
"Saya ingin menikahimu! Apa Hasna mau menjadi istri dan Ibu dari anak-anak kita nanti?" Ustadz Zaki mengutarakan itu tanpa melihat atau menatap ke arah Hasna. Keduanya kini sedang duduk di kursi plastik yang ada di teras rumah kontrakan Hasna.
Hasna bingung harus menjawab apa, di samping dia merasa tidak pantas untuk menjadi istrinya seorang ustadz. Dia juga tidak mempunyai perasaan apapun pada Ustadz Zaki. Lagian Hasna baru saja lulus sekolah dan dia ingin fokus dulu pada adiknya. Hasna masih mencari pekerjaan yang cocok dengan ijazah nya.
"Maaf Ustadz, bukan saya lancang dan tidak tahu diri. Tapi, Hasna benar-benar belum siap untuk menikah di usia semuda ini dan juga Hasna tidak siap untuk menjadi istrinya Ustadz" jelas Hasna dengan kepala menunduk, tentu dia merasa tidak enak atas penolakannya itu.
Ustadz Zaki menghela nafas, sebenarnya dia juga tidak ingin menikahi gadis belia seperti Hasna. Namun, sang Ayah terus memaksanya untuk meminang Hasna. Ayahnya begitu peduli dan merasa kasihan tentunya pada kehidupan anak yatim piatu itu. Di usianya yang masih sangat muda, Hasna harus menanggung semua kebutuhan hidup dirinya dan adiknya.
"Bicarakan dulu dengannya, jika dia menolak menikah denganmu. Maka Abi tidak akan memaksa kamu lagi untuk menikahi gadis itu. Dia gadis yang baik"
Begitulah ucapan Ayahnya, Ustadz Zaki tidak bisa menolak. Akhirnya dia mencoba melamar Hasna hari ini. Namun, benar dugaannya jika Hasna pasti tidak mau menikah di usia muda.
"Baiklah, saya tidak keberatan dengan keputusan Hasna. Semoga suatu saat nanti ada pria yang benar-benar bisa membuat Hasna bahagia dan mencintai Hasna dengan tulus" kata Ustadz Zaki denga senyuman tulus nya.
"Amin... Terimakasih Ustadz atas do'anya. Semoga Ustadz juga mendapatkan yang benar-benar cocok dengan Ustadz dan yang terbaik tentunya" kata Hasna, merasa lega karena Ustadz Zaki tidak terlihat kecewa sedikit pun. Pria itu terlihat tenang dan biasa saja dengan penolakan Hasna.
...🐧🐧🐧🐧🐧🐧🐧...
Hasna tersenyum melihat undangan pernikahan di tangannya. Akhirnya orang baik akan berjodoh dengan orang baik juga. Ustadz Zaki telah menemukan jodoh yang sepadan dengannya.
Aku datang gak ya? Datang sama siapa dong? Kalau sama Tuan Bima, dia mau gak ya aku ajak ke pernikahan Ustadz Zaki?
Hasna menjadi bingung sendiri sekarang, pergi ke pernikahan Ustadz Zaki mengajak Bima apa itu akan aman? Mengingat Bima begitu pecemburu berat. Apalagi dia tahu jika Ustadz Zaki dulu pernah ingin menikahi Hasna.
"Ahh. Sudahlah aku simpan saja dulu undangannya, nanti biar aku coba hubungi dia"
Hasna menaruh kartu undangan itu di atas meja di ruang tengah. Dia berlalu ke dapur untuk mandi dan menyiapkan makan malam. Hari ini, Bima tidak menjemputnya karena dia sedang sibuk di proyek baru perusahaan nya itu.
Hari yang Hasna takutkan, tapi malah tidak terjadi apa-apa. Saat Hasna masuk bekerja tadi, semua teman-teman kerja dan karyawan lain sama sekali tidak menanyai soal kejadian kemarin. Bahkan mereka bersikap biasa saja pada Hasna. Entahlah.. Hasna juga bingung dengan itu semua.
__ADS_1
Selesai mandi dan menunaikan kewajiban nya sebagai muslim, Hasna segera menyiapkan bahan masakan untuk makan malam. Dia lebih dulu memasukan beras yang telah di cuci bersih ke dalam alat penanak nasi.
Memotong beberapa sayuran dan bahan lainnya. Hasna begitu fokus pada kegiatannya itu sampai dia tidak mendengar suara pintu terbuka dan seseorang yang mengucapkan salam.
Bima baru saja pulang dari tempat pembangunan proyek barunya. Dia begitu lelah, namun dia tidak kembali ke apartemen. Malah pulang ke rumah Hasna, seharian tidak bertemu gadis itu sudah benar-benar membuatnya rindu. (Dasar Bucin 🤣)
Bima melihat kartu undangan pernikahan yang tergeletak di atas meja. Dia mengambilnya lalu duduk di kursi kayu di sana. Bima membuka plastik undangan itu dan membacanya.
Zaki? Seperti pernah mendengar nama itu?
Bima melanjutkan membaca undangan pernikahan itu sambil terus mengingat-ngingat siapa nama Zaki yang terasa tidak asing baginya.
"Kenapa Kak? Nyesel ya, gak nerima pinangan nya Ustadz Zaki?"
Bima akhirnya ingat siapa nama Zaki itu, dia meremas kartu undangan di tangannya "Sial. Beraninya dia mengundang Hasnaku ke acara pernikahan nya. Apa dia mau pamer karena sudah menikah, hah? Lihat saja aku akan segera menikahi Hasna"
Entah apa yang membuat Bima menggerutu kesal, seharusnya dia senang karena pria yang pernah berniat untuk menikahi Hasnanya telah menikah dengan wanita pilihannya. Itu artinya, Hasna hanya miliknya. Namun, fikiran Bima memang di luar batas manusia normal. Dia malah berfikir jika Ustadz Zaki sedang memamerkan pernikahan nya karena dia dan Hasna belum menikah.
Kenapa dia tiba-tiba ada disini?
Hasna berjalan pelan menghampiri Bima yang menatapnya tidak suka. Salah apa aku? Kenapa dia menatapku seperti itu?
Bima mengacungkan kartu undangan di tangannya yang sudah koyak itu, dia menatap Hasna dengan dingin "Kenapa gak bilang?"
Memangnya kenapa dengan udangan pernikahan itu. Aku memang belum bilang, tapi kenapa dia harus memasang wajah menakutkan seperti itu si.
Hasna duduk di kursi samping Bima "Aku juga baru dapat undangannya tadi pas pulang kerja. Tadinya mau bilang sama kamu nanti malem, ehh kamunya keburu kesini. Lagian kamu kapan datang? Aku gak denger kamu masuk rumah loh"
"Terus kau mau datang ke acara pernikahan nya?" tanya Bima tanpa menghiraukan celotehan Hasna tentang dirinya yang tiba-tiba sudah berada di dalam rumah.
__ADS_1
"Gak tau, kalo gak datang juga gak enak. Ayahnya Ustadz Zaki baik banget sama aku dan Hisyam. Dia sering bantu kami dulu, jadi gak enak kalo gak datang" jelas Hasna
Bima melempar undangan itu ke atas meja "Yasudah, besok kita datang saja"
Hasna langsung menoleh dan menatap bingung pada Bima "Kita? Kamu mau ikut juga?"
Bima langsung menoleh dan menatap Hasna dengan tajam "Tentu aku harus ikut, kau fikir aku akan membiarkanmu pergi sendirian ke sana. Terus nanti dia akan menikahimu juga"
Hah? Apa? Pemikiran dari mana itu? Dia benar-benar di luar dugaan ya pemikiran nya.
"Ya gak mungkinlah, kamu ini aneh-aneh aja deh. Lagian kalo aku bersedia dan mau, sudah dari dulu aku menikah dengannya. Tapi, aku tidak mencintainya. Justru aku malah jatuh cinta sama pria dingin menyeramkan ini" kata Hasna dengan suara pelan di akhir kalimatnya
"Maksudnya? Aku menyeramkan gitu?" kata Bima menatapnya tajam
Apa dia gak sadar kalau dia itu begitu menyeramkan dan menakutkan.
"Hehe. Gak Sayang, kamu tampan dan menawan" kata Hasna yang langsung bergelayut manja di tangan Bima.
Bima mengecup puncak kepala Hasna yang bersandar di bahunya "Jangan macam-macam ya Asna, kau tahu bagaimana marahku jika melihat milik ku di ganggu tikus sialan"
Hasna tentu mengerti apa maksud pria itu, tikus yang Bima sebut adalah pria lain yang mendekati Hasna.
"Iya Sayang, asal kamu juga sama. Jaga cintaku untukmu dengan kesetiaanmu" Aku juga ingin dia melakukan hal yang sama. Apalagi dengan ketampanan dan kekayaan yang dia punya, sudah pasti banyak wanita di luaran sana yang mendekatinya.
"Jangankan tikus pengganggu, aku tidak akan tertarik pada siapapun setelah aku mencintai seseorang. Kau akan tahu nanti" kata Bima yakin
Benar.. Bima tidak akan tertarik pada wanita manapun setelah dia menetapkan hatinya di satu wanita. Jika bukan pengkhianatan yang Bianca lakukan, Bima sudah begitu setia dari dulu. Tapi, Bima tidak akan mengampuni jenis pengkhianatan apapun. Bima adalah pria yang setia.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter... kasih hadiahnya dan votenya juga.