
"Setelah ini aku harap kau bisa menjalani hidupmu kembali seperti biasanya. Lupakan semua tentang perasaanmu, aku tidak yakin jika kau tidak akan terluka karenaku"
Ucapan Bima saat itu, masih saja terngiang di telinganya. Hasna hanya bisa mengingat semua tentang pria itu saat dia tinggal di apartemen nya. Dimana saat Bima sedikit menunjukan rasa peduli padanya.
"Kak"
Suara adiknya berhasil menarik Hasna ke alam sadarnya. Dia menoleh ke arah Hisyam yang berdiri di ambang pintu dapur.
"Ada apa Syam?" Tanya Hasna
"Ini tadi ponsel Kakak bunyi, tapi sekarang udah gak" kata Hisyam sambil berjalan menghampiri Kakaknya yang sedang memasak itu. Hisyam menyerahkan ponsel itu pada Kakaknya.
Hasna mencuci tangannya di wastafle lalu mengusapkannya ke apron yang dia gunakan. Hasna mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
Anista.
Sudah cukup lama setelah dia bertemu dengan Anista di pesta pernikahannya. Hasna menekan nomor Anista dan menelpon balik padanya.
"Hallo Nist, ada apa?"
"Na, minggu depan Evan ulang tahun dan Daddy nya sengaja merayakan ulang tahun Evan untuk pertama kalinya. Aku gak bisa kirimkan undangan langsung untuk kalian. Jadi, aku minta kalian datang ya"
Hasna terdiam, dia merasa bimbang dengan apa yang harus di katakannya pada Anista. Menyetujuinya atau menolaknya secara halus. Namun, Hasna tidak mungkin tega menolak undangan tulus dari gadis yang pernah dia tolong itu.
"Tapi aku kerja Nist, Syam juga sekolah"
Baiklah, coba untuk mencari alasan yang logis.
"Ayolah Na, acaranya akhir pekan kok. Hisyam libur sekolah dan kamu bisa minta cuti satu hari saja"
Hah...
Hasna menghela nafas pelan "Tapi Nist, aku sudah sering ngambil cuti. Takutnya gak akan di kasih cuti lagi, aku bukan jadwal libur di akhir pekan"
Memang Hasna bekerja dengan hari libur yang tidak menentu. Setiap hari selalu ada karyawan kebersihan yang libur dan itu bergiliran. Jadi, tidak bisa libur setiap akhir pekan. Semuanya ada jadwal masing-masing.
"Kamu coba dulu saja, kalo emang bener-bener gak bisa. Yaudah gak papa kalian gak datang juga"
Hasna mengangguk meski tak akan terlihat oleh Anista "Baiklah"
Hasna memasukan ponselnya ke saku apron yang di kenakannya. Hasna melanjutkan kegiatan memasaknya yang sempat tertunda tadi.
"Ada apa Kak?" Tanya Hisyam yang sedang duduk di kursi kayu yang berada di dapur kecil itu.
__ADS_1
"Evan ulang tahun, dan Kak Anista ngundang kita untuk datang" jelas Hasna
"Terus kita mau datang?" Tanya Hisyam
Hasna terus mengaduk masakannya di dalam wajan "Kalo Kak Na bisa ambil cuti, mungkin akan datang. Kalo gak bisa, ya terpaksa gak datang Syam"
"Apa Kakak takut bertemu dengan Tuan Bima?"
Deg
Hasna menghentikan gerakan tangannya yang akan memindahkan masakannya yang sudah matang ke piring. Dia terdiam dengan pertanyaan adiknya yang benar adanya.
"Emm. Kamu mau makan sekarang Syam? Kak Na mau mandi dulu"
Hasna segera memindahkan masakannya dari wajan ke piring. Setelah itu menyimpannya di atas meja dan menutupnya dengan tudung saji. Lalu, dia segera berlalu ke kamar mandi.
Hisyam menatap pintu kamar mandi yang tertutup keras. Apa Kak Na menyukai Tuan Bima?
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
"Bu, Saya izin masuk siang untuk akhir pekan. Ada acara mendadak" kata Hasna pada kepala kebersihan di hotel ini.
Awalnya Hasna ingin mengambil cuti, namun dia tidak ingin terlalu lama di Ibu kota nanti. Setidaknya dia akan punya alasan untuk segera pulang.
Hah??
Hasna sampai terbengong mendengar jawaban dari kepala kebersihan di hotel ini yang memberinya izin dengan begitu mudahnya. Bahkan tidak ada lagi pertanyaan atau semacamnya saat dia meminta izin untuk masuk siang hari di akhir pekan.
"Beneran boleh, Bu?" Tanya Hasna seolah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan
"Tentu saja, selama ini kau jarang mengambil cuti. Kau termasuk karyawan yang rajin. Jadi, aku izinkan kau kerja setengah hari di akhir pekan"
Bisa segampang itu? Setelah aku mengambil cuti beberapa kali tahun ini.
"Tap..tapi, saya sudah mengambil cuti beberapa kali Bu. Waktu itu saja mengambil cuti satu minggu lebih" kata Hasna seolah tidak percaya dengan ini semua.
"Pokoknya permintaanmu di kabulkan. Kamu boleh masuk siang hari di akhir pekan"
Sudahlah, sepertinya Hasna hanya perlu menerima kebaikan dari atasannya ini. Mendapatkan izin dengan mudah setelah dia beberapa kali mengambil cuti dalam waktu beberapa bulan terakhir.
Akhirnya Hasna harus tetap datang ke acara ulang tahun anaknya Anista.
Benar apa yang di katakan oleh Hisyam, jika dia memang takut bertemu lagi dengan Bima. Pria dingin menyeramkan yang telah membuatnya jatuh cinta. Namun, harus terhempaskan dengan penolakan Bima yang di ucapkan secara terang-terangan.
__ADS_1
"Kita jadi pergi ke acara ulang tahunnya Evan Kak?" Tanya Hisyam
Saat ini mereka baru saja selesai makan malam. Dan Hasna sedang duduk bersantai sambil melihat adiknya yang tengah belajar di atas karpet.
"Iya Syam, besok sore kita cari dulu kado buat Evan ya" kata Hasna yang di jawab anggukan oleh Hisyam.
"Kak Na tidur duluan ya, nanti kalo udah belajarnya langsung tidur" kata Hasna
"Iya Kak"
Hasna berlalu ke kamarnya, dia merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan tidak menentu.
Kenapa? Kenapa aku bisa semudah itu jatuh cinta pada pria dingin itu?
Masih menjadi misteri kenapa Hasna bisa segampang itu jatuh cinta pada Bima yang begitu dingin. Bahkan pria itu selalu terlihat menyeramkan di mata Hasna. Namun, gadis itu tetap tidak bisa menolak pesona seorang Bima.
Sudahlah, tak perlu memikirkan pria itu terus. Jalani saja hidupmu dengan baik Na.
Hasna mulai memejamkan matanya dan akhirnya terlelap. Bayang-bayang Bima masih menghantui fikirannya.
"Mbak harus pergi Neng, Keluarga Mbak juga butuh uang dan Mbak sekarang sudah dapat kerjaan baru. Maafkan Mbak karena tidak bisa terus bersama kalian"
Hasna menatap asisten rumah tangga keluarganya itu dengan tatapan sendu "Iya Mbak, Na mengerti kok. Terimakasih ya sudah mau mengantar kami sampai kesini dan mendapatkan rumah kontrakan ini"
Mbak Atun mengangguk, dia menyerahkan amplop coklat itu pada Hasna "Ini sisa uangnya, kontrakan itu sudah terbayar untuk dua tahun. Ini adalah sisa dari penjualan rumah kalian. Sekolah kalian juga sudah Mbak daftarkan. Neng sudah jadi anak SMA sekarang"
Hasna mengangguk dan menerima amplop coklat itu. Satu-satunya aset Ayahnya yang tidak di sita adalah rumah yang mereka tinggali. Dan Hasna memilih menjual rumah itu dan pindah ke pinggiran kota. Biaya hidupnya bisa lebih mahal jika berada di kota metropolitan itu.
Mungkin aku bisa cari kerja sambil sekolah.
Dan kehidupan Hasna yang baru, di mulai dari hari ini. Dimana dia sudah menjadi siswa sekolah menengah atas dan juga harus menghasilkan uang untuk biaya hidup dia dan adiknya yang baru saja masuk sekolah taman kanak-kanak.
Bahkan baru satu minggu dari kelulusannya di sekolah menengah pertama. Namun, Hasna harus bisa menerima semua takdir ini. Kedatangan orang tuanya di kelulusannya itu adalah yang terakhir kali. Dan Hasna tidak akan merasakan kehadiran orang tuanya lagi di kelulusan sekolah dia berikutnya.
Deg
Hasna terbangun dari tidurnya, lagi-lagi mimpi masa lalunya selalu menghantuinya. Dia melirik ke arah jendela kamar, di luar sana terdengar rintik hujan.
Hujan lagi ya, aku pasti akan susah tidur lagi.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya..
__ADS_1
Like, komen dan kasih hadiahnya dong. Lihat like dan dukungan kalian yang menurun, aku jadi kurang semangat nulisnya.