You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Ke Rumah Anista


__ADS_3

Dret...Dret ..


Bima meraih ponsel yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya. Dia baru saja selesai mandi dan akan bersiap berangkat kerja. Pria tampan ini masih menggunakan setelan santai dengan rambut yang setengah basah.


"Ada apa?"


Diam mendengarkan apa yang di katakan oleh si penelepon. "Baiklah, aku akan segera ke sana"


Bima melempar ponselnya ke atas tempat tidur dan dia segera berlari ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.


Bima segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit keluarga Walton. Dia baru saja mendapat kabar duka, jika ayah dari Anista meninggal dunia.


Sudah pasti Tuannya akan kelimpungan menenangkan istrinya itu. Apalagi mertua yang baru dia kenal beberapa minggu itu harus pergi untuk selamanya setelah mereka melakukan pernikahan sederhana kemarin.


Sampai di rumah sakit, Bima langsung menuju ruangan mertua dari Tuannya itu. Di sana sudah ada penjaga yang di tugaskan Yudha untuk menjaga istri dan mertuanya. Bima berlari menghampiri penjaga itu.


"Bagaimana?" Tanya Bima


"Tuan Yudha ada di dalam, Tuan"


"Lalu Anista?"Tanya Bima lagi


"Nona Muda pingsan dan sedang berada di ruang rawat"


Bima mengangguk dan segera masuk ke dalam ruangan itu. Di sana dia melihat Yudha sedang berbicara dengan ayah mertuanya yang sudah tidak bernyawa itu. Seperti sedang mengucapkan kata perpisahan.


Bima menghampiri Yudha dan menepuk punggungnya "Temui istrimu, urusan kepulangan jenazah Ayah mertuamu biar aku yang mengurusnya"


Yudha mengangguk "Terimakasih Bim"


Bima mengangguk saja.


Yudha beralalu ke ruang rawat istrinya. Sementara Bima segera mengurus segala hal untuk kepulangan jenazah ayah mertua dari Tuannya itu.


Begitulah rasa tanggung jawab Bima, dia selalu mementingkan segala urusan yang berkaitan dengan Yudha. Karena Yudha adalah Tuannya dan juga sahabatnya. Yudha yang menemani di saat tersulitnya, Yudha juga yang membuat Bima menjadi seperti sekarang.


Namun, Bima juga begitu berarti untuk Yudha. Selain seorang asisten, Bima juga sudah seperti saudara laki-laki bagi Yudha. Mereka benar-benar saling membutuhkan satu sama lain.


Akhirnya semuanya dapat Bima selesaikan hari ini. Setelah ikut mengantarkan jenazah Ayah mertua dari Yudha ke peristirahatan terakhirnya. Bima kembali ke kota karena urusan pekerjaan yang sudah pasti akan semakin menumpuk di saat Yudha masih berada di kampung halaman istrinya.


Bima merebahkan tubuhnya di sofa panjang di ruang tamu. Satu tangannya terangkat menutupi matanya dari silau cahaya lampu.


Hari ini cukup melelahkan untuknya. Namun, di saat dia hampir saja terlelap tiba-tiba bayangan Hasna yang di antar oleh pria lain. Membuat Bima kembali membuka matanya dan berakhir tidak bisa tidur.


Sial. Kenapa aku harus memikirkan gadis penakut itu.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Hari-hari Bima berjalan seperti biasanya. Bekerja dan bekerja. Apalagi saat ini Yudha masih berada di kampung halaman istrinya. Besok adalah tahlilan tujuh hari meninggalnya mertua Yudha itu. Dan Bima pasti akan pergi ke sana.

__ADS_1


Namun, entah apa yang membuat Bima berada di tempat ini. Jika untuk mengecek perkembangan hotel, tidak mungkin. Karena baru beberapa hari yang lalu dia mengeceknya langsung.


Sial. Aku tidak bisa menahannya. Ada apa denganku?


Bima menunggu di luar gedung hotel, dia menyandarkan tubuhnya di mobilnya. Kaca mata hitam yang dia pakai, semakin menambah ketampanan seorang Bima.


Bima merogoh ponselnya dan menekan nomor seseorang "Hallo. Kasih cuti office girl atas nama Hasna Amalia. Dia berurusan denganku, kau mengerti!"


"Baik Tuan"


Suara di sebrang sana terdengar bergetar. Namun, Bima merasa puas dengan apa yang baru saja dia lakukan. Itu artinya tidak ada alasan untuk gadis penakut itu untuk menolak ajakannya.


Bima menatap gadis yang di tunggunya sedang berjalan pelan ke arahnya. Bima berdecak melihat jalan gadis itu yang begitu lambat.


"Lambat sekali kau berjalan"


"Maaf Tuan"


Hasna mempercepat langkah kakinya, suara dingin dan datar dari pria yang diam diam dia kagumi itu benar benar seperti perintah yang tidak bisa dia bantah.


"Kau itu keturunan siput ya? Jalan saja lambat sekali"kata Bima sambil menuding kening Hasna


Hasna mengusap keningnya, meski tidak terasa sakit "A..ada apa Tuan kesini?"


Bima bersidekap dada dengan angkuh "Ayahnya Nona Muda meninggal"


Hasna sedikit bingung dengan ucapan Bima, maklum dia sama polosnya dengan Anista sehingga sedikit lemot untuk berfikir.


"Siapa Tuan?"


Tuhkan dia benar benar polos seperti Anista. Bahkan dia benar benar tidak bisa berfikir terlalu keras, otaknya tak sampai.


Bima berdecak malas "Kau ini pura pura bodoh apa memang benar benar bodoh? Begitu saja harus bertanya siapa? Dasar bodoh! Memangnya kau kenal dengan Nona Muda mana lagi selain Anista?"


Hasna langsung terkejut begitu tahu siapa yang di maksud oleh Bima "Innalillahi Wainna'lillahi Raji'un"


"Tuan beneran?" Masih sempatnya dia bertanya seperti itu setelah Bima menjelaskan semuanya dengan detail.


Lagi lagi Bima menuding kening Hasna "Dasar Bodoh! Kau fikir aku pria yang suka bercanda?"


Iya juga ya, dia'kan pria kolot yang tidak ada humoris humorisnya. Ya ampun kasian banget Anista.


"Tuan di suruh Anista ke sini menemui saya?" Tanya Hasna


Uhuk uhuk


Bima terlihat begitu gugup sampai dia terbatuk batuk. Dia terlihat gelagapan menerima pertanyaan dari gadis di depannya ini.


"Cepatlah! Kau ingin menemui Nona Muda atau ingin terus nyerocos tidak jelas disini?" Tanya Bima dingin

__ADS_1


Hasna mengangguk cepat "Tapi, saya harus membawa adik saya Tuan. Tidak tega kalau dia di tinggalkan terus"


"Baiklah, cepat masuk"


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Akhirnya Hasna pergi bersama Bima dengan membawa adiknya. Dia tidak mungkin meninggalkan Hisyam. Untung saja ujiannya sudah selesai minggu lalu. Jadi Hisyam sudah mulai bebas, hanya menunggu hasilnya saja.


Hisyam duduk di kursi belakang, dan Hasna tentunya berada di sebelah pria dingin menyeramkan ini. Gadis itu memainkan jari-jemarinya, terlihat begitu gugup dan gelisah berada di situasi seperti ini lagi.


"Emm. Tu-Tuan, kita hanya sebentar 'kan di sana?" Tanya Hasna pelan


"Aku tidak bisa menentukan, mungkin hanya sehari saja" kata Bima datar


Hasna mengangguk.


Suasana kembali hening, Hisyam juga terlihat begitu tenang duduk di kursi belakang. Anak laki-laki itu seolah tidak terusik dengan situasi canggung antara Kakak perempuannya dengan Bima. Perjalanan ini hanya di temani dengan kesepian dan kecanggungan.


Kenapa kesini?


Hasna bingung sendiri melihat jalan ke arah rumah Anista. Dia mengira jika akan ke rumah mewah milik Yudha yang waktu itu pernah dia kunjungi.


"Tu..Tuan" panggil Hasna pelan


"Hmmm" Seperti biasa menjawab datar dan dingin tanpa menoleh sedikitpun pada Hasna.


Hasna menghela nafas pelan "Memangnya kapan Ayahnya Anista meninggal?"


"Sudah dari 6 hari yang lalu" jelas Bima


Hasna mengangguk mengerti "Berarti besok sudah tahlilah yang ke tujuh hari ya"


Bima tidak menjawab juga tidak merespon ucapan Hasna. Karena dia fikir ucapan Hasna bukanlah pertanyaan yang butuh jawaban atau respon apapun lagi. Dasar laki laki kaku.


Anista terkejut melihat kedatangan Hasna dan adiknya bersama Bima. Anista bahkan tidak sampai ingat untuk memberitahukan kabar duka ini pada Hasna karena dirinya terlalu sibuk dengan acara tahlilan Ayahnya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, Na kesini ya? Maaf ya aku gak sempet kasih tahu kamu soal kabar duka ini. Syukur deh kalo Tuan Bima memberitahumu"kata Anista yang langsung memeluk Hasna


Ohh jadi dia sengaja memberitahuku tanpa di suruh sama Nona Mudanya. Wahh.. Apa dia juga merindukan ku? Ishh.. Apaan si kamu itu Na, mikirnya kejauhan banget.


"Gak papa Nist, kamu yang sabar ya. Ayah kamu pasti sudah bahagia di surga sana" lirih Hasna sambil mengelus punggung Anista yang memeluknya


Hasna tentu tahu apa yang di rasakan oleh Anista. Dulu juga dia merasakan hal itu saat adiknya baru saja berumur 5 tahun.


Anista mengangguk "Aku sudah ikhlas Na, semuanya sudah di atur sama yang Maha Kuasa"


Bersambung

__ADS_1


Masih sambung-menyambung dengan part yang pernah muncul di Light Of My Life ya..


Jangan lupa dukungannya..


__ADS_2