
"Jika begitu, mari kita menikah!"
Hasna terbelalak mendengar ucapan Bima, sesantai itu Bima mengajaknya untuk menikah. Tidak seperti lamaran romantis dalam cerita fiksi, Bima justru mengatakannya dengan wajah datar dan begitu santai. Hasna sampai di buat melongo dengan sikapnya ini.
"Haha. Tidak, aku belum siap untuk itu" Kau seperti tidak serius mengajak ku menikah di dalam mobil seperti ini. Belum juga aku yang baru pulang kerja. Memang keanehannya tidak ada duanya.
"Aku ingin segera menikahimu, memang apa salahnya? Kenapa kau tidak mau? Kau begitu berani menolak ku ya!!" kata Bima dengan tatapan dingin pada Hasna.
Ini orang ngajakin nikah tapi kok maksa kayak gitu ya.
Hasna langsung memegang tangan kekar Bima, dia tidak cukup berani jika benar-benar mengumpatinya selain di dalam hati.
"Bukan begitu Sayang, kita 'kan baru sebentar berkomitmen. Jadi, kasih dulu aku waktu untuk memikirkannya ya. Pernikahan tidak segampang itu, masih banyak rintangan dan cobaan kedepannya. Jadi kita harus benar-benar siap dalam hal ini" jelas Hasna
Selain itu, ada hal yang aku takutkan jika kamu tidak akan bisa menerimanya.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Bima ikut mengantarkan Hasna sampai ke rumahnya. Hasna segera memasakan makan malam untuk mereka. Mengingat Bima begitu menyukai masakan nya.
"Makan dulu di sini ya, aku bentar lagi selesai masak" kata Hasna yang berlari dari dapur ke ruang tengah dengan membawa spatula di tangannya.
"Iya, aku pasti makan disini. Lumayan 'kan makan gratis" kata Bima sedikit terkekeh
Hasna berkacak pinggang di sana "Yey.. disini juga wajib bayar ya"
"Kan udah bayar pake cintanya aku, itu lebih mahal dari apapun loh" kata Bima, mengangkat sebelah alisnya untuk menggoda Hasna
"Iyalah, buktinya nyatain cinta aja susah banget. Gimana gak mahal" ketus Hasna sambil berlalu pergi, dia melanjutkan masaknya.
Bima terkekeh lucu melihat tingkah kekasihnya itu. Dia merasa begitu bahagia saat bisa bebas berekspresi seperti ini. Menunjukan perasaannya dengan terbuka. Semuanya terasa membahagiakan untuk Bima.
Ternyata jatuh cinta sebahagia ini ya, kenapa aku tidak merasakannya saat dulu bersama Bianca. Rasanya benar-benar berbeda.
Bima memang merasakan kenyamanan saat dulu dia bersama Bianca. Tapi, perasaan itu berbeda dengan sekarang. Dulu, Bima tidak sebahagia ini saat masih bersama Bianca. Semuanya masih biasa saja, bahkan dia masih bersikap dingin dan datar. Tidak bisa hanya sekedar bercanda seperti sekarang saat Bima bersama Hasna.
Ceklek
Suara pintu yang terbuka mengalihkan Bima dari fikirannya itu. Dia menoleh ke arah pintu, ternyata Hisyam yang baru pulang. Entah dari mana anak itu pergi, mungkin habis bermain bersama teman-temannya.
"Assalamualaikum, loh Kakak Ipar ada disini" kata Hisyam yang langsung menghampiri Bima dan menyalaminya.
__ADS_1
"Waalaikumsallam. Iya tadi habis anterin Kakak kamu. Abis darimana kamu?" Tanya Bima
"Dari ngerjain tugas sama teman" jawab Hisyam
Bima meneliti anak itu, takutnya Hisyam sedang berbohong. Namun, saat melihat beberapa buku yang di bawa anak itu. Bima percaya kalau Hisyam memang habis belajar bersama temannya.
"Yasudah, cepat mandi" kata Bima dengan nada perintah seperti biasanya.
Hisyam mengangguk lalu berlalu ke kamarnya untuk mengambil handuk dan baju ganti. Setelah itu dia kembali keluar dari kamar dan berlalu ke kamar mandi yang berada di dapur.
"Loh udah pulang Syam" kata Hasna yang berada di dapur
"Iya Kak, ini mau mandi"
"Iya, cepetan mandi biar nanti kita makan bareng terus kamu mau ngaji juga kan" kata Hasna
Hisyam mengangguk, lalu dia masuk ke dalam kamar mandi. Hasna pun kembali melanjutkan masaknya. Hari sudah mulai petang, dia harus menyelesaikan masaknya sebelum magrib agar Hisyam bisa makan dulu sebelum berangkat mengaji.
Huh... Selesai juga akhirnya.
Hasna mengusap peluh yang menetes di dahinya. Dia membawa piring berisi masakannya ke dalam ruang tengah rumahnya. Menatanya di atas meja kayu yang ada disana.
"Sudah selesai?" Tanya Bima yang sedang memainkan ponsel
"Tunggu Hisyam selesai mandi dulu, biar kita bisa makan bersama" kata Bima santai
Hasna tersenyum, dia begitu tersentuh dengan perhatian Bima pada adiknya itu. Pria itu begitu tulus peduli pada Hisyam, dan itu membuat Hasna cukup bahagia.
Beberapa saat kemudia Hisyam keluar dari kamar mandi, dia sudah memakai pakaian lengkap. Hisyam langsung menghampiri Hasna dan Bima di sana.
"Cepet makan Syam, sebentar lagi kamu berangkat ngaji" kata Hasna
"Syam gak ngaji sekarang Kak, tadi lupa bilang" kata Hisyam sambil duduk di karpet plastik dekat televisi
"Loh kenapa?"
"Ustadz Zaki nya kan mau nikahan lusa, jadi libur dulu ngaji nya" jelas Hisyam
Uhuk..uhuk..
Hasna yang sedang meminum air putih itu langsung tersedak.
__ADS_1
"Pelan-pelan Asna, gimana si" Bima mengelap sisa air di bibir kekasihnya itu
Hisyam terkekeh melihat tingkah kakaknya itu "Kenapa Kak? Nyesel ya, gak nerima pinangan nya Ustadz Zaki"
Bima yang sedang membersihkan sisa air di dekat bibir Hasna langsung menghentikan gerakannya itu. Dia menoleh ke arah Hisyam, lalu kembali menatap pada Hasna yang menatap kesal pada adiknya.
Kenapa pake di bahas si Syam. Gak tau apa kalau harimau ganas sedang cemburu, bisa lebih ganas lagi.
Hasna menoleh dan menatap Bima dengan wajah gugup nya. "Hehe. Ayo makan Sayang"
Bima menahan tangan Hasna yang mengambil piring dan akan menyendokan nasi ke atasnya. Dia tahu jika Hasnanya sedang mengalihkan pembicaraan. Hasna tentu tahu jika Bima sedang butuh penjelasan atas ucapan Hisyam itu. Apalagi api cemburu di hatinya sudah mulai berkobar dari tadi.
Hasna menatap pada Bima yang memegang tangannya saat dia baru saja akan mengambilkan makanan untuknya. "Apa?"
"Siapa Ustadz Zaki?" Tanya Bima dingin
Hisyam hanya berpura-pura fokus pada televisi yang dia nyalakan barusan. Dia tidak mau terkena amukan Bima juga. Hisyam benar-benar tidak bermaksud membuat Bima cemburu. Dia hanya keceplosan saja. Beneran.
"Emm. Di-dia.. guru ngajinya Hisyam di mesjid" Selamat deh, memang benar 'kan jika Ustadz Zaki guru ngaji Hisyam. Jadi aku tidak berbohong.
"Aku tahu itu! Lalu maksud Hisyam tadi apa? Kau pernah menolak pinangannya? Apa dia berniat menikahimu?" Tanya Bima dengan tatapan semakin tajam karena Hasna malah berkilah saat menjawab pertanyaannya. Padahal dia tahu apa yang di maksud Bima.
Hasna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung harus menjawab apa. Jika jujur Bima akan tetap marah. Tapi jika tidak jujur Bima akan semakin marah.
"I-iya, tapi aku menolaknya karena aku belum siap untuk menjadi istrinya seorang Ustadz. Mungkin juga memang aku dan Ustadz Zaki tidak berjodoh" jelas Hasna, sebisa mungkin mencari kata yang tepat agar tidak terlalu membuat Bima marah. Meski itu tidak mungkin.
Bima mendengus kesal mendengar penjelasan Hasna "Tidak perlu menyebut namanya, aku tidak suka kau menyebut nama pria lain dengan bibirmu itu"
Baiklah.. baiklah.. terserah pada Tuan Muda saja.
"Iya, lagian itu cuma masa lalu. Yang penting masa depan aku sekarang 'kan cuma kamu" kata Hasna dengan menampilkan senyum manisnya.
Bima menuding kening Hasna "Mulai bisa merayu ya.. awas jika kau melakukan ini pada pria lain selain aku"
"Tidak mungkin, kan aku sayangnya sama kamu aja. Hehe" Sama harimau ganas yang menakutkan dan menyeramkan. Tapi tetap memiliki sisi peduli yang membuat aku jatuh cinta padanya.
"Yasudah ayok makan" ajak Hasna
Bersambung
Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter... kasih hadiah dan vote juga ya...
__ADS_1
Bucin dulu ya.. sebelum menuju konflik terakhir.. hehe