
Hasna merasa sangat canggung berada di antara keluarga ini. Sarapan pagi ini cukup menegangkan untuk Hasna. Meski sebenarnya tidak ada yang perlu di takutkan oleh Hasna. Karena semua anggota keluarga ini sangat baik pada Hasna dan Hisyam. Hanya saja Hasna masih merasa segan dan canggung.
Selesai sarapan, Hasna malah membantu pelayan di rumah ini untuk membereskan bekas makan mereka.
"Duduk! Kau bukan pelayana disini!"
Suara bariton Bima membuat Hasna menghentikan aktifitasnya. Dia kembali duduk dengan wajah menunduk. Sungguh dia merasa sangat canggung berada disini. Mereka semua adalah keluarga terhormat, sementara dirinya hanyalah anak dari mantan pejabat negara yang melakukan korupsi uang negara lalu mengakhiri hidupnya bersama sang istri. Hasna merasa sangat rendah diri saat mengingat masa lalunya itu.
"Sudahlah Na, biarkan pelayan saja yang melakukannya. Kamu ini 'kan calonnya Bima, tidak boleh melakukan hal itu. Kamu sama seperti Anista di keluarga ini" kata Nyonya Varinda dengan senyuman hangat
Tidak mungkin. Aku tidak akan sebanding dengan Anista. Dia dari keluarga baik-baik meski keluarganya tidak terpandang. Tapi aku, hanyalah seorang anak koruptor yang meninggal karena bunuh diri.
Hasna hanya mampu tersenyum kaku, dia merasa sangat tidak pantas untuk di samakan dengan Anista. Dia terlalu rendah jika di samakan dengan Anista, Hasna merasa jika masa lalunya selalu menjadi alasan pertama untuk dia merasa rendah diri.
Semuanya kembali berkumpul di ruang keluarga. Hasna sudah sangat ingin pulang saat ini, merasa jika dirinya sangat tidak pantas untuk bergabung dengan keluarga ini.
Duh.. Aku ingin segera pulang, kenapa Bima belum juga mengajak aku pulang si.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Nyonya Varinda menatap Bima dan Hasna bergantian. Menunggu jawaban dari keduanya.
Kenapa harus bertanya seperti itu? Aku tidak bisa menjawabnya.
Hasna melirik ke arah Bima yang duduk tenang di sampingnya. Pria itu memang selalu tenang dalam keadaan apapun. Berbeda sekali dengan Hasna yang selalu gampang sekali panik di situasi seperti ini.
"Minggu depan aku akan menikahinya"
Uhuk.. Uhuk..
Hasna langsung terbatuk-batuk mendengar ucapan Bima yang terlalu santai itu. Masih duduk diam dengan bersidekap dada, wajahnya masih tenang seolah tanpa beban apapun dia mengatakan itu.
"Tidak!" Seolah tanpa sadar karena saking paniknya, Hasna berteriak. Dia benar-benar terkejut dengan ucapan Bima.
Menikahinya minggu depan? Bagaimana bisa Bima mengatakan hal itu tanpa dia berbicara dulu dengan Hasna. Tidak ada konfirmasi apapun dari Bima pada Hasna tentang hal ini. Bagaiamana Hasna tidak terkejut coba?
Semua orang terperanjat mendengar teriakan Hasna itu, apalagi Bima yang langsung menatapnya dengan tajam. Seolah ingin memakan Hasna saat ini juga. Eh.
"Kau menolak menikah denganku?" tanya Bima dingin
__ADS_1
Hasna menjadi gelagapan sendiri, karena mulutnya yang refleks berteriak itu membuat dirinya menjadi malu dan terpojok seperti ini sekarang.
"Kenapa Na? Apa kamu tidak siap untuk menikah dengan Bima?" tanya Nyonya Varinda yang juga ikut bingung dan terkejut dengan teriakan Hasna barusan.
Duh. Malunya aku, kenapa ni mulut gak bisa banget di kontrol si kalo lagi panik kayak gini.
Hasna menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kikuk, dia tidak bermaksud menolak Bima yang akan menikahinya. Hanya saja Hasna terkejut saat Bima mengatakan akan menikahinya minggu depan. Di waktu yang sangat singkat. Hasna benar-benar terkejut akan hal itu sampai dia tidak sadar telah berteriak memalukan seperti itu.
Anista yang duduk di sofa yang bersebrangan dengan Hasna hanya mampu menyembunyikan tawa tanpa suaranya itu. Dia tahu jika Hasna hanya sedang panik saja. Karena sikap mereka berdua hampir sama.
"Jawab Sayang!" tekan Bima saat Hasnanya masih diam saja.
Sudah tidak aneh lagi untuk Hasna saat Bima tiba-tiba memanggilnya Sayang. Itu karena di sini bukan hanya mereka berdua, Bima selalu ingin menunjukan jika Hasna hanya miliknya di depan semua orang.
Ekhem..
Tapi Yudha sepertinya belum terbiasa dengan sikap Bima satu ini. Pertama kalinya Yudha mendengar Bima memanggil seorang wanita dengan sebutan Sayang. Bahkan saat bersama Bianca pun, Yudha tidak pernah mendengar Bima memanggil wanitanya dengan sebutan Sayang. Baru kali ini saja.
Namun setelah rasa terkejut dan tidak percayanya atas apa yang baru saja Yudha dengar dari mulut Bima. Yudha tersenyum bahagia, melihat asisten yang sudah seperti Kakak sendiri untuknya telah menemukan pendamping hidup yang tepat.
Ternyata wanita memang paling bisa membuat pria berubah drastis. Bima saja yang dulunya sangat dingin dan tak tersentuh, bisa berubah seperti ini sekarang.
Yudha tersenyum geli dengan pemikirannya sendiri. Dia juga mengalami hal yang sama seperti Bima. Berubah lebih baik karena wanita yang sangat dicintai nya.
Setelah beberapa menit Hasna menteralkan fikirannya yang tiba-tiba blenk itu. Dia kembali sadar dan mulai merangkai kata agar Bimanya tidak marah karena kesalah fahaman ini.
"Emm. Tidak Nyonya, bukan seperti itu maksud Na. Emm... Hasna mau menikah dengan Mas Bima, tadi Hasna hanya terkejut saja karena Mas Bima sama sekali tidak membicarakan tentang hal ini pada Hasna sebelumnya" jelas Hasna, mengungkapkan apa yang sebenarnya dia fikirkan tadi sampai dia berteriak memalukan seperti itu.
Bima menahan senyumnya saat mendengar Hasna memanggilnya dengan sebutan 'Mas' terdengar sangat lucu di telinga Bima.
"Kau ini Bim, kenapa tidak membicarakannya dulu bersama calon istrimu itu. Dan Hasna" Nyonya Varinda menatap Hasna dengan lekat membuat gadis itu mulai ketakutan "Kau panggil aku Mami, bukan Nyonya. Mengerti!"
Huh.. Kirain aku salah bicara lagi sampai di tatap seperti itu.
Hasna mengangguk "Baik Nyo.. Mami"
"Nah, Good"
__ADS_1
Akhirnya semuanya fokus untuk membicarakan rencana pernikahan Hasna dan Bima yang telah sepakat akan di laksanakan minggu depan.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Hasna berdiri diam di dalam kamar tamu yang dia tempati semalam. Menatap pemandangan di luar jendela. Dia benar-benar akan menikah minggu depan? Rasanya Hasna masih tidak percaya tentang hal itu. Apalagi mengingat yang akan menikahinya adalah pria yang dulu menolak perasaannya secara terang-terangan.
Greepp..
Sepasang tangan yang tiba-tiba melingkar di perutnya membuat Hasna kaget "Ngagetin aja"
Bima semakin mengeratkan pelukannya, menyandarkan dagunya di atas puncak kepala Hasna "Ngelamunin apa?"
Hasna menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada Bima. Tinggi tubuhnya benar-benar hanya sebatas dada pria itu, tidak lebih dan tidak kurang.
"Hanya merasa tidak percaya saja jika kamu akan menikahiku. Padahal dulu sok-sok'an nolak perasaan aku yang bahkan belum aku ungkapkan itu" jelas Hasna dengan dengusan kecil di akhir kalimatnya, kesal juga dia saat mengingat penolakan Bima di masa lalu.
Bima mencium puncak kepala Hasna dengan cukup lama, menghirup aroma shampo di rambut Hasna "Sebenarnya, sejak dulu aku juga sudah tertarik padamu. Tapi, kau tahu sendiri jika aku masih terikat janji dengan dia"
Hasna menoleh dengan sedikit mendongakan wajahnya untuk menatap wajah Bima, dia jujur dan tidak ada kebohohan di balik tatapan matanya. Hasna bisa melihat itu.
Jadi, dia juga sudah mulai tertarik padaku sejak lama.
"Emm. Gitu ya, terus kenapa pake alasan jadiin aku sebagai pacar pelunas hutang biaya pengobatan Hisyam?" tanya Hasna lagi, dia terlanjur penasaran dengan isi hati Bima yang sebenarnya.
Bima terlalu sulit untuk di sentuh, meski telah menjadi kekasihnya beberapa bulan ini. Hasna tetap tidak bisa menebak apa yang ada di fikiran pria itu. Semuanya terlalu kelabu untuk bisa Hasna tebak.
"Supaya kamu mau jadi pacarku dan tidak bisa menolak" jawab Bima santai
Hasna memukul kesal tangan Bima yang melingkar di perutnya. Dasar ya.. Kelakuannya ini benar-benar di luar nalar.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya ya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..
Sambil nunggu novel ini up, yuk mampir di karya aku yang masih on going juga.
__ADS_1