
Setelah hampir 5 hari berada di dalam kamar terus menerus. Pagi ini bagaikan pagi yang indah bagi Hasna. Dia bisa keluar dari kamar dan bisa melihat lagi suasana rumah.
Meski begitu, pelayan yang telah di tugaskan Bima untuk menjaganya tetap pada tugasnya sampai saat ini. Itu artinya, Hasna tetap harus berada di bawah pengawasan pelayan itu meski dia sudah bisa keluar dari kamar. Seperti saat ini, Hasna tetap di temani pelayan itu saat dia pergi ke taman belakang rumah.
"Huh.. Akhirnya aku bisa menikmati udara pagi di taman ini lagi"
Hasna merentengkan dan menghirup udara pagi sebanyak-banyaknya. Hasna menatap hamparan rumput taman dan beberapa bunga yang bermekaran. Dengan kolam ikan yang berada di tengah-tengah taman ini. Sangat indah.
"Nona" panggilan Mbak Westi membuat Hasna membuka matanya dan menoleh ke sampingnya "Lebih baik Nona duduk di sana. Kata Tuan Bima, Nona Muda tidak boleh terlalu banyak berdi..."
"Ahh.. Iya Mbak, aku mengerti. Mbak Westi tidak perlu menjelaskan dengan rinci"
Hasna sedikit jengah dengan peraturan-peraturan Bima. Namun, dia menerima semua itu. Hasna menerima cara Bima mencintainya. Meski terkadang dia merasa kesal dengan sikap posesif Bima yang di luar batas manusia normal. Namun, Hasna tetap saja menerima perlakuan suaminya itu. Karena begitulah cara Bima mencintainya.
"Aku sudah tahu Mbak, tidak mungkin jika suamiku itu membiarkan aku keluar dari kamar tanpa peraturan dia yang aneh-aneh itu" cerocos Hasna sambil berjalan menuju bangku taman di dekat kolam ikan, lalu dia duduk disana.
Menatap air kolam yang jernih dengan beberapa ikan hias yang terlihat di dasar kolam. Tenang dan nyaman yang Hasna rasakan sekarang. Lima hari hanya berada di dalam kamar, membuat Hasna merasa sangat bosan. Dan sekarang, akhirnya dia bisa menghirup kembali udara luar.
"Mbak, menurut Mbak Westi Tuan Bima itu gimana?"
Mbak Westi cukup terkejut mendengar pertanyaan Hasna. Tentu saja dia sangat takut salah menjawab, jadi dia hanya diam saja.
"Gak usah takut Mbak, jujur saja. Aku gak akan ngadu sama suamiku kok. Mbak tenang saja"
Sebenarnya Hasna hanya iseng saja bertanya seperti itu. Tidak ada niat dan maksud lain dari pertanyaan nya itu.
"Menurut saya Tuan Bima itu adalah pria terbaik untuk Nona. Dia adalah suami siaga yang selalu menjaga istrinya, meski terkadang dengan caranya yang sedikit berbeda dari orang lain...."
"....Tapi percayalah, Tuan Bima sangat menyayangi dan mencintai Nona dengan tulus. Dia melakukan hal-hal ini, seperti saya yang harus terus menjaga Nona. Itu semua karena dia sangat menyayangi Nona, semuanya tentu untuk kebaikan Nona juga"
Hasna terdiam, pertanyaan iseng yang dia berikan pada Mbak Westi. Akan mendapatkan jawaban yang begitu menyentuh hatinya.
Ternyata aku belum sepenuhnya tahu tentang suamiku. Aku masih suka merasa kesal dengan sikapnya yang terkadang sangat aneh dan di luar batas. Tapi ternyata, suamiku sangat mencintaiku dengan segala sikap anehnya itu.
Mbak Westi tiba-tiba duduk di sampingnya, dia menepuk pelan punggung tangan Hasna.
"Jadi, Nona sudah seharusnya merasa bangga memiliki suami seperti Tuan Bima. Meski sikapnya terkadang sedikit aneh dan berlebihan. Tapi, percayalah Tuan Bima sangat mencintai Nona"
Hasna menoleh dan tersenyum pada Mbak Westi, dia tahu tentang itu. Bagaimana Bima mencintainya.
"Iya Mbak, aku memang beruntung banget bisa dapetin cintanya"
Hasna tersenyum lucu mengingat pertemuan pertama dengan Bima. Bagaimana masa lalu yang menyangkut dirinya menjadi pertemuan pertama dengan Bima.
Drett...Drett..
Hasna menoleh saat mendengar dering ponsel, ternyata milik Mbak Westi. Hasna sedikit berfikir, siapa yang menelepon Mbak Westi.
Mungkin pacar atau suaminya.
__ADS_1
"Baik Tuan"
Namun, ada yang aneh dari ucapan Mbak Westi sebelum dia menutup sambungan teleponnya.
Hasna langsung menatap Mbak Westi yang berjalan ke arahnya setelah tadi dia sempat sedikit menjauh untuk mengangkat telepon.
"Nona ayo masuk, Tuan Bima sudah menunggu anda di ruang makan"
Pantas saja..
Hasna mengangguk dan segera beranjak dari duduknya dengan di bantu oleh Mbak Westi. "Gak usah Mbak, aku ini hamil bukan panti jompo yang berdiri saja harus di bantu"
"Saya hanya mengantisipasi saja Nona. Takut jika hal yang tidak di inginkan terjadi lagi pada Nona dan kandungannya. Karena itu adalah tugas saya"
Hasna menggeleng heran mendengar penjelasan Mbak Westi yang begitu panjang lebar. Suaminya benar-benar menugaskan orang terpecaya untuk menjaga Hasna.
Masuk ke dalam rumah, Hasna langsung menuju ruang makan tetap dengan Mbak Westi yang mengikutinya dari belakang.
"Pagi Sayang"
Hasna segera mendekat ke arah suaminya yang sudah duduk di kursi meja makan dengan tatapan mengarah padanya. Begitu tajam.
Hasna segera duduk di samping Bima, menghindari tatapan tidak suka Bima padanya. Hasna memilih untuk mengambilkan makanan untuk suaminya itu.
"Sarapan dulu Sayang, biar kamu semangat kerjanya"
"Sayang, kamu kenapa si?"
Akhirnya Hasna memilih bertanya daripada dia harus terus memikirkan apa yang membuat Bima sekesal itu padanya.
"Aku mengizinkan kamu keluar dari kamar, sepertinya keputusan yang salah"
Deg..
Hasna sudah tegang sendiri mendengar suara Bima yang penuh dengan penekanan itu. Hasna takut jika izin Bima akan dia cabut lagi, tentang dia yang sudah mengizinkan Hasna untuk bisa keluar kamar. Itu tidak boleh sampai terjadi.
Mencoba merayunya dengan merangkul tangan Bima yang duduk tenang di sampingnya. Bahkan pria itu sama sekali tidak menoleh padanya, hanya duduk diam dengan tatapan lurus ke depan.
"Sayang, jangan gitu dong. Kan sudah sepakat semalam, kalo aku udah bisa keluar kamar lagi. Aku benar-benar bosan hanya berada di dalam kamar seharian"
Ayo Hasna, keluarkan jurus merayumu.
"Aku memang mengizinkanmu untuk keluar kamar. Tapi, tidak dengan meninggalkan aku sebelum aku terbangun"
Oh. Jadi karena itu dia kesal.
Baiklah.. Hasna mengerti kenapa suaminya sampai sekesal itu padanya. Semuanya karena dia meninggalkan Bima di saat pria itu masih terlelap. Kenapa juga Hasna bisa lupa jika hal itu paling tidak di sukai oleh Bima. Mungkin karena Hasna terlalu senang sudah di izinkan untuk keluar kamar, setelah beberapa hari dia hanya diam di dalam kamar.
"Maaf, aku benar-benar senang karena bisa keluar kamar setelah beberapa hari kamu mengurung aku di dalam kamar. Jadi, aku lupa kalo kamu gak suka aku tinggalkan saat masih terlelap"
__ADS_1
Lagian kenapa harus sekesal ini si. Padahal aku juga tidak pergi kemana pun.
"Jadi kau melupakan aku. Iya?"
Hasna semakin gelagapan saat suara dingin Bima terdengar begitu menakutkan. "Tidak Sayang, mana mungkin aku melupakanmu. Kamu 'kan suamiku!"
Baiklah, beri penekanan di kata suami. Biar dia senang dan tidak marah lagi.
Benar saja, Bima mulai luluh dan tidak terlalu menunjukan wajah dinginnya lagi. Bima memang selalu merasa senang saat Hasnanya mengatakan kata 'suamiku'. Kata itu seolah menunjukan jika Hasna sedang mengklaim dirinya sebagai miliknya seorang. Dan Bima menyukai itu.
"Jangan ulangi lagi, karena aku tidak suka itu!" tekan Bima pada setiap kalimatnya. Dia tidak suka Hasnanya tidak ada di sampingnya saat dia baru bangun di pagi hari. Karena dia selalu khawatir saat Hasna tidak ada di sampingnya saat dia terbangun di pagi hari.
Ketakutan dan kekhawatiran itu semakin besar sejak kejadian Hasna yang terjatuh di kamar mandi beberapa hari lalu. Membuat Bima semakin overprotektive pada istrinya itu. Semua itu dia lakukan juga untuk kebaikannya.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..
Ada karya temanku lagi nih...
Alex hanya seorang anak jalanan, untuk memenuhi hidupnya alex terpaksa
mencuri hingga suatu hari alex bertemu dengan mafia dan di besarkan di
lingkungan mafia, hingga di umurnya yang ke 30 tahun alex di angkat untuk mengantikan ayah angkatnya sebagai ketua mafia.
Suatu hari alex mengetahui siapa kedua orang tuanya dan lenyebab
kematiannya, ternyata alex adalah keturuna dari D’devil, D’devil adalah
anggota mafia yang sudah berdiri puluhan tahun. Sehingg alex
membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya dengan menikahi putri
dari pembunuh tersebut.
Laura gadis yang kurang beruntung karena hidup sebagai anak angkat dari
keluarga gunawan dan lebih menyedihkan lagi ia harus mau menikah dengan
Alex sebagai balas budi karena telah menyelamatkan gunawan.
Apakah alex akan berhasil membalas kematian kedua orang tuanya?
Apakah akan ada cinta di antara alex dan laura?
Bagaimana reaksi alex jika tau laura bukan putri dari gunawan?
__ADS_1