
Malam hari sepasang pengantin baru ini, sedang berpelukan di atas tempat tidur dengan tubuh polos yang hanya tertutup selimut tebal. Keduanya baru saja melakukan olahraga malam yang cukup melelahkan.
Hasna menggambar pola abstrak di atas dada Bima, ada yang ingin dia ucapkan pada Bima. Tapi, Hasna merasa ragu untuk mengatakannya.
Bima mengecup puncak kepala Hasna beberapa kali, sungguh Bima sangat mencintai wanitanya ini. Dia begitu bahagia saat sekarang bisa bersama Hasna, menjadi suami istri yang sah.
"Emm. Sayang, aku..." Duh.. gimana bilangnya ya.
"Kenapa?" tanya Bima bingung saat Hasna tidak jadi meneruskan ucapannya
"Emm. A-aku besok boleh pergi, gak?" tanya Hasna lirih, takut jika Bima akan marah mendengar ucapannya itu.
Benar saja, Bima langsung melepaskan pelukannya dan mendorong pelan tubuh Hasna agar terduduk. Menatap dingin mata wanitanya itu, Bima tidak suka saat Hasna ingin berpergian tanpa dirinya.
"Memangnya mau kemana kau?" tanya Bima dingin
Tuhkan, wajahnya berubah jadi dingin lagi.
"Emm. Aku mau ziarah ke makam Ayah dan Ibu bersama Hisyam" jelas Hasna
Bima semakin menatap Hasna dengan tajam. "Kau ingin berkunjung ke makam mendiang orang tuamu. Tapi, tidak ingin mengajakku sebagai suami mu? iya?!"
Hasna menunduk takut mendengar ucapan Bima yang setengah berteriak itu. Bukannya Hasna tidak mau mengajak Bima ke makam mendiang orang tuanya.
Hanya saja, mengingat reputasi Bima itu. Hasna takut jika ada seseorang yang melihat Bima datang ke makam orang tuanya. Tentunya akan menjadi gosip yang tidak baik untuk Bima. Mengingat kedua orang tua Hasna meninggal bunuh diri setelah ayahnya melakukan korupsi uang negara. Hasna tidak ingin merusak reputasi suaminya.
"Maaf, aku hanya takut nanti ada yang mengenalimu dan akan merusak reputasimu saat ada yang tahu jika kamu berkunjung ke makam kedua orang tuaku" jelas Hasna dengan suara lirih dan parau, sepertinya Hasna sedang menahan tangis yang akan segera pecah.
Bima berdecak kesal, dan menghela nafas kasar mendengar penjelasan Hasna ini. Dia menarik kembali tubuh Hasna ke dalam pelukannya.
"Kau lupa jika aku pernah bilang, akan menerimamu dan semua masa lalumu. Tidak peduli itu akan berpengaruh atau tidak pada reputasiku. Kau mengerti!"
__ADS_1
Hasna semakin mengeratkan pelukannya di perut Bima. Kepalanya bersandar di dada bidang pria itu. Hasna benar-benar terharu dengan ucapan Bima. Prianya benar-benar menerima dia apa adanya, dia menerima masa lalu Hasna yang kelam.
"Makasih Sayang, aku tidak bisa mengucapkan apapun lagi selain ucapan terimakasih sama kamu. Karena sudah mau menerima aku dan masa laluku" kata Hasna, air matanya menetes begitu saja.
Bima mengelus punggung Hasna dan mengecup puncak kepalanya "Kau adalah hidupku, Asna. Jadi, semua yang berkaitan dengamu maka menjadi urusanku"
Ya Allah, sebaik dan setulus ini suamiku. Terimakasih karena Engkau telah menghadirkan Mas Bima sebagai jodohku.
Tak henti-hentinya Hasna bersyukur atas karunia Tuhan. Bertemu dengan Bima adalah keberuntungan terbesar dalam hidupnya. Pria yang tulus mencintainya dengan segala kekurangannya.
"Yaudah, besok kita pergi ke makam mendiang orang tuamu. Kita jemput dulu Hisyam di rumah Anista" kata Bima
Hasna mengangguk saja, dia sudah tidak akan banyak berfikir lagi tentang reputasi Bima yang akan hancur saat ada seseorang yang melihatnya berkunjung ke makam mendiang orang tuanya. Hasna yakin, Bima pasti bisa mengatasi semua itu.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Di antara dua gundukan tanah yang sudah kering, banyak rumput liar yang tumbuh di atasnya. Hasna duduk bersimpuh di tengah-tengah dua gundukan tanah itu. Mencabuti rumput liar yang tumbuh di atasnya.
Selesai berdo'a dan membacakan beberapa ayat suci, Hasna mengajak Bima dan Hisyam untuk kembali pulang.
"Syam, gak papa 'kan?" tanya Hasna, dia melirik kaca spion atas untuk dapat keadaan adiknya yang duduk di kursi belakang.
Hasna tahu, meski Hisyam terlihat tenang dan baik-baik saja. Tapi dia tentu sangat rapuh dan terluka dengan kenyataan ini. Meninggalnya kedua orang tua mereka adalah kenyataan paling menyakitkan dalam hidup Hisyam dan Hasna.
"Gak papa Kak" jawab Hisyam dingin
Hasna selalu merasa jika sikap Hisyam sangatlah mirip dengan suaminya. Lelaki yang sama-sama mengalami masa lalu menyakitkan. Di tinggalkan orang tua mereka di saat masih kecil. Harus kehilangan kasih sayang orang tua sejak kecil.
Bima menggenggam tangan Hasna, dia seolah memberi pengertian agar Hasna tidak terlalu mempermasalahkan sikap Hisyam itu. Karena Bima juga merasakan bagaimana berada di posisi Hisyam saat ini.
Mobil tiba-tiba terhenti setelah cukup lama menempuh perjalanan. Namun, Hasna merasa heran saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di pekarangan rumah yang mewah ini. Dua orang keamanan rumah ini langsung membukakan pintu mobil untuk mereka, membuat Hasna semakin bingung saja.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan dan Nona" kata orang keamanan itu dengan membungkukan tubuhnya menunjukan rasa hormat.
Hasna tersenyum kikuk, dia tidak biasa di perlakukan spesial seperti ini. Bahkan sampai seseorang membungkukan tubuhnya karena rasa hormat. Namun, sepertinya Hasna harus mulai terbiasa dengan hal seperti ini. Mengingat siapa suaminya itu, seseorang yang selalu di hormati oleh banyak orang.
Hasna beralih menatap bangunan mewah di depannya ini. Sebuah rumah minimallis dengan gaya Eropa. Membuat kesan semakin mewah dan megah.
Rumah siapa ini? Bagus banget.
Bima menggandeng tangan Hasna dan Hisyam, membawa keduanya untuk masuk ke dalam rumah ini. Saat masuk ke dalam rumah yang terlihat minimallis dari luar itu, ternyata di dalamnya sangat luas dan mewah tentunya.
Dua orang pelayan wanita dan satu orang pria yang terlihat sudah cukup berumur tapi belum terlalu tua.
Mereka mengangguk hormat dengan serempak "Selamat datang"
Hasna tersenyum ramah pada mereka semua, lalu dia menoleh ke arah suaminya. Menatapnya bingung dengan semua ini.
Dengan satu tangan Bima yang di angkat menyuruh mereka semua untuk meninggalkan mereka. Semuanya langsung pergi dari hadapan Bima, Hasna dan Hisyam. Kembali ke rumah belakang.
"Mulai hari ini, kita akan tinggal disini" kata Bima, mulai menjelaskan semuanya yang membuat Hasna kebingungan.
Bima berjalan menuju ruang tengah, Hasna dan Hisyam hanya mengikuti saja. "Rumah ini sudah lama aku bangun dengan konsep ku sendiri. Tapi, aku jarang tinggal disini. Tapi, mulai sekarang aku akan tinggal disini bersama kalian"
Bima menoleh ke arah Hasna dan Hisyam yang berada di belakangnya "Kau suka?"
Hasna tahu jika pertanyaan itu di tujukan padanya "Emm. Suka, rumahnya sangat bagus"
Bima tersenyum puas mendengar jawaban Hasna, dia hanya ingin istrinya nyaman tinggal di sini "Baguslah, dan kau Syam, jarak rumah dan sekolahmu juga tidak terlalu jauh. Aku akan tunjukan kamarmu"
Bima membawa Hisyam pada kamar di lantai atas, sementara Bima lebih memilih kamar utama yang berada di lantai bawah.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..