Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
46. JANJI


__ADS_3

"Kak maaf adek ketiduran sampai sore" ucap Rania yang sudah berdiri di belakang Kenan yang tengah duduk santai di halaman belakang.


"Gak papa" saut Kenan singkat.


"Kak kapan kita ke rumah sakit lagi? kasihan bunda sendirian".


Apa aku cerita sekarang aja ya? gumam hati Kenan.


"Kak denger gak sih adek ngomong? ucap Rania sambil mengguncang bahu abangnya.


"ee.. apa dek?". "Kakak kok ngelamun mikirin apa?".


"Sini dek duduk dekat abang" Kenan menepuk kursi panjang disampingnya. Rania lalu duduk ditempat yang Kenan tunjukkan.


"Kak ayo ke rumah sakit kasihan bunda sendiri".


"Kita ke rumah sakitnya nanti malam aja, bunda disana sudah ada yang nemenin".


"Siapa kak?". "Nanti juga adek tahu kalau sudah di rumah sakit, yang penting sekarang abang mau cerita sama adek" ucap Kenan serius.


"Ada apa kak? jangan buat adek penasaran". "Tapi adek janji setelah ini adek akan tetap baik-baik saja".


"Iya kak tapi ada apa?". "Janji dulu sama abang, adek akan tetap baik-baik saja".


"Iya, adek janji apapun yang terjadi adek akan tetap baik-baik saja. Puas?" Rania mengerucutkan bibirnya.


Kena hanya tersenyum lucu melihat tingkah gemesnya, tapi dia percaya dengan janji adiknya.


"Dek sebenarnya ayah tidak pingsan tapi...?" kata-kata Kenan menggantung.


"Koma?" potong Rania. Kenan mengernyitkan alisnya heran, darimana adiknya bisa tahu.


Apakah dafa yang sudah memberitahunya? sungguh tidak bisa dipercaya tuh anak. Gumam hati Kenan.


"Darimana adek tahu?". "Adek sudah curiga kak, karena tidak ada orang yang pingsan lebih dari beberapa menit apalagi kondisi ayah saat ditemukan sangat parah hanya saja adek menunggu siapa yang akan ngabarin ke adek tentang kondisi ayah" ungkap Rania.


"Apa ayah bisa bangun lagi kak?". "Berdoa saja dek". pinta Kenan.


"Kak sore ini boleh adek pergi ke suatu tempat?".

__ADS_1


"Adek mau kemana? bukankah adek sudah..". "Percayalah kak, adek akan baik-baik saja" potong Rania begitu yakin.


"Baiklah tapi jangan pergi terlalu lama, sama siapa perginya? apa mau abang temenin?".


"Tidak usah kak, aku perginya sama Dafa lagipula tidak jauh".


Tiba-tiba saja Kenan teringat pesan ayahnya, jika Rania telah dijodohkan dan dia diamanahi ayahnya mengawasi semua pergaulan adiknya terutama yang berhubungan dengan lawan jenis.


"Kenapa sama Dafa? apa kalian memiliki hubungan special?" selidik Kenan datar.


"tentu adek akan pergi sama Dafa karena dia sahabat adek sejak kecil, kak Kenan tahu itu kan? kami hanya sekedar bersahabat kalau pun terjadi hubungan yang special wajar saja, iya kan?" jelas Rania sedikit kesal.


"Jangan pacaran dulu dek, abang...". "Siapa sih kak yang pacaran? cukuplah, adek gak mau denger lagi kak Kenan posesif sama adek. Capek dengernya" rutuk Rania.


"Udah sekarang adek mau pergi dulu, makin gak mood adek di rumah" Rania lalu meninggalkan abangnya.


"Jangan terlalu lama dek". "Iyaya, bawel banget sih" sungut rania yang sudah menjauh dari abangnya.


****


Sore ini Rania menghubungi Dafa via telepon, dia ingin mengajak sahabatnya itu pergi ke Lembah Danau. Pikirannya yang lagi sumpek menginginkan ketenangan walau hanya sejenak.


"Fa, anterin aku ke lembah Danau mau gak?" ujar Rania dalam sambungan telepon.


"Aku butuh udara segar Fa" suara Rania memelas. Dafa mengesah.


"Ok, apa perlu kita ajak temen-temen?". "GAk perlu Fa".


Dafa yang mengerti dengan keadaan Rania hanya mengiyakan ajakan sahabatnya.


Satu jam kemudian mereka berdua sudah sampai tujuan yang dimaksud. Rania segera turun dari mobil yang sengaja dibawa Dafa agar sahabatnya merasa nyaman.


Rania mendahului Dafa yang memarkirkan mobilnya, menuju gazebo yang biasa ditempati mereka jika datang ke Lembah Danau.


Rania duduk di tepian gazebo menatap jauh ke dalam lembah curam yang banyak dikelilingi pepohonan liar yang menjulang tinggi.


Suasananya terasa begitu hening dan damai. Kehangatan dari sinar mentari sore ini tidak lantas membuat hati Rania merasakan ketenangan. Jauh di lubuk hatinya Rania merasakan kepedihan yang teramat pilu.


Bahu Rania bergetar lembut seirama dengan isak tangisnya yang tak bersuara. Dafa mendekati sahabatnya itu seolah turut merasakan pedihnya duka yang kini melanda hati Rania.

__ADS_1


"Menangislah dalam pundakku selama yang kau mau Nia. Jika dengan menangis dapat menenangkan hatimu maka menangislah sepuas hatimu tapi berjanjilah, setelah ini kamu akan hidup bahagia dan baik-baik saja meskipun disaat kamu sedang sendiri" tutur Dafa.


"Aku tahu Nia, memang tidak mudah bagimu untuk menghadapi keadaan ini dengan kondisimu yang sekarang tapi percayalah akau akan selalu ada untukmu disetiap suka maupun dukamu" imbuh Dafa penuh rasa iba.


Rania semakin terisak tak mampu berkata-kata, sungguh bahagia hati Rania memiliki sahabat sebaik Dafa. Dia mampu memberikan ketenangan dalam diri Rania yang gundah.


"Apa salahku Fa? mengapa duka selalu menghampiriku?.


"Bersabarlah Nia, tak perduli seberapa sulit dan gelap jalan yang akan kamu lalui tetaplah berpegang pada pikiran yang memberimu kekuatan dan tinggalkan pikiran yang membuatmu lemah" tutur Dafa.


Mengapa kamu hanya ditakdirkan menjadi sahabatku Fa. Hati Rania semakin menangis.


***


Sepulangnya Rania dari Lembah Danau beberapa pekan yang lalu suasana hatinya sedikit membaik, kata-kata sahabatnya memotivasi dirinya untuk bangkit dari duka yang melanda.


Besok adalah hari kelulusan baginya walaupun suasana kali ini sedikit berbeda karena ayahnya yang belum juga bangun dari komanya.


"Ayah... besok adalah hari kelulusan adek apa ayah tidak ingin melihat?" ucap Rania menahan tangis.


"Lihat adek yah, adek sangat baik-baik saja dan adek sekarang sudah tidak manja lagi, apa ayah tidak capek bobo terus?" imbuhnya lagi.


"Bangun yah bangun, adek kangen, adek janji apapun yang ayah inginkan adek akan turuti tanpa membantah asalkan ayah bangun" tangis Rania pecah dan sesenggukan di tepi ranjang ayahnya terbaring.


Tiba-tiba tangan rudi bergerak dan matanya terbuka sempurna namun masih tak berkedip untuk sesaat. Rania yang hanya sendiri di ruangan itu karena bundanya harus istirahat lalu memanggil dokter dan suster.


"Dokter, Suster!" berulang kali Rania berteriak memanggil. Dokter dan suster berlari menuju ruang rawat Rudi.


"Ada apa nona?". "Ayah saya dokter sudah bangun dari komanya" saut Rania lalu dokter memeriksa keadaan rudi.


Semuanya normal tanpa ada yang perlu dikhawatirkan dan dokter menyatakan Rudi telah bangun dari komanya, namun dokter mengingatkan untuk tidak mengajak pasien berbicara dulu.


"Biarkan tuan Rudi istirahat nona, jangan diajak bicara dulu karena tuan masih dalam proses pemulihan" jelas dokter.


"Baik dokter" jawab Rania senang.


"Nanti akan ada suster yang membantu memindahkan tuan Rudi ke ruang inap VVIP" ungkap dokter.


"Terimakasih dokter".

__ADS_1


Rania lalu melihat ayahnya yang masih terbaring lemah tanpa alat-alat bantu lagi karena Rudi telah siuman.


***BERSAMBUNG***


__ADS_2