You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Ayah, Ibu Na Rindu!


__ADS_3

Apartemen yang di maksud Bima ternyata memang berbeda dengan apartemen yang Hasna tahu. Apartemen yang berhasil membuat Hasna kembali merasakan trauma itu.


"Kau tidur dulu sana, anak kecil tidak boleh tidur terlalu malam" kata Bima


Hisyam memutar bola mata malas "Bilang saja jika ingin berduaan, aku ngerti kok"


"Dimana kamarnya?" tanya Hisyam lagi


Bima menunjuk ke sebuah pintu di ujung ruangan "Disana, kau tidur disana"


Hisyam malah ingin menggoda Bima yang sedang sangat bucin pada Kakaknya itu. "Emm. Kak Na, temenin aku tidur yuk. Syam takut tidur sendirian di tempat baru"


Hasna mengerutkan keningnya bingung, adiknya itu bukanlah anak yang penakut. Tidak pernah Hisyam meminta untuk di temani tidur, bahkan sejak meninggal orang tua mereka, Hisyam tak pernah minta di temani tidur.


"Kok tumben Syam?" tanya Hasna


Bima melirik tajam pada adik iparnya itu, Hisyam hanya tersenyum santai saat mendapat lirikan tajam dari Bima.


"Hehe. Bercanda Kak, Syam tidur sendiri kok" kata Hisyam, dia melangkah menuju kamar yang di tunjukan oleh Bima itu. Namun, sebelum dia sampai di depan pintu langkah Hisyam terhenti "Jangan melakukan hal di luar batas pada Kakak ku. Ingat itu!"


Bima sampai cukup terkejut dengan ucapan Hisyam. Hisyam bisa berkata sedewasa itu, seolah dia adalah pelindung Hasna.


"Kau beruntung mempunyai adik seperti dia" kata Bima dengan senyuman tipis di bibirnya, dia menatap punggung Hisyam yang menghilang di balik pintu kamar yang tertutup.


Hasna mengangguk dan tersenyum "Dia itu segalanya untuk ku, jadi aku tidak bisa meninggalkan dia atau meninggalkan tanggung jawab ku padanya hanya untuk kebahagiaan diriku sendiri"


Bima menoleh ke arah gadis yang berdiri di sampingnya, akhirnya Bima tahu kenapa Hasna sampai sekarang belum juga mau di ajak untuk menikah. Mungkin salah satu alasannya adalah Hisyam, Hasna takut jika nanti Hisyam akan menyusahkan suaminya.


"Duduk dulu yuk" ajak Bima, dia menggandeng tangan Hasna dan membawanya ke sebuah sofa yang berada di ruang tengah. Televisi besar terpajang di dinding.

__ADS_1


"Jadi, apa itu alasan kau selalu menolak saat aku mengajakmu menikah?" tanya Bima langsung pada intinya saja.


Hasna menunduk, memang benar itulah alasan Hasna selalu menolak ajakan Bima untuk menikah. Dia takut jika suaminya kelak akan merasa terbebani dengan keberadaan Hisyam.


Bima menggenggam tangan Hasna, meraih dagu gadis itu dan mengangkat wajahnya "Lihat aku, kenapa kau menjadikan Hisyam sebagai alasan?"


"Ak-aku hanya takut jika suatu saat nanti kamu akan terbebani oleh keberadaan Hisyam dan biaya sekolah Hisyam" jelas Hasna, akhirnya dia bisa mengatakan semua yang dia pendam di hatinya selama ini.


Bima menghela nafas, jadi selama ini alasan inilah kenapa Hasna selalu menolak ajakan Bima untuk menikah "Dengarkan aku, mau kamu mempunyai sepuluh adik pun. Aku akan tetap menerimanya, apalagi ini hanya Hisyam seorang. Tentu aku akan menerimanya dan juga menyayanginya"


Hasna menatap Bima dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh dia begitu beruntung mendapatkan pria seperti Bima. Pria yang bertanggung jawab dan siap menerima adiknya. Hanya itu, sudah lebih dari cukup untuku.


"Terimakasih, Sayang" Hasna langsung menghambur ke pelukan Bima "Terimakasih karena sudah menerima Hisyam. Tapi..."


Bima mengerutkan keningnya saat mendengar kata 'tapi' yang keluar dari mulut Hasna. Tapi, apalagi? Apa mungkin Hasna masih ada hal yang membuat dia ragu untuk bisa menikah dengan Bima?


Bola mata Hasna bergerak gelisah, dia takut untuk mengatakan hal itu. Hasna seolah ragu untuk mengatakannya, seolah semua yang akan dia katakan adalah hal yang akan membuat Bima meninggalkannya. Hasna tidak ingin jika itu terjadi.


"Katakan Asna! Apalagi yang kau takutkan?" tekan Bima dengan menatap lekat bola mata Hasna.


Hasna menghela nafas sebelum dia mengatakan semuanya. "Emm. Apa kamu akan menerima masa laluku? Mungkin akan menjadi pengaruh besar suatu saat nanti pada nama baikmu dan juga pekerjaanmu itu"


Masa laluku yang begitu kelam, bahkan aku saja tidak ingin mengingatnya lagi, jika aku bisa. Tapi sayang, aku tidak bisa melupakannya. Sejatinya aku adalah anak dari seorang koruptor yang meninggal bunuh diri bersama istrinya.


Bima tahu sekarang, apalagi yang sedang Hasna takutkan tentang pernikahan mereka. Hasna hanya takut jika masa lalunya akan berdampak buruk suatu saat nanti pada pekerjaan Bima juga nama baiknya.


Bima semakin mengeratkan genggaman tangannya di tangan Hasna, menatap lekat pada bola mata Hasna "Aku sudah tahu soal itu, dan aku menerimanya. Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi suatu saat nanti. Aku hanya memikirkan kita bisa menikah sekarang. Untuk masalah yang datang kedepannya, maka kita bisa hadapi itu sama-sama"


Hasna semakin terharu mendengar ucapan Bima, kekasihnya itu benar-benar menerima semua masa lalunya. Tak bisa berkata apapun lagi, Hasna hanya mampu menghambur kembali ke pelukan Bima dan menangis di sana. Tangisan penuh haru dan rasa bersyukur karena takdir Tuhan telah mempertemukan dirinya dan Bima. Pria yang begitu baik dan tulus. Menerima segala kekurangannya, bahkan masa lalunya yang begitu kelam. Bima dapat menerimanya.

__ADS_1


........


Akhirnya setelah semuanya terselesaikan, Hasna memilih untuk segera beristirahat. Bima mengantarkan gadisnya ke kamar yang telah dia siapkan. Membiarkan Hasna untuk sendiri dulu.


Cup


Bima mencium kening Hasna dengan lembut "Istirahatlah, kau pasti lelah"


Hasna mengangguk pelan "Kamu juga istirahat ya, selamat malam"


"Selamat malam"


Hasna menutup pintu kamar setelah Bima berlalu pergi. Membalikan tubuhnya dan menatap setiap sudut ruangan ini. Sama seperti tempat tinggal Bima yang pernah Hasna kunjungi sebelumnya. Senyap, sepi.. Tidak ada hiasan atau foto yang tergantung di dinding kamar. Benar-benar sepi.


Hasna duduk di pinggir tempat tidur, tiba-tiba bayangan masa lalunya kembali hadir. Gadis 15 tahun yang harus menangung segalanya seorang diri. Menjadi Ayah dan Ibu sekaligus untuk adiknya. Menggantikan orang tuanya untuk menjalankan tanggung jawabnya sebagai Kakak, Ayah dan Ibu sekaligus untuk Hisyam.


Hidup Hasna terlalu melelahkan selama ini, hanya saja dia masih bisa menutupi segalanya. Masih bisa tampil ceria di depan banyak orang, seolah tidak terjadi apapun pada dirinya.


Hiks...Hiks..


Akhirnya tangisan itu pecah juga, hanya dengan seperti ini Hasna bisa meluapkan segala sesak di dadanya. Menangis di saat sendirian seperti ini, tidak ada orang yang tahu atau melihat kelemahannya ini. Hasna hanya ingin meluapkan segala beban yang menimpanya, terlalu sesak di dadanya jika dia tidak mengeluarkan segala sesak itu dengan air mata. Hanya ini yang bisa Hasna lakukan.


Ayah, Ibu Na rindu!


Bersambung


Jangan lupa dukungannya ya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..


Jangan lupa mampir di novel terbaru aku juga. Benteng Penghalang Kita.

__ADS_1


__ADS_2