You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Pria Terbaik Untuk Hasna


__ADS_3

Setelah lamaran Bima di terima oleh Hasna, Bima langsung menyuruh Hasna untuk berhenti bekerja. Tidak bisa lagi menolak, akhrinya Hasna menuruti semua keinginan Bima. Lebih tepatnya pria itu memaksa Hasna agar keluar dari pekerjaannya.


Hari ini, Bima datang menjemput Hasna untuk datang di acara syukuran kelahiran anak kedua Anista dan Yudha.


Di dalam mobil, Bima terus memeluk Hasna. Seolah melepaskan rasa rindunya yang sebenarnya hanya beberapa hari saja mereka tidak bertemu. Hisyam hanya duduk anteng di kursi depan bersama Pak Firman.


"Sayang, nanti beneran kita pindah ke Ibu kota? Hisyam harus pindah sekolah, padahal dia juga baru masuk sekolah beberapa minggu" kata Hasna, yang masih bersandar di dada Bima.


Mobil terus melaju, memecah keramaian di pagi hari. Bima menciumi puncak kepala Hasna beberapa kali, seperti tidak ada puasanya "Aku sudah mengurus semuanya, termasuk kepindahan sekolah Hisyam dan juga sekolah baru untuk Hisyam"


"Kau siap untuk suasana baru, Boy?" tanya Bima pada Hisyam, pria itu menepuk bahu Hisyam yang duduk di kursi depan.


"Tentu" jawab Hisyam singkat, anak remaja yang memiliki sikap dingin dan hanya berbicara seperlunya saja. Semuanya karena masa lalu yang Hisyam alami, membuat dia kehilangan masa cerianya.


"Good Boy"


Hasna tersenyum mendengar percakapan itu, memang Bima dan Hisyam memiliki sifat yang hampir sama.


"Tuh, adikmu sudah siap untuk pindah ke Ibu Kota dan memulai hidup baru di sana. Jadi, kau tak perlu risau"


Hasna mengangguk saja mendengar ucapan Bima itu, dia tidak risau hanya sedang takut saja. Takut jika, Hisyam maupun dirinya tidak bisa mengendalikan rasa takut akan trauma yang di alami tentang masa lalu menyakitkan itu.


Sampai di rumah megah milik Yudha, mereka langsung masuk dan mengikuti setiap acara yang di laksanakan di rumah ini. Syukuran atas kelahiran baby Hervin.


"Yaudah, kalo gitu aku pulang dulu ya Nist. Sudah hampir larut juga" pamit Hasna pada Anista


"Nginep aja disini Na, udah malem juga"


Memang sudah cukup malam, tapi Hasna masih saja merasa canggung dengan keluarga ini. Apalagi dengan adanya Nyonya Varinda. Meski dia sangat baik pada Hasna, tapi gadis itu tetap merasa segan.

__ADS_1


"Emm. Gak usah deh Nist, aku pulang aja" kata Hasna, mencoba menolak tanpa menyinggung perasaan Anista.


Anista menidurkan baby Hervin di box bayi. Lalu dia menghampiri Hasna yang masih berdiri di tempatnya. Di dalam kamar ini hanya ada mereka berdua, karena Yudha maupun Bima di sibukan dengan menyapa orang-orang yang datang. Terutama rekan kerja mereka. Sementara Hisyam sedang asyik bermain bersama Safira dan Evan.


"Duduk dulu, aku pengen ngobrol bentar sama kamu. Lagian, Bima juga belum ngajakin kamu pulang 'kan?" kata Anista yang menuntun Hasna untuk duduk di sofa.


"Emm, kamu kapan menikah sama Bima? Waktu itu Mas Yudha pernah bilang kalo kamu bakalan tinggal disini. Tapi, sampe sekarang belum juga ada kabar lagi tentang itu" jelas Anista, mengutarakan kebingungannya atas apa yang sebenarnya terjadi pada hubungan Hasna dan Bima.


Bukan bermaksud untuk ikut campur, Anista hanya mengkhawatirkan keadaan Hasna. Takut jika Bima hanya mempermainkan gadis polos itu. Karena Hasna sudah seperti seorang Kakak untuk Anista, apalagi tanpa Hasna yang menolongnya beberapa tahun lalu dalam kegelapan kamar hotel.


Mungkin Anista tidak akan bisa kembali ke kampung halamannya dengan selamat. Mungkin saja Anista sudah mengakhiri hidupnya saat dia keluar dari kamar hotel yang membuat hidupnya hancur saat itu juga. Namun kehadiran Hasna telah menyadarkannya jika tidak semudah itu untuk menyelesaikan masalah dengan cara seperti itu.


Hasna menghela nafas, dia memang harus menjelaskan semuanya pada Anista. Karena Hasna bisa melihat kekhawatiran Anista padanya, mungkin Anista akan berfikir jika Bima telah melakukan kesalahan sehingga Hasna ragu untuk menikah dengan pria itu.


Tapi, pada kenyataannya Hasna yang membuat Bima tersiksa beberapa bulan ini karena terus membuat pria itu menunggu tanpa kepastian yang jelas. Hasna tidak ingin Anista salah faham tentang itu.


"Sebenarnya aku yang selalu menolak permintaan Bima untuk segera menikah"


Anista cukup terkejut mendengar semua cerita Hasna. Ternyata fikirannya tentang Bima salah besar. Awalnya Anista berfikir jika Hasna tidak ingin menikah dengan Bima karena sikap pria itu yang terlalu dingin dan cuek atau mungkin Bima hanya menjadikan Hasna sebagai pelampiasan atas rasa sakitnya karena pengkhianatan Bianca. Tapi, ternyata dugaan Anista salah.


"Jadi Bima bisa bersikap manis juga saat bersamamu? Aku kira dia tetap akan dingin seperti itu" kata Anista, seolah tidak percaya dengan cerita Hasna tentang kebucinan Bima padanya.


Hasna mengangguk dengan senyuman malu "Ya.. Meski kadang juga masih menyebalkan dengan sikap dingin dan datarnya. Apalagi kalo sudah cemburu buta tidak jelas, aku harus ekstra sabar membujuknya agar tidak marah lagi"


Ya ampun ternyata sifatnya sama dengan Mas Yudha. Tuan dan Asisten sama-sama gila dalam hal cemburu buta.


Anista menjadi ingat dengan sikap suaminya yang sama persis dengan Bima. Yudha juga seorang pria dingin yang kebucinannya tingkat dewa pada sang istri. Mungkin orang lain yang melihat sikap Yudha di luaran, akan mengira jika Yudha juga akan bersikap seperti itu pada Anista. Kenyataannya sangat berbeda. Ya.. Sama seperti dugaan Anista pada Bima.


Anista memeluk Hasna, dia bahagia jika sahabatnya ini juga bahagia bersama pasangannya "Aku ikut bahagia dengan hubungan kalian. Jadi, segeralah untuk menikah"

__ADS_1


Hasna membalas pelukan Anista, dia tersenyum sambil mengelus punggung wanita yang memeluknya dengan penuh kehangatan "Iya Nist, semoga saja secepatnya ya. Minta do'a terbaiknya"


Anista mengangguk cepat "Tentu Na, aku akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu dan Bima"


Pelukan mereka terlepas saat mendengar suara pintu yang terbuka. Dua pria tampan berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sulit di artikan. Keduanya hanya fokus menatap wanita mereka masing-masing.


"Sayang, kita pulang sekarang?" tanya Hasna pada Bima


Anista langsung menyenggol lengan Hasna dengan senyuman jahilnya "Ciee.. Udah panggil Sayang aja nih"


Hasna tersenyum malu, sepertinya dia sudah terbiasa dengan panggilannya untuk Bima. Sampai tidak sadar jika disana tidak hanya ada mereka berdua.


"Apaan si Nist, itu panggilan yang dia minta sejak kita pacaran" Bahkan sejak aku masih menganggap jika aku masih di jadikan pacar pelunas hutang.


"Emm. Gak papa kok, itu panggilan yang wajar untuk sepasang kekasih" kata Anista tersenyum bahagia, dia juga ikut bahagia dengan hubungan Hasna dan Bima.


Bima berjalan mendekat ke arah dua wanita yang sedang duduk berdampingan itu, mengelus kepala wanitanya "Kita menginap saja disini. Sudah terlalu larut untuk pulang"


Hasna mendongak dan menatap wajah prianya "Emm.. I-iya, terserah kamu saja" Sebenarnya aku tidak ingin menginap disini. Rasanya sangat canggung sekali.


"Iya Na, menginap saja disini. Asalkan jangan mengambil waktu istriku terlalu lama ya" kata Yudha yang langsung mendapat pelototan dari istrinya.


"Apaan si Mas, namanya juga wanita. Kalo lama gak ketemu, ya pas ketemu pasti pengen ngobrol banyak" kata Anista, merasa gemas dengan sikap posesif suaminya yang tiada batas.


Hasna hanya tersenyum melihat sepasang suami istri yang saling mencintai itu. Meski rintangan yang mereka lalui sangatlah rumit, tapi cinta mereka tetap kokoh sampai sekarang. Hasna kagum pada pasangan itu.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga.. terimakasih

__ADS_1


Jangan lupa mampir di novel terbaru aku.. Benteng Penghalang Kita


__ADS_2