
"Adek rasa, kakak mengenal orang tuanya", ujar Rania.
"Memangnya siapa yang sudah berani mengusik keluarga kita dek", saut Kenan semakin dibuat penasaran.
"Kak Kenan tenang saja, kali ini adek gakkan tinggal diam, lihat saja nanti kakak juga akan tahu siapa orangnya yang sudah berani mengusik Rania Cahaya Atmaja", jelas Rania serius.
Kenan terus membelah jalanan kota, melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Hatinya sedikit bergemuruh mendengar penjelasan dari adiknya, karena selama ini keberadaan adiknya selalu saja merasa terancam.
Sebagai seorang lelaki yang memiliiki tanggung jawab terhadap adiknya, dia merasa gagal menjadi pelindung yang baik untuk Rania.
*****
Sore hari saat Rania sedang duduk santai di tepi kolam renang, Kenan datang menghampirinya.
"Dek hubunganmu selama ini dengan Kevin bagaimana?", tanya Kenan hati-hati.
"Maksud kak Kenan hubungan yang mana?", saut Rania yang merasa ambigu dengan pertanyaan abangnya.
"Ya semuanya", ucap Kenan.
"Hubunganku dengan Kevin, gak ada yang berubah, dan adek gak mau merubahnya demi alasan apapun", jelas Rania kesal.
"Dek, bagaimana jika Kevin menyukai Ran bukan Nia?", celetuk Kenan.
"Maksud kak Kenan? adek gak ngerti", ucap Rania bingung.
"Iya maksud abang, bagaimana kalau alasan dia menolak Nia itu karena dia menyukai Ran, yang ternyata Nia dan Ran adalah orang yang sama namun penampilannya saja yang berbeda", jelas Kenan.
"Itu gak mungkin kak", elak Rania.
"Bisa saja dek, apa kamu tidak melihat ada sedikit perbedaan pada dirinya, misalnya cara dia memperlakukan kamu, atau cara dia menatap atau sebagainya, yang menunjukkan sikap ketertarikannya dia terhadap adek", selidik Kenan.
Tiba-tiba pikiran Rania membawanya ke beberapa jam yang lalu, tepatnya di kampus tadi pagi.
Pagi tadi senyum Kevin memang sedikit berbeda terhadapnya, seperti senyum seorang kekasih yang rindu pada kekasihnya dan akhirnya bertemu.
"Hmm.. yang diajak ngobrol malah bengong, ngelamunin apa.dek?", ujar Kenan langsung membuyarkan lamunan adiknya.
"Gak ada apa-apa kak", saut Rania asal.
Apa benar kak Kevin suka sama aku yang culun?, bathin Rania.
"Ye ngelamaun lagi, mikirin apa sih dek?", ucap Kenan penasaran.
__ADS_1
"Apaan sih kak, kepo deh", celetuk Rania sedikit kesal.
"Ya sudah Abang pergi aja", ucap Kenan beranjak pergi meninggalkan adiknya.
" Kak Kenan mau kemana?", tanya Rania saat melihat abangnya beranjak pergi.
"Abang mau antar bunda arisan di komplek sebelah, adek mau ikut?", tanya Kenan balik.
"Gak ah, adek di rumah aja", jawab Rania.
Kenan pun berlalu meninggalkan adiknya sendirian di halaman belakang rumahnya.
****
Setelah kejadian perkelahian beberapa hari lalu yang dialami oleh adiknya, Kenan semakin waspada terhadap keselamatan adiknya.
Rania kini setiap paginya dijemput oleh Nathan, keselamatan adiknya Kenan percayakan kepada Nathan sahabat adiknya sekaligus anak angkat mendiang ayahnya.
"Assalamu'alaikum", sapa Nathan pagi ini ketika sudah sampai di rumah Kenan.
"Wa'alaikumsalam" saut Sintia.
"Nathan!, ayo masuk nak, sekalian kita sarapan bersama kebetulan Rania juga belum turun", ajak Sintia.
"No, jangan panggil Tante tapi Bunda, oke", pinta Sintia.
"Baik Tan, eh Bunda maksud Nathan", ucap Nathan kaku.
Tak lama kemudian Kenan dan Rania turun untuk sarapan bersama setelah selesai sarapan, Rania kemudian pamit untuk berangkat ke kampus bersama Nathan.
Lalu Kenan pun berangkat ke kantornya setelah adiknya pamitan lebih dulu.
Setibanya di kampus semua mata tertuju pada dua insan yang berjalan beriringan, tak terkecuali Kevin yang sengaja datang lebih awal untuk dapat segera bertemu dan melihat pujaan hatinya.
Tidak sedikit mahasiswa yang berbisik tentang mereka, ada yang berbisik mendukung keduanya jika ada hubungan spesial diantara mereka.
Ada juga yang menatap tak suka jika diantara keduanya terjalin kisah kasih asmara, termasuk dengan Kevin yang juga tidak suka dengan apa yang kini dilihatnya.
Keduanya terpisah di persimpangan koridor, karena kelas dan tingkatan semester mereka yang berbeda.
"Nanti kalau kelas sudah selesai jangan pulang duluan, tunggu aku ya Ran", ujar Nathan mengingatkan sahabatnya sebelum berpisah.
"Iya, aku akan menunggumu puas!, bawel banget sih jadi sahabat", saut Rania sambil ngedumel.
__ADS_1
Nathan hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang menggemaskan.
Lalu keduanya menuju kelasnya masing-masing, yang berbeda arah.
Di dalam kelas, seluruh teman mahasiswanya bersorak sorai menyambut kedatangan Rania, yang dianggap mereka sangat beruntung dapat dekat, bahkan satu mobil dengan idola kampus mereka.
Nathan yang memiliki paras yang rupawan membuatnya sangat dielu-elukan oleh mahasiswi di kampusnya, sikapnya yang ramah dan suka menolong membuatnya semakin digandrungi dan populer di kampus.
"Cie yang lagi deket sama pangeran kampus, ehem-ehem", goda teman sekelas Rania.
"Kalian apaan sih, biasa aja kalik", saut Rania yang tersipu.
Namun berbeda dengan Chika sahabatnya, dia sedikit terlihat kurang suka dengan apa yang diungkapkan oleh teman-temannya.
Rania dapat melihat, rona wajah sahabatnya yang kurang suka dengan apa yang terjadi pagi ini.
"Kamu kenapa Chik?", tanya Rania pura-pura tidak tahu.
"Gak apa-apa", saut Chika berusaha bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa di dalam hatinya.
Padahal dalam hati Chika, dia merasakan sakit yang amat sangat karena pria yang selama ini menjadi tambatan hatinya tengah dekat bahkan akrab dengan sahabatnya, meski dia pun tahu jika sebenarnya Rania dan Nathan telah bersahabat sejak lama.
Tapi hatinya yang tengah dibakar api cemburu tidak dapat melihat hubungan itu diantara mereka.
Apakah Nathan menyukainya?, jika benar Nathan menyukainya, wajar saja karena Rania gadis yang baik dan juga memiliki segalanya dibandingkan dengan aku yang hanya seorang gadis biasa. Bathin Chika berargumen.
"Chik, beneran kamu gak apa-apa?", selidik Rania.
"Iya aku gak apa-apa RAN", saut Chika asal.
Tak lama kemudian jam kuliah pun dimulai, Kevin merupakan dosen yang mengisi jam pertama pagi ini.
Selama mengajar pandangan Kevin selalu tertuju pad Rania yang tengah fokus mendengarkan tanpa menyadari pandangan Kevin yang terus tertuju padanya.
Namun Chika menyadari itu, ditatapnya secara seksama berusaha mengartikan arti dari pandangan dosennya terhadap wanita sederhana yang duduk disampingnya.
Apakah pak Kevin juga menyukai Ran? aku tidak mungkin salah menduga, karena tatapannya seperti orang yang sedang jatuh cinta, beruntung sekali kamu Ran, disukai oleh dua pria tampan sekaligus dengan kelebihannya masing-masing. Batin Chika semakin bergemuruh.
Namun secepatnya Chika menepis rasa cemburunya, karena tak mungkin baginya untuk bersaing dengan adik kesayangan orang yang memiliki pengaruh dalam dunia bisnis.
Lamunan Chika seketika buyar kala dosen yang mengampu mata kuliah pagi ini menutup pertemuannya dengan sapaan dan senyuman manis yang ditujukan untuk seseorang yang sangat spesial.
****BERSAMBUNG*****
__ADS_1