
Hari ini, Rania membuka jendela matanya menatap cerahnya mentari, ada sedikit sesal dihatinya karena selama ini hatinya hanya disibukkan dengan kesedihan.
Tanpa bisa dapat menikmati indahnya alam dengan baik. Dia harus banyak belajar dengan alam untuk menjadi tegar, seperti halnya matahari yang selalu saja setia menyinari bumi disetiap waktunya. Meskipun terkadang bumi menutupi cahayanya dengan awan mendung, namun matahari tidak bersedih, dia tetap saja menyinari bumi dengan caranya sendiri.
"aku harus seperti matahari yang selalu memberikan kebaikan tanpa harus merasa sedih, hatiku harus setegar karang". Bathin Rania memotivasi dirinya sendiri.
Lalu dengan kesadaran penuh, Rania melangkahkan kakinya yang jenjang menuju kamar mandi, karna hari ini perkuliahan sudah dimulai kembali setelah sebulan lebih diliburkan.
Setelah hampir satu jam berjibaku dengan air, Rania langsung menuju ruang walk in closetnya, kemudian setelahnya dia merias wajahnya senatural mungkin dengan penampilan seperti biasanya jika dia berangkat kuliah.
Meski penampilannya culun namun garis wajah cantiknya tetap mempertegas wajahnya yang memang benar-benar cantik.
Penuh semangat Rania mengawali paginya hari ini. Rania menuruni anak tangga menuju ruang makan untuk sarapan bersama ibu dan abangnya.
"Selamat pagi sayang", sapa Sintia saat melihat Rania menghampiri.
"Pagi bunda, selamat pagi kak", sapa Rania pada abangnya.
"Pagi dek, ayo duduk kita sarapan bareng", ajak Kenan pada adiknya.
Rania lalu duduk disamping kursi abangnya, lalu mengambil sepotong sandwich sebagai menu sarapannya pagi ini.
"Kak, hari ini antar adek ke kampus bisa?", tanya Rania sambil menggigit rotinya.
Byyurrr.... Kenan yang tengah minum itupun lalu menyemburkan kembali air dimulutnya.
"Abang! basah nih baju bunda", sentak Sintia kaget saat Kenan menyemburkan air kearahnya.
"Maaf bunda, Abang tidak sengaja, habis adek membuatku terkejut bunda", saut Kenan merasa bersalah atas peebuatannya.
"Loh kok Adek yang disalahin, kan kak Kenan yang nyembur bunda pakai air" oceh Rania tidak terima disalahkan.
"Ya jelaslah, karna adek buat abang terkejut, tiba-tiba minta abang untuk mengantarkan adek ke kampus, ada angin apa coba!", jelas Kenan.
"Oh.. Jadi kak Kenan gak mau ngantar adek ke kampus? ya sudah adek bisa sendiri", ujar Rania sedikit ngambek.
"Bukan begitu dek, abang mau kok nganterin adek, abang hanya terkejut saja, karena selama ini adek selalu menolak bila ingin abang antar", ungkap Kenan.
Rania yang mendengarkan penjelasan dari abangnya hanya nyengir kuda, merasa malu.
Lalu sarapan pun dilanjutkan.
*****
Rania turun dari mobil abangnya, setelah sampai di gerbang kampus.
"Setelah selesai kuliah, jemput adek lagi ya kak?", ujar Rania mengingatkan abangnya.
"Siap tuan putri, nanti telpon abang aja, kalau sudah tidak ada kelas", jelas Kenan.
__ADS_1
"Baiklah, selamat pagi kak", ucap Rania lalu meninggalkan abangnya.
"Pagi sayang, semoga harimu menyenangkan", saut Kenan lirih.
Lalu Kenan melajukan mobil sportnya menuju kantor.
"Apa hubungan Ran dengan Kenan", tanya Kevin pada dirinya sendiri.
Ternyata Kevin menyaksikan cengkrama antara kakak baradik itu, namun dia tidak mengetahui apa yang dibahas mereka.
Kevin segera memasuki area parkir mobil khusus dosen. Lalu bergegas keluar dari mobil, untuk mengejar Rania.
Namun Rania yang telah lebih dulu masuk kearea kampus, telah menghilang dipersimpangan koridor antara ruang kelas dengan ruang kantor dosen.
"Ciiieeee... Dianterin siapa tuh", goda Chika.
"Hah, kamu lihat!", selidik Rania.
"Tahu dong, bahkan si nenek lampir juga melihatnya", ungkap Chika.
Nenek lampir julukan buat Nadia, seorang senior yang suka membuat keributan dengan Rania.
"Beneran dia tadi lihat aku bersama kak Kenan? bakalan heboh nih kampus", ujar Rania santai.
"Jadi, kamu diantar sama abangmu? kirain ma siapa", celetuk Chika.
"Ya kan siapa tahu kamu dianterin ma calon imammu, aku denger dari Nathan kamu dijodohin, kali aja itu dia", ungkap Chika sembari tertawa kecil.
"Kamu benar aku emang dijodohin, tapi gak jadi, aku ditolak", saut Rania santai.
"Serius! cewek secantik lo ditolak?", ujar Chika tertahan. Rania hanya mengangguk santai.
Tidak ada raut kesedihan terlihat diwajahnya. Seperti yang pernah terlihat sebelum ini. Rania telah berjanji pada dirinya sendiri, mulai saat ini dia tidak akan memperlihatkan kesedihannya lagi.
Saat mereka sedang asyik menceritakan pengalaman liburannya sebulan yang lalu, masuklah Nathan dkk menghampiri keduanya.
"Sedang bahas apa ni?", tanya Nathan.
"Biasa cerita tentang liburan sebulan yang lalu", saut Rania.
"Oh... Iya sayang banget ya kalian tidak ikut bersama kami", oceh Nathan.
"Jadi, sahabat-sahabat yang kamu ceritakan saat liburan bersamamu itu salah satunya Nathan, Ran?", selidik Chika.
"Iya, salah satunya dia", saut Rania menunjuk dengan ujung dagu.
"Jangan bilang, kamu kemarin langsung cabut gak jadi liburan bareng kita, karena kamu pergi liburan bareng Ran", ungkap Rio.
Nathan hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan sahabatnya.
__ADS_1
"Apa Nathan menaruh rasa pada Ran? dari cara Nathan melihatnya nampak jelas jika hati Nathan telah berpenghuni, sungguh aku tidak
mempunyai kesempatan dan mana mungkin mampu, aku bersaing dengannya". Chika.
"Kita ke kantin aja yuk!", celetuk Rasya. Seketika lamunan Chika pun buyar.
"Yuk, kebetulan aku juga laper belum sarapan dari rumah", saut Nathan.
"Kalian aja, aku sudah sarapan tadi dirumah", ujar Rania menolak untuk pergi ke kantin.
Detik kemudian, Nathan dkk beserta Chika pergi bersama menuju kantin setelah Rania menolak untuk ikut.
Suasana kelas seketika hening tanpa ada mahasiswa seorangpun, hanya tinggalah Rania yang tengah duduk sendiri di dalam kelas.
Nadia dkk yang memang suka membuat onar, pagi itu pun dia sudah memulai aksinya dengan mendatangi Rania.
"Heh cewek binal, lo ngaca ya ma muka lo yang sok cantik itu, lo pikir dengan muka culun lo, lo bisa gaet laki mana pun, hah!", oceh Nadia saat tiba diruangan kelas Rania.
"Kamu kenapa sih, suka banget cari masalah sama aku", saut Rania santai.
Nadia merasa emosinya tersulut karena lawan yang dianggapnya lemah ternyata berani menyahutnya.
"Kesalahan lo kali ini, lo berani-beraninya satu mobil dengan pengusaha muda billionere penguasa negeri ini, paham lo", tukas Nadia.
"Salahnya dimana? masalah buat kamu?", saut Rania tenang.
"Salah banget dan ini sangat fatal, karena sangat memalukan bagi keluarga mereka berdekatan dengan cewek culun kayak lo", umpat Nadia.
"Gue rasa lo pasang badan lo untuk ngedeketin tuh CEO muda, karna kalau gak, mana mungkin tuh CEO bisa satu mobil dengan cewek culun kayak lo, berapa lo dibayar semalam hah! gak nyangka selera CEO muda itu rendah juga", lanjut Nadia melancarkan aksinya.
"Cukup! aku bilang cukup ya cukup, jangan kamu terusin, sebelum kesabaranku habis", ujar Rania kesal.
"Kenapa lo malu, ketahuan jadi *****?", celetuk Nadia.
"Kamu akan benar-benar menyesal kali ini, lihat saja apa yang bisa aku perbuat untuk kalian, terutama kamu", sungut Rania geram.
"Kita lihat aja, lo bisa apa, gue mau tahu usaha lo melawan gue", tantang Nadia.
"Baik, lihat saja tanggal mainnya dan disaat itu sudah tidak ada maaf buat kalian apalagi kamu", tunjuk Rania pada Nadia.
"Huuuu takut", ejek Nadia lalu pergi meninggalkan Rania sendiri.
****
***BERSAMBUNG***
HAPPY READING
Jangan lupa tinggalkan jejakmu
__ADS_1