You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Memakanmu Sampai Puas?!


__ADS_3

Bianca tersenyum lirih mengingat semua kebetulan itu. Dia berbalik untuk segera pergi meninggalkan tempat ini.


"Bianca!"


Langkahnya langsung terhenti saat mendengar namanya yang di panggil. Dengan ragu dan perasaan cemas, Bianca menoleh ke arah orang yang memanggilnya itu.


"Emm. Yudh"


Bianca begitu terkejut saat mendapati Yudha yang berdiri di depannya sekarang. Entah kenapa laki-laki itu bisa berada disini. Padahal, Bianca merasa jika dirinya sudah berada di tempat yang cukup aman dan jauh dari keramaian yang sedang terjadi. Tapi, entah takdir apa yang terjadi padanya. Sehingga bisa dirinya di temukan oleh Yudha.


"Ngapain kau disini?" tanya Yudha, dengan tatapan tajam tidak bersahabatnya.


Bianca mengerti, kenapa Yudha bersikap seperti ini padanya. Dia adalah orang pertama yang akan marah jika ada seseorang yang menghancurkan kebahagiaan Bima. Pria yang sudah seperti Kakaknya sendiri.


"Tidak kok Yudh, aku tidak bermaksud apapun berada disini. Aku hanya kebetulan lewat saja" Ya Tuhan, alasan apa yang aku berikan? Yudha pasti tidak akan percaya begitu saja.


Yudha tersenyum sinis sambil memalingkan wajahnya "Itu hanya alasanmu saja. Kau tidak pantas berada disini. Mengerti! Biarkan Bima bahagia bersama pasangannya, jangan mengganggunya lagi!"


Bianca mengangguk saja dengan segala penekanan Yudha itu. Dia tahu jika citra nya sudah buruk di depan keluarga Walton. Jadi, wajar saja jika Yudha bersikap seperti ini padanya. Bianca akan menerimanya, karena semua ini memang sudah kesalahannya. Dan bodohnya, dia baru menyesalinya sekarang. Baru menyadari betapa tulus nya cinta Bima padanya saat itu.


Yudha menunjuk ke arah pintu keluar, dia merasa muak menatap wajah wanita yang sedang menggendong bayi itu "Pergi!"


Bianca mengangguk dan berbalik untuk melangkah pergi dari tempat ini. Air matanya jatuh begitu saja, penyesalan semakin terasa di hatinya. Bianca benar-benar menyesali semuanya, tapi dia sudah terlambat untuk merasa menyesal.


Semoga kau dan istrimu bahagia, Bim.


...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...


Selesai dengan semua kegiatan melelahkan ini. Pasangan pengantin baru itu memasuki kamar hotel yang sudah di pesan.


Saat Hasna memasuki kamar hotel ini, harum lilin aromaterapi menyeruak ke dalam rongga hidungnya. Dia menatap sekeliling, dan melihat tempat tidur yang rapi dengan seprai berwarna putih bersih.


Tidak ada kelopak bunga mawar yang bertaburan di atas kasur itu. Hanya ada beberapa lilin aromaterapi di setiap sudut ruangan. Benar-benar biasa saja untuk sebuah kamar pengantin.


Tapi, Hasna tidak heran lagi, mengingat kepribadian Bima yang begitu dingin. Bahkan sudah dua apartemen milik Bima yang pernah Hasna kunjungi. Bahkan apartemen nya lebih terasa sepi daripada kamar pengantin ini.

__ADS_1


"Emm. Aku mandi duluan ya" kata Hasna dengan wajah yang sudah memerah malu, memikirkan hal yang akan terjadi padanya malam ini.


Tenang Hasna... Semuanya akan baik-baik saja. Duh.. Aku benar-benar gugup sekarang.


Bima mendekatkan wajahnya ke telinga Hasna, dia sengaja ingin mengerjai istrinya itu "Kenapa tidak mandi bersama saja. Kita sudah sah sekarang"


Deg..Deg..


Gila.. Dia bahkan tidak malu untuk mengatakan hal seperti itu di saat kami baru saja menikah beberapa jam yang lalu.


"Emm.. Ti-tidak perlu, aku mandi sendiri saja" Hasna langsung berlari dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia terlalu malu dan gugup di depan Bima sekarang, apalagi dengan yang barusan suaminya itu ucapkan.


Guyuran air shower membuat tubuh Hasna sedikit rileks. Kegiatan seharian ini benar-benar membuatnya lelah. Apalagi dengan tamu undangan yang tidak sedikit.


Bima benar-benar menunjukan kepada semua orang tentang pernikahan mereka ini. Dia tidak ingin menyembunyikan Hasna sebagai istrinya dari publik. Tidak lagi peduli tentang masa lalu Hasna yang mungkin akan berpengaruh pada reputasinya. Bima hanya ingin memiliki Hasna seutuhnya. Jadi dia juga harus siap menerima masa lalu wanitanya itu.


Ayah, Ibu.. Na sekarang telah menjadi seorang istri. Kalian do'akan saja semoga pernikahan Hasna dan Bima akan selalu bahagia sampai akhir hayat. Do'akan kami dari sana.


Meski hatinya sedih karena menikah tanpa hadirnya orang tua. Tapi, dia dan Bima sama. Mereka adalah yatim piatu yang memiliki takdir yang sama namun nasib yang berbeda.


Tidak memungkiri, jika Hasna juga mempunyai Bu Sri dan Ryan yang menjadi perwakilan keluarganya itu. Meski sangat merindukan orang tuanya dan berharap orang tuanya bisa menghadiri acara pernikahan ini. Tapi, semuanya tidak mungkin terjadi. Kehadiran Bu Sri dan Ryan, sudah cukup untuk Hasna.


Jegerkk..Jegrekk..


Suara handle pintu yang di putar membuat Hasna langsung menoleh dengan terkejut ke arah pintu kamar mandi.


Jegrekk..Jegrekk..


Untung saja aku tidak lupa mengunci pintu.


Suara handle pintu yang di putar paksa, berganti dengan gedoran sekarang. Hasna segera menyelesaikan mandinya dan mengambil jubah mandi di gantungan.


"Asna, kenapa kau mengunci pintunya?" teriak Bima sambil terus menggendor pintu kamar mandi dan mencoba membukanya.


Aku tahu kau pasti akan melakukan ini. Jika aku tidak mengunci pintu, maka habislah aku.

__ADS_1


Hasna memakai jubah mandi dan segera berjalan mendekati pintu kamar mandi yang terus di gedor dari luar sana.


"Ck.. Dia ini tidak sabaran sekali"


Hasna menggerutu kesal sambil mengikat tali jubah mandi yang di pakainya. Sampai di depan pintu, Hasna menghela nafas panjang sebelum dia membuka pintu itu.


Duh.. tatapannya.


Hasna menelan ludah kasar saat mendapati Bima yang berdiri di depan pintu dengan tatapan tajam menusuk ke tulang.


"Emm. Aku sudah selesai, kamu boleh masuk sekarang Sayang. Segera mandi dan kita akan tidur" kata Hasna, mencoba setenang mungkin menghadapi pria di depannya ini.


"Tidur?" Bima mengerutkan halisnya tajam, dia seolah tidak suka dengan ucapan Hasna barusan "Kau yakin aku akan membiarkanmu tidur malam ini, hah?"


Deg..


Semakin cepat saja jantung Hasna berdetak mendengar ucapan Bima itu. Oh ya ampun, sepertinya dia tidak akan melepaskan aku begitu saja.


Hasna tersenyum kaku "Emm. Terserah padamu, Sayang"


Ya ampun Hasna, kau telah salah berucap kali ini.


Hasna benar-benar menyesali ucapannya itu. Dia bukanlah gadis bodoh yang tidak tahu tentang malam pertama sepasang suami istri. Nyatanya dia tidak sepolos itu, meski dalam hal ciuman saja dia masih sangat payah.


Bima tersenyum puas dengan jawaban Hasna, dia mendekatkan wajahnya di telinga Hasna "Baguslah, aku akan memakanmu sampai puas. Siap-siap untuk tidak tertidur malam ini, Asna"


Bisikan Bima dengan hembusan nafas yang mengenai kulitnya, benar-benar membuat Hasna semakin tak karuan. Dia gugup sekarang, ucapan Bima barusan benar-benar menakutkan untuknya.


Memakanku sampai puas? Apa dia akan membunuhku setelah menikah?


Bersambung


Jangan lupa dukungannya ya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..


Note : Pada mampir juga di karya ku yang lain. klik saja profil aku. di tunggu jejaknya..

__ADS_1


__ADS_2