Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
97. HUBUNGAN SPESIAL...


__ADS_3

"Jadi, Ran adalah Nia adiknya Kenan, gadis yang pernah aku tolak cintanya, demi gadis yang ternyata itu adalah dirinya sendiri!" seru hati Kevin.


"Mengapa saat malam itu tidak aku ceritakan saja pada keluarga mereka dan kedua orang tuaku, jika aku jatuh cinta pada sosok gadis yang tak lain adalah Nia, aku telah salah menilainya selama ini, ternyata dia gadis yang tangguh dan mandiri, masih bisakah bagiku untuk kembali?" lanjut Kevin dalam hati penuh sesal.


Gelisah yang dirasakan oleh Kevin, juga dirasakan oleh Nadia, namun dalam kasus yang berbeda. Pikiran Nadia mengulik kembali kebelakang, mengingat semua kejadian yang pernah Ia lakukan bersama kedua sahabatnya kepada gadis culun yang tak lain adalah adik kesayangan dari pengusaha muda billionere negeri ini.


Secara bersamaan titik fokus Kevin dan Nadia pun buyar, kala suara lantang dan tegas Rania, menyebutkan hal kedua yang masih mengusik hatinya.


"Kedua, saya akan mengusut orang-orang yang memiliki potensi merusak image buruk pada perusahaan Atmaja Company." ungkap Rania.


Nadia semakin dibuat gelisah dengan pernyataan yang baru saja diungkapkan Rania. Dia membayangkan jika ucapan Rania benar-benar terwujud maka bisa dipastikan kehidupannya di masa mendatang akan penuh dengan kesuraman.


Di sisi lain, seorang pria yang paruh baya tengah gelisah, keringat pun membanjiri tubuhnya yang gempal. Pria ini tidak menyangka jika gadis yang akan dia celakai merupakan gadis yang selalu menjadi trending topik dan wajahnya selalu berada disampul cover majalah.


Tanpa diduga, ditengah-tengah kursi para tamu undangan, seorang gadis dengan raut penuh kegelisahan bangkit dari tempat duduknya, bergegas mendekati podium tempat dimana Rania berdiri. Gadis itu tidak lain adalah Nadia.


"Rania please, maafkan aku" ucap Nadia menghiba.


"Untuk apa!, bukankah aku sudah pernah bilang padamu, untuk akui semua kesalahanmu dan minta maaflah padaku sebelum datangnya pengadilan ku, tapi apa, kamu tidak mengindahkan peringatan ku, malah kamu semakin gencar menyakitiku, kamu masih belum puas dengan menyakiti aku, lalu kamu libatkan ayahmu yang notabenenya rektor di kampus kita untuk memuluskan rencana mu, iyakan?" hardik Rania.


Sesaat mata Nadia terbelalak, di semakin merasa bersalah dan tak dapat berkelit lagi.


"Aku tahu semua rencana mu Nadia, bahkan aku sengaja mengadakan pesta ulang tahun ini agar kamu masuk lebih dalam ke perangkap yang sengaja aku buat, dengan begitu aku akan lebih mudah untuk mengungkapkan kejahatan mu." lanjut Rania.


Dahi Nadia berkerut, ada kebingungan tersirat dalam raut wajahnya.


"Kenapa kamu bingung, jawabnya mudah sekali, hatimu yang dipenuhi rasa iri dan dengki terhadap orang lain, itu akan memudahkan mu untuk terperosok kedalam kubang kejahatan, jelas!" sungut Rania menahan amarah.


"Jadi kamu yang selama ini mencoba untuk mengusik ketenangan keluarga Atmaja!" bentak Kenan kepada ayah Nadia.


Gelegar suara Kenan sontak saja membuat para tamu undang terkejut, tak terkecuali Kevin, dia tidak menyangka amarah sahabatnya itu sangat menakutkan, kini dia baru tahu sisi lain dari sahabatnya.


Selama ini, dia hanya mendengar saja kabar tentang sahabatnya yang sangat kejam dan bengis, terhadap semua orang yang berusaha menyakiti keluarganya.

__ADS_1


Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk mendekati adiknya? racau hati Kevin.


"Maafkan saya Tuan, saya tidak tahu jika gadis culun itu adik kesayangan Tuan" ujar ayah Nadia gemetar.


"Oh, jadi jika dia bukan adikku kamu bisa seenaknya menindas dia!" geram Kenan.


"Mulai saat ini, aku tidak mau melihat kamu dan keluargamu di kota ini, bagaimanapun caranya kamu tinggalkan kota ini" lanjut Kenan.


"Ampuni kami Tuan, bagaimana kami akan bertahan hidup?" tutur ayah Nadia.


"Seharusnya kamu pikirkan hal itu sebelum kamu melakukan hal-hal yang akan merugikan kehidupanmu, apalagi itu hanya permintaan dari anak manja yang mengandalkan jabatan orang tuanya" sungut Kenan menatap sadis ke arah Nadia.


"Rania, sekali lagi aku mohon ampuni aku" Nadia bersimpuh.


"Sayangnya terlambat, saat ini bukan waktunya bagiku untuk memaafkan tapi mengadili, ini juga berlaku untuk orang-orang yang telah menyakitiku" sahut Rania.


Seketika itu juga awan mendung seakan mengitari kepala Kevin, harapannya sirna, tidak ada kesempatan kedua baginya.


Nadia semakin terpuruk begitu juga dengan kedua sahabatnya, keduanya saling mengutuki perbuatannya terhadap Rania.


***


Keesokan harinya, setelah acara pesta ulang tahun Rania usai, Mela sahabat Rania berpamitan untuk kembali melanjutkan studinya di negara tetangga.


"Apakah kamu tidak mau tinggal dulu sebentar dalam sehari atau dua hari lagi, Mel?" tanya Rania.


"Sebenarnya aku ingin Nia, tapi aku tidak ingin terlambat dalam studi ku, apalagi disana akan memasuki musim dingin, aku khawatir akan ada badai salju yang akan menunda perjalananku, kuharap kau mengerti Nia," sahut Mela.


"Baiklah, aku mengerti Mel, kamu hati-hati disana, jangan lupa seringlah mengirim e-mail untukku," ujar Rania dengan berat hati.


"Itu pasti, aku akan selalu mengabari mu, jaga dirimu baik-baik" ucap Mela sambil memeluk sahabatnya.


Rasa haru biru, itupun dirasakan oleh Sintia yang sejak tadi memperhatikan keduanya, Kenan pun diam-diam turut larut dalam suasana yang begitu mengharukan.

__ADS_1


"Perpisahan kita hanya sementara Nia, nanti jika kita sudah selesai dengan studi kita masing-masing pasti kita akan berkumpul lagi," ujar Mela.


"Iya, aku juga menanti saat-saat itu tiba, kita berkumpul bersama lagi seperti dulu, ada aku, kamu, Ayu, Dafa dan Nathan, pasti seru" sahut Rania semangat.


"Dafa dan Ayu!, kamu masih ingat dengan mereka?" tanya Mela.


"Tentu, mereka sahabat kita," jawab Rania pasti.


"Ingat Nia, mereka sudah meninggalkan kita, mereka sudah tidak peduli lagi dengan kita, terakhir Dafa meninggalkan kita tanpa pesan apapun darinya, Ayu juga sama, dan kamu masih mengharapkannya!" pekik Mela.


"Aku masih mencintainya" ucap Rania.


"Tapi dia sudah tidak mencintaimu, dia telah memiliki tambatan hati" sahut Mela.


"Dari mana kamu tahu?, bukankah kita tidak mengetahui dimana dia sekarang, aku tahu Dafa, dia tidak mungkin semudah itu melupakan ku" tutur Rania.


"Dafa sekarang sudah berubah Nia, dia bukan Dafa yang kita kenal, aku pernah bertemu dia saat aku liburan di musim panas sebelum aku pulang ke tanah air, saat itu kami bertemu di Praha, kota saat ini dia tinggal, kamu tahu aku bukan hanya bertemu dengan dia tapi juga bertemu dengan Ayu dan mereka dengan nyata memperlihatkan kemesraan mereka layaknya orang-orang yang memadu kasih di Negara itu," ungkap Mela.


"Mereka menjalin hubungan yang spesial Nia, mereka sepasang kekasih," lanjut Mela.


Tanpa terasa airmata Rania, keluar meloloskan diri dari persembunyiannya, hatinya terasa sakit, saat harapannya mulai tumbuh kembali, kini dia harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa harapan itu layu sebelum di perjuangkan.


"Maafin aku Nia, aku hanya tidak ingin kamu berharap terhadap hal yang tidak pasti," ujar Mela.


"Tidak Mel, kamu tidak salah, aku sngat berterimakasih pada mu," ucap Rania sambil menyusut air matanya.


***Bersambung***


happy reading..


salam manis๐Ÿ˜˜


by rose_daylin

__ADS_1


__ADS_2