Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
2. PERSIAPAN


__ADS_3

"Adek sedih kalau harus berpisah jarak lagi dengan kakak, dengan adanya kakak adek merasa punya temen ketika adek berada di rumah, karna sahabat adek tidak selalunya bersama adek, mereka punya keluarga yang harus dikunjungi saat liburan, seperti saat ini". Gumam Rania lirih dalam hati.


**********************************************


Setelah pergulatan bathin yang menguras fikirannya, Rania menyadari bahwa sebagai putra sulung dalam keluarga, sekaligus anak lelaki satu-satunya sebagai penerus keluarga ATMAJA, keberadaan abangnya sungguh sangat diharapkan keluarga, terutama oleh ayah mereka. Abangnya memang harus terjun langsung dan terlibat dalam mengambil suatu keputusan di Perusahaan yang telah membawa pengaruh besar untuk kehidupan keluarganya.


"Kak, berangkatlah dan jadikanlah perusahaan ATMAJA COMPANY semakin berjaya di bawah kepemimpinan kakak, adek berdoa semoga kak kenan jadi pemimpin yang adil, bijaksana selalu berpihak pada kebenaran". Tutur Rania mencairkan suasana penuh dengan kedewasaan.


"Adik abang sejak kapan sih menjadi sedewasa ini dan makin cantik". Kenan mencubit lembut pipi kiri kanan adiknya gemas.


"Abang akan menjadi pengusaha muda yang sukses, seperti yang adek mau dan yang diharapkan oleh orang tua kita". Lanjut kenan meyakinkan adiknya. Rania pun tersenyum.


"Kak, kita nonton yuk? adek dah lama gak nonton, kebetulan kakak belum berangkat ke Jakarta, mau ya?".Ajak Rania manja dan mengedipkan kedua matanya.


"Ok, let's go" jawab Kenan yang tidak mungkin menolak ajakan adik kesayangannya. Lalu Kenan pun menarik lengan adiknya untuk segera beranjak dari tempat itu.


Kedua saudara itu pun beranjak pergi untuk siap-siap pergi menonton, tiba di ruangan keluarga langkah Rania terhenti melihat kedua orang tuanya baru pulang dari kantor.


"Bunda sudah pulang? apakah bunda sakit?". Sapa Rania berjalan menuju sofa, lalu kemudian duduk di samping ibunya sambil memijat pundak ibunya.


"Bunda sehat sayang, hanya bunda sedikit letih tadi di kantor banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dengan segera". Jelas Sintia dengan lembut.


"Kenapa harus buru-buru bunda? kantor cabang itu kan milik kita, ingat jaga kesehatan bunda". Ujar Rania khawatir mengingat kesehatan bundanya sedikit terganggu.


"Terima kasih nak, sudah mengkhawatirkan bunda, tapi memang harus segera selesai karena persiapan untuk mengangkat abangmu menjadi CEO sebentar lagi".


"Apakah kita juga ikut ke Jakarta bersama ayah dan kak Kenan, bunda?".


"Iya sayang, akhir pekan depan kita berangkat". Jawab Sintia dan diangguki Rania.


"Bunda, hari ini adek mau nonton sama kak Kenan, sekalian makan di luar, boleh ya bunda?". Izin Rania pada ibunya dan disetujui oleh Sintia.


"Tapi jangan pulang larut malam, meskipun adek libur sekolah tidak baik anak gadis pulang terlalu lewat malam, dan untuk abang, jaga adek baik-baik".


"Siap... abang akan jaga adek dengan baik, bunda, ayah di mana? sejak tadi abang tidak melihat ayah". Tanya Kenan sambil mencari sosok yang dia tanyakan.


"Ayah di ruangan kerjanya, menyelesaikan sisa pekerjaannya yang belum sempat diselesaikan di Kantor".

__ADS_1


"Bunda kita berangkat dulu ya, assalamualaikum".


"Walaaikumsalam".


***


Sesampainya di pusat perbelanjaan yang terkenal di Kalimantan, Kenan memarkirkan mobil sportnya yang telah disediakan oleh pihak Mall setempat.


Keduanya turun dari mobil dan berjalan santai di tengah kerumunan orang banyak. Melihat orang ramai yang lalu lalang, Kenan langsung menggenggam erat tangan adiknya agar tidak terlalu jauh ketinggalan dari dirinya.


Banyak orang yang melihat kearah mereka yang sekedar mengagumi pesona keduanya cantik dan tampan. Ada yang cemburu terhadap Rania bahkan ada yang sinis melihat Rania, yang menurut mereka beruntung bisa berjalan beriringan dengan calon penerus perusahaan ATMAJA COMPANY.


Rania yang merasa ditatap dengan berbagai ekspresi bukannya risih malah semakin bergelayut mesra ditangan abangnya.


"Adek kenapa?". Tanya Kenan yang merasa heran dengan tingkah adiknya.


"Gak papa, adek cuma gak mau kakak di goda sama cewek-cewek genit itu". Menunjuk dengan ujung dagunya ke arah para wanita yang berusaha menggoda abangnya.


Namun Kenan tidak tertarik sedikitpun untuk menanggapinya, tatapannya yang dingin dan tajam menusuk sudah mewakili perasaannya.


Kenapa adikku begitu manis dan makin menggemaskan ketika manja seperti ini, senyuman itu semoga selalu terukir diwajahmu adikku sayang, abang janji tidak akan membiarkanmu menangis. Gumam Kenan dalam hati.


"Aww... sakit dek". Sambil mengusap lengan yang dicubit adiknya.


"Salah sendiri pake ngelamun, mikirin apa sih, sampai gak jawab panggilan adek?". Gerutu Rania kesal. Kenan pun mengangkat bahunya sebagai jawaban.


"Ayo kak beli tiketnya, adek dah gak sabar mau nonton".


"Loh kok langsung mau nonton aja, gak beli cemilannya dulu dek?".


"Adek dah beli kak, gak lihat nih". Menunjukkan barang yang ada ditangannya.


"Kapan adek beli?".


"Tadi waktu kak Kenan ngelamun". Berlalu pergi mendekati loket penjualan tiket.


Ternyata senyum adek mengalihkan dunia abang, gumam Kenan lirih yang masih bisa di dengar oleh Rania.

__ADS_1


"Apa? jadi kak Kenan ngelamun hanya karna lihat aku tersenyum, adek janji kak jika senyum adek bisa bikin kakak bahagia adek akan selalu tersenyum untuk kakak". Kenan pun hanya tersenyum mendengar ucapan adiknya.


*A*dek janji kak, adek akan selalu tersenyum sesulit apapun itu. Ini janji adek untuk kak Kenan**. Gumam bathin Rania.


Setelah nonton mereka pun langsung pulang, mereka tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir, terutama sang bunda.


***


Setibanya di rumah, Kenan diminta ayahnya untuk menemuinya di ruang kerjanya.


"Abang, ayah menunggumu di ruang kerja, sepertinya ada hal penting yang ingin di sampaikan". Tutur Sintia pada Kenan yang baru pulang.


"Baik bun, abang akan segera menemui ayah, adek langsung aja ke kamar istirahat". Kenan langsung pergi menemui ayahnya.


"Bunda, ada apa? kenapa ayah panggil kak Kenan?".


"Bunda juga tidak tahu, sebaiknya adek istirahat, bunda juga mau istirahat".


"Selamat malam bunda, selamat beristirahat". Ucap Rania pada ibunya sambil mencuim kedua pipi ibunya.


***


Di ruang kerja Rudi...


Tok...tok...tok... Suara pintu diketuk, 'masuk' terdengar jawaban dari dalam. Kenan pun masuk ke ruangan kerja ayahnya dan memperlihatkan sosok yang gagah meskipun tak lagi muda duduk di kursi kebesarannya.


"Selamat malam ayah". Sapa Kenan sopan pada ayahnya.


"Malam nak, apakah abang baru pulang? adikmu sudah tidur". Pertanyaan marathon Rudi kepada anaknya.


"Iya ayah, abang baru saja sampai dan langsung menemui ayah, kalau adek tadi sudah abang suruh istirahat".Jelas Kenan pada ayahnya.


"Abang, sekarang ayah tidak ingin lagi berbasa basi padamu, kamu sudah seharusnya menggantikan posisi ayah di kantor pusat, karna ayah...". Kalimat Rudi menggantung merasakan sesak mendera dalam hatinya.


"Ayah kenapa?". Tanya Kenan khawatir melihat raut wajah ayahnya yang berubah.


***BERSAMBUNG***

__ADS_1


dukung author, dengan vote dan like ya..


😘😘😘


__ADS_2