Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
37. AYAH SAKIT...


__ADS_3

"Ya itulah kebenarannya, aku syok ketika tahu kalau perempuan yang menjadi kekasih kak kenan adalah perempuan yang berencana ingin membunuhku".


"aku bingung harus bersikap bagaimana, bersikap baik atau buruk terhadapnya, terus terang aku tidak akan mungkin sanggup untuk mengungkapkan yang sebenarnya karena pasti akan melukai hati kak kenan".


"tapi ini termasuk tindakan kriminal nia, bukankah kak kenan berjanji akan tetap mengadilinya siapapun itu" saut dafa.


"memang, tapi apa mungkin dia sanggup mengadili orang yang sangat dikasihinya? walaupun dia tahu orang tersebut hampir merenggut nyawa adiknya. aku rasa tidak fa, aku tahu siapa kak kenan meskipun dia selalu bersikap dingin tapi hatinya selalu hangat penuh kasih sayang".


"mengapa masalahnya menjadi serumit ini sih? seharusnya dia sudah mendapat pengadilan dari kak kenan atau paling tidak dinginnya jeruji besi" tukas mela.


"semoga saja ada jalan keluar untuk masalah ini" ucap ayu.


"aamiinn" dafa dan nathan menimpali.


tak terasa pesawat yang membawa mereka dari ibu kota ke pulau borneo telah tiba di bandara. mobil jemputan sudah terlihat, rombongan remaja itupun mendekati mobil lalu melanjutkan perjalanan kembali menuju rumah rania karena sahabatnya berniat mengantarkan rania terlebih dahulu.


mobil yang dikendarai rombongan remaja itupun sampai di halaman rumah rania yang luas dan tampak asri.


di teras rumah yang megah sudah ada para pelayan yang siap menyambut kedatangan nona mudanya pulang ke rumah, namun kedua orang tua rania tidak terlihat.


"assalamualaikum bik".


"walaikumsalam nona". "selamat datang kembali di rumah mbak nia" sapa susi yang langsung membantu rania mendorong kursi rodanya masuk ke rumah.


"terimakasih susi".


"ayah sama bunda mana bik?"


pelayan yang sudah lebih dari setengah abad tidak langsung menjawab ada keraguan tersirat di wajahnya.


"nia, kita semua pulang dulu ya, mau istirahat capek. kamu jangan lupa cek up ke dokter lalu istirahat" ujar dafa.


"makasih ya guys, kalian dah mau nganterin gue, bikin lo semua repot"


"nia, dalam persahabatan tidak ada kata merepotkan untuk sahabat key" saut nathan.


semua sahabat rania pulang ke rumah masing-masing dan diantar oleh supir keluarga ATMAJA.


"bik ijah, bibik tadi belum menjawab pertanyaan saya".


"tuan besar sudah dua hari ini sakit nona" bik ijah tertunduk.


"ayah sakit, sekarang mereka dimana?"


tanpa menunggu jawaban rania berlalu pergi meninggalkan bik ijah dan susi di ruangan keluarga, dengan tertatih menahan rasa sakit dikakinya rania terus meniti satu demi satu anak tangga tanpa ingin di bantu oleh siapapun.


setelah berada tepat di depan pintu kamar orang tuanya, rania mengetuk pintu terlebih dahulu lama tidak ada jawaban rania memberanikan diri untuk masuk.

__ADS_1


tampaklah dua sosok yang sudah beberapa hari ini tidak dilihatnya. rania mendekati kedua orang tuanya yang sedang tertidur dengan posisi bundanya duduk disamping tempat tidur ayahnya.


"ayah... bunda... adek sudah pulang" sapa rania hati-hati. sintia menggeliat dan membuka matanya perlahan.


"adek, sudah lama sampainya nak? maaf bunda tidak ikut menjemput" saut sintia dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"bunda apa ayah baik-baik saja?"


sintia tidak langsung menjawab matanya kembali basah mengingat penjelasan dokter yang mengatakan bahwa suaminya tidak memiliki harapan untuk sembuh sekalipun ada yang ingin mendonorkan hati untuknya.


obat-obatan yang selama ini dikonsumsinya hanya sebagai penahan rasa sakitnya saja bukan untuk mengobati.


"jawab bunda, jangan menangis" desak rania.


"ayah sudah tidak memiliki harapan untuk sembuh nak, karena..." sintia kembali terisak.


"karena apa bunda? bukannya ayah tetap bisa sembuh kalau ada yang mendonorkan livernya, sekarang ambil hati adek bunda berikan untuk ayah, cepat bunda" ujar rania yang menangis pilu.


"tidak nak, itu percuma saja karena kondisi ayah yang semakin melemah jadi tidak memungkinkan untuk dioperasi".


saat itu juga serasa benteng ketegaran hati yang dia bangun dengan penuh percaya diri hancur luluh lantah tak bersisa kala mendengar penjelasan dari ibunya.


kakinya terasa kebas, sakit yang semula dirasakannya berlalu pergi entah kemana tubuhnya tak lagi merasakan apa-apa. hanya kekosongan yang datang menghampirinya.


ditatapnya wajah teduh yang kini tak lagi muda namun tetap terlihat tampan dengan rahang yang tegas terlihat pucat pasi, tubuh yang dulu gagah kini tampak menyusut. airmata rania terus berguguran mengenang semua keindahan yang ada dalam diri ayahnya.


aku sangat mencintaimu, meski aku tak pernah mengatakannya langsung padamu ayah. gumam hati rania dalam tangis.


"kasihan ayah, bunda".


"doakanlah ayahmu dan kuatkan hatimu untuk menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi, sekarang istirahatlah dulu bersihkan tubuhmu" perintah sintia.


rania merasakan sakit dikakinya yang amat sangat saat meninggalkan kedua orang tuanya di kamar.


mengapa kakiku sekarang tersa nyeri sekali. gumam rania sambil meringis.


melihat kaki putrinya dibalut dan meringis kesakitan, sintia bergegas menghampiri.


"kakinya kenapa nak? tanya sintia cemas.


"adek jatuh, terus kakinya retak tapi gak patah jadi bunda jangan cemas".


"cepat diperiksakan ke dokter nak, bunda khawatir ada bagian kakimu yang memar"


"siap bunda, biar nanti adek minta tolong supir mengantar adek kerumah sakit, sekarang adek mau mandi terus istirahat".


****

__ADS_1


rania sudah berada di kamarnya dengan tubuh yang sudah kembali segar setelah berendam dibathup hampir setengah jam namun wajah cantik alaminya masih terlihat begitu letih.


mengapa masalah selalu saja datang menghampiri hidupku, baru saja aku baikan sama kak kenan sekarang berantem lagi, belum lagi kekasihnya yang berencana membunuhku masih bebas berkeliaran dan sekarang ayah sakit.. ya tuhan cobaan apa yang sedang engkau berikan untukku. lamunan rania.


tubuh rampingnya terhempas diatas kasur king sizenya, pikirannya melanglang buana mengurai benang takdir yang kusut.


untuk menghilangkan kejenuhannya rania meraih ponselnya diatas nakas lalu memutar lagu 'kakak' dari AB three.


*dalam lamunanku menerawang jauh


ke masalalu masa kecil kita yang lucu


tiada ku jemu semua ulah tingkahmu


juga candamu yang sederhana menggodaku


engkau selalu ada hadir membawa cinta


selalu ada untukku


selalu ku rindu sebersit senyum itu


yang nakal lucu pelipur di saat sedihku


lalu katamu kau akan menjagaku


hingga tiada yang akan datang menggodaku


engkau selalu ada hadir membawa cinta


selalu ada untukku


walaupun kini kita telah beranjak dewasa


namun tiada jua berubah kasih cintamu


perhatianmu kepada diriku


engkau selalu ada hadir membawa cinta


selalu ada untukku*


mendengar lagu itu hati rania menjadi basah, ingatannya kembali ke masa bahagianya bersama abangnya.


"apa abang ingat dengan lagu ini? lagu yang mewakili kebersamaan kita dulu kak, duluuu... jauh sebelum kak kenan menjadi CEO, adek rindu waktu itu kak" gumam rania lirih dalm isaknya.


**BERSAMBUNG**

__ADS_1


ayo dong ramaikan like dan komentarnya... author perlu suntikan semangat nih..


hehehehe...


__ADS_2