
Hasna sedang duduk diam di sofa ruang tengah. Televisi yang menyala sama sekali tidak mengalihkan pikirannya yang melayang.
Jika kalian berani mengganggu wanitaku lagi. Jangan harap aku akan mengampunimu.
Ucapan Bima saat di mal, begitu mengganggu pikiran Hasna. Gadis itu tidak bisa membohongi perasaan yang sedang dia rasakan saat ini. Dia nyaman dengan sosok seorang Bima.
Tidak!!
Hasna mencintainya, bukan hanya sekedar nyaman. Entahlah kenapa perasaan cinta ini begitu gampang sekali merasuki hatinya. Padahal hanya baru satu minggu lebih, dia berada di tempat ini. Dan hanya beberapa kali saja Bima datang ke apartemennya ini.
Namun, perasaan cinta itu seolah tertanam dengan sendirinya. Di hatinya sudah terukir nama Satria Bima Prakasa. Pria dingin yang menyeramkan, namun Hasna merasa jika Bima memiliki rasa peduli dan sikap hangat yang orang lain tidak tahu.
Meski dia tidak begitu menunjukannya. Namun, Hasna bisa merasakan itu. Dimana saat pertama kali Bima mengucapkan kata terimakasih saat dia membuatkan sarapan. Sungguh, Hasna merasakan ketulusan dan kehangatan dari ucapannya itu.
Tidak! Aku tidak boleh terperangkap dengan rasa nyaman ini. Dia seorang Bima, pria dingin menyeramkan. Sadarlah Hasna!
Gadis itu tersadar dari lamunannya saat mendengar pintu yang terbuka. Hasna menoleh saat mendengar derap langkah yang semakin dekat. Tidak perlu bertanya siapa yang datang, tentu saja itu adalah pemilik apartemen yang dia tinggali.
"Kau bersiaplah, aku akan membawamu bertemu dengan Tuan Muda dan menjelaskan semuanya. Gadis yang kau tolong juga berada di sana bersama calon suaminya" kata Bima
Ahh. Syukurlah kalo gadis itu sudah menemukan kebahagiaan nya. Bahkan dia sudah mempunyai calon suami.
"Baik"
Seperti sudah sangat terbiasa dengan perintah yang di ucapkan Bima. Gadis itu langsung berdiri dan mengangguk hormat pada Bima sebelum dia berlalu ke lantai atas.
Bima duduk di sofa, pria itu menatap ke lantai atas. Dimana pintu kamar Hasna masih tertutup. Menunggu gadis itu keluar dari kamarnya.
Setelah semuanya selesai, aku bisa hidup tenang seperti biasa.
Jujur saja, permasalahan yang di alami oleh Tuannya membuat Bima sedikit terbebani selama dia belum bisa menyelesaikan permasalahan ini.
Targedi di masa lalu membuat Yudha terus mengalami mimpi buruk selama 4 tahun terakhir ini. Dan hanya Bima yang tahu. Bahkan orang tuanya pun tidak ada yang tahu tentang hal itu.
Suara langkah kaki membuat Bima mendongak. Hasna berjalan menuruni anak tangga. Dia berjalan mendekat ke arah Bima.
"Saya sudah siap Tuan" kata Hasna pelan
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang"
Bima berdiri di ikuti dengan Hasna, pria itu menggandeng tangan Hasna dan membawanya keluar dari apartemen.
Deg Deg Deg
__ADS_1
Hasna hanya diam dan mengikuti langkah kaki tegap laki laki di depannya. Sementara jantungnya sudah berdebar dengan kencang. Sudah tiga kali Bima menggandeng tangannya. Namun, kali ini terasa begitu lembut.
Ya Allah, Na takut.
Bima menyadari kesalahannya, menggandeng tangan seorang wanita dengan selembut ini adalah hal pertama bagi Bima. Biasanya dia bukan menggandeng, tapi menarik tangan para wanita yang berusaha menggodanya demi bisnis orang tua mereka.
Bodoh, kenapa aku sampai melakukan ini?
"Masuk" Bima membuka pintu mobilnya, menyuruh Hasna untuk segera masuk ke dalamnya "Cepat!"
Hasna terperanjat saat suara Bima yang terdengar dingin dan begitu menakutkan untuknya. Dia segera masuk ke dalam mobil Bima itu.
Ya Allah, Na takut. Ayah, Ibu... lindungi Hasna.
Mobil melaju meninggalkan kawasan apartemen mewah itu. Di dalam mobil mewah ini, Hasna merasa berada di dekat jurang yang begitu dalam.
Bahkan dia sama sekali tidak berani bergerak sedikit pun. Hasna hanya duduk diam seperti patung, tanpa berani bersuara. Bernafas pun dia lakukan dengan begitu pelan.
"Kau kenapa?" Tanya Bima, masih fokus pada jalanan di depannya
Hasna mengerjap "Ti..tidak papa, Tuan"
"Kenapa diam saja seperti mayat hidup? Aku yakin kau bukan wanita pendiam" kata Bima datar
Meskipun aku bukan wanita pendiam, tapi aku juga masih milih milih buat berbicara. Kalo orangnya seperti dia, mana mungkin aku berani bicara banyak banyak.
Bima tidak lagi menjawab membuat Hasna kembali bernafas lega. Setidaknya di ajak bicara oleh Bima lebih menakutkan dari pada di diamkan seperti ini.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Hasna menatap keluar jendela mobil saat mobil yang di kendarai Bima itu terhenti di halaman luas sebuah rumah.
Hasna sudah siap untuk menemui gadis malang yang dia tolong 4 tahun lalu. Hasna ingin segera menyelesaikan semuanya dan segera terlepas dari Bima.
Meski aku tak yakin bisa melepaskan perasaanku.
"Turun!"
Hasna menghela nafas, sudah cukup terbiasa dengan suara penuh nada perintah dari Bima. Gadis itu turun dari mobil dan menatap bangunan mewah di depannya.
"Cepat!"
Bima berjalan mendahului Hasna yang masih terdiam di tempatnya. Pria itu bahkan tidak memperdulikan Hasna yang terlihat gelisah dan gugup.
__ADS_1
Hasna menarik nafas dalam dan menghembuskannya "Sabar Hasna, kamu pasti bisa"
Gadis itu berjalan masuk ke dalam rumah mewah itu. Sampai di ruang tamu, Hasna masih menunduk.
"Duduk Bim" kata Yudha
Bima mengangguk lalu dia duduk di sofa depan Yudha. Sementara Hasna bingung harus bagaiamana sekarang.
Yudha berdecak "Ajak gadis itu duduk, Bimaaa.. Pantas saja kau masih jomblo sampai sekarang, tidak ada perhatian nya sama wanita"
Bima mendengus kesal, dia menoleh ke arah Hasna "Duduk!"
Hasna mengangguk lalu duduk di samping Bima. Hasna juga belum melihat dan sadar jika gadis yang ingin di temuinya sudah berada di sana dan sedang menatapnya.
Detik berikutnya Hasna mendongakan wajahnya. Matanya langsung berkaca kaca melihat gadis yang di tolongnya 4 tahun lalu berada di sana. Duduk di sofa ruang tamu bersama pria dingin yang pernah menemui Hasna waktu itu.
Gadis malang yang dulu tidak sempat dia tolong masa depannya itu. Membuat perasaan bersalah itu menghantuinya.
Anista terkejut melihat gadis di depannya. Dia tentu tidak akan pernah melupakan wajah yang dia anggap sebagai malaikat yang menolongnya malam itu.
Dia??
Keduanya masih diam dengan fikiran masing masing. Dua perempuan dengan latar belakang berbeda yang di pertemukan saat kejadian kelam malam itu terjadi.
Anista berdiri dengan mata yang sudah berkaca kaca, tubuhnya bergetar mengingat kejadian di masa lalunya.
Hasna sudah berderai air mata sedari tadi, bersyukur karna gadis malang yang tidak sempat dia tolong masa depannya itu, masih baik baik saja sampai sekarang.
"Teteh yang nolongin Nist malam itu kan?" Tanya Anista dengan suara bergetar
Hasna mengangguk sambil mengusap air matanya "Kamu baik baik saja kan? Maaf karna aku gak bisa nolongin kamu, maaf karna aku gak bisa berbuat apa apa malam itu. Hiks.."
Anista mendekat dan langsung memeluk Hasna. Tangis keduanya pecah, suara isakan begitu terdengar nyaring di ruangan itu.
Bersambung
Like
Komen
Hadiah
Vote
__ADS_1
Bintang rate 5
Jangan lupa dukungannya..