You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Mempunyai Anak?!


__ADS_3

Hasna terdiam saat menatap sekeliling kamar yang kata suaminya, adalah kamar untuk mereka berdua. Kamar yang begitu luas, dengan meja kerja di dekat jendela. Ruang baca di sebelahnya. Kamar ini, benar-benar Bima desain sesuai dengan kepribadiannya. Kamar yang menyatu dengan ruang kerja dan juga ruang baca.


Televisi besar yang tertempel di dinding dengan sofa bed di depannya juga meja kecil di sana. Barulah ada sebuah tempat tidur besar di ujung ruangan.


Kamar ini bisa seluas rumah kontrakan ku, tidak! Ini lebih luas daripada kontrakan ku.


Namun, seperti tempat tinggal Bima sebelumnya yang pernah Hasna kunjungi. Kamar ini tetap sepi, benar-benar polos tanpa hiasan dinding ataupun foto yang terpajang. Tidak ada vas bunga di atas meja, semuanya terlihat kosong tanpa hiasan. Terkecuali rak buku yang penuh dengan buku-buku bisnis tentunya, buku yang tidak bisa Hasna baca. Karena banyak juga buku dengan bahasa asing disana.


Hasna meraba setiap buku yang tersusun rapi di tempatnya, dari semua buku yang ada. Benar-benar tidak ada yang bisa Hasna baca. Semuanya tentang bisnis, jadi Hasna tentu tidak akan mengerti.


"Aaaa"


Hasna terlonjak kaget saat tiba-tiba ada yang menepuk bahunya. Jika tidak ada yang memegangi pinggangnya, mungkin Hasna sudah terjungkal ke atas lantai sekarang.


"Kau ini kenapa selalu ceroboh, kalau sampai jatuh dan kau terluka bagaimana?"


Hasna mendongak, menatap wajah seseorang yang sedang mendekap tubuhnya ini "Hehe.. Kamunya si ngagetin aja"


Bima berdecak kesal mendengar jawaban istrinya itu, memangnya apa yang membuatnya kaget? Bima hanya menemui istrinya saja, dan itu wajar.


Iya Bim, kamu gak salah untuk menemui Hasna. Tapi, kehadiran kamu yang kayak jelangkung itu yang salah. ck. Author kesel sendiri deh.


"Ayo makan malam, malah diem aja di kamar" kata Bima, menatap manik hitam milik Hasna.


Hasna mengangguk, tapi tangannya malah semakin erat memeluk pinggang Bima "Aku belum masakin makan malam loh, malah ketiduran tadi"


Bima mengecup kening wanitanya itu "Kau tidak perlu memasak, disini kan ada pelayan. Tapi, jika kau ingin memasak aku juga tidak melarangnya"


Karena Bima juga tidak bisa memungkiri, jika lidahnya sudah cocok dengan masakan yang Hasna buat untuknya.


"Emm. Sayang, aku boleh tanya sesuatu?" kata Hasna, menatap serius pada sang suami


Bima menggiring Hasna menuju sofa bed yang di depan televisi, tanpa dia melepaskan pelukannya itu.


Duduk di atas sofa dengan Hasna yang berada di pangkuan nya, tangan Bima masih melingkar di pinggang wanitanya itu. Seolah takut Hasna akan pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Bima


Hasna terlihat ragu untuk membahasnya, tapi mengingat bagaimana gairah suaminya semalam. Jadi, Hasna tetap harus membicarakan tentang ini.


"Emm. Kamu niat buat menunda punya anak atau tidak?" tanya Hasna dengan lirih


Bima mengerutkan keningnya, jujur saja sampai saat ini dia belum memikirkan tentang anak. Tapi, bukan berarti Bima tidak menginginkan seorang anak. Dia hanya membiarkan semuanya mengalir seperti air. Tidak akan memaksa Hasna untuk segera memberinya keturunan, juga tidak ingin menghalangi kehadiran anak di antara mereka.


Bima mengelus pipi Hasna dengan lembut, menatap penuh kasih sayang pada istrinya itu "Kamu siap untuk menjadi ibu dari anak-anak ku nanti?"


Hasna memang masih terbilang muda untuk memiliki seorang anak sekarang. Tapi, Hasna siap jika telah di berikan kepercayaan oleh Tuhan. Dia tidak akan menolak atau mengeluh hanya karena mempunyai anak di usia muda. Hasna tentu akan sangat bahagia jika dia telah di berikan kepercayaan oleh Tuhan.


"Jika Allah memberikan aku kepercayaan, aku siap memiliki anak dalam waktu dekat. Tidak akan menghalanginya" jelas Hasna


"Terus kalau begitu, kenapa nanya seperti itu?" tanya Bima, dia tidak mengerti jalan fikiran Hasna. Jika dia memang tidak berniat menunda kehamilan, kenapa harus bertanya dulu padanya.


"Karena aku takut kalau aku hamil cepat, terus kamu belum siap punya anak. Nanti kamu gak akan menerimanya" jelas Hasna, menceritakan semua kegelisahannya.


Bima tersenyum, kini dia mengerti kenapa istrinya menanyakan itu "Asnaku, aku selalu menantikan hari itu. Dimana aku akan mengelus perutmu yang buncit, yang sedang mengandung anaku"


"Yaudah, sekarang ayo kita makan" ajak Bima, dia memegang pinggang Hasna dan membantunya berdiri.


"Hisyam masih di kamarnya?" tanya Hasna


Bima berdiri, dia merangkul pinggang istrinya itu "Tadi masih di kamarnya, gak tahu kalo sekarang"


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Hari ini, Hasna kedatangan tamu yang begitu ramai. Keluarga Walton datang berkunjung ke rumah baru mereka. Kenapa rumah baru? Padahal Bima sudah membelinya dari lama. Karena keluarga Walton pun tidak tahu tentang rumah ini. Yang mereka tahu hanya apartemen Bima.


"Kau ini, bisa-bisanya aku tidak tahu tentang rumahmu yang megah ini" kata Yudha dengan tatapan meledek nya.


"Karena jika kau tahu, sudah pasti kau akan selalu mencariku ke sini jika ada hal yang terjadi" kata Bima santai


"Oh, jadi kau membeli rumah ini untuk tempat bersembunyi dariku. Sialan" kesal Yudha

__ADS_1


Bima tidak menjawab, dia hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh membuat Yudha menggeram kesal dengan asisten kurang ajarnya itu.


Nyonya Varinda dan yang lainnya, hanya menggelengkan kepala heran melihat tingkah dua orang itu. Sudah dewasa, tapi tetap saja masih berperilaku bagaikan anak kecil.


"Lihatlah suami-suami kalian itu, masih kekanak-kanakan sampai sekarang" kata Nyonya Varinda pada dua menantunya.


Bima memang bukan anaknya, tapi Nyonya Varinda sudah menganggap Bima sebagai anak kandungnya. Jadi, Hasna juga menantu untuknya.


"Biarlah Mam, Nist sudah biasa melihat mereka seperti itu. Kamu juga nanti akan terbiasa Na" kata Anista yang sudah jengah melihat tingkah laku mereka berdua.


Hasna hanya tersenyum kaku, dia memang belum tahu bagaimana kebiasaan kedua pria tampan itu. Karena Hasna baru mengenal Bima saja, tidak dengan Yudha.


"Sekarang ayo kita makan siang saja, biarkan mereka seperti itu saja" kata Nyonya Varinda


Hasna dan Anista saling tatap, lalu mereka tersenyum dan mengikuti Nyonya Varinda ke ruang makan.


"Makan dulu Mas" ajak Anista


Hasna juga ikut mengajak suaminya "Ayo makan dulu Sayang, anak-anak ayo kita makan siang dulu"


Hisyam, Safira, Evan dan pengasuh mereka yang sedang menggendong beby Hervin sedang bermain di atas karpet berbulu disana.


"Kalian makan dulu sana, biar mbak jagain Dek Hervin dulu" kata pengasuh baby Hervin


Hisyam mengangguk, dia langsung mengajak Safira dan Evan untuk ke ruang makan. Mengikuti Kakak dan yang lainnya.


Bima menatap pada adik iparnya yang menuntun Evan dan Safira di kiri kanannya. Hatinya menghangat, membayangkan jika anak-anaknya nanti akan seperti itu. Saling menyayangi dan membuat suasana rumah ini menjadi ramai.


Semoga saja aku bisa cepat membuat Asna hamil. Aku harus bekerja keras mulai nanti malam.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..


maaf telat up ya..

__ADS_1


__ADS_2