You Are My Life (Kaulah Hidupku)

You Are My Life (Kaulah Hidupku)
Jadilah Istriku, Asna!


__ADS_3

"Aku pulang nanti sore ya" kata Hasna, mereka sedang duduk di ruang tengah. Sementara Hisyam berada di balkon.


"Bukannya kau masih cuti sampai besok?" tanya Bima dengan menatap Hasna yang berada di sampingnya


"Kamu tahu? Aku juga aneh, kenapa tiba-tiba atasan aku itu suruh aku cuti dua hari tanpa memberi alasan yang jelas. Apalagi aku juga gak minta cuti" jelas Hasna, menjelaskan kebingungannya.


Hasna masih bingung dengan hal yang kemarin terjadi. Dimana atasannya tiba-tiba memberi dia cuti tanpa dia minta.


Apa ini ada hubungannya dengan...


Ya ampun, Hasna baru sadar satu hal. Mungkin saja Bima yang melakukan ini. Karena tidak mungkin atasannya itu memberi dia cuti kerja dengan cuma-cuma tanpa ada alasan yang jelas. Kecuali jika atasan Hasna itu ada yang memerintahkan dia untuk memberikan Hasna cuti.


Hasna menatap Bima dengan tatapan penuh curiga, matanya menyipit "Kamu yang suruh ya, biar aku bisa cuti dan datang keisini?"


Bima menahan senyum melihat wajah Hasna, jari telunjuk gadis itu mengacung, menunjuk wajahnya dengan mata yang menyipit. Seolah mengancam pada Bima, tapi justru Bima malah terhibur dengan wajah menggemaskan kekasihnya ini.


"Apasi Asna, jangan suka menuduh orang sembarangan" kata Bima, berusaha untuk menampilkan wajah datar tanpa ekspresi agar Hasna tidak lagi curiga.


Hasna semakin menyipitkan matanya, telunjuknya masih mengacung di depan wajah Bima "Bohong! Kamu pasti bohong deh, gak mungkin banget soalnya kalo atasan aku malah memberi aku cuti kerja tanpa aku memintanya. Kan aneh, biasanya kalau aku terlalu sering ambil cuti saja dia suka ngomel. Pasti kamu di balik semua ini 'kan?"


Duh... Aku tidak akan tahan dengan wajah menggemaskannya ini.


Bima meraih telunjuk Hasna yang masih mengacung di depan wajahnya, dia kecup jari Hasna itu dengan lembut. Lalu, Bima menatap wajah Hasna membuat gadis itu menjadi salah tingkah sendiri.


Kenapa dia menatapku begitu? Kok aku jadi takut ya? Apa aku terlalu berani barusan, sampai nunjuk wajah dia. Duh Hasna, kamu gak sopan banget deh.


Hasna menjadi takut saat melihat tatapan Bima, bagaimana bisa dia seberani itu pada pria dingin menyeramkan ini. Tapi, Hasna hanya ingin tahu saja kenapa bisa Hasna di beri waktu cuti kerja tanpa dia memintanya. Sangat aneh untuk Hasna, dan dia yakin jika Bima berada di balik keanehan ini.

__ADS_1


"Asna, menikahlah denganku"


Deg...


Hasna merasa dadanya sampai sesak, dia sampai sulit untuk bernafas saat mendengar ucapan Bima barusan. Debaran di jantungnya semakin membuat Hasna lupa bagaimana caranya bernafas.


"Menikah denganku dan kita akan hidup bahagia di sini. Aku akan membantumu untuk melupakan kenangan masa lalu itu dan menyembuhkan trauma mu" kata Bima, menatap lekat mata Hasna


Ya Allah apa ini saatnya?


Hasna berfikir apa sudah saatnya dia menerima lamaran Bima yang untuk kesekian kalinya. Dan setiap Bima mengajaknya menikah, maka Hasna selalu memberi alasan agar Bima tidak lagi memaksanya. Tapi, hari ini Hasna mulai memikirkan ajakan Bima itu. Sudah saatnya Hasna untuk melawan traumanya itu. Tidak untuk terus-terusan menghindar.


Akhirnya Hasna menganggukan kepalanya, menerima lamaran Bima itu. Sudah saatnya dia memikirkan masa depannya, Bima sudah siap menerima Hisyam dan segala masa lalu di hidup Hasna. Bima sudah siap menerima konsekuensinya suatu saat nanti.


"Ya, aku mau"


Bima tidak bisa menahan senyuman bahagianya itu. Tidak menyangka jika lamarannya kali ini akan Hasna terima. Bima mengecup punggung tangan Hasna, lalu memeluk gadis itu dengan erat. Kedunya saling berpelukan dengan suasana hati yang bahagia.


Hasna mengangguk dengan air mata yang menetes begitu saja, air mata kebahagian tentunya. Melihat bagaimana ketulusan dan kesabaran Bima dalam menunggunya dan mencintainya selama ini.


Tidak ada proses lamaran mewah seperti di kebanyakan cerita fiksi yang pernah Hasna baca. Semuanya hanya karena ketulusan dan kesabaran Bima yang selama ini berusaha untuk meyakinkan Hasna agar gadis itu mau menikah dengannya.


Bima yang tidak punya sisi romantis, membuat pria itu hanya bisa mengatakan apa tujuan dia. Tidak ada rencana lamaran romantis seperti kebanyakan orang. Bima hanya memiliki ketulusan untuk Hasna, dan hal itulah yang membuat Hasna sangat bahagia dan merasa beruntung memiliki Bima.


Bima melerai pelukannya saat dia melupakan sesuatu. "Tunggu sebentar disini"


Hasna hanya diam dengan wajah bingung saat Bima tiba-tiba berlari dan masuk ke dalam kamarnya. Dia kenapa? Apa kebelet pipis ya?

__ADS_1


Tak lama kemudian Bima kembali dengan wajah yang berseri. Dia begitu bahagia saat Hasnanya bisa menerima lamarannya setelah beberapa kali Bima di tolak olehnya.


"Ada apa Sayang?" tanya Hasna heran, dia menatap Bima yang duduk di sampingnya dan terus menatap Hasna dengan binar kebahagiaan.


"Sini tanganmu!" kata Bima


Hasna mengulurkan tangannya, dia bingung sendiri kenapa Bima memintanya untuk mengulurkan tangan. Biasanya jika dia ingin menggenggam tangannya juga langsung saja, tidak perlu seperti ini.


"Ck. Bukan yang ini Asna, tangan kirimu" kata Bima saat Hasna malah menyodorkan tangan kanannya.


"Kamu mau apasi? Aneh banget deh" kata Hasna bingung, dia menarik uluran tangan kanannya dan menggantinya dengan mengulurkan tangan kiri pada Bima.


Pria itu merogoh sesuatu dari saku celananya, sebuah kotak kecil berwarna biru. Hasna terbelalak saat tahu apa yang di maksud oleh Bima. Melihat kotak cincin itu tentu Hasna tahu apa yang ingin Bima lakukan sekarang.


Bima membuka kotak cincin berwarna biru itu, langsung tampak cahaya menakjubkan yang bersinar dari sisi-sisi kotak itu, semakin menambah indah cincin berlian yang berada di dalamnya.


Kedua mata Hasna sudah mulai berkaca-kaca, dia tidak menyangka jika Bima benar-benar akan serius menjalin hubungan dengannya. Bahkan, Hasna tidak pernah menyangka sebelumnya. Jika hubungan mereka akan berlangsung ke jenjang lebih serius. Untuk bisa berpacaran dengan Bima saja, sudah sangat beruntung untuk Hasna. Apalagi jika bisa sampai menikah, Hasna akan merasa menjadi wanita paling beruntung.


Bima mengambil cincin di dalam kotak kecil berwarna biru itu, lalu menyematkan di jari manis Hasna. Sangat pas dan cocok untuk jari lentik Hasna.


"Jadilah istriku dan Ibu dari anak-anak kita nanti, Asna" kata Bima, dengan menatap lekat mata Hasna yang berkaca-kaca.


Tidak mampu lagi berkata-kata, Hasna hanya mampu mengangguk seiring dengan air mata yang menetes. Dia begitu bahagia sekarang, tidak pernah menyangka jika perjuangannya selama ini berbuah manis. Meski penolakan Bima di masa lalu masih terngiang di ingatan Hasna. Bagaiaman pria itu tidak menginginkan kehadirannya. Tapi, pada akhirnya Bima bisa luluh juga dengan ketulusan Hasna selama ini.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya ya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..

__ADS_1



Definisi kotak cincin yang Bima berikan pada Hasna ya.. Keren banget asli.. 🤭


__ADS_2