You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Tingkah Aneh Bima


__ADS_3

Setelah beberapa hari di rawat, akhirnya Hisyam sudah di izinkan pulang. Hasna sudah bisa bernafas lega sekarang. Setidaknya, dia tidak perlu terus memikirkan biaya rumah sakit yang sampai saat ini dia belum bisa membayarnya pada pria yang telah membayar semua biaya pengobatan Hisyam selama di rawat di rumah sakit ini.


Ceklek


Suara pintu ruangan yang terbuka tidak mengalihkan Hasna dari kegiatan nya yang sedang memasukan pakaian ganti Hisyam selama di rumah sakit ini dan beberapa perlengkapan ke dalam tas berukuran sedang. Hasna telah tahu siapa yang masuk ke dalam ruang rawat adiknya ini.


Sejak kejadian dua hari lalu di lorong rumah sakit. Bima terus menemuinya ke rumah sakit ini. Hasna tidak bisa melarang atau menolak kedatangan Bima. Gadis itu sadar diri, jika tidak ada Bima mungkin adiknya tidak bisa tertolong waktu itu. Apalagi dengan Bima yang telah membayar lunas semua biaya pengobatan adiknya itu.


Di samping itu, Hasna juga masih merasakan perasaan yang sama. Perasaannya masih sama terhadap pria itu. Bohong! Jika dia berkata telah melupakan pria itu dan menghapuskan perasaannya. Hasna tidak bisa melakukan itu, perasaan cintanya semakin lama malah semakin tumbuh besar. Apalagi dengan sisi lain dari Bima yang baru dia ketahui. Bima juga peduli padanya.


"Sudah siap pulang, Syam?" Tanya Bima, pria itu mencoba berekspresi ramah. Namun, tetap saja terlihat datar dan dingin.


Hisyam mengangguk "Iya Tuan"


"Panggil aku Kakak saja, lagian sebentar lagi aku akan menjadi Kakakmu juga" kata Bima santai dan begitu angkuhnya, berdiri dengan kedua tangan yang di masukan ke saku celananya.


Hasna menoleh seketika, dia tahu arti dari ucapan Bima itu. Rasanya Hasna masih tidak percaya melihat Bima benar-benar mengerjarnya. Pria dingin menyeramkan yang selama ini selalu menolak perasaannya secara terang-terangan. Namun, sekarang malah dia yang seolah memberi Hasna kesempatan tapi Hasna tidak ingin kecewa lagi karena terlalu berharap pada pria itu.


"Tu-tuan tidak perlu datang kesini untuk menjemput kami pulang" lirih Hasna dengan kepala menunduk


Bima tersenyum tipis melihat ekspresi gadisnya itu. Sungguh dia sangat ingin mencubit pipi chuby Hasna yang menggemaskan itu. Namun, Bima harus menahannya sampai gadisnya ini bisa menerimanya.


"Aku hanya ingin menjemput adik ku, kalau kamu tidak ingin aku jemput yasudah" kata Bima dengan memalingkan wajahnya


Hasna hanya diam mendengar ucapan Bima yang menusuk hati itu. Dia sudah terbiasa mendengar nada dingin menusuk dari mulut Bima.


"Sudah siap Syam, ayok kita pulang" kata Hasna


Hisyam mengangguk, anak itu turun dari ranjang pasien yang selama beberapa hari ini menjadi tempat tidurnya. Hasna menuntun adiknya dengan tangan kanan menenteng tas berukuran sedang. Bima hanya mengekor di belakang Kakak beradik ini.

__ADS_1


Untuk saat ini Bima masih harus berusaha meyakinkan Hasna tentang perasaannya. Namun, gadisnya itu sudah terlanjur kecewa dengan semua kata-katanya sehingga dia tidak percaya dengan ungkapan perasaan Bima yang sebenarnya.


Sampai di parkiran rumah sakit, Bima menatap mobil yang baru saja masuk ke pekarangan rumah sakit. Dia tahu siapa pemilik mobil itu. Terlihat ada logo Walton.Corp dan hotel berbintang. Tentu itu adalah mobil fasilitas dari kantornya dan Bima tahu siapa orang di dalam mobil itu.


Sial. Kenapa dia harus datang.


Ryan turun dari mobilnya, dia tersenyum ke arah Hasna dan Hisyam. Segera Ryan melangkahkan kakinya menghampiri mereka.


"Sudah siap pulang Syam" kata Ryan tersenyum ramah, seperti biasa


"Iya Kak" jawab Hisyam


Ryan mengambil tas yang di tenteng oleh Hasna "Hanya ini saja Na?"


"Iya Kak, hanya itu saja. Terimakasih sudah mau repot-repot menjemput kita" kata Hasna tersenyum tulus


Cih..


Bima menatap tajam ke arah Hasna yang mengobrol santai dengan Ryan tanpa menghiraukannya. Hatinya sudah sangat bergemuruh. Ingin sekali Bima melenyapkan pria di depan gadisnya itu. Seandainya dunia ini tidak ada hukum dan dosa. Sudah pasti Bima akan melakukan itu.


Hasna dan Ryan mendengar suara decihan tidak suka dari pria dingin itu. Namun, keduanya tidak memperdulikan itu. Hasna segera berjalan menuntun adiknya itu menuju mobil Ryan.


Bima segera menyusul keduanya, dia tidak bisa membiarkan gadisnya berduaan dengan pria lain. Meski ada Hisyam, tetap saja Bima tidak akan rela jika Hasna duduk di samping pria lain.


Ryan membuka pintu mobilnya bagian belakang dan Hisyam langsung masuk ke kursi belakang. Setelah menutup pintu bagian belakang mobilnya, Ryan membuka pintu penumpang untuk Hasna. Namun, keduanya di buat terkejut dengan masuknya seseorang yang secepat kilat. Bahkan saking terkejutnya sampai otak mereka blank seketika.


"Kenapa masih pada diam di sana? Ayo masuk" kata Bima dengan wajah tanpa bersalah apapun.


Ryan dan Hasna saling pandang, mereka bingung dan heran dengan kelakuan pria satu ini. Selalu di luar nalar dan tidak bisa di tebak oleh akal sehat.

__ADS_1


"Aku duduk di belakang saja Kak" kata Hasna yang mulai sadar dengan keadaan ini


Bima tersenyum tipis. Ini yang aku inginkan. Tak sia-sia aku menebalkan wajah untuk melakukan hal memalukan seperti ini.


Akhirnya Hasna duduk di kursi belakang, duduk bersama adiknya. Sementara Ryan menjadi gugup dan gelisah sendiri saat duduk menyetir di samping pria menyeramkan yang menjadi atasannya itu. Entah apa salahnya, hingga Ryan bisa berada di posisi seperti ini.


Sesekali Ryan melirik ke arah Bima yang terlihat duduk tenang tanpa terusik sedikit pun. Pria dingin itu menyandar di kursi mobil dengan mata terpejam.


Kenapa dia ikut mobilku? Padahal dia juga bawa mobil sendiri. Ryan masih bingung dengan kelakuan Bima ini.


Hasna juga mencuri padang dari kaca spion di bagian depan untuk melihat ketampanan pria yang di kaguminya itu.


"Apa kau menatapku seperti itu?"


Suara bariton itu mengagetkan dua orang yang sama-sama sedang menatap pada pria dingin itu. Bima membuka matanya dan melirik tajam pada Ryan membuat pria itu gelagapan dan kembali fokus pada kemudinya saat lampu merah telah berubah menjadi hijau.


"Mobilku akan di bawa sama anak buahku. Kau keberatan jika aku ikut ke mobilmu?" Kata Bima, menatap Ryan dengan tajam


Ryan menggeleng "Tidak Tuan, saya tidak keberatan"


Bima mengangguk dengan wajah tanpa bersalah setelah dia membuat orang ketakutan dengan tatapan nya itu.


"Baguslah kalau kau tidak keberatan"


Hasna hanya diam menyimak percakapan dua pria yang duduk di kursi depan itu. Dia tidak berani ikut campur jika berurusan dengan Bima.


Pria dingin menyeramkan..


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. hadiah dan votenya juga ya..


__ADS_2