Adik Seorang CEO

Adik Seorang CEO
78. PERTEMUAN


__ADS_3

"Kita ke Rumah Sakit, wajah adek pucat sekali". Ajak Kenan panik.


"Tidak perlu kak, Adek hanya perlu udara segar, nanti setelah perawatan di Salon kecantikan pasti wajah adek fresh kembali". Jelas Rania malas.


"Apa adek yakin?". Rania mengangguk.


Akhirnya Kenan membawa ibu dan adiknya pergi ke Salon kecantikan langganan ibunya. Sesampainya ditempat itu, mereka disambut dengan ramah dan dilayani dengan baik, karena yang datang adalah dua wanita kesayangan penguasa negeri ini.


Rania yang wajahnya sudah cantik alami sejak lahir, tidak terlalu banyak menggunakan polesan diwajah, cukup dengan make up tipis sudah membuatnya cantik natural, warna bibirnya yang bersemu merah, dipadupadankan dengan dress berwarna biru laut selutut tanpa lengan, bawahannya yang membentuk hauruf A menambah kesan cantik dan anggun.


Rambut hitam panjangnya yang digerai dengan kedua sisinya diikat kebelakang, tampak terlihat sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih mulus.


Kenan dan Sintia tampak takjub dengan kecantikan Rania, wajah Rania yang pucat pasi telah disulap menjadi sangat cantik dan terlihat lebih fresh.


"Ternyata adek benar, setelah melakukan perawatan adek terlihat lebih fresh dan semakin cantik". Ungkap Kenan.


"Terimakasih kak, tapi sebaiknya kakak jangan terlalu memuji adek, nanti adek bisa terbang tanpa sayap". Rania tertawa seolah melupakan kondisi tubuhnya yang semakin melemah.


"Abangmu benar nak, kamu terlihat sangat cantik, pasti calon mertua dan suamimu akan kagum dan terpana melihatmu malam ini". Timpal Sintia seraya tersenyum


"Apakah kita hanya akan berdiri disini saja?". Tanya Rania mengingatkan.


"Ayo bunda nanti kita telat, Apakah mereka sudah datang bunda?". Tanya Kenan ingin memastikan.


"Pesawat mereka tiba tadi sore, jadi pasti mereka sekarang sudah dalam perjalanan menuju restoran yang sudah kita pesan".


"Masih ada waktu tiga puluh menit, sebelum acara makan malamnya dimulai". Ujar Kenan sambil melihat jam tangannya.


"Apakah kita akan telat samapai disana?". Tanya Sintia mulai gelisah.


"Tidak bunda, kita hanya memerlukan waktu sekitar dua puluh menit dari sini, ayo kita berangkat sekarang!". Ajak Kenan.


Sintia masuk ke dalam mobil, sementara Rania sudah duduk manis di jok belakang kemudi mobil, dengan sikap diamnya.


*****


Setibanya di restoran yang dituju, ternyata keluarga Kevin telah datang lima menit sebelum keluarga Rania datang.


"Hanum, Ounur, kalian sudah sampai, Kevin mana aku tidak melihatnya?". Sapa Sintia.

__ADS_1


Kak kenapa ada tante Hanum dan om Ounur? apa bunda juga mengundang mereka?. Bisik Rania pada Kevin, dan yang ditanya hanya menggidikkan bahu.


"Kevin baru lima menit yang lalu pergi ke toilet". Saut Hanum.


"Assalamu'alaikum Tante, Om". Sapa Kenan pada keluarga sahabat ibunya.


"Wa'alaikumsalam nak, kamu terlihat tampan dan gagah malam ini". Ujar Ounur.


"Apa Kevin juga ikut?". Selidik Kenan.


"A......Tentu dia ikut, hanya saja dia masih di toilet". Saut Hanum.


"Apa gadis cantik ini Rania?". Tanya Ounur.


"Iya om, saya Nia".


"Makin cantik, kalau tidak salah tante terakhir melihatmu, tiga tahun yang lalu". Yang dipuji hanya tersenyum.


"Maaf, Nia ke Toilet dulu". Izin Rania. Lalu Rania mempercepat langkah kakinya.


'Keterlaluan, bisa-bisanya ada keluarga tante Hanum diacara pertemuan keluarga ini, apalagi kak Kevin ada, habis aku diledekin terus sama dia'. Gerutu Rania sambil menahan tubuhnya yang semakin lemah.


"Kenan, lo disini? Assalamu'alaikum Tante". Sapa Kevin yang baru datang. Kenan hanya mengangguk.


"Wa'alaikumsalam nak, kamu terlihat semakin tampan". Ujar Sintia.


"Tante bisa saja dan kenyataannya aku memang tampan, apa Nia juga ikut?". Saut Kevin tertawa.


"Iya, dia sedang di Toilet". Ujar Sintia.


'Mampuslaaah, bisa dibully habis-habisan ni, kalau sampai Nia tahu aku datang kemari hanya untuk menemui orang yang akan dijodohkan denganku'. Kevin membathin.


"Maaf, Nia terlambat". Ucapnya. Sesaat pandangan Kevin dan Nia bertemu, Kevin tertegun melihat kecantikan Rania.


'Mata ini, seperti sudah tidak asing lagi'. Pikir Kevin.


****


Setelah makan malam selesai, barulah Ounur menyampaikan maksud dan tujan dari pertemuan dua keluarga yang sudah bersahabat sejak lama.

__ADS_1


'Apakah perjodohannya diundur? kenapa belum ada keluarga lain yang datang, baguslah jadi aku gak harus merasa malu pada Kevin'. Pikir Rania.


'Apa mama dan papa mengabulkan keinginanku, agar membatalkan perjodohan ini? baguslah jadi aku tidak merasa takut untuk dibully'. Kevin membathin.


"Nia, Kevin apa kalian tahu mengapa keluarga kita mengadakan pertemuan ini?". Tanya Ounur.


"Tidak, memangnya ada Pah? bukankah kita bertemu keluarga tante Sin disini hanya kebetulan saja?". Jawab Kevin sambil melihat Kenan, yang dilihat menggidikkan bahu sementara Rania hanya terdiam merasai tubuhnya yang semakin lemah namun berusaha untuk tetap kuat.


"Pertemuan ini, sengaja kami para orang tua yang mengaturnya, karena sebenarnya kalian berdualah, yang kami jodohkan sejak kecil bahkan rencana ini telah kami sepakati sebelum kalian lahir ke dunia ini". Ungkap Ounur sambil menunjuk Rania dan Kevin dan yang lain hanya tersenyum penuh arti.


'Apa! jadi Kevin yang dijodohkan denganku'. Rania membathin.


"Apa! jadi Nia yang dijodohkan denganku Pah? tidak Pah, aku menolak perjodohan ini, aku hanya menganggap Nia sebagai adikku, bahkan aku sudah pernah bilang sama papah dan mamah, jika aku memiliki pilihan sendiri untuk calon pendamping hidupku". Ungkap Kevin.


"Apa kamu pikir Nia bukan gadis yang baik dan apa kamu pikir gadis pilihanmu itu jauh lebih baik dari Nia, ha?". Bentak Hanum, sedangkan Sintia bersama anak-anaknya hanya terdiam membisu tanpa bisa berkata apa-apa.


"Aku bisa menjaminnya mah, percaya sama Kevin". Ucapnya memelas.


"Mama ti..". "Permisi tante, om, kak Kevin, Nia ke toilet dulu". Dengan seulas senyum tetap menghiasi bibirnya, sementara hatinya begitu perih. Rania lalu meninggalkan tempat itu.


'Aku harus kuat, please jangan ada airmata lagi, sejak awal aku sudah tahu, hidupku sudah tidak berharga lagi'. Rania membathin setelah berada di toilet.


"Mama lihat sendiri, Nia bahkan tidak menunjukkan reaksi apapun, lihat tante Sin dan Kenan, sama, disini hanya mama yang tetap kekeh". Saut Kevin.


Kenan hanya mengepalkan kedua tangannya geram, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena sejak awal dia mengetahui jika sahabatnya itu tidak setuju dengan perjodohan ini, namun dia tidak menyangka akan menentang keras keinginan orang tuanya demi gadis itu.


'Siapa gadis itu, sampai Kevin sanggup menentang kedua orang tuanya, karena Kevin tidak akan berbuat seperti ini jika gadis itu tidak pantas untuk diperjuangkan'. Pikir Kenan.


Tiba-tiba ponsel Kenan berdering tanda notifikasi WA masuk.


Rania


Kak, adek sudah pulang duluan naik taksi, sampaikan maaf adek sama keluarga om Ounur karenan adek tidak enak badan.


Kenan lalu menutup ponselnya kembali. 'Abang tahu kamu pasti terluka dek, atas penolakan ini'.


Kenan lalu mencari cara untuk menutupi kondisi adiknya saat ini dihadapan keluarga Kevin.


***BERSAMBUNG***

__ADS_1


__ADS_2