Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
47. BERTEMAN


__ADS_3

Apakah ayah terbangun karena aku mengucap janji padanya? jika memang benar adanya maka akan aku tunaikan semua permintaan ayah. Gumam rania.


Rania baru sadar belum mengabari bundanya kalau ayahnya sudah bangun dari komanya.


"Asaalamualaikum bun cepat datang ke rumah sakit, ayah sudah bangun" tutur Rania via telepon.


"Benarkah? baik bunda akan segera ke rumah sakit" saut Sintia lalu memutuskan teleponnya.


Sebelum berangkat ke rumah sakit, Sintia menghubungi sahabatnya 'Hanum' via telepon yang sudah beberapa pekan tinggal di Indonesia semenjak suaminya koma.


"Hallo hanum" sapa Sintia via telepon.


"Iya Sin, ada apa?".


"Suamiku sudah bangun dari komanya, tadi Nia yang mengabari".


"Syukurlah, nanti aku bersama suami dan anakku akan datang menjenguk".


"Baiklah". Sintia kemudian memutuskan sambungan teleponnya, lalu beranjak pergi meninggalkan rumah menuju rumah sakit.


Rasa tidak sabar karena rindu pada suami menyeruak di hati Sintia, betapa tidak sudah hampir empat pekan suaminya terbaring koma.


Di rumah sakit Rania terus mencoba menghubungi Kenan yang sedari tadi sulit untuk dihubungi karena tidak kunjung terhubung, Rania kembali menghubungi ibunya.


"Hallo bunda, mengapa kak Kenan sulit sekali untuk dihubungi? kemana dia?".


"Abangmu ke Jakarta tadi pagi karena kekasihnya menghubunginya".


"Disaat begini, dia pergi bunda? keterlaluan apalagi hanya untuk menemui perempuan itu" geram rania.


"Sudahlah nak, jangan memperumit keadaan yang penting sekarang ayah sudah siuman. Abangmu ke Jakarta juga karna besok acara ulang tahun kekasihnya" jelas Sintia.


"Tapi bunda, kenapa kak Kenan pergi disaat keadaan ayah kurang baik malah memilih untuk bersenang-senang?" sesal Rania.


"Abangmu sebenarnya juga berat meninggalkan ayah tapi kekasihnya berjanji hanya sampai hari ulang tahunnya saja karena abangmu ingin diperkenalkan dengan orang tua Jena" ungkap Sintia.


"Orang tua Jena tidak selalu dapat mengunjungi putrinya, itu sebabnya Jena meminta abangmu untuk datang ke Jakarta" imbuh Sintia.


"Menyebalkan, baiklah kalau memang itu keinginan kakak, jika nanti ada perkembangan apapun tentang ayah jangan pernah hubungi kak Kenan" ucap Rania yang menahan emosinya.


"Tapi nak, bagaimanapun juga abang berhak tahu tentang kondisi ayah" saut Sintia.


"Adek bukan tidak ingin mengabari kak Kenan bun, tapi dia sendiri yang tidak ingin kita menghubunginya buktinya sekarang ponselnya tidak dapat dihubungi, adek hanya ingin tahu apakah abang masih perduli dengan keluarganya saat dia bersama perempuan itu" ungkap Rania berapi-api.


Sintia mengakui jika memang Kenan sulit untuk dihubungi karena dia tadi sudah mencobanya tapi di luar jangkauan.


Sesaat Sintia mulai ragu dengan sikap putranya, apa yang dikatakan Rania juga ada benarnya. Sekalipun Kenan tidak berada dekat dengan keluarganya paling tidak dia bisa dihubungi via telepon seperti biasa yang dilakukan tidak seperti saat ini.

__ADS_1


****


"Sayang makasih ya kamu sudah mau datang, awalnya aku ragu kamu tidak akan datang" ucap Jena manja.


"Sayang maaf tapi aku tidak bisa lama-lama ayahku sedang sakit mengertilah?" Kenan memohon.


"Kurang mengerti apa aku selama ini, aku hanya meminta waktumu hanya sehari saja hanya sampai besok setelah itu kamu boleh pergi selama yang kamu mau" ujar Jena ngambek.


"Ya sudah, jangan ngambek dong nanti cantiknya hilang" rayu Kenan.


"Baik aku gakkan ngambek lagi tapi ponsel kamu bawa sini, biar aku yang pegang" pinta Jena.


"Untuk apa?". "Biar kamu fokus pada acara kita malam ini, karena aku mau kenalin kamu ke orang tuaku".


"Kenapa ponselku sampai harus kamu yang pegang sih? gimana kalau keluargaku menghubungiku?" Kenan sedikit kesal.


"Sayang aku mau, kamu kasih waktu sebentar aja untuk orang tuaku, aku bukannya egois tapi kalau ayahmu masih ada adikmu sedangkan orang tuaku hanya aku anak semata wayangnya, kamu serius gak sih sama aku?" mata Jena mulai berkaca-kaca.


Sikap Jena yang sedikit berlebihan membuat Kenan jengah namun rasa cintanya pada gadis itu membuat dia luluh tidak ingin mengecewakannya.


"Baiklah sayang, lakukanlah apa yang membuat kamu bahagia" ucap Kenan mencium puncak kepala Jena lembut.


"Nah gitu dong".


****


Sintia tiba di rumah sakit dengan tergopoh-gopoh menuju ruang ICU namun dia tidak menemukan keberadaan suami dan anaknya.


"Selamat pagi nyonya, maaf nyonya tuan sudah siuman dan sekarang sudah dipindahkan di Ruang VVIP lantai dua" tutur suter sopan.


"Terimakasih suster" saut Sintia tersenyum ramah lalu mengurungkan niatnya dan berlalu pergi meninggalkan suster itu.


"Adek dimana ayah?" sapa Sintia saat melihat putrinya duduk dilorong ruang VVIP.


"Bunda" Rania lalu memeluk ibunya penuh haru.


"Ayah sekarang sedang istirahat untuk pemulihan belum boleh diajak bicara" imbuh Rania.


"Bunda ingin menemani ayahmu sampai dia bangun dari tidurnya".


"Silahkan bunda, adek mau turun dulu nanti kabarin adek ya kalau ayah sudah bangun". Sintia mengangguk.


Rania pergi meninggalkan ibunya sendiri menemani ayahnya. dia meraih ponselnya dan membuka aplikasi WA.


#chat WA


Nia

__ADS_1


Hai guys kalian sekarang dimana?


Nathan


Aku di rumah.


Ayu, Dafa, Mela


Mencari informasi kampus tentang jurusan yang ingin aku ambil.


Nia


Semoga berhasil dan pengumuman kelulusan besok hasilnya sesuai harapan. @Ayu, @Mela, @Dafa.


Nathan, Ayu, Dafa, Mela


Amiinn.


Rania tidak meneruskan chattingnya karena tidak ingin mengganggu fokus sahabatnya.


Mereka terlalu sering aku repotkan dengan masalahku, biarlah hidupku berjalan sesuai takdir yang tuhan berikan untukku.Tuhan takdir apa yang kini sedang aku jalani, mengapa benang takdir yang -Kau berikan bigitu kusut hingga aku kesulitan untuk mengurainya. Gumam rania dalam lamunannya.


Rania duduk dibangku taman rumah sakit menatap jauh ke depan bersama asa dalam lamunannya.


"Hey, gak baik seorang gadis cantik melamun sendirian" sapa seseorang tiba-tiba. Rania tersentak dan menoleh kearah sumber datangnya suara.


"Kak Kevin, sama siapa kemari?" tanya Rania. "Sama mama dan papa, kamu ngapain disini?".


"Seperti yang kakak lihat, ngelamun darimana kak Kevin tahu aku disini?" saut Rania malas.


"Dari tante bundamu, jangan panggil aku kakak dong, aku kan bukan Kenan panggil Kevin aja karena mulai sekarang kita berteman" pinta Kevin.


"Maaf aku tidak ingin berteman dengan kakak". "Kenapa?" saut Kevin heran.


"Karena tidak ada yang namanya pertemanan yang tulus antara pria dan wanita" jelas Rania.


"Apa kamu sedang mengalaminya nona Atmaja?". Rania mengeritkan alisnya seolah meminta penjelasan.


"Iya seperti persahabatanmu dengan dua teman pria mu itu" jelas Kevin.


"Tidak" saut Rania tegas meskipun hatinya berkata iya.


"Ok, kalau begitu tidak masalah jugakan berteman denganku".


"Yassalam... ok kita berteman, notbad lah karena kamu sahabat kak Kenan". keduanya pun tertawa dan saling bercanda.


Dafa merasa ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya menjadi gelisah, karena chat WA dari Rania tersirat sesuatu seperti ingin menceritakan sesuatu namun diurungkan.

__ADS_1


Dafa mendatangi rumah Rania namun orang yang dicarinya tidak ada, kemudian dia menuju rumah sakit di tengah perjalanan Dafa melewati toko bunga.


***BERSAMBUNG***


__ADS_2