Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
98. KEBENCIAN


__ADS_3

Meski hati Rania terasa sangat perih, dia harus terima kenyataan jika cinta pertamanya kali ini benar-benar telah kandas. Baginya tidak mungkin untuk memperjuangkan cinta yang telah berpijak dihati lain, terlebih hati itu milik sahabatnya sendiri.


Kini yang dapat Rania lakukan hanyalah memaksa hatinya untuk melupakan cinta pertamanya, meskipun Rania sendiri tahu tidak mudah baginya untuk melupakan.


"Nia, aku harus pergi," ujar Mela.


Rania menghela nafas panjang, ada rasa tidak rela untuk melepas kepergian sahabatnya.


"Jaga dirimu baik-baik, aku akan panggilkan kak Kenan, untuk mengantarmu ke Bandara," sahut Rania.


"Gak perlu Nia, aku bisa gunakan jasa taksi online, nanti merepotkan kak Kenan, dia juga harus ke Kantor kan," tutur Mela.


"Kali ini jangan membantah, oke! aku akan merasa tenang jika yang mengantarmu kak Kenan," oceh Rania.


"Nia, itu sangat berlebihan, aku bukan anak kecil lagi, aku bisa jaga diri, lagi pula arah kita berbeda, kasihan kak Kenan kalau harus putar balik" jelas Mela.


"Itu gak masalah buat kak Kenan" ujar Rania kekeh.


Mela hanya bisa pasrah atas keinginan sahabatnya itu, karena hanya akan sia-sia jika dia terus membantah keinginan sahabatnya.


Tidak lama kemudian Sintia dan Kenan menuju ruangan ditempat Rania dan Mela berada.


"Apakah kamu sudah siap untuk berangkat nak?" tanya Sintia.


"Ish, bunda sepertinya gak suka deh lihat Mela ada disini" celetuk Rania manja.


"Tidak sayang, bukan begitu, bunda hanya khawatir dia akan terlambat jika kamu tahan terus" jelas Sintia.


"Bunda mu benar Nia, aku bisa telat, apalagi kalau jalanan macet, bisa-bisa batal keberangkatan ku hari ini" ungkap Mela.


"Ya sudah, kamu hati-hati" ucap Rania.


"Jangan ngebut kak bawa mobilnya" lanjut Rania pada Kenan.


Seperti biasa Kenan hanya menyimpulkan senyumnya tanpa banyak bicara. Pada saat mereka hendak beranjak pergi, tiba-tiba dari halaman depan rumah terdengar suara motor Nathan.


Mela yang sudah mengenali suara motor sahabatnya, bergegas dia keluar mendekat.


"Hai, kamu sudah siap?" tanya Nathan saat melihat Mela keluar.


"Iya, aku baru saja mau berangkat" sahut Mela.


"Syukurlah, setidaknya aku tidak terlambat untuk melihat sahabatku yang semakin cantik ini" ujar Nathan tersenyum.


Seketika pipi Mela bersemu merah, disisi lain ada hati yang bergemuruh seolah tidak bisa menerima apa yang telah didengarnya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau kamu mau berangkat, hati-hati di jalan dan jaga dirimu baik-baik" ucap Nathan.


"Apa kamu sudah pesan taksi? atau mau aku antar?" tanya Nathan kemudian.


"Tidak perlu, kak Kenan yang akan mengantar" sahut Rania dan Nathan mengangguk.


Mela pun akhirnya berpamitan kepada semua penghuni rumah keluarga Atmaja. Mela memeluk kedua sahabatnya, namun ketika Mela memeluk Nathan, tatapan Kenan seakan tidak menyukainya.


Ada apa dengan ku ini, sungguh memalukan. ujar hati Kenan berusaha menutupi jika bara dihatinya mulai terbakar.


***


Dalam perjalanan menuju Bandara, keduanya tidak saling bicara, hanya sesekali Kenan melirik Mela dengan ujung matanya.


Mela yang semula merasa biasa kini menjadi kaku tak bergerak, ada rasa sungkan untuk memulai percakapan.


Kenan ayolah, kenapa kamu jadi seperti ini, Rutuk hati Kenan.


"Jurusan apa yang sedang kamu ambil saat ini?" Kenan membuka percakapan.


"Hmm, jurusan manajemen bisnis kak," jawab Mela sedikit gugup.


"Semangat terus ya belajarnya dan sukses selalu kedepannya" ujar Kenan kemudian.


Sementara itu ditempat lain, Rania dan Nathan sudah sampai di kampus, kali ini Rania pergi ke kampus naik motor bersama Nathan.


Pandangan yang tidak biasa ini, tentu saja menjadi sorotan para mahasiswa di kampus.


Ada yang berdecak kagum melihat keserasian diantara keduanya, ada yang mencemooh karena tidak suka. Rania dan Nathan berpisah di persimpangan koridor kelas.


Rania terus menyusuri lorong koridor, ketika telah melewati setengah dari lorong yang dilaluinya, dia berpapasan dengan dosen tampan sekaligus sahabat dari abangnya.


Kenapa aku harus berpapasan dengan dia sih?, racau hati Rania.


Rania sangat mengutuki pertemuannya dengan Kevin pagi ini. Tidak tahu sejak kapan dia sangat membenci orang yang dulu pernah dikaguminya. Kini rasa kagum itu menguap begitu saja berubah menjadi kebencian yang sudah mendarah daging.


Sementara itu, ada kegugupan yang menyelimuti hati Kevin, dia tidak mengerti mengapa perasaan gugup itu bersarang dihatinya, yang harus dilakukannya saat ini adalah untuk bersikap biasa saja, namun bibir dan hatinya mengkhianati pikirannya, seulas senyum tergambar jelas digaris bibirnya.


Namun, senyum itu tidak berbalas, Rania justru semakin membenci kelakuan mantan calon imamnya itu. Senyum manis itu berubah menjadi mendung yang kelabu.


Akhirnya Rania tiba di depan kelas, tanpa disadarinya ternyata Kevin pun menuju kelasnya, karena memang di jam pertama kelas Rania dosennya Kevin.


Keadaan ini membuat teman-teman sekelas Rania menjadi salah paham, sebagian dari mereka ada yang menduga-duga jika keduanya memiliki hubungan spesial.


Rania merasa risih dengan keadaan tersebut, dengan wajahnya yang tidak bersahabat, dia membalikkan badan mengarah ke Kevin.

__ADS_1


"Ingat, kesalahan kamu itu tidak termaafkan, jadi kamu jangan pernah berharap kita bisa seperti dulu!" bisik Rania, lalu pergi kearah kursinya.


Kevin yang belum sempat menimpali ucapan Rania, hanya bisa menghempaskan nafas kasarnya, seolah beban berat tengah menghimpit hatinya.


Wajar jika kamu berbuat seperti itu, pasti kamu merasa terhina dengan sikapku kala itu, maafkan aku, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja, karna aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu kembali, sebab kamu memang pantas untuk diperjuangkan, ungkap hati Kevin.


Lalu Dia pun memulai mata kuliah pagi itu. Ditengah materi kuliah sedang berlangsung, Chika yang penasaran sejak awal kedatangan sahabatnya dengan wajah cantiknya, memberanikan diri untuk bertanya.


"Apakah kamu dan pak Kevin sepasang kekasih?" tanya Chika berbisik.


Rania menanggapinya dengan tatapan sinis, membuat yang ditatapnya terbunuh oleh ketajaman bola mata yang indah kecoklatan.


Chika yang mendapat tatapan itu, lalu terdiam seribu bahasa, meski dia tidak tahu apa maksud dari tatapan tajam sahabatnya, namun dia berusaha menyimpulkan jika hubungan diantara keduanya sedang tidak baik-baik saja.


Hingga materi kuliah selesai kedua sahabat itu saling terdiam, ada rasa tidak nyaman dirasakan oleh Rania, bagaimanapun juga menurutnya sikap dia sudah berlebihan, tidak ada salahnya jika sahabatnya bertanya perihal kedekatannya dengan dosen tampan yang menjadi idola para mahasiswi di kampusnya.


"Maafkan aku Chika" ujar Rania saat kelas sudah sepi.


"Maaf?, untuk apa?" tanya Chika heran.


"Tidak seharusnya aku bersikap sinis saat kamu bertanya perihal kedekatan kami" sahut Rania.


Chika kini memahami maksud dari arah tujuan pembicaraan sahabatnya.


"Tidak apa-apa Ran, aku memahami jika kamu tidak ingin bercerita perihal itu" ujar Chika.


"Dialah lelaki yang telah menolak ku Chik, lelaki yang aku maksud saat di pesta ulang tahunku" ungkap Rania.


Chika terbelalak seakan tidak percaya dengan apa yang barusan saja dia dengarnya.


"Kamu sedang tidak bercanda kan Ran?" tanya Chika masih tidak percaya.


"Apakah di matamu, saat ini aku sedang bercanda?" ucap Rania dengan derai airmata.


Hatinya masih terasa sakit, akibat luka yang ditorehkan lelaki yang dulu dikaguminya, luka yang baginya tidak akan pernah terobati, hinaan itu kini membuat dirinya membenci sahabat abangnya.


Kebencian yang dirasakannya terhadap Kevin sebesar rasa sakit yang telah diukir dalam hatinya.


*** BERSAMBUNG ***


happy reading...


Salam manis 😘


by rose_ daylin

__ADS_1


__ADS_2