Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
14. KEMBALI KE KALIMANTAN part 1


__ADS_3

setelah memastikan kevin sudah pulang dari rumahnya kenan lalu bergegas menuju kamar adiknya memastikan adiknya sudah makan.


ceklek... suara pintu di buka tanpa permisi pada pemilik kamar.


"kak kenan kebiasaan deh" rutuk rania kesal


"abang hanya mau mastiin kalau adek sudah makan dengan benar".


"makasih ya kak, udah perhatian sama adek"


"itu sudah tanggung jawab abang dan jangan lakukan hal konyol seperti itu lagi, mengerti!" seru kenan penuh penekanan.


"maaf" rania menunduk bersalah.


"ya sudah sekarang istirahat" kenan hendak beranjak pergi. "tunggu" teriak rania, kenan menghentikan langkah dan putar balik ke arah adiknya.


"apa sih dek". kenan kesal. "janji kakak mau cerita tentang kisah persahabatan bunda sama tante hanum".


"besok aja, sekarang udah malem". bujuk kenan.


"maunya adek sekarang, besok kak kenan kerja pasti pulang malam dan adek besok sudah pulang ke kalimantan kak". rengek rania. "ini sudah malam dek". tatapan kenan berubah dingin.


"kalau kak kenan gak mau cerita sekarang gak papa, adek gak akan maksa untuk hari berikutnya, sekarang kak kenan keluar dari kamar adek". rajuk rania sambil mendorong keluar tubuh abangnya.


kenan tak bergeming, meskipun rania mendorong sekuat tenaga. Kenan tahu saat ini adiknya sangat marah padanya, namun kenan benar-benar letih untuk bercerita tapi tidak mungkin juga meninggalkan adiknya dalam keadaan seperti sekarang ini.


"adek..." panggil kenan lembut.


"kak, adek mau tidur, tapi kalau kakak masih mau disini terserah" rania langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut membiarkan abangnya yang masih terpaku.


rania kecewa pada abangnya bukan karena isi ceritanya, tapi karena abangnya tidak mau berusaha menepati janjinya.


ayah untuk hal kecil saja kak kenan tidak dapat di percaya, bagaimana mungkin ayah menitipkan kebahagiaan adek sama kak kenan. gumam hati rania dalam tangis.


kenan yang melihat adiknya terisak di balik selimut lalu mendekatinya dan duduk di bibir ranjak membelakangi tubuh adiknya, ada raut penyesalan di wajahnya karena membuat adiknya menangis.


maafkan abang yah, sudah membuat adek menangis... gumam hati kecil kenan.


"dek bangunlah, abang akan menceritakannya sekarang" ujar kenan lirih


"sudahlah kak, adek mau istirahat, kakak tidur juga besokkan kak kenan kerja nanti kesiangan" jawab rania di balik selimut.


kenan sangat mengenal sifat adiknya, sangat sulit untuk membujuk hati rania ketika moodnya sedang buruk. dengan perasaan sedih kenan meninggalkan kamar adiknya dan membiarkannya sendiri dalam tangis.


saat kenan keluar dari kamar adiknya, kenan berpapasan dengan bundanya yang baru pulang dan ingin melihat keadaan adiknya.

__ADS_1


"apa adek sudah tidur?"


"sudah' jawab kenan berbohong karena kenan tidak ingin bundanya melihat adiknya menangis.


"ya sudah, abang istirahat besok kan harus bangun pagi".


"bunda sama ayah baru pulang". tanya kenan dan sintia mengangguk lembut.


"oya bang bunda hampir lupa, besok kami akan kembali ke kalimantan".


"secepat itu bunda" kenan terkejut membulatkan matanya.


"sudah hampir sepekan kami disini, lusa adek sudah masuk sekolah kasihan kalau tidak sempat istirahat, makanya ayah mutuskan besok kami pulang". sintia berlalu meninggalkan kenan yang masih membeku di depan kamar adiknya.


****


#waktu sarapan...


kenan turun dengan tergesa-gesa, karena melihat adiknya sudah tidak ada di kamar, semalam kenan sudah bertekad untuk meminta maaf kepada adiknya sebelum dia berangkat ke kantor. kenan teringat kemarahan adiknya bukan terletak pada isi ceritanya tapi lebih tepatnya pada janji kelingkingnya bagi rania janji kelingking sangat sakral dan tidak boleh dilanggar apapun alasannya. bagi rania lebih baik berkata 'tidak' dari pada berkata 'ya' tapi sulit untuk menepatinya.


kenan semakin frustasi karena tidak melihat adiknya di meja makan.


"adek kemana bunda". kenan berusaha setenang mungkin.


"kalau ayah?"


"ayah selesai sarapan tadi langsung ngecek ke bandara untuk memastikan penerbangan domestik menggunakan pesawat pribadi pukul berapa, karena semalam ada pemberitahuan untuk penerbangannya delay". jelas bunda.


"kalau misalnya tidak delay jam berapa berangkatnya bunda?".


"sekitar pukul sembilan pagi".


"semoga saja delay". gumam kenan lirih.


"apa maksud ucapanmu bang?" selidik bunda


"tidak apa-apa bunda, abang masih belum bisa jauh dengan keluarga". kenan berbohong meskipun ada benarnya namun maksud sebenarnya bukan itu. tidak lama berselang rudipun datang.


"bagaimana yah, bisa pesawatnya berangkat tepat waktu?" tanya sintia.


"delay" jawab rudi singkat. "jadi, kepulangannya di tunda yah?". kenan antusias.


"sayangnya tidak, adek ingin tetap pulang pagi ini". jawab rudi.


"kenapa begitu yah?" tanya sintia heran.

__ADS_1


"ayah juga tidak tahu, bahkan ayah sudah jelaskan kalau kita pulang pagi ini dengan pesawat reguler, kita dapat kelas ekonomi karena tiket kelas bisnis telah habis. jawab dia gak papa yah yang penting pulang pagi ini". jelas rudi.


"terus jawab ayah apa?". ayah masih terdiam belum menjawab. "ayah mengiyakan permintaan adek!" seru kenan.


ayah mengangguk. "kenapa yah" kenan kecewa. "ayah tidak bisa melihat adikmu sedih, jika itu membuatnya senang gak masalah buat ayah, abang kan tahu sendiri kalau adek sudah marah, susah mau baikannya". tutur rudi.


ayah benar, seperti hari ini contohnya, abang sudah membuatnya marah. sekarang abang harus berusaha keras untuk baikan dengan adek semoga saja endingnya tidak buruk. gumam kenan dalam hati.


"ya sudah bang, sekarang berangkat kerja nanti abang telat" lanjut rudi.


"abang hari ini gak kerja dulu yah". jawab kenan malas.


"mau jadi apa perusahaan kita kalau pemimpinnya lembek seperti kamu". gertak rudi dengan nada penuh amarah.


"apa masalahmu" lanjut rudi belum meredakan emosinya.


kenan terdiam, baru kali ini kenan melihat ayahnya marah tanpa tatapan bersahabat.


"apa ini ada hubungannya dengan sikap adikmu yang aneh hari ini? apa kalian bertengkar?" tanya rudi lagi dan rudi meringis kesakitan, wajahnya pucat dan keringat membanjiri wajahnya yang menahan amarah.


keadaan menjadi panik, melihat kondisi rudi dan sintia menjadi bingung.


"ayah.. kenapa?" sintia ingin menghampiri, namun dicegah oleh suaminya.


"stop bunda, ayah tidak apa-apa". sambil mengusap peluh di dahinya.


"baik-baik apanya, ayah kesakitan dan pucat seperti itu lihat keringat sudah membanjiri tubuh ayah". bentak sintia yang terlihat panik.


kenan mendekati ayahnya dan terlihat wajah kenan memerah menahan tangis.


"maafin abang yah?" ucap kenan lirih penuh penyesalan.


"ayah kecewa bang, bagaimana ayah bisa tenang kalau abang selemah ini, jika memang kalian ada masalah berikan ruang untuk adikmu sendiri dulu". ujar rudi dengan nafas tersengal lalu tak sadarkan diri.


"ayaaaaahh.... abang ayahmu kenapa nak!" teriak sintia dan kenanpun tidak mungkin menceritakan keadaan ayahnya yang sebenarnya.


"ayah akan baik-baik saja bunda, jangan panik". kenan berusaha menenangkan ibunya lalu bergegas keruang kerja rudi mencari obat yang biasa di minum ayahnya.


****


***BERSAMBUNG***


sampai sejauh ini author masih mengharap dukungan dari para readers, terus dukung author dengan selalu memberikan saran dan kritikan yang membangun, tetep like dan jangan lupa vote nya ya...


happy reading....

__ADS_1


__ADS_2