
Hasna hanya memandang keluar jendela, dia masih sangat marah pada Bima dengan apa yang di lakukan pria itu. Bima benar-benar seenaknya pada Hasna.
Apa maksudnya coba, nyuruh atasan aku mecat aku?
Mobil melaju, Bima hanya fokus pada kemudinya. Dia akan menjelaskan semuanya pada Hasna, tapi sekarang bukan waktu yang tepat. Bima harus fokus dulu pada kemudinya jika tidak ingin hal buruk terjadi pada mereka berdua.
Mobil berhenti di depan gang menuju rumah Hasna. Bima menahan tangan Hasna yang ingin segera keluar dari mobilnya.
"Apa?" tanya Hasna ketus, dia ingin segera pergi dari hadapan pria menyebalkan itu.
"Diam dulu, aku ingin bicara padamu" kata Bima dengan wajah serius
Hah...
Hasna menghela nafas dan kembali diam, dia juga penasaran dengan apa yang akan di bicarakan oleh Bima padanya.
"Jadi selama ini kamu menganggap hubungan kita hanya sebatas melunasi hutang?" tanya Bima tenang, dia menatap lurus ke jalanan di depannya. Banyak kendaraan yang berlalu lalang di sana.
Lagian tidak pernah ada kata cinta yang terucap dari bibirnya.
"Memang benar 'kan? Aku menjadi pacarmu karena melunasi hutang ku untuk biaya rumah sakit Hisyam waktu itu" jelas Hasna, sesuai dengan pemikirannya selama ini.
Bima menghela nafas berat, tidak menyangka jika gadisnya sebodoh ini. Padahal dia sudah sering menunjukan perasaannya pada Hasna dengan tindakan. Apa masih butuh kata cinta? Saat tindakan yang dia lakukan juga sudah lebih dari cukup untuk menunjukan perasaan cintanya.
"Bodoh!" Bima menuding kepala Hasna dengan jarinya, dia merasa gadisnya benar-benar bodoh. Dia sama sekali tidak sadar jika Bima begitu mencintainya.
Hasna mengusap kepalanya yang sebenarnya tidak terasa sakit. Hanya refleks saja. Apasi? kenapa selalu mengataiku bodoh.
"Apa kau sebodoh itu sampai tidak sadar dengan perasaanku padamu selama ini?" kata Bima, menatap lekat wajah Hasna
Hasna terdiam, dia mulai mecerna ucapan Bima barusan. Perasaanku padamu selama ini? Apa dia juga... Aa.. tidak mungkin. Buktinya dia tidak pernah mengungkapkan cinta padaku.
Bima menangkup wajah Hasna dengan kedua tangannya. Wajah Hasna terlihat begitu mungil di antara tangan Bima yang besar. Dia menatap lekat manik hitam itu.
"Hasna Amalia, aku mencintaimu. Bahkan sangat mencintaimu"
Deg..
__ADS_1
Hasna terpaku mendengar ungkapan perasaan Bima. Dia seperti dalam mimpi. Masih merasa tidak percaya jika Bima mengungkapkan perasaan cintanya pada Hasna.
Bima menggoyangkan wajah Hasna yang malah terlihat diam mematung. Apa ini respon Hasna saat Bima mengatakan cinta padanya. Bima mengharapkan Hasna yang antusias bahkan sampai menjerit kesenangan karena perkataan cintanya. Tapi, gadis itu malah diam seperti patung.
Lagian apa Bima tidak sadar jika dia begitu menakutkan dengan sikap dingin, datar dan arogan nya. Justru membuat wanita manapun yang di ucapkan kata cinta olehnya pasti akan berekspresi sama seperti Hasna. Rasanya terlalu mustahil untuk seorang Bima mengatakan kata Cinta pada seorang wanita.
"Kenapa malah diam saja? Itu yang kau ingin dengar dariku. Kenapa kau tidak terlihat senang?" kesal Bima dengan ekspresi yang di berikan Hasna atas ungkapan cintanya.
Hasna mengerjap, tanpa sadar air mata haru mengalir begitu saja di pipinya membuat Bima panik akan hal itu. Dia sudah mengatakan cinta dengan romantisnya, kenapa Hasna malah menangis? Apa dia salah mengungkapkan nya karena terlalu terburu-buru atau karena apa sampai Hasna bisa menangis.
Bima segera menghapus air mata Hasna yang mengalir di pipi "Kenapa kau menangis? Apa aku salah mengatakannya sekarang? Apa aku terlalu cepat mengatakan nya?"
Tanpa menjawab apapun, Hasna langsung menghambur ke pelukan Bima. Gadis itu menangis terisak di pelukan Bima membuat pria itu semakin panik dan bingung.
"Dasar bodoh!" teriak Hasna sambil memukul dada Bima dengan gemas dan kesal.
"Hei. Kau berani ya mengataiku bodoh!" kata Bima setengah berteriak
"Kau memang bodoh, kenapa tidak dari dulu saja kau mengatakan itu. Jadinya aku tidak salah faham padamu" kesal Hasna, di sertai isak tangis nya
Bima tersenyum tipis, dia mengelus kepala Hasna dengan lembut "Karena aku kira kau akan mengerti dengan semua tindakan ku padamu. Itu semua sudah menunjukan rasa cintaku padamu. Ternyata kau terlalu bodoh untuk mengartikannya."
Plak...
Bima meringis mendengar ungkapan Hasna yang memang benar adanya. "Maaf, aku memang tidak bisa menunjukan ekspresi yang benar kalau aku sedang jatuh cinta"
Plak...
Lagi-lagi Hasna kembali memukul dada Bima dengan kesal. Apa pria itu benar-benar tidak bisa menunjukan ekspresi yang sedang jatuh cinta? Hasna merasa tidak percaya tentang hal itu.
"Aww.. Sakit Asna, kenapa kau terus memukul ku? Aku bisa masuk rumah sakit karena jantungku terluka jika kau terus memukul dadaku" kata Bima
Plak..Plakk
Hasna malah semakin memukul dada Bima dengan gemas dan kesal "Biarin aja, biar sekalian dokter periksa sama otak kamu"
"Hei, kau mengataiku bodoh Hah?" kesal Bima
__ADS_1
Hasna melerai pelukannya dan mendongak menatap wajah Bima "Kau itu memang bodoh, masa gak tahu caranya berekspresi seseorang yang sedang jatuh cinta. Aku saja bisa ketauan sama kamu waktu dulu aku awal-awal jatuh cinta sama kamu"
Bima merapikan rambut Hasna yang keluar dari ikatannya "Karena aku terlalu pintar untuk menebak perasaan seseorang"
Ishh..
Hasna semakin gemas dengan tingkah Bima ini. Pria ini benar-benar tidak peka dan tidak bisa menunjukan perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta.
"Sudahlah jangan marah-marah tidak jelas seperti itu" kata Bima sambil mengusap kepala Hasna dengan sayang.
"Terus tadi apa maksudnya nyuruh aku di pecat segala? Kau tahu 'kan kalo aku punya Hisyam yang harus aku biayai segala kebutuhan dan sekolahnya juga" kata Hasna, terlihat sekali wajah lelah dari sorot matanya
"Aku tidak suka kau memanggilku dengan sebutan 'Kau"
Apalagi ini? Apa memang seaneh ini sikap pria yang aku cintai. Hasna, kamu harus benar-benar sabar menghadapinya.
"Maksudnya gimana si?" Tanya Hasna dengan wajah bingung bercampur kesal
"Aku lebih suka kau memanggilku dengan sebutan 'Sayang' atau 'kamu'. Jangan mengikutiku dengan memanggil Kau" jelas Bima
Sudahlah Hasna benar-benar tidak mengerti dengan maksud pria ini. Yang dia tangkap hanya Bima tidak ingin Hasna memanggilnya 'Kau' dia ingin Hasna memanggilnya 'Kamu' atau sebutan Sayang seperti biasanya.
Memang di luar dugaan ya keinginan pria dingin ini.
Sudahlah saat ini Hasna hanya perlu bersabar dan menuruti kemauannya. "Oke, aku menuruti keinginanmu. Tapi, jawab dulu pertanyaanku kenapa kamu menginginkan aku di pecat?"
"Karena aku hanya ingin kamu banyak waktu bersamaku dan tidak harus kecapean bekerja sampai sakit seperti kemarin" jelas Bima
"Tapi 'kan kemarin itu karena aku lagi datang bulan, sudah biasa seperti itu jika sedang datang bulan" jelas Hasna
"Makanya itu, jangan bekerja. Semua kebutuhan kamu dan Hisyam akan aku penuhi" kata Bima dengan nada perintah seperti biasanya
"Emmm. Bukannya aku tidak berterimakasih atas itu semua. Tapi, aku tidak ingin merepotkanmu apalagi kita hanya sepasang kekasih dan bukan suami istri. Kamu belum wajib menafakahi ku apalagi adikku" jelas Hasna, dia terlalu sungkan dan merasa tidak enak jika Bima benar-benar memenuhi semua kebutuhannya dan Hisyam.
"Jika begitu, mari kita menikah!"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya... like komen di setiap chapter... kasih hadiah dan vote juga... terimakasih..