
Setelah tahu apa yang di maksud Bima saat dirinya mengatakan jika dia sedang berada di rumah sakit. Setelah cukup bersabar Hasna menjelaskan tentang panggilan 'Mas' yang tak sengaja Hasna ucapkan tadi.
Malam ini Bima juga kembali meneleponnya, dia masih merajuk tentang hal tadi siang yang sebenarnya tidak penting sama sekali untuk di bahas.
Memanggil orang lain dengan kata 'Mas' saja sudah menjadi masalah besar seperti ini. Apalagi jika aku memanggil Sayang. Oh ya ampun, pacarku ini memang luar biasa ya.
"Aku pengen lihat baby Anista, tapi kerja. Akhir pekan saja deh kayaknya"
Sebenarnya Hasna sudah sangat ingin menengok Anista dan bayinya. Tapi, dia masih harus bekerja sampai akhir pekan ini.
"Aku bisa mengurus semuanya, kau ambil cuti saja dan aku akan bicara dengan atasanmu itu"
Suara Bima terdengar begitu tenang, dia memang bisa melakukan apa saja yang dia mau jika itu menyangkut kekasih hatinya. Maka akan dia lakukan asalkan Hasnanya bahagia. Apalagi hanya sekedar cuti kerja, dan tempat kerja Hasna juga berada di bawah kekuasaan nya.
"Ck. Gak bisa kayak gitu, nanti bakalan timbul curiga dari karyawan lain. Aku udah sering banget ambil cuti"
Bima menghela nafas mendengar ucapan Hasna, gadisnya itu masih belum terbiasa dengan kehidupannya. Tidak akan ada lagi yang berani mengusik kehidupan Hasna atau pekerjaannya. Karena semua karyawan hotel sudah tahu siapa Hasna, dia adalah kekasih seorang Satria Bima Prakasa. Namun, Bima juga tidak mengizinkan mereka untuk mengungkapkan apa yang dia katakan saat itu.
"Kalian semua tahu? Hasna Amalia, seorang office girl di hotel ini adalah kekasihku. Jangan ada satupun yang berani mengusiknya. Jika kalian berani mengusik gadisku sedikit saja, maka hancurlah hidup dan pekerjaan kalian"
Semua karyawan sengaja Bima kumpulkan di aula hotel, termasuk Ryan. Bima mengumpulkan semua karyawan hotel ini saat dia kembali dari rumah Hasna malam itu. Semuanya berkumpul atas perintah Bima pada salah satu orang kepercayaan nya di hotel ini. Bahkan untuk yang jam kerjanya sudah habis, Bima menyuruhnya untuk kembali ke tempat ini. Tidak peduli jika mereka sudah sampai di rumah. Bima hanya ingin semuanya tahu tentang hubungan dia dan Hasna.
"Satu lagi, jangan kalian berani membahas ini pada Hasnaku. Biarkan dia seolah tidak tahu jika kalian semua sudah mengetahui tentang hubungan kami. Mengerti!"
Semuanya langsung mengangguk mengerti, meski mereka sangat penasaran dengan hubungan Hasna dan Bima. Ini tentu untuk pertama kalinya, Bima mengungkap tentang kehidupan pribadinya. Selama ini, tidak ada yang tahu apapun tentang kehidupan pribadi Bima. Bahkan tentang Bianca pun tidak ada yang tahu. Bima benar-benar sosok pemimpin yang dingin, tegas dan sangat tertutup jika menyangkut urusan pribadinya.
Jadi, wajar saja jika sekarang semuanya merasa terkejut tentang hal yang baru saja Bima umumkan. Hal pribadi yang bahkan tidak mereka sangka jika Bima akan mengumumkan nya. Apalagi dengan hubungan dia dengan seorang office girl.
Baiklah, sepertinya kau sudah menemukan pria yang benar-benar mencintaimu Na. Dia terlihat begitu tulus padamu, bahkan tidak malu sedikit pun saat mengungkapkan hubungan kalian dengan status kalian yang berbeda jauh. Akhirnya aku bisa benar-benar mengikhlaskanmu Na.
Ryan menatap Bima yang berdiri di antara mereka dengan senyuman. Dia akan bahagia jika Hasna juga bahagia, melihat bagaimana Bima mencintainya membuat Ryan yakin jika Bima adalah bahagianya Hasna.
__ADS_1
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Drett...Drett..
Hasna meraih ponsel yang berdering di atas meja. Dia mengerutkan keningnya, bingung saat melihat siapa yang menelponnya. Dia adalah atasan di tempatnya bekerja.
"Hallo"
"Hasna, hari ini tidak perlu masuk kerja ya"
Hasna semakin bingung dengan ucapan atasannya itu. "Kenapa Bu?"
"Tidak usah saja, ada yang mau lembur hari ini dan besok. Kamu tidak perlu bekerja saja, saya kasih cuti"
Hasna semakin bingung saja, kenapa atasannya begitu baik sampai memberikan dia cuti tanpa dia minta. Padahal pagi ini Hasna sudah siap untuk berangkat bekerja.
Kenapa semuanya semakin aneh ya.. Teman-teman di tempat kerja juga sikapnya jadi aneh sama aku. Ada apa ini?
"Sudahlah, kamu nikmati saja cutimu itu"
Tutttt...
Suara panggilan yang di tutup secara sepihak, bahkan Hasna belum sempat menyelesaikan ucapannya itu. Dia harus cuti dua hari ini, kenapa Hasna merasa ada yang tidak beres dengan atasannya juga teman-teman kerjanya.
Ting..
Kembali ponselnya bergetar dengan suara notifikasi pesan. Hasna segera membuka pesan yang masuk ke ponselnya itu.
Datanglah kesini sekarang, aku akan menyuruh orang untuk menjemputmu.
Pesan dari kekasihnya ini juga semakin membuat Hasna bingung. Apa semua ini telah di rencakan oleh Bima? Tapi, Hasna juga tidak boleh berburuk sangka dulu. Sepertinya dia harus menanyakan semuanya secara langsung pada Bima, nanti.
__ADS_1
Biar aku tanyakan saja nanti.
"Kak, ayo berangkat" Hisyam keluar dari kamarnya, dia baru saja selesai dengan bersiapnya.
"Kamu bisa kalo izin gak masuk sekolah aja hari ini, kita ke Ibu Kota buat nengok Kak Anista dan bayinya" kata Hasna
"Loh, kenapa gak dari kemarin Kakak bilangnya. Sebenarnya Syam masih belum benar-benar belajar si. Kan baru juga masuk sekolahnya, kayaknya bisa deh" jelas Hisyam, dia memang baru masuk sekolah menengah pertama.
"Yaudah, biar Kakak hubungi guru kamu aja ya" kata Hasna sambil mengotak-ngatik ponselnya
"Loh, emangnya Kak Na punya nomor ponsel guru Syam?" tanya Hisyam bingung, dia memang tidak tahu jika Kakaknya mempunyai nomor ponsel gurunya.
"Ya punya, kan waktu rapat pertemuan wali kelas dan orang tua/wali murid itu, wali kelas kamu ngasih nomor ponselnya untuk kita semua catat agar bisa menghubunginya jika ada hal penting yang ingin di tanyakan atau misalnya izin tidak masuk sekolah mendadak seperti ini" jelas Hasna
Hisyam mengangguk mengerti, dia menatap Kakaknya yang duduk di kursi kayu sambil mengetikan sesuatu di ponselnya itu. Sejak orang tua mereka meninggal, maka Kakaknya akan selalu menjadi wali Hisyam saat ada rapat atau pertemuan orang tua/wali murid di sekolahnya.
Bahkan pernah suatu hari Hasna datang ke sekolah Hisyam dengan menggunakan seragam sekolahnya. Dia sengaja meminta izin pada gurunya untuk bisa pulang lebih dulu dan menghadiri acara di sekolah Hisyam.
"Kakak hanya tidak mau jika nanti hanya Syam yang tidak punya wali yang datang ke sekolah ini. Meski Syam tidak punya orang tua, tapi Syam punya Kakak"
Jawaban Hasna saat Hisyam selalu menyuruhnya agar tidak perlu datang jika ada pertemuan orang tua/wali murid di sekolahnya. Hisyam hanya berfikir, jika dia punya Hasna saat sekolahnya mengadakan rapat seperti ini. Lalu, Kakaknya itu punya siapa? Dia tidak ada wali yang datang ke sekolahnya, bahkan saat mengambil raport pun. Hasna hanya sendiri, di saat teman-temannya bersama dengan orang tua mereka.
"Ini sudah kewajiban Kakak, Syam"
Kata yang selalu Hasna ucapkan jika Hisyam mulai menanyakan tentang sekolah dia dan segala biaya hidup mereka. Hasna memang sosok Kakak yang sangat bertanggung jawab terhadap adiknya. Bahkan di saat dirinya kesusahan sekalipun, dia tetap akan mengutamakan adiknya.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..
Sedih deh hadiah sama vote tetap di situ aja, ayo dong kasih dukungan kalian.
__ADS_1