You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Aku Adalah Pacarmu!


__ADS_3

"Kenapa Kak?" Tanya Hisyam saat melihat kakaknya sedang melamun di depan televisi yang menyala. Namun, sama sekali tidak menarik perhatiannya.


Hasna menoleh ke arah Hisyam yang baru keluar dari kamarnya "Gak papa Syam, Kak Na lagi capek aja"


"Istirahat Kak, tidur sana" kata Hisyam sambil berjalan ke arah dapur


"Iya Syam, Kakak tidur duluan ya. Kamu jangan lupa minum obatnya" kata Hasna


"Aku udah sembuh Kak, kenapa masih harus di minum obatnya" teriak Hisyam dari arah dapur


"Biar kamu benar-benar sembuh total. Besok jangan sekolah dulu, nanti aja hari senin baru sekolah"


Hasna masuk ke dalam kamarnya, merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur. Sungguh hari ini benar-benar melelahkan baginya.


Pacar? Hah.. rasanya aku ingin tertawa mengingat jika aku mempunyai seorang pacar sekarang. Walaupun hanya pacar pelunas hutang si.


Ada getaran aneh di hatinya saat Hasna mengingat kata pacar. Dia telah menjadi kekasih dari seorang Bima. Pria yang dia kagumi selama ini. Pria dingin yang bahkan menolak perasaannya sebelum dia sempat mengungkapkan.


"Dia itu benar-benar pria aneh dan sikapnya sangat sulit untuk di tebak. Apa aku akan bisa bertahan dengannya sampai dia melepaskanku kembali"


Entahlah.. Hasna sangat takut mengingat hal itu. Dia akan kembali di campakan oleh Bima setelah pria itu merasa bosan dengannya. Apalagi dengan statusnya yang hanya sebagai pacar pelunas hutang.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Pagi ini Hasna berjalan menuju jalan besar, melewati gang kecil yang sudah biasa dia lewati setiap harinya. Pagi ini tidak akan ada yang menjemputnya lagi seperti kemarin.


Mungkin dia sudah sampai di Ibu Kota.


Meski bibirnya menolak pria itu, tapi hati dan pikirannya tetap tertuju pada Bima. Pria yang sudah mengisi kekosongan hatinya. Meski Hasna terus dan terus mencoba untuk menghapuskan perasaannya itu. Tapi tetap saja dia tidak bisa. Perasaannya sudah terlalu dalam pada pria itu.


Sampai di jalan besar, Hasna terdiam melihat mobil yang terparkir di pinggir jalan itu. Kaca jendela mobil terbuka dan menampakan sosok yang Hasna pikirkan dari tadi.


Segera Hasna menghampiri pria yang sedang tersenyum padanya "Bukannya akan pulang ke Ibu Kota?"

__ADS_1


"Masuk dulu"


Hasna mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil pria itu. Dia begitu penasaran kenapa Bima masih berada di kota ini. Sementara kemarin dia bilang akan pulang ke Ibu Kota pagi ini. Lalu, kenapa pria itu masih berada disini?


Bima membuka sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya dan mendekatkan tubuhnya ke arah Hasna. Dia meraih sabuk pengaman dan memasangkannya di tubuh Hasna.


Jantungku..


Hasna menatap wajah tampan yang berada beberapa senti di dekat wajahnya itu. Dia bisa menatap hidung mancung Bima dan bulu matanya yang begitu lentik layaknya bulu mata seorang perempuan yang selalu di rawat.


Kesempurnaan yang Tuhan ciptakan ini benar-benar nyata berada di depan Hasna dan pria ini adalah kekasihnya saat ini. Bolehkan Hasna sedikit percaya diri dengan pernyataan itu. Bima adalah kekasihnya, meski Hasna tidak tahu bagaimana hubungan mereka kedepannya.


Namun, Hasna hanya ingin menikmati masa-masa ini saja. Dia akan menikmati saat dia bisa menjadi seorang kekasih dari pria yang sudah lama dia kagumi itu.


"Kenapa? Apa aku tampan?" Tiba-tiba Bima menolehkan wajahnya ke arah Hasna, beberapa detik telah berlalu. Hasna mengerjap dan mengangguk begitu saja. Jujur saja, dia benar-benar terpesona dengan ketampanan Bima.


Bima terkekeh, tangannya merapikan anak rambut Hasna yang keluar dari ikatannya "Apa aku setampan itu sampai kau terhipnotis dengan ketamapananku ini?"


"Kenapa meminta maaf? Kau tidak salah, aku adalah pacarmu dan kau bisa menatapku sepuas yang kau mau" kata Bima


Cup..


Bima menjauhkan tubuhnya dari Hasna setelah memberikan kecupan hangat di kening gadis itu. Melajukan mobilnya kembali, senyuman masih tersisa di wajahnya.


Sementara Hasna masih menunduk diam, dia begitu malu saat ketahuan sedang memperhatikan wajah pria tampan di sampingnya ini. Meski status mereka adalah sepasang kekasih, tetap saja dia masih merasa sangat malu. Apalagi dengan status pacaran mereka yang masih belum jelas menurutnya.


"Aku akan berangkat ke Ibu Kota setelah mengantar kau bekerja. Takutnya kau begitu merindukanku nanti, jadi sekarang kau puaskan menatap wajahku dan melepas rindu denganku" kata Bima, tatapannya tetap fokus pada jalanan di depannya.


Hasna mendongak, dan menoleh ke arah Bima. Apa dia tidak salah? Kenapa bicara seperti itu seolah aku tidak akan bisa hidup tanpa dia. Dasar aneh.


"Saya baik-baik saja, hati-hati di jalan jika anda ingin berangkat ke Ibu Kota" kata Hasna


Bima mendelik tajam, tidak suka dengan perkataan Hasna barusan. Membuat gadis itu kebingungan, apa ada yang salah dengan ucapannya barusan.

__ADS_1


Apa? Aku salah bicara apa?


"Bisakah untuk tidak bicara formal seperti itu. Aku adalah pacarmu bukan atasanmu" kata Bima, suaranya penuh dengan penekanan


Hah? Maksudnya?


Hasna blank dengan pikirannya, dia mencoba mencerna apa yang di maksud oleh Bima. Sampai dia benar-benar tahu apa yang di inginkan oleh Bima.


"Maaf, saya masih belum terbiasa" lirih Hasna


"Biasakan, karena aku adalah pacarmu!" Selalu ada penekanan di setiap Bima mengucapkan kata pacar, seolah memberi tahu jika dia adalah miliknya.


Hasna mengangguk "Baik Tu.."


Tatapan Bima langsung menusuk tajam ke arah Hasna, pria itu terlalu sensitif dengan panggilan itu. Dia tahu jika gadisnya hampir saja salah memanggilnya.


Duh.. Kenapa masih saja ingat si? Kirain bakal lupa dan tidak akan membahasnya lagi. Tatapanmu hei Tuan Muda, benar-benar menakutkan.


Hasna tersenyum masam, senyum yang terpaksa karena rasa takut dengan tatapan dingin dan tajam dari kekasihnya itu.


"Sa-sayang, iya.. maksudnya Sayang" ralat Hasna dengan ucapannya yang hampir saja salah memanggil pria dingin di sampingnya itu.


"Bagus! Sampai aku mendengar kau memanggilku selain panggilan Sayang, maka aku akan mencium bibir nakalmu itu"


Bima berkata begitu serius, tidak tahukah dia jika tangan Hasna sudah gemetar mendengar ancamannya itu.


"Ba-baik Sayang"


Tuhan.. Kenapa aku harus mencintai pria seperti dia si?


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiah dan votenya juga.. biar aku semakin semangat buat menyelesaikan cerita ini. Trimakasih..

__ADS_1


__ADS_2