
Sejak saat itu, Hasna kembali ke aktifitas sehari-harinya. Gadis itu sudah memutuskan untuk mundur dan kembali ke posisinya. Sadar dengan perbedaan mereka yang terlalu jauh. Cinta sendiri yang dialaminya, membuat Hasna tidak ingin semakin sakit dengan terus memikirkan pria itu.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Sudah pulang Kak" kata Hisyam
Hasna mengangguk dan berjalan gontai ke arah kursi kayu. Duduk menyandar di kursi kayu itu dengan wajah yang terlihat sangat lelah. Lelah fikiran dan juga perasaan.
"Syam, beli nasi goreng aja nanti untuk makan malam. Kakak gak masak, capek" kata Hasna, matanya terpejam sejenak
Hisyam mengangguk "Iya Kak, sekarang mendingan Kakak mandi dulu ya. Mau Syam siapin air hangat buat mandi?"
Hasna membuka matanya yang terpejam "Boleh Syam, sepertinya Kakak mau datang bulan. Perut Kakak udah mulai sakit"
Hisyam berdiri dari duduknya, dia berlalu ke dapur untuk menyiapkan air hangat. Merebus air dalam panci berukuran sedang. Setelah airnya mendidih, Hisyam mematikan kompor lalu dia kembali ke ruang tengah.
Hisyam menatap Kakaknya yang duduk menyandar di kursi kayu. Matanya terpejam, gurat lelah begitu terlihat di wajahnya.
Di saat seperti ini, Hisyam selalu merasa bersalah karena dia selalu saja merepotkan Kakaknya. Mungkin, jika tidak ada Kakak perempuannya ini. Entahlah apa yang akan terjadi pada Hisyam sejak orang tuanya meninggal dunia.
Hisyam berjalan mendekat ke arah Hasna. Dia sedikit menundukkan wajahnya, di kecupnya kening Kakaknya dengan sayang.
"Kak, bangun. Airnya sudah siap" kata Hisyam dengan tangan yang mengelus kepala Kakaknya
Hasna menggeliat pelan, terlalu lelah sampai dia ketiduran "Iya Syam, makasih ya udah siapin air untuk mandi Kakak"
Hisyam mengangguk "Iya Kak"
Hasna berlalu ke kamarnya untuk mengambil handuk. Gadis itu tersenyum saat merasakan ciuman sayang dari adiknya. Hasna sadar saat Hisyam mencium keningnya dan mengelus kepalanya.
Namun, Hasna sengaja masih memejamkan matanya karena dia tahu jika adiknya ini sangat sulit menunjukan rasa sayangnya jika tidak dengan cara diam-diam seperti ini.
Hasna keluar dari kamarnya dengan membawa baju handuk miliknya. Dia menyodorkan uang pada Hisyam sebelum ke kamar mandi. "Syam, ini kamu beli nasi goreng dua bungkus ya"
"Iya Kak" Hisyam mengambil uang yang di sodorkan oleh Kakaknya, lalu berlalu keluar rumah.
Hasna masuk ke dapur, dia mengangkat panci dengan lap di tangannya untuk menghalang panas dari panci itu. Menuangkannya air panas dari panci ke ember lalu membawanya ke kamar mandi.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Hasna duduk di tempat tidurnya, dia menatap kartu undangan di tangannya. Sehabis makan malam Hisyam memberikan kartu undangan ini pada Hasna. Dia bahagia mendapat kabar bahagia ini. Namun, Hasna juga ragu untuk datang atau tidak ke acara resepsi pernikahan Anista dan Yudha itu.
Kalo aku gak datang, Anista pasti sedih. Tapi, kalo aku datang tidak memungkiri kemungkinan jika aku bisa saja bertemu dengannya.
__ADS_1
Hasna hanya bisa menghindar untuk saat ini. Dia menghindari pria yang mengacaukan perasaannya. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Karena untuk melupakan perasaannya, Hasna masih belum bisa.
Dret..Drett
Ponselnya yang berdering membuyarkan Hasna dari lamunannya. Gadis itu mengambil ponsel yang tergeletak di sampingnya.
"Assalamualaikum. Iya Nist"
"Waalaikumsalam, Na datang ya. Undangannya sudah kamu terima kan?"
Hasna kembali menatap kartu undangan di tangannya "Iya sudah"
"Kamu harus datang pokoknya, aku gak terima alasan apapun loh. Datang ya.."
Suara Anista yang merengek di ujung sana, tentu saja membuat Hasna tidak kuasa untuk menolaknya.
"Iya, aku pasti datang"
"Jangan lupa ajak Hisyam"
"Iya Nist"
Akhirnya Hasna harus mengalahkan egonya. Dia tetap harus menghadiri acara resepsi pernikahan Anista dan Yudha.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Setelahnya Hasna hanya ingin segera pergi dari pesta ini sebelum dia bertemu dengan pria yang dia hindari. Bersyukurnya dia tidak melihat Bima atau berpapasan dengan pria itu seperti apa yang di pikirkannya.
"Kita langsung pulang yuk Syam, apa kamu mau makan dulu?" kata Hasna
Jujur saja, Hasna benar-benar merasa tidak nyaman berada di keramaian seperti ini. Melihat banyaknya orang yang hadir di sana, tentunya dari kalangan tertentu. Hasna semakin merasa tidak nyaman, takut jika ada hal yang tidak di inginkan terjadi. Seperti bertemu dengan orang yang mungkin mengenalnya dan keluarganya.
"Iya Kak, kita pulang saja"
Akhirnya keduanya memutuskan untuk pulang. Setelah berpamitan dengan pasangan pengantin, Hasna langsung membawa adiknya pulang.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Bima hanya menanggapi dengan menganggukkan kepalanya saat banyaknya para rekan bisnis yang menyapanya dan mengajaknya sedikit berbincang.
Tatapan matanya tertuju pada gadis yang baru saja keluar dari gedung ini bersama adiknya.
Dia terlihat berbeda dengan penampilan seperti itu.
__ADS_1
Bukannya Bima tidak ingin menghampiri Hasna. Hatinya tetap ingin menemui gadis itu dan menyapanya. Namun, lagi-lagi egonya lebih tinggi.
"Saya permisi dulu" Bima menganggukan kepalanya dengan wajah datar, sebelum dia berlalu meninggalkan rekan bisnisnya itu.
Bima menuju ke arah belakang gedung. Pria itu hanya ingin sedikit menenangkan pikirannya. Di bagian belakang ada halaman cukup luas, dengan beberapa pohon rindang di sana. Ada dua kursi kayu panjang. Tampak seperti taman, namun tidak ada bunga di sini.
Bima duduk di kursi panjang itu, matanya terpejam dengan menghirup udara yang terasa segar. Untuk ke sekian kalinya, bayangan Hasna melintas di pikirannya.
Beberapa saat kemudian, Bima merasakan ada seseorang yang duduk di sampingnya. Dia membuka matanya dan begitu terkejut saat melihat siapa yang berada di sampingnya.
"Hai Bim"
"Kau"
Bima menatap gadis itu dengan datar, perasaannya kacau saat ini. Kenapa dia bisa datang di saat seperti ini? Di saat Bima hampir saja bisa menggantikan namanya dengan nama lain di hatinya.
"Maaf. Aku tahu aku salah. Aku keterlaluan karena meninggalkanmu tanpa kabar. Tapi asal kau tau Bim, aku masih menyukaimu. Dulu, sekarang dan nanti"
Sial..
Bima masih saja lemah dengan tatapan memohon dari seorang Bianca. Tatapan matanya yang memelas dengan genangan air di pelupuk matanya. Selalu membuat Bima lemah. Hatinya masih merasakan perasaan itu. Perasaan yang pernah dia rasakan sejak dulu.
"Kenapa kau bisa ada disini? Tuan Muda tidak mungkin mengundangmu" kata Bima datar
"Aku tahu pernikahan ini karena temanku di undang oleh Yudha. Aku datang ke sini bersmaa temanku, aku tahu kau masih setia berada di samping Yudha. Dan aku sekarang telah kembali. Aku benar-benar minta maaf Bim"
Bianca memegang tangan Bima dan menggenggamnya erat. Dahinya tertempel di punggung tangan Bima. Dia menangis terisak.
Sial. Aku masih lemah menghadapinya jika seperti ini.
"Sudahlah jangan menangis lagi, selama kau tidak mengkhianatiku. Aku memaafkanmu, seperti janjiku padamu"
Pria sejati adalah pria yang menepati janjinya. Dan Bima tidak pernah mengingkari janjinya. Dia pernah mengucapkan itu waktu dulu, dan sekarang dia sedang mencoba untuk menepatinya.
Bersambung
Gimana?
Mulai masuk konflik awal ya..
Semoga suka..
Like, komen nya jangan lupa..
__ADS_1
Di tunggu dukungan kalian selalu..
Hari senin ada satu vote untuk satu pembaca... Tolong berikan votenya ke You Are My Life.. Biar aku makin semangat nulisnya..