
Sudah dapat Bianca tebak apa yang telah terjadi. Ini pertama kalinya, Bima menatapnya begitu tajam dan dingin. Bagaimana dia duduk di sofa ruang tengah apartemen nya. Duduk berhadapan dengan Bianca yang mulai menyadari keadaan.
"Berapa bulan?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Bima setelah hampir setengah jam mereka berdiam di sana.
Tangan Bianca saling bertaut, ketakutan terlihat jelas dari wajahnya. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Bagaimana ini? Kenapa Bima bisa tahu?
"Kenapa aku bisa tahu? Semua itu karena kebohonganmu tidak selamanya bisa terus kamu tutupi" kata Bima, seolah mengerti apa yang sedang di pikirkan Bianca saat ini.
"A-aku bisa jelasin, Bim a-aku..."
"Aku tidak perlu penjelasanmu! Yang aku mau jawab semua pertanyaan dariku. Mengerti!!" suara Bima sudah naik satu oktaf
Bianca semakin bergetar melihat tatapan Bima yang begitu tajam. Terlihat sekali kemarahan di balik tatapan matanya itu.
"Bim, ak-aku..."
"Berapa bulan?" tanya Bima lagi dengan dingin
Bianca menunduk dengan tangan masih saling bertaut "Sudah jalan tiga bulan"
Bima tersenyum sinis "Kau kembali hanya untuk menjadikan aku kambing hitam dari anak yang kau kandung itu. Apa yang telah aku lakukan padamu sampai kau bisa melakukan ini padaku. Membohongiku dan mengkhianati kesetiaanku selama ini"
Bianca semakin menundukan kepalanya. Dia sudah tidak berani lagi mendongakan wajahnya dan menatap Bima. Dirinya sudah terlalu malu untuk bertatapan dengan pria yang telah dia khianati itu.
"Semuanya berakhir Bi, aku tidak bisa mengampuni sebuah pengkhianatan apapun itu. Jadi, mulai sekarang kita hidup dengan masing-masing. Jalani hidupmu dan aku juga akan menjalani hidupku dengan baik. Kisah kita cukup sampai di sini!"
Bima berdiri dan berlalu pergi dari hadapan Bianca. Berhenti.! Penantian cinta Bima terhadap Bianca berhenti sampai disini. Kesetiaan Bima berakhir sampai di sini. Semuanya telah berakhir, tidak ada lagi kesempatan yang akan Bima berikan pada wanita yang telah dia tunggu selama puluhan tahun itu.
Bianca hanya bisa menangis, kedua tangannya menutupi wajahnya dengan bahu yang bergetar hebat. Bianca sesenggukan, semuanya telah benar-benar berakhir. Salah dia sendiri berani mempermainkan pria seperti Bima. Sekarang pria yang menunggunya selama 21 tahun itu, telah begitu kecewa olehnya.
__ADS_1
"Kau akan melanjutkan kuliah dimana Bi?" Tanya Bima
Saat ini dua remaja ini sedang duduk di kursi yang berada di pinggir lapangan sekolah mereka. Di tangan mereka ada surat kelulusan yang baru saja mereka dapatkan beberapa jam yang lalu.
Bianca terlihat bingung untuk menjawab, dia menundukan kepalanya dengan tangan mere*mas surat kelulusan itu.
"Aku akan kuliah di luar negara, Bim" Bianca menyebutkan nama negara yang di tujunya.
Bima terdiam, dia tidak tahu soal rencana Bianca yang akan pergi menempuh pendidikannya di luar negara. Bianca sama sekali tidak menceritakan soal ini. Bima kira jika Bianca hanya akan kuliah di negara mereka ini.
Bahkan di negara yang mereka tempati saat ini juga begitu banyak universitas yang baik dan berkualitas. Bahkan banyak orang-orang dari luar negara pun yang menempuh pendidikan di negara ini. Namun pilihan Bianca ternyata berbeda, dan Bima sama sekali tidak mengetahui soal ini sejak awal.
"Kenapa?" Tanya Bima, tatapannya masih lurus ke depan. Tidak menoleh sedikit pun pada gadis yang duduk di sampingnya itu.
"Aku ingin mewujudkan mimpiku sebagai designer terkenal. Dan di negara itu ada universitas yang bagus untuk pelajaran desain. Tolong izinkan aku Bim, aku pasti kembali setelah semua impianku terwujud" jelas Bianca saat itu
Bima terdiam, dia tahu impian kekasihnya ini. Namun, dia tidak menyangka jika Bianca akan memilih menempuh pendidikannya di luar negara. Ternyata pemikiran Bianca dan dia sangatlah berbeda. Saat Bima benar-benar tak ingin jauh dari kekasihnya itu. Namun, Bianca rela berjauhan dengannya hanya demi karier yang sedang dia perjuangkan itu.
Bima menghela nafas berat "Baiklah, aku akan menunggumu sampai kau benar-benar selesai dengan segala keinginanmu itu. Tapi, jika kau berani mengkhianatiku. Aku akan melepaskanmu dan jangan harap kau bisa kembali padaku"
"Iya Bim, aku janji akan setia sama kamu"
Saat itulah janji itu terucap dari bibir Bianca. Janji yang tidak dia tepati, janji yang hanya terucap dari bibirnya namun tidak di hatinya.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Beberapa tahun kemudian...
Seharusnya Bianca telah pulang ke negaranya dan telah menyelesaikan pendidikannya. Namun, dua tahun terakhir ini Bima sama sekali tidak bisa menghubungi Bianca. Awalnya dia berfikir jika Bianca sedang sibuk dengan pendidikannya. Tapi, sampai tahun berikutnya dan berikutnya lagi benar-benar tidak ada lagi kabar dari Bianca. Bianca menghilang bak di telan bumi, tanpa kabar dan penjelasan apapun pada Bima.
Sementara di negara lain, Bianca sedang di bingungkan dengan pilihan yang di berikan oleh pria di depannya. Karier yang di impikannya tinggal beberapa langkah lagi. Namun, dia harus mengorbankan pria yang begitu tulus padanya. Pria yang dia sukai.
__ADS_1
"Menikahlah denganku dan kau akan menjadi designer terkenal seperti impianmu itu. Aku hanya butuh kau menikah denganku agar aku tidak terus di jodohkan oleh orang tuaku"
Begitulah permintaan pria di depannya ini. Pria cukup tampan dengan segala keuasaannya di negara ini yang bisa menjadikan Bianca mewujudkan mimpinya dengan mudah.
Maaf Bim, aku harus melakukannya demi impianku.
Akhirnya Bianca mengorbankan perasaan pria yang begitu tulus padanya demi sebuah mimpi dan obsesinya itu. Mereka menikah tanpa di dasari cinta. Pernikahan mereka berjalan sampai 17 tahun lamanya. Dan keduanya masih mementingkan ego masing-masing. Sibuk dengan karier dan pekerjaan mereka sendiri. Tidak seperti pasangan suami istri lainnya.
Hingga beberapa bulan yang lalu kejadian itu terjadi, dimana keduanya dalam keadaan mabuk dan tidak sadar. Mereka telah melakukan hal yang biasa mereka lakukan sebagai sepasang suami istri. Namun, perbedaannya kali ini adalah si suami yang tidak memakai pengaman saat melakukannya.
Mereka memang biasa dengan hubungan suami istri. Meski tanpa cinta, tapi mereka tetap melakukannya. Namun, setiap melakukan hubungan itu mereka selalu memakai pengaman karena keduanya tidak mau terikat dengan seorang anak. Si suami yang selalu sibuk dengan pekerjaannya dan si istri yang juga sibuk dengan karier nya.
"Jadi kau hamil? Bagaimana bisa? Aku selalu pakai pengaman saat melakukannya" gertak si suami yang mengetahui istrinya dalam keadaan hamil.
"Kau lupa? Satu bulan yang lalu kau melakukannya tanpa pengaman dan sialnya aku dalam keadaan subur" teriak Bianca tak mau kalah
"Aku tidak mau tau, pokoknya aku tidak mau berurusan dengan anak itu"
Suaminya langsung berlalu pergi setelah berkata seperti itu. Bianca hanya terdiam dengan perasaan tak menentu. Hatinya sakit saat mendengar ucapan suaminya itu. Tangannya mengelus perutnya yang masih rata itu. Entah kenapa hatinya menghangat saat dia mengelus perutnya. Dimana calon anaknya berada di dalam sana.
Bianca menyayangi calon bayinya, dia juga seorang Ibu yang tidak mungkin tega menyakiti anaknya. Dia menyayangi calon bayinya itu.
"Aku akan menjagamu selalu"
Dan malam harinya Bianca harus mendapatkan kabar jika suaminya meninggal dalam kecelakaan tunggal. Dan sejak saat itulah hidup Bianca merasa terbebas dari sangkar yang di buat oleh suaminya. Bianca memilih kembali ke negaranya untuk mencari Bima. Pria yang dia tinggalkan selam 21 tahun.
Namun, ternyata Bima telah pindah ke Indonesia mengikuti Yudha sebagai sahabatnya. Sehingga bulan berikutnya barulah Bianca bisa menyusulnya ke negara itu.
Bersambung
Bab ini fokus ke flashback nya Bima dan Bianca ya..
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya.. Like dan komen di setiap chapter. Kasih hadiah sama vote nya juga.. Terimakasih 🤗