau pulang saja deh" kata Hasna yang langsung berdiri dari duduknya dan melepaskan pelukan Bima


"Sudah malam Asna, kau tidur saja disini. Biar ku antar kau ke kamar, bukan kamarku ya. Tapi jika kau ingin tidur sekamar denganku, aku tidak akan menolaknya" kata Bima santai sambil berlalu pergi melewati Hasna yang masih berdiri dengan wajahnya yang gugup dan malu.


"Ish.. Apaan si tuh orang, ngeselin"


Hasna pun mengikuti Bima yang akan menunjukan kamar untuknya menginap malam ini.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter .. kasih hadiahnya dan votenya juga..


Jangan lupa mampir di novel baru ku. BENTENG PENGHALANG KITA .. sudah lumayan banyak bab nya.. yuk gas.. langsung baca..

__ADS_1


__ADS_2