You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Kecupan


__ADS_3

"Baiklah, jika seperti itu. Mulai saat ini panggil aku Sayang"


"Hah.. A-apa?"


Hasna benar-benar terkejut dengan ucapan Bima itu. Matanya sampai terbelalak.


"Berani kau melotot pada pacarmu?" Hardik Bima, begitu dingin dan tajam


Hasna mengerjap, dia menggeleng pelan atas perkataan Bima barusan "Ti-tidak Tuan, maaf"


Hasna terkesiap saat tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi berhenti dengan mendadak. Bahkan tubuhnya sampai terhuyung ke depan.


Hasna melirik ke arah Bima yang sedang membuka sabuk pengamannya "Tuan kenapa berhenti?"


Apa dia begitu marah? Lalu akan menurunkan aku di jalan seperti yang sering terjadi di cerita fiksi.


Melihat ke sekeliling jalanan, ini belum sampai di jalan depan gang menuju rumahnya. Masih cukup memakan waktu beberapa menit lagi untuk sampai disana. Lalu, kenapa Bima menghentikan mobilnya di pinggir jalan seperti ini?


Bima berbalik dan menatapnya dengan begitu tajam "Kau panggil aku apa?"


Hah.. Apa maksudnya? Aku panggil dia apa memangnya. Perasaan aku tidak salah memanggil deh.


"Baru beberapa menit yang lalu aku bilang untuk kau memanggilku Sayang. Apa kau tidak mengerti bahasa Indonesia ya?" Kesal Bima


Eh.. Dia benar-benar serius ingin di panggil seperti itu olehku.


"Ta-tapi saya..."


"Apa?! Kau tidak ingin menuruti perkataan pacarmu? Kau ingin bebas bersama pria lain dan tidak ingin mengakui aku sebagai pacarmu? Iya hah?" sentak Bima, menatapnya dengan begitu tajam.


Hasna menunduk takut, dia masih belum bisa menebak sikap Bima ini. Tingkahnya seolah dia adalah seorang kekasih yang begitu mencintai wanitanya. Namun, kenyataannya kata cinta pun tidak pernah terucap dari bibirnya. Kata yang selalu ingin Hasna dengar dari pria itu.


"Saya masih belum terbiasa Tuan, lagian saya 'kan hanya pacar pelunas hutang saja" lirih Hasna


Tangan Bima mencengkram dagu Hasna dan mengangkat wajah gadis itu yang menunduk. Tatapan mereka bertemu, mata Hasna terlihat berkaca-kaca. Dia begitu ketakutan dengan apa yang di lakukan Bima saat ini.

__ADS_1


"Aku tidak suka kau membahas soal itu. Cukup ikuti semua perintahku dan menjadi pacar yang baik" tekan Bima dengan tegas tanpa ingin di bantah


Hasna hanya mengangguk dengan tangan Bima masih berada di dagunya. Memang tidak kuat cengkraman nya, namun tetap membuat Hasna takut apalagi dengan tatapannya itu.


"Sekarang coba kau panggil aku Sayang" kata Bima, dia lepaskan cengkraman tangannya di dagu Hasna.


Baiklah. Ikuti semua yang di perintahkan dan apa yang dia mau. Aku hanya tidak perlu membantahnya jika tidak mau terkena amarahnya.


"Sa-sa-Sayang"


Mendadak Hasna menjadi gadis gagap. Dia menunduk malu dengan apa yang baru dia katakan. Untuk pertama kalinya dia memanggil seorang pria dengan sebutan Sayang. Meski statusnya adalah kekasih.


"Sekali lagi, aku ingin dengar sekali lagi. Kau menyebutkannya dengan tidak jelas barusan" kata Bima santai sambil sedikit memiringkan kepalanya ke arah Hasna, seolah dia tidak terlalu mendengar apa yang di katakan oleh Hasna barusan.


"Sa-Sayang"  Masih tergagap, namun sudah sedikit lumayan. Hasna sendiri merasa pipinya sudah terasa panas, memerah karena malu.


Bima mengangguk kecil "Bagus. Biasakan untuk terus memanggilku seperti itu. Dimana pun berada dan di depan siapapun"


Hah..


"Ta-tap..."


"Tidak mendengar alasan apapun, ini perintah bukan penawaran. Kau harus menjadi pacar yang baik dan patuh ya" kata Bima, tangannya mengelus lembut kepala Hasna membuat gadis itu terdiam.


Deg..Deg..


Jantung Hasna sudah bedebar sejak tadi dan semakin kencang saat Bima mengelus kepalanya. Perasaannya itu benar-benar semakin tumbuh besar di hatinya. Apalagi dengan tindakan Bima yang seperti ini, meskipun terkadang tingkah dan sikap Bima masih sulit untuk di tebak dan selalu membuatnya takut. Bagaiaman sebenarnya perasaan pria itu pada Hasna. Dia masih belum bisa menebaknya.


"Gadis pintar, patuh ya. Apalagi besok aku tidak bisa bertemu denganmu. Kau harus baik-baik di sini" kata Bima, pria itu kembali melajukan mobilnya.


Beberapa menit kemudian mobil kembali berhenti tepat di depan gang menuju rumah Hasna.


Hah..


Hasna menghembuskan nafas pelan, dia begitu lega karena telah sampai. Sudah sangat tegang dia berada satu mobil dengan pria dingin menyeramkan yang sialnya adalah kekasihnya sekarang dan dia juga mencintai pria itu.

__ADS_1


Hasna mengulurkan tangannya, kali ini Bima tidak bingung lagi dengan apa yang di lakukan gadis itu. Bima juga mengulurkan tangannya yang segera di cium oleh Hasna.


"Terimakasih telah mengantar saya pulang Tu.. Sa-sayang"


Hampir saja Hasna salah memanggil harimau ganas itu. Jika itu terjadi, sudah di pastikan Hasna akan lebih lama berada di dalam mobil ini dan akan menerima segala kekesalan pria di sampingnya ini.


Bima tersenyum tipis mendengar Hasna memanggilnya seperti itu, meski gadis itu terlihat masih canggung dan malu-malu.


"Iya, kau turunlah, segera mandi dan istirahat. Jangan macam-macam selama aku tidak berada di sini" kata Bima, penuh dengan nada peringatan dan ancaman.


Hasna mengangguk patuh "Baik"


"Sini!" Bima menjentikan jari telunjuknya agar Hasna sedikit mendekat ke arahnya.


Hasna menurut saja, dia mendekatkan wajahnya ke arah Bima. Dia menatap pria itu dengan bingung sampai... Cup... Kecupan hangat menempel di keningnya dan membuat dia terdiam mematung.


Dia mencium keningku barusan. Arghhhh.. kenapa jantungku semakin tak karuan.


"Cepatlah keluar, hari sudah mau gelap. Apa kau tidak rela berpisah dengan pacarmu ini?" kata Bima, sudah kembali ke posisi awal. Kedua tangannya sudah memegang kemudi.


Hasna terkesiap, dia memegang keningnya yang masih terasa hangat bekas kecupan Bima barusan. Dia benar-benar tidak menyangka pria itu akan melakukan itu.


"Baik Tu.. Eh. Sa-sayang, aku akan segera pulang. Hati-hati di jalan, Assalamualaikum"


"Hmm. Nanti aku akan menghubungimu saat sudah sampai. Waalaikumsallam" kata Bima


Heh. Bukankah seharusnya aku yang berkata seperti itu. Ahh.. Dasar pria aneh.


Hasna akhirnya keluar dari mobil Bima dengan perasaan yang tak karuan. Kecupan hangat bibir Bima masih terasa di keningnya. Hasna masih tidak menyangka jika pria itu akan melakukan hal seperti itu.


Apa dia benar-benar mencintaiku? Ahh.. Sikapnya itu benar-benar sangat sulit untuk di tebak. Sudahlah.. Biarkan saja semuanya berjalan sesuai takdir-Nya.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga  ya.. Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2